My Crazy Client

My Crazy Client
BAB 5


__ADS_3

Selamat membaca. . .


Dalam perjalanannya menuju ke kamar, Mira mengingat - ingat berapa nomor kamarnya. Begitulah wanita itu. Jika terlalu banyak berpikir, beberapa hal dalam hidupnya menjadi tidak berjalan lancar sebagai mana mestinya. Pernah sekali saat dirinya mendapat masalah di tempat kerja, pikiran wanita itu menerawang entah kemana hingga ia menumpahkan air panas ditangannya saat ia membuat teh. Pernah ketika ia bertengkar dengan Dion, ia terlalu larut dalam pikirannya sehingga tanpa ia sadari masakannya gosong. Ketika dia mendapat masalah, pikirannya benar - benar tak dapat berkonsentrasi.


Selagi berjalan, Mira terus memaksakan otaknya untuk berpikir dan mengingat - ingat. Akan tetapi itu tidak berhasil. Tetap saja ia lupa. Mira tidak mengerti apakah itu karena pikirannya yang tidak bekerja dengan baik atau karena ia mabuk. Tapi sebenarnya dia belum mabuk. Mungkin hanya sedikit pening.


Mira berdiri di depan kamar 2027. Sejenak tampak ragu, tetapi kemudian mencoba membuka pintu kamar itu dengan card nya.


Mira menggesek card nya. "Eh... Mengapa pintunya tidak terbuka? Apa jangan - jangan card ini terbalik. Atau rusak ?" Tanpa ia sadari suaranya cukup keras saat ia berbicara.


Ia mencoba lagi tetapi tiba-tiba pintu kamar itu terbuka. Mira tertawa kecil. "Dasar bodoh!" katanya pada diri sendiri.


Tawa kecil itu segera sirna ketika ia melihat sosok seorang pria yang tak dikenalnya muncul dari balik pintu. "Kau siapa? Kenapa ada di kamarku?" tanya Mira begitu penasaran.


"Ini adalah kamarku, nona." Seru pria itu dengan suara datar.


Mira bingung, tidak paham dengan yang dikatakan pria itu barusan. Yang dapat Mira pahami sekarang hanyalah aksen pria itu saat ia berbicara tadi. Aksen pria itu berbeda dengan aksen orang Indonesia. Dia bisa berbahasa Indonesia, tetapi cara bicaranya terdengar aneh. Mira menyimpulkan bahwa pria itu pasti berasal dari luar negeri.


Ingin sekali Mira melihat wajah pria itu dengan jelas. Tetapi entah mengapa malam ini penglihatannya sedikit kabur. Namun, bukan hanya penglihatannya saja tetapi pendengarannya juga tampaknya tak berfungsi dengan baik.


"Apa aku salah dengar ya tadi?" gumamnya pelan. Kemudian ia mendongak, menatap pria itu. "Ini kamarmu? Bagaimana bisa?" tanya Mira lagi masih dengan nada suara penasaran.


Pria itu terkekeh. "Tentu saja bisa. Dan aku tidak keberatan jika harus membagi kamar ku denganmu malam ini. Bukankah kau disini untuk itu?" kata pria itu dengan suara lantang.


Mendengar hati itu, menciptakan rasa penasaran dalam hati Mira dan juga perasaan terkejut menyelimuti dirinya. "Maksud ucapan mu itu apa?"


Tanpa menjawab pertanyaan Mira dan juga tanpa permisi, pria itu langsung menarik tubuh Mira, menaruh tangannya di pinggul dan menekan tubuh wanita itu serapat mungkin pada tubuhnya lalu dengan penuh gairah mencium bibir wanita itu.


Alangkah terkejut Mira dengan kelakuan pria itu. Tubuhnya gemetar ketakutan tetapi dengan segenap kekuatan yang ia miliki, Mira berusaha melepaskan diri dari cengkraman pria itu.

__ADS_1


Wanita yang bersamaku malam ini sangat cantik, gumam George dalam hati. Lebih tepatnya lebih cantik dari pada wanita yang semalam. Ia juga terlihat menarik dengan balutan dress yang indah, bukan seksi seperti yang dikenakkan para wanita penghibur. Pakaian seperti itu sedikit aneh sih untuk pekerjaannya. Namun, itu tidak mengurangi daya tarik wanita itu.


Saat ia berbicara tadi, lesung pipi di kedua pipi wanita itu sangat terlihat jelas dan itu menambah poin baginya untuk dikategorikan sebagai wanita yang menarik.


Gerakan cepat pria itu membuat Mata Mira terbelalak. Dan dengan cepat pula emosi Mira berubah marah. Didorongnya tubuh pria itu dengan sekuat tenaga lalu segera berlari ke arah pintu di belakangnya. Namun sial, usahanya itu sia - sia. Dia tidak tahu pasti apa karena kecepatan nya yang kurang atau karena tangan pria itu yang terlalu panjang sehingga ia tidak bisa berlari karena sesegera mungkin tangan pria itu kembali menarik nya ke dalam pelukan.


Tenaga Mira kalah jauh dengan tenaga pria itu. Sesungguhnya tinggi pria itu 180 sentimeter dan tubuhnya besar dan berotot. Jadi, apakah artinya kekuatan Mira dibandingkan dengan kekuatan pria itu jika dari postur tubuh mereka saja ia sudah kalah jauh.


Wajah Mira membara ketika pria itu kembali mencium bibirnya dengan lebih dalam dan bergairah. Mira benci saat seperti ini, saat dimana ia juga merasakan hal yang sama dengan pria itu yaitu bergairah. Atau lebih tepatnya ia takut jika ia merasakan hal yang sama karena ini adalah kali pertama baginya dan ia sama sekali tidak tahu bagaimana cara mengatasi ini.


Yang Mira tahu bahwa jika aktifitas ini tidak dihentikan maka hal yang tidak seharusnya terjadi pasti akan terjadi. Ia tidak bisa membiarkan pria itu melakukan ini karena ia sangat tahu bahwa ia bisa kehilangan kendalinya jika pria itu terus membuatnya bergairah. Mira pasti akan melakukan itu.


Dia tidak mengenal siapa pria ini dan mereka juga tidak berada pada hubungan yang sah. Jadi, bagaimana mungkin ia dengan sukarela larut dalam gairah yang sudah sangat jelas akan berakhir seperti dimana dan seperti apa.


Pria itu melepaskan pagutannya karena sepertinya mereka butuh bernapas. Dan bagi Mira, ini adalah kesempatannya untuk berbicara dan menjelaskan. "Lepaskan aku," kata Mira dengan nada suara meninggi disertai dengan tamparan yang keras dilayangkannya di pipi kiri pria itu.


PLAK!


"Kau pantas mendapatkan itu, dasar pria brengsek!" kata Mira dengan napas yang menderu.


George meringis. Tamparan wanita itu sebenarnya tidak begitu keras. George tidak benar - benar kesakitan. Pipinya hanya sedikit perih. Justru yang lebih sakit adalah harga dirinya. Demi Tuhan, tidak pernah ada wanita yang menolaknya apa lagi dengan sangat berani menyebutnya pria brengsek. Hanya wanita itu.


Tapi apa haknya menyebutku seperti itu jika ia disini untuk melayani ku? batin George.


George tertawa sambil memegang pipinya yang memerah. "Apa kau bilang? Pria brengsek? Aku?" George menatap tajam pada Mira. "Baiklah woman , biar ku tunjukan seberapa brengsek diriku."


Mira merasakan bahwa kali ini gerakan pria itu lebih cepat dari sebelumnya. Ia kembali menarik Mira dalam pelukannya, mendekapnya erat - erat lalu mencium bibir tipis wanita itu, kali ini begitu kasar.


George dapat merasakan tubuh wanita itu gemetar karena ketakutan. Namun, mungkin dengan sisa tenaga yang ia miliki, wanita itu berteriak, menangis dan meronta - ronta untuk menunjukan penolakannya.

__ADS_1


Ada apa dengan respon wanita ini? Sikapnya seolah menunjukan kalau dia wanita baik - baik yang tidak rela melakukan ini, tanya George dalam hatinya. Tetapi tentu saja itu tidak mungkin kan jika dia berdiri di depan pintu kamarku dan menunggu aku membukakan pintu. Bukankah dia kesini untuk melayani ku?


Saat keduanya mengambil napas, dengan terbata - bata Mira kembali berkata, "Lepaskan aku, aku mohon." Suaranya terdengar lirih. Namun, sepertinya kabut gairah telah menguasai George sehingga ia sama sekali tidak peduli dengan permohonan Mira.


Bagi George, respons penolakan wanita ini adalah sebuah tantangan. Dan beruntungnya ia menyukai tantangan.


Dan sekarang, disini, wanita itu adalah tantangan baginya yang harus segera ia taklukkan di atas ranjang.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


.


.


.


.


.


.


.


Hallo kakak - kakak,


jangan lupa tinggalkan jejak nya.


klik tombol suka, tuliskan komentar kalian entah itu kritik atas saran, dan jangan lupa berikan vote kalian juga ya.

__ADS_1


Terima kasih πŸ˜˜πŸ’•


__ADS_2