
Selamat membaca . . .
Terdengar suara pintu diketuk. Mira mengerjapkan mata mencoba menemukan kesadarannya. Ia melirik arlojinya, sekarang sudah pukul sebelas malam. Itu artinya ia sudah ketiduran selama hampir dua puluh menit. Kemudian Mira bertanya - tanya, apakah pria itu tidak pergi ?
Suara ketukan terdengar lagi, kali ini seperti kurang sabar.
"Tunggu sebentar," Mira menggumam.
Wanita yang berdiri didepan pintu mengangkat alisnya. "Mengapa kau tidak menemani calon suamimu di luar? Dimana sopan santunmu Mira ?" tanya Stella dengan nada suara tidak senang.
Mira memberengut. Ya Tuhan, belum apa - apa pria itu sudah mendapat simpati dari ibunya.
"Maaf, aku tidak bermaksud mengabaikannya ma. Aku hanya ingin mengganti pakaikannku tapi sepertinya aku ketiduran." dusta Mira.
"Ya ampun Mira. Sebentar lagi kau akan menjadi seorang istri. Jangan pernah melakukan ini lagi. Jangan mengabaikan suamimu apapun yang terjadi." Stella memberi nasehat.
"Iya ma."
"Ayo duduklah. Kita perlu berbicara."
Mira mengenal raut wajah ibunya yang seperti itu. Dia pasti akan menguliahi Mira dan tentu saja George Goldsmith, karena sudut mata Mira menangkap pria itu, ia masih duduk manis di sofa seperti seorang anak sekolah yang menunggu gurunya.
Mira selalu mendengarkan apapun yang dikatakan ibunya, meski tidak semua yang dikatakan ibunya ia lakukan.
Tetapi ia menduga pembicaraan mereka pada tengah malam ini bukan hanya harus didengarkan, melainkan harus dilakukan juga. Mira yakin pembicaraan kali ini adalah pembicaraan yang bermakna bagi dia dan pria itu.
Mira duduk bersebelahan dengan George, sementara ibunya duduk berseberangan dengan mereka.
"Kau pasti sudah tahu bahwa kalian akan bertunangan besok," Stella memulai.
"Iya ma. George baru memberitahuku tadi."
"Jadi besok kita akan berangkat ke Manado pada pagi hari pukul delapan menggunakan pesawat pribadi George."
Mira menoleh ke samping. "Kau punya pesawat pribadi?" tanyanya begitu terkejut.
__ADS_1
"Tentu saja," jawab George singkat namun diiringi seringai sombong.
"Lalu pertunangan kalian akan dilangsungkan di Ball Room Arya Duta Hotel pukul satu siang. Hanya akan dihadiri oleh keluarga dan beberapa kenalan saja." sambung Stella.
Tatapan Mira beralih ke ibunya."Mengapa di hotel ? Mengapa tidak di rumah saja? Bagaimana dengan biayanya?"
"Kau tidak perlu mengkhawatirkannya sayang. Semua sudah ku urus." jawab George.
Sepertinya aku satu - satunya yang tidak tahu tentang semua hal menyangkut pernikahanku, gumam Mira dalam hati. Padahal yang akan menikah adalah aku, bukan mama.
Tiba - tiba ia merasa jengkel. Mengapa mereka tidak meminta pendapatnya ? Oh sial. Mira menduga pasti ini ulah pria itu. Entah apa yang sudah dikatakannya pada ibunya, tapi Mira yakin pasti ada sesuatu yang terjadi.
Stella memperhatikan Mira yang tampak bingung. "Begini sayang," kata Stella lembut. "George sudah menceritakan pada mama bahwa dia sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali ia bertemu denganmu. Jadi dia tidak ingin membuang - buang waktu. Ia tidak ingin kehilangan dirimu. Jadi ia ingin segera melamarmu, bertunangan dan menikah. Oh bukanlah itu sangat gentlemen?" Senyum lebar menghiasi bibir Stella.
Karangan yang bagus George, pikir Mira.
"Benarkah?" tanya Mira kaku lalu matanya menyipit memandangi George.
"Hebat sekali."
"Jadi sebaiknya kau membereskan semua barang - barangmu sayang, karena setelah acara pertunanganmu selesai kau akan langsung ikut dengan George terbang ke New York." ucap Stella.
"Tunggu dulu! Apa mama mengijinkan aku ke New York besok ? Bagaimana bisa semudah itu?" Wajah Mira menjadi suram karena sedih. George memang sudah memberitahunya, tapi bagaimana bisa ibunya seperti itu. Bagaimana bisa ibunya terlihat seperti baik - baik saja ketika anak gadisnya akan pergi.
"Calon mertuamu juga sudah menghubungi mama, siang tadi. Dia ingin segera bertemu denganmu. Kesehatannya sekarang tidak baik, jadi dia ingin anaknya segera menikah. George juga mengatakan akan melamarmu dan siap bertunangan besok. Dia bahkan yang menyiapkan semuanya. Jadi ibu tidak mungkin menolak karena jelas - jelas ini adalah hal yang baik bagi semua." Stella menjelaskan panjang lebar.
"Oh, ternyata kau bergerak dengan cepat Mr. George." ucap Mira sembari mengalihkan pandangannya ke arah George.
"Mira," tegur Stella. "Jangan berkata seperti itu. Itu tidak sopan. Kau harus belajar mengendalikan diri. Belajar berlaku lebih sopan dan ingatlah, kau harus bersabar."
"Tapi ma, mengapa mama tidak menanyakan pendapatku?" protes Mira.
George susah payah mengontrol emosi yang mencengkeramnya. Wanita ini selalu saja membantah, selalu saja memprotes.
__ADS_1
"Bukankah sudah mama katakan padamu bahwa tidak ada alasan lagi untukmu berkeberatan. Jadi maaf! Mama rasa kami tidak perlu lagi meminta pendapatmu." kata Stella tegas.
Semua semakin jelas bagi Mira bahwa ia tidak punya pilihan lain selain mengikuti semua rencana George Goldsmith. Brengsek!
"Baiklah, ku rasa aku harus menyiapkan barang - barangku." Suara Mira terdengar jengkel.
"Mama akan membantumu," Stella segera berdiri, melangkah miring menjauhi mereka menuju ke arah kamar.
Sebelum Mira berdiri, dengan sengaja ia melayangkan tangannya menyubit pinggang George sekuat tenaga sehingga pria itu memekik kesakitan. "Rasakan itu! " gumam Mira pelan.
Tentu saja ia harus segera menghindari George sebelum pria itu menyerangnya. Jadi Mira memilih mengabaikan pekikan pria itu karena segera setelah menyubitnya dengan keras, ia bergegas setengah berlari ke kamar untuk mengemasi barang- barang yang akan dibawanya.
Butuh tiga puluh menit untuk menyiapkan semua. Tidak banyak yang dikemasinya. Hanya satu koper besar yang berisi pakaian dan satu koper sedang yang berisi tas dan sepatu. Selama berkemas pun tidak ada pembicaraan apa - apa lagi antara Mira dan ibunya.
Usai berkemas, ibunya segera naik ke tempat tidur dan beristirahat. Sementara Mira keluar dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian.
Di luar ia melihat George sudah tertidur di sofa. Mira berdiri tak bergerak memperhatikan pria itu.
Hebat sekali dia. Untuk melancarkan segala rencananya, bahkan ia tega membohongi semua orang. Dia mengendalikan sesuatu dengan caranya meskipun cara itu salah. Dia memang brengsek. Pria brengsek yang tampan.
Mata Mira melanjutkan memandangi wajah tampan George. Wajah yang menggambarkan kekuasaan, keangkuhan dan kebrengsekan. Oh, apa yang kau pikirkan Mira ? gumamnya dalam hati. Masalahnya dia tidak berpikir sehingga pasti ada yang salah dengan dirinya yang tertarik pada pria yang memerkosanya, pria yang menawarkan pernikahan palsu dan yang membohongi semua orang.
Tetapi Tuhan tahu bahwa dalam hati Mira, ia telah bertekad untuk memperbaiki semua. Ia akan melakukan apa saja untuk membuat keadaan menjadi baik. Ke depan ia harus mempertimbangkan cara - cara agar tujuannya berhasil.
Enam puluh hari, demikian Mira memutuskan. Dalam enam puluh hari ia akan membuat George Goldsmith jatuh cinta padanya.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Hai kakak semua...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya lagi ya 🙏
Like, comment dan VOTE.
Terima kasih 😘💕
__ADS_1