
Selamat membaca. . .
Sepertinya kata - kata Mira tidak ada artinya bagi George karena suaminya itu tetap mendekatinya. Malah sekarang George sudah duduk di tepi ranjang sambil menatap intens kepadanya. Ya ampun tatapan itu!
"Hanya satu ciuman, sayang." bisik George.
Sia - sia saja, pikir Mira. Ia tidak bisa lagi menolak karena bibir George kembali menyentuh bibirnya, mencium dengan kekuatan dan rasa damba yang selalu mampu membuat Mira menyerah.
Beberapa menit kemudian George menarik diri. "Malam ini cukup sampai disini saja." ucap George. "Sebaiknya jangan diteruskan karena aku pasti akan menginginkan lebih." lanjutnya.
Mira mengangguk tanpa semangat. Kenapa juga harus tidur disini malam ini? sungut Mira dalam hati.
Keputusan George menghentikan aktifitas sensual mereka adalah memang keputusan yang benar karena tidak lama setelah itu Jennete datang dengan membawa makanan dan es krim. kedatangannya pun bersamaan dengan kedatangan perawat yang mengantar vitamin untuk Mira.
Setelah selesai makan dan meminum vitamin, Mira langsung tidur. Rasa kantuk sudah melandanya sejak saat mereka makan. Bagaimana tidak? sekarang kan sudah tengah malam.
George sudah menyuruh Jenette pulang menggunakan taksi. Ia lalu duduk di sofa lalu mengambil ponsel dan menghubungi Brad.
"Halo," ucap George setelah panggilan telepon nya diangkat. "aku ingin berbicara denganmu. Apakah besok kita bisa bertemu?" tanya George.
"Ya, boleh." jawab Brad.
"Oke, sampai jumpa besok."
Mira menyambut pagi ini dengan senyuman lebar. Saat ia terbangun, George duduk di tepi ranjang dan menatapnya penuh cinta.
"Selamat pagi, sayang." ucap George lalu ia mengecup ujung hidung Mira. "Bagaimana keadaanmu dan bagaimana keadaan anak kita?" George bertanya dengan nada perhatian sepenuh hati sambil mengelus perut istrinya itu.
"Semuanya lebih baik dari kemarin." jawab Mira.
"Bagus. Kalau begitu ayo kita sarapan." ajak George. "Aku sudah menyiapkan makanan." ucapnya lagi seraya mengalihkan pandangannya ke arah meja di depan sofa.
Mira mengangguk lalu segera turun dari ranjang. Sebelum sarapan, ia ke kamar mandi terlebih dahulu untuk mencuci muka.
Mira dan George menikmati sarapan pagi ini dengan keceriaan. Mereka mengobrol ringan seputar rencana mereka kedepan, soal memberitahu keluarga mereka tentang kehamilan Mira, tentang konsultasi dan pemeriksaan ke dokter, tentang membeli pakaian dan perlengkapan bayi bahkan tentang nama anak mereka. Obrolan yang menyenangkan bukan.
__ADS_1
Setelah mereka selesai sarapan, George pamit, harus pergi menyelesaikan sebuah urusan. "Aku harus pergi sebentar." ucap George. "Ada sesuatu yang penting yang harus ku lakukan."
"Kau mau kemana?" tanya Mira. Raut wajahnya menunjukkan ia tidak suka dengan rencana kepergian George.
"Aku hanya pergi sebentar." ucap George lembut, membujuk Mira. "Aku janji aku akan segera kembali jika urusanku sudah selesai. Oke?"
Mira mengijinkan kepergiaan George yang hanya sebentar itu dengan berat hati. Mira memeluk leher George lalu menciumnya di dahi, pipi dan bibir. "Aku akan sangat merindukan mu." ucap Mira parau, seolah mereka akan berpisah untuk waktu yang lama.
George tersenyum. "Jaga dirimu baik - baik. Jangan lupa makan dan minum vitamin mu dan banyak beristirahatlah." ucap George. "Aku sudah menelepon Jenette. Dia akan datang dan membawa pakaianmu."
Mira mengangguk dan berusaha tersenyum. George pun menciumnya lagi lalu kembali berkata, "Sampai jumpa nanti."
Saat George berlalu, Mira susah payah berusaha menyingkirkan keresahan yang melanda dirinya. Tentu tidak ada alasan untuknya merasa seperti ini. Namun, entah mengapa keresahan itu tetap saja hadir. Ya ampun! Mungkin ada yang salah dengan perasaan nya.
***
"Aku perlu bicara padamu tentang suatu hal." kata George saat masuk ke dalam ruangan kerja Brad.
"Oke," sahut Brad lalu ia berjalan ke arah meja tempat disediakannya beberapa minuman. Brad menuangkan dua gelas wiski. Lalu memberikan gelas satu gelas kepada George. "Jadi apa yang ingin kau bicarakan?"
George mengambil gelas yang diberikan Brad lalu berkata, "Aku ingin kau menjauhi Mira." Baik suara maupun raut wajah George berubah sangat serius.
"Kau tahu jelas maksudku, Brad. Aku tahu niatmu sejak aku melihat caramu memeluk Mira saat kalian berdansa. Kau merangkulnya dalam pelukanmu dengan posesif seolah dia adalah milikmu. Memang benar, Mira menjadi bintang di pesta malam itu, tetapi dia adalah istriku. Seharusnya kau tidak melakukan itu."
Brad mengerutkan dahi. "Aku tidak paham apa maksud ucapan mu itu."
"Brad," kata George tegas. "Sebenarnya sejak saat itu aku tahu kau memiliki rencana buruk terhadap hubunganku dengan Mira. Bahkan aku tahu ulah busuk mu terhadap hubungan ku dengan Nicole tiga tahun lalu, saat kau sengaja membayar Miles untuk mendekati Nicole hingga akhirnya mereka berselingkuh dibelakang ku. Selama ini aku hanya diam karena aku masih menghargai persahabatan kita. Dan Nicole bukanlah wanita yang patut diperjuangkan. Dia bukan wanita yang baik. Tetapi berbeda dengan Mira. Sekarang Miranda Starlin adalah istriku." George berhenti untuk menarik napas lalu setelah itu ia kembali berkata, "Aku mencoba memahami alasan kau melakukan itu. Aku tahu kau melakukan itu karena Valeri. Aku akui aku telah menyakiti hatinya dengan menolak perasaan cintanya untukku. Tetapi, kau tahu sendiri kan aku tidak bisa mencintainya."
Brad tampak terkejut dengan kata - kata George tetapi ia sama sekali tidak terlihat merasa bersalah dengan apa yang telah dilakukannya.
"Aku tahu," kata Brad cepat. "tapi tidak seharusnya berkata kasar dan menolak perasaannya secara terang - terangan. Kau terlihat seperti pria yang tidak punya hati. Bahkan setelah apa yang ia lakukan pada mu, kau masih saja menolaknya. Kau sudah menyakitinya, George." serang Brad.
"Valeri sudah menunjukkan rasa cinta, kepedulian dan perhatian nya kepadamu. Seharusnya kau memberinya kesempatan. Kau bisa belajar membuka hatimu untuk mencintainya." kata Brad lagi dengan nada suara tinggi.
Brad berbalik dan meletakkan gelas nya yang sudah kosong di atas meja.
__ADS_1
"Aku sudah melakukannya tapi aku tetap tidak bisa menerima perasaan Valeri." ucap George menyesal.
Brad menoleh dan menatap tajam ke arah George. " Kapan kau memberinya kesempatan? Kapan, George ?"
"Setelah aku sembuh aku mencoba memberinya kesempatan... "
"Dasar brengsek!" teriak Brad lalu dengan cepat ia maju dan mengayunkan tinjunya ke wajah George.
"Hentikan omong kosong mu itu, George. Kau tidak pernah memberinya kesempatan. Bahkan sedikit pun kau tidak pernah menghargai perasaan dan pengorbanan nya untukmu."
George terhuyung dan jatuh ke lantai. Rahangnya sudah memar dan bengkak.
Brad tidak peduli. Ia masih tetap mengayunkan tangannya, melayangkan beberapa pukulan lagi. Alhasil darah menyembur dari hidung dan sudut bibir George.
Brad berhenti saat melihat darah mulai keluar dari wajah George.
Kemudian George berdiri, tetapi bukan untuk membalas pukulan Brad. George tahu, ia pantas menerima ini.
"Maafkan aku, Brad." ucap George sungguh - sungguh. "Aku tidak akan membalas pukulan mu dengan harapan bahwa kau sudah mengerti maksud perkataan ku tadi. Sekali lagi tolong jangan ganggu hubungan ku dengan Mira. Brad, mungkin kau tidak ingin mendengar ini. Tetapi harus aku katakan bahwa aku mencintai Mira. Aku mencintai nya sepenuh hatiku. Aku ingin hidup bahagia bersama dengannya. Aku tidak pernah meminta apa - apa padamu Brad, tapi kali ini aku akan meminta. Jauhi Mira. Demi persahabatan kita, ku mohon singkirkan rencana burukmu terhadap hubungan kami. Jangan merusaknya, Brad."
Kemarahan Brad mulai memudar. Brad mendesah panjang lalu berkata, "Pergilah dari sini."
Tanpa berkata apa - apa lagi, George segera menyeret kakinya, berjalan ke arah pintu, meninggalkan Brad dalam diam.
Jauh didalam hati George ada keyakinan bahwa sahabatnya itu akan melakukan permintaannya. George tidak perlu mengancam karena George tahu Brad masih punya hati yang baik.
Itu sudah pasti.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Hai semua.
Novel ini beneran udah mau tamat kok. Jadi jangan lupa dukungan nya ya.
Like, Comment and VOTE.
__ADS_1
VOTE dikit aja sudah sangat membantu ππ
Terimakasih ππ