My Crazy Client

My Crazy Client
BAB 18


__ADS_3

Selamat membaca. . .


Butuh beberapa menit sebelum George pergi. Ia terlebih dahulu membersihkan tubuhnya lalu memakai kembali pakaian yang ia kenakan semalam. Sementara Mira masuk ke dalam kamar dan secepat kilat mengganti pakaiannya dengan pakaian kerja.


Setelah George pergi, Mira dan ibunya duduk dalam diam selama beberapa menit. Keheningan itu benar-benar terasa canggung. Benci dengan situasi canggung itu, Mira memberanikan diri mengeluarkan suaranya


"Maafkan aku ma. Aku akui aku sudah melakukan kesalahan. Aku sudah mengecewakan mama. Namun, menikah dalam waktu satu minggu sepertinya terlalu cepat. Aku dan George baru saja saling mengenal dan belum ada cinta diantara kami." kata Mira berkeberatan.


"Tidak ada alasan bagimu untuk keberatan dengan pernikahan ini, Mira. Dan cinta ? Jika kau memang mementingkan cinta dalam pernikahanmu maka seharusnya kau tidak membiarkan pria bule itu menginap disini, apapun alasannya." sembur Stella. "Setidaknya kau harus menunggu hingga cinta itu tumbuh baru kau menikah dan tinggal bersama pria itu." sambungnya lagi dengan nada suara penuh amarah.


"Tapi..."


"Tidak ada tapi!" sergah nya lagi. "Apa yang kau lakukan itu sudah sangat mampu untuk membuat reputasi mu rusak, Mira. Jadi sekarang kau sudah tidak berhak lagi membantah."


"Ma..." kata Mira dengan nada memohon.


"Cukup, Mira. Jangan menguji kesabaran mama." teriak Stella.


Mira tampak nya berusaha keras untuk tidak menyahut. Bagaimanapun ia telah bersalah, dan bagaimanapun wanita di hadapannya ini adalah Stella, seorang yang tegas dalam memutuskan sesuatu. Dan jika ia sudah memutuskan, tidak ada lagi yang bisa diganggu gugat.


Dan Mira tahu, apapun yang dikatakan dan direncanakan ibunya itu, semua demi kebaikan dirinya dan kebaikan semua orang.


Stella terdiam sesaat ketika melihat wajah putrinya yang dihiasi kekalutan. Tetapi kemudian, ketika Mira tidak lagi berkata apa - apa, Stella langsung bertanya, "Sebenarnya, apa yang kau risaukan ?"


Mira mendesah dan air matanya tiba - tiba saja jatuh membasahi pipinya. "Sebenarnya, aku mengharapkan pernikahan yang dilandasi cinta. Tapi rasanya semua tidak berjalan sesuai harapanku." Suara Mira terdengar lirih sekali.


Kemudian kata Mira lagi, "Dion... aku begitu mencintai nya hingga aku hanya memandang dia sebagai satu-satunya pria dalam hidupku, selama enam tahun ini. Tetapi sayangnya hanya aku yang seperti itu. Kenyataanya dia mengkhianati ku dengan berselingkuh dengan Sintia teman kantor ku."


Stella hanya mendengarkan tapi hatinya turut merasakan kesedihan putri nya.


"Aku tidak tahu dimana letak kesalahan ku hingga..."


"Kau tidak melakukan kesalahan," hibur Stella. Meski wanita itu frustasi dengan apa yang dilakukan putri nya, tetapi sikap kepedulian tak akan pernah hilang darinya.


"Mungkin Dion memang bukan ditakdirkan untuk mu. Lupakanlah dia. Segera buang perasaan cinta terhadap nya dan buka hatimu untuk orang lain. Tentu saja maksud mama, buka hatimu untuk pria bule itu."


Mira mendesah lagi. "Entahlah ma. Kehadiran George sungguh di luar dugaan. Dia datang dalam hidupku tepat setelah aku kehilangan Dion. Kami baru beberapa hari saling mengenal, tetapi anehnya dia sudah menawarkan pernikahan."


Mira tersenyum getir, lalu melanjutkan kata - katanya. "Dia adalah client perusahaan tempatku bekerja ma dan dia tampan, kaya raya, tapi sifatnya dingin dan angkuh. Meski begitu, hidupnya nyaris sempurna. Sementara aku... Kehidupan kami sungguh sangat jauh berbeda."


"Tetapi tetap saja kau membiarkan pria itu masuk dalam hidupmu, meski kau tahu perbedaan kalian." sergah Stella cepat.


"Biar ku katakan satu hal padamu." ucap Stella lagi tapi kini nada suara nya melembut.


"Beberapa orang membutuhkan waktu untuk bersikap hangat pada seseorang. Dan tentang cinta, percayalah cinta itu bisa menyusup diam - diam dalam hati seseorang seiring berjalannya waktu. Dan ketika cinta itu bertumbuh, maka seseorang tidak akan lagi memandang suatu perbedaan sebagai penghalang."


Kata - kata ibunya membuat perasaan Mira sedikit lebih baik. Tetapi kemudian ia bertanya-tanya dalam hati, bisakah cinta itu menyusup ke dalam hati pria dingin dan angkuh seperti George Goldsmith? Mari berdoa semoga saja itu bisa terwujud.


Akhirnya Mira mengangguk sambil berusaha menahan air mata yang merebak. "Baiklah, aku akan menikah dengannya minggu depan." kata wanita itu parau.


***


Mira berencana menghabiskan sepanjang hari ini mengurus semua yang perlu di urus. Setelah menyelesaikan pembicaraan nya dengan ibunya, ia segera berangkat ke kantor untuk menyerahkan surat pengunduran diri. Lalu sore harinya ia akan ke rumah bosnya untuk bertemu dengan Lisa.


Sementara itu, Stella langsung menelepon suaminya, memberi tahu tentang rencana pernikahan putri mereka. Dan tepat setelah Mira pergi, ia juga keluar, berencana berkunjung ke rumah saudaranya yang ada di Bekasi.


Ketika selesai berbicara dengan kepala bagian HRD tempat ia bekerja, telepon Mira berdering. Mira tidak mengetahui siapa yang menelepon hingga ia mengangkat panggilan itu dan mendengar suara pria yang berbicara di telepon.

__ADS_1


"Ini aku," kata pria itu.


Siapa lagi kalau bukan George Goldsmith.


Mira tidak lagi bertanya - tanya bagaimana George bisa mendapatkan nomor telepon nya, karena masuk ke apartemen Mira layaknya seorang pencuri bisa di lakukan pria itu, apalagi ini hanya sekedar nomor telepon.


"Aku sudah menyuruh Steve mengurus semua surat - surat untuk pernikahan kita." sambung George.


"Ok," kata Mira singkat.


"Kau dimana sekarang? Bagaimana ibumu?"


"Aku di kantor, baru saja menyerahkan surat pengunduran diri."


"Oh, itu berita bagus." Sahut George tegas. "Ku rasa kau benar-benar sudah siap untuk menikah." Suara pria itu seperti meledek.


Mira menarik napas panjang. "Aku tidak tahu. Tapi aku tahu suatu saat aku pasti harus berhenti bekerja untuk berkeluarga, mengurus suami dan anak."


"Oh ya, tentu saja seperti itu. Baiklah, apa rencanamu sekarang?"


"Aku akan bertemu Lisa sore ini dan akan kembali ke apartemen pada malam hari."


"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa."


***


...Mira menekan bel beberapa kali ketika berdiri di depan pintu rumah yang tinggi dan megah. Rumah itu adalah kediaman orang tua bosnya Arifin. Setelah menikah, Lisa langsung pindah ke rumah Arifin itu yang terletak dikawasan perumahan Pondok Indah....


Ketika pintu terbuka, Lisa berdiri dibalik pintu dan tersenyum lembut pada Mira.


Ketika Lisa belum menikah, kegiatan minum teh bersama dan mengobrol tentang berbagai macam hal selalu dilakukan Mira dan Lisa setiap sabtu pagi atau minggu sore. Tetapi sekarang itu tidak mungkin lagi karena  sebentar lagi ia akan berangkat ke New York bersama George.


"Aku baik." jawab Lisa. "Kau sendiri, bagaimana kabarmu?"


Mira dan Lisa sama - sama melepaskan pelukan mereka. "Banyak yang terjadi dalam hidupku selama beberapa hari terakhir." ucap Mira lemah.


"Sebaiknya kita duduk agar kau bisa menceritakan apa yang terjadi padamu akhir - akhir ini."


Mira menyetujui saran Lisa dengan mengikuti sahabatnya itu ke taman belakang rumah. Mereka duduk di kursi rotan yang di tata rapi di taman itu.


Kemudian Mira menceritakan secara singkat apa yang terjadi dalam hidup nya beberapa hari terakhir ini, mulai dari pertemuannya dengan George, kecuali tentang peristiwa kecerobohan itu, lalu ia mengatakan bahwa ia sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya dan dia akan menikah dengan pria itu di New York minggu depan.


Di samping itu, Mira juga menceritakan tentang perselingkuhan Dion dan Sintia, termasuk peristiwa perkelahian mereka waktu itu.


Mulut Lisa melongo karena terkejut. "Aku tidak percaya kau mengalami hal gila seperti itu." kata Lisa. "Tetapi bagaimanapun, selamat untukmu karena sebentar lagi kau akan menikah. Aku berharap kau bisa bahagia dengan pernikahanmu." Sepertinya memang terlalu cepat mengucapkan selamat, tapi kata selamat memang harusnya diucapkan sekarang karena belum dapat dipastikan apakah dia bisa menghadiri pernikahan sahabat nya itu.


Mira tersenyum mendengar perkataan Lisa. "Terima kasih," gumamnya. "Tapi alangkah lebih baik jika kau mengucapkannya saat  pesta pernikahanku." sambung Mira dengan nada suara penuh harap.


"Aku tidak bisa berjanji bisa pergi ke New York untuk menghadiri pesta pernikahanmu. Kau tahu kan sekarang aku sudah bersuami. Aku tidak bisa mengambil keputusan sendiri untuk hal apapun. Aku harus bertanya pada Arifin. Dan aku tidak yakin apa dia akan mengijinkanku."


Meski memiliki kemampuan untuk pergi ke luar negeri dan bahkan tinggal berlama - lama disana, bukan berati Lisa bisa pergi sesuka hatinya. Tentu saja semua hal harus ditanyakan dan didiskusikan dengan suaminya lalu secara bersama mengambil keputusan. Mira paham akan hal itu.


Seorang pelayan wanita datang membawakan teh dan kue basah untuk mereka. Sebelum Mira datang, ternyata Lisa sudah menyuruh Bi Surti yang adalah kepala pelayan di rumah itu agar menyiapkan teh dan kue basah untuk mereka.


Setelah selesai meletakkan teh dan kue di atas meja, bi Surti langsung beranjak pergi. Obrolan mereka pun kembali di lanjutkan.


"Aku tahu. Cobalah untuk bertanya pada pak Arifin. Siapa tahu kan dia setuju dan kalian bisa berangkat ke New York. Dan kalian kan bisa berbulan madu disana." gumam Mira sambil cengingiran.

__ADS_1


"Hmm" ucap Lisa.


Mira menyeruput teh yang di suguhkan bi Surti. "Lalu bagaimana kabar pernikahanmu? Apakah berjalan baik ?" tanyanya setelah selesai menyesap teh itu.


"Semuanya baik, semuanya lancar. Aku hanya harus belajar ekstra karena aku masih belum terbiasa dengan status istri. Kau tahu kan, aku tidak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga selain beres - beres kamar. Sekarang aku harus mengetahui nya agar aku bisa mengurus suamiku."


"Ternyata susah juga ya kalau sudah menikah."


"Tidak untukmu karena kau kan terbiasa hidup mandiri. Beda denganku." Mira mendengar nada frustasi dalam suara Lisa.


"Semangat dong." ucap Mira sambil mengepalkan tangannya. "Aku yakin kau bisa melakukannya."


"Hmm..."


"Bagaimana kalau kita keluar dan bersenang - senang ?" Mira memberi usul.


"Boleh juga. Tapi sebentar ya, aku harus minta ijin pada Arifin dulu."


Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit bagi Mira untuk menunggu Lisa yang menghubungi suaminya. Dan syukurlah Lisa mendapatkan ijin untuk pergi bersama dengannya.


Mereka langsung pergi setelah Lisa memberitahu bi Surti bahwa dia akan pergi bersama Mira.


Seperti biasa, saat bersama Lisa waktu seolah berputar terlalu cepat. Hari sudah gelap ketika Mira berpisah dengan Lisa.


***


Ketika tiba di apartemennya, Mira mendapati George tengah berdiri di depan pintu seolah pria itu sedang bertugas untuk menyambut kedatangannya.


"Dari mana saja kau?" bentak George dengan nada suara geram.


Mira membeku saat mendengar nada suara pria itu.


"Sudah ku katakan padamu di telepon tadi bahwa aku akan bertemu dengan Lisa." kata Mira kaku.


George tampak tak mempedulikan penjelasan Mira karena sorot mata pria itu masih saja tajam.


Mira jengkel karena sikap pria itu yang marah tanpa alasan jelas. Sambil menahan rasa jengkel nya dan mencoba mengabaikan tatapan tajam George, ia segera berjalan melewati pria itu, menuju ke kamar. Namun, tangan George dengan cepat menarik lengan Mira lalu menghempaskan tubuhnya ke depan hingga tubuh Mira membentur dinding dekat pintu. "Setelah ini, jangan harap kau bisa kemana - mana tanpa seizin ku." geram George.


.


.


.


.


.


.


.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Hai kak...


Makasih ya karena sudah mendukung novel ini sampai sekarang.

__ADS_1


Sukses buat kalian semua...


__ADS_2