
Selamat membaca . . .
Malam ini George memutuskan untuk tetap berada di rumah sakit. Bahkan untuk beberapa hari kedepan ia menyuruh Mira untuk tetap berada disini. Bukan tanpa alasan. George ingin Mira dan bayi mereka dalam keadaan baik dan sehat. Dokter Alex pun sudah merekomendasikan dokter wanita spesialis kandungan untuk merawat Mira. Ya, tentu saja itu atas perintah George karena dia tidak ingin yang memeriksa Mira adalah dokter pria.
Untungnya sekarang mereka sudah berada di kamar VVIP rumah sakit. Rasanya, baik pasien maupun anggota keluarga yang menginap di kamar ini pasti akan merasa nyaman. Bagaimana tidak ? Desain kamar ini tidak kalah mewahnya dengan desain kamar hotel. Ruangan nya luas juga bersih. Terdapat sofa yang nyaman untuk diduduki. Terlebih lagi pelayanan di rumah sakit ini. Semuanya memuaskan.
Perhatian George terhadap Mira kian bertambah. Terbukti malam ini, tak terhitung sudah berapa kali ia bertanya tentang keadaan istrinya itu. Mira memang masih tampak pucat karena beberapa kali muntah. Namun, terlepas dari itu, keadaannya baik - baik saja.
"Kau ingin makan apa, sayang ?" tanya George sambil menatap penuh perhatian sepenuh hati pada Mira.
Mira berpikir sejenak. "Aku ingin makan es krim yang dicampur dengan oreo." katanya bersemangat.
George menarik napas lalu berkata, "Ini hampir tengah malam dan kau ingin makan es krim ? Yang benar saja, sayang."
"Ini bukan kemauanku, tetapi ini kemauan anak kita." ucap Mira merajuk.
"Whoa..." seru George sambil mengelus lembut perut Mira. "hebat sekali kau jagoan. Masih dalam perut saja kau sudah memerintah daddy." George tampak senang kala menyebut dirinya daddy.
" Apakah daddy akan membelikan aku es krim ?" tanya Mira dengan suara yang dibuat menyerupai suara bayi.
"Tentu saja. Asalkan mommymu juga harus makan makanan yang lain." jawab George.
Mira tertawa. "Oh sayang, kau akan membuatku gendut."
"Aku tidak peduli dengan berat badanmu sayang." Suara George berubah serius. "Yang aku pedulikan adalah kesehatanmu dan anak kita. Lagipula, lihat badanmu sekarang. Kau lebih kurus dari terakhir kali aku melihatmu. Apa selama aku pergi kau tidak makan?"
Mira menggelengkan kepala. "Tentu saja aku makan, sayang. Namun semua makanan itu langsung saja ku muntahkan." urai Mira.
"Baiklah, semua ini memang karena hormon. Tetapi setidaknya kau harus memanggil dokter untuk memeriksamu agar rasa mualmu itu berkurang, sehingga saat kau makan, tetap ada asupan nutrisi yang masuk dalam tubuhmu. Dengan begitu kau tidak akan tampak kurus seperti ini." omel George. Ia tidak menyukai tubuh Mira yang kurus seperti orang kekurangan gizi.
"Maafkan aku. Jadi kapan kau akan membelikan kami makanan ?" tanya Mira dengan wajah memelas sambil menyentuh perutnya. "Kami sudah sangat lapar. Bayinya mau makan es krim yang dicampur dengan oreo, dan mommy nya ingin makan ayam goreng KFC." ucap Mira.
"Aku akan menyuruh Jenette membelikannya."
"Oke."
__ADS_1
George kemudian memberikan beberapa lembar uang kepada Jennete yang berdiri di dekat pintu, lalu menyuruh wanita itu membelikan makanan untuk mereka semua. Jenette pun segera pergi melakukan perintah George.
Setelah Jenette berlalu, George kembali menghampiri Mira yang terbaring di ranjang. George mengambil kursi lalu duduk disamping wanita itu.
"Bagaimana keadaanmu, sayang?"
"Aku baik- baik saja, walau masih merasa pusing dan mual."
"Tunggulah sebentar, dokter Bethy akan segera datang dan memeriksamu."
"Bukankah tadi dokter Alex sudah memeriksaku ? Mengapa ada lagi dokter yang mau memeriksaku ?" tanya Mira.
Pertanyaan bodoh!
"Tentu saja kau harus diperiksa oleh dokter Bethy karena dialah yang paling paham tentang keadaan wanita hamil. Dokter Bethy adalah dokter spesialis kandungan terbaik di rumah sakit ini."
Mira terkekeh menyadari kebodohannya. "Iya ya, seharusnya memang aku diperiksa oleh dokter spesialis kandungan." kata Mira malu - malu.
George menarik tangan Mira dan memegangnya erat. "Sayang," ucap George lembut. "aku tidak pernah sebahagia ini. Aku sangat bahagia dengan kehamilanmu. Bahkan aku sangat senang karena hubungan kita juga berjalan dengan baik."
"Jadi, jika hubungan kita semakin baik, bagaimana menurutmu jika kita melupakan perjanjian pernikahan kita waktu itu." George berkata ragu - ragu, takut permintaannya ditolak.
Bukankah selama ini permintaannya selalu saja ditolak oleh Mira, pikir George. Seharusnya aku tidak perlu takut jika saja kali ini juga ia menolak permintaannya. Meski Mira sudah mengakui bahwa ia mencintaiku, bukan berarti segala yang aku minta akan langsung disetujuinya. Jangan lupa, dia adalah Miranda Starlin, si wanita keras kepala yang suka membantah.
"Aku tidak ingin membebankanmu dengan urusan rumah tangga."lanjut George. "Aku tidak ingin merepotkanmu dengan tanggung jawab sebagai seorang istri bahkan seorang ibu, tapi..."
Mira menggeleng, menarik napas dan berkata cepat, "Oh, George...aku tidak pernah merasa terbeban dengan tanggung jawab sebagai istrimu ataupun sebagai ibu dari anak kita. Sejak awal kita menikah, aku sudah melupakan tentang perjanjian pernikahan itu. Aku ingin hidup bersamamu sebagai pasangan normal yang dimabuk cinta sehingga hanya akan ada kebahagiaan diantara kita. Aku sangat senang jika kau berpikiran sama hal nya denganku."
Penuturan Mira cukup membuat George terkejut. Senang rasanya mendapati permintaannya tidak di tolak oleh istrinya itu. Ia juga begitu senang mengetahui jika pemikiran mereka sama. Bahkan jika menyingkirkan kenyataan bahwa mereka akan memiliki anak, George tetap akan berkomitmen pada pernikahan mereka sebab Miranda Starlin telah menyihirnya.
George sudah jatuh di pelukan Mira.
"Kau tahu," ucap George. "akhirnya aku bertemu dengan seseorang yang baik. Dan itu adalah kamu. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama denganmu."
Ucapan George pun mengartikan bahwa ia sepemikiran dengan Mira tentang hubungan mereka.
Ini bukan lagi tentang perjanjian pernikahan. Ini tentang keluarga. Ini tentang melakukan hal yang baik untuk hidup George, Mira dan anak mereka.
__ADS_1
Mira dan George saling berpandangan lalu mereka tertawa lepas, tawa yang memancarkan kebahagiaan.
Namun, tiba - tiba George bergerak maju, langsung mencium bibir Mira. Kuat dan panas. Tangan George berada di kedua sisi wajah Mira, lidahnya menelusuri lebih dalam, mendesak dan membangkitkan gairah.
"Ehem... permisi, tuan George." Suara itu datang dari seorang wanita yang baru saja masuk. Suara itu terdengar kikuk. Tidak heran suaranya terdengar seperti itu jika dia baru saja menyaksikan ciuman panas pasangan suami istri yang tengah berbahagia.
George menghentikan ciumannya lalu berbalik menatap ke arah wanita itu. Sementara Mira hanya bisa tersenyum malu.
"Halo, dokter Bethy." ucap George saat pandangan nya jatuh pada papan nama yang terpasang di sisi kiri seragam dokter itu.
"Maaf menganggu anda, tetapi saya sudah mendengar kabar dari dokter Alex. Jadi saya datang untuk memeriksa istri anda." ucap dokter Bethy.
"Silahkan," sahut George lembut.
Dokter Bethy pun segera memeriksa keadaan Mira melalui pemeriksaan dating scan.
Sambil memeriksa, dokter Bethy berbincang santai dengan Mira perihal kapan terakhir ia datang bulan, keluhan apa yang dirasakannya dan bagaimana keadaannya sekarang.
"Selamat... semuanya baik." ujar dokter Bethy. "janinnya sudah berusia enam minggu. Detak jantung nya pun bagus. Saya akan memberikan anda vitamin dan susu khusus ibu hamil dengan formula actiduobio +, untuk ibu hamil yang mengalami morning sickness atau mual dan muntah. Suster akan membawa nya kemari."
Setelah memeriksa dan berkata panjang lebar, dokter Bethy pun segera pergi.
George dan Mira kembali saling menatap. Mata mereka berkilat memancarkan kegembiraan.
George kemudian mendekati Mira.
"Jangan coba - coba mencium ku seperti itu lagi. Jangan disini, jangan sekarang. Jika tidak, akan ada satu wanita lagi yang akan memergoki kita." ucap Mira disertai tawa bahagia.
George pun ikut tertawa bahagia.
Malam ini adalah malam penuh sukacita bagi mereka berdua.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Makasih banyak buat kalian yang selalu mendukung aku.
Lope lope buat kalian ❤💞❤💞❤💞❤💞
__ADS_1