
Selamat membaca. . .
Selasa pagi, Mira mendengarkan mekanik berbicara melalui sambungan telepon.
"Mobil anda sudah selesai diperbaiki, jadi anda bisa mengambilnya, bu." Si mekanik memberitahu.
"Baik, Terima kasih. Umm, saya akan menghubungi kamu jika saya akan mengambilnya. Ok? " jawab Mira.
"Baik bu, terimakasih."
Ketika menutup telepon, Mira memikirkan kegiatannya sepanjang hari ini. Untunglah tidak ada pekerjaan yang benar - benar penting yang harus ia kerjakan di kantor jadi ia memutuskan untuk mengambil mobilnya di bengkel sebentar pada jam makan siang.
Setelah memutuskan hal itu, Mira bergegas menyiapkan sarapan, dua potong roti yang sudah diolesi selai stoberi dan segelas susu coklat.
Sementara menikmati sarapannya, Mira memikirkan kembali keputusannya mengenai tawaran George. Ia sudah memutuskan akan menolak tawaran pria itu. Ia menduga bahwa George adalah pria sinting yang berbahaya. Sudah pasti tidak akan ada kebahagiaan jika bersama dengan pria itu.
Sekarang saja dia sudah merasakannya. Tidak ada kebahagiaan. Yang ada hanya rasa takut. Kalau dia berlama - lama dekat dengan George, bisa - bisa dia ikut menjadi gila. Jadi untuk apa repot - repot memikirkan tawaran pria itu?
Kemudian Mira memikirkan harapannya beberapa waktu lalu dimana dia berharap dia bisa bertemu dengan pria yang baik yang mampu mengisi ruang hampa dalam hidupnya. Tetapi sesungguhnya sosok George Goldsmith sangat jauh dari harapannya. Jadi, bukankah lebih baik sendiri daripada bersama dengan pria seperti George Goldsmith.
Mira sudah berencana akan meminta maaf dan menjelaskan alasan mengapa ia tidak menerima tawaran George, apabila dia bertemu lagi dengan Steve. Bukankah tidak ada orang di muka bumi ini yang secara sukarela mau masuk ke kandang singa, kecuali orang itu gila. Untung saja Mira tidak gila.
ย Mira yakin Steve pasti bisa memahami dan menerima keputusannya. Lagi pula, setelah di pikir - pikir, sebenarnya keputusan Mira tidak ada hubungannya dengan Steve. Mira tidak harus merasa bersalah pada pria itu. Meskipun sebenarnya dalam hati wanita itu, ada perasaan tidak enak pada Steve. Tetapi keputusannya sudah bulat. Dia akan menolak tawaran George.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Mira segera bersiap - siap. Ia segera mandi lalu secepat kilat berpakaian serapih mungkin.
Setelah selesai bersiap, Mira langsung menyambar tas kerjanya, keluar dari apartemen, menutup pintu dan segera menuju kantor.
***
Di hotel, selagi menikmati sarapan, George bertanya pada Steve dengan antusias.
"Apakah kau sudah memiliki rencana untuk membuat Miranda Starlin menerima tawaran ku?"
"Sudah, tuan." jawab Steve, lalu langsung menjelaskan rencananya. "Tidak ada wanita yang mau menikah dengan pria yang tidak dikenalnya. Jadi, menurut saya mulai sekarang anda harus membuat nona Mira mengenal anda, tuan."
"Bukankah dia sudah mengenalku? Dia tahu aku George Goldsmith, CEO Goldsmith company. Aku pria tampan dan kaya raya dari New York." kata George dengan nada sombongnya.
"Betul sekali. Namun, yang saya maksud bukan itu, tuan. Maksud saya adalah biarkan Nona Mira mengenal pribadi anda lebih dalam lagi. Misalnya warna kesukaan anda, makanan favorit anda, apa yang anda sukai dan apa yang anda tidak sukai."
George mengernyit. "Oh, begitu. Bagaimana caranya ?"
__ADS_1
Hanya karena telah banyak berkencan dengan wanita, bukan berarti George tahu bagaimana cara mendekati dan merayu wanita untuk menyukainya. Selama ini, para wanitalah yang terlebih dahulu menyukainya.
Steve meneguk kopinya sebelum kembali berkata. "Siang nanti anda harus mengajak nona Mira makan siang sehingga anda bisa mengobrol dengannya. Lalu jika wanita itu sudah selesai bekerja, anda harus menjemputnya dan mengantar dia pulang. Lalu anda bisa makan malam berdua di apartemen nya. Jangan lupa anda harus menyalakan lilin agar membuat suasana menjadi romantis. Dan pada akhirnya anda bisa menginap di apartemennya. Sempurna!"
"Itu rencana bodoh." kata George kecut. Alis George mengerut dan ia menggeleng. "Aku tidak mungkin melakukan itu. Bagaimana kalau aku memberikan uang padanya? 1 miliar atau 2 miliar."
Steve melambaikan tangan menandakan ketidaksetujuan nya. "Jangan. Anda akan membuat dia tersinggung, tuan. Anda ingat, beberapa waktu lalu dia tidak mengambil cek yang anda berikan."
"Aku ingat, tapi itu kan hanya seratus juta." sergah George. "Kali ini aku akan memberikan 1 miliar padanya."
"Berapa pun nominal yang anda berikan, keputusannya tetap akan sama. Dia tidak akan menerima uang anda dan juga tidak akan menyetujui tawaran anda . Aku yakin sekali, karena menurutku dia bukan wanita matrealistis." Steve berkata tegas.
George berpikir. Cukup lama bagi pria itu sebelum akhirnya memutuskan. "Apa yang kau katakan memang masuk akal. Baiklah, aku akan melakukannya." katanya lagi, terpaksa.
Kata - kata George membuat Steve terkejut sekaligus senang. Dia tahu selama ini bos nya itu tidak pernah mau berusaha berhubungan dengan serius dengan wanita manapun. Jangankan mengajak makan, mengobrol saja bahkan dia tidak pernah, kecuali mengobrol di atas ranjang, tentu saja.
Steve berharap semoga kali ini George mampu bersikap terbuka dan alami kepada Miranda Starlin sehingga mereka bisa menikah, saling jatuh cinta dan sama - sama menemukan kebahagiaan.
***
Siang harinya, George mengajak Mira untuk makan siang bersama, sesuai dengan rencana Steve. Namun, tentu saja bukan George yang menjemput wanita itu, melainkan Steve. Syukurlah wanita itu bersedia.
ย George tidak yakin apakah wanita itu benar-benar ingin makan siang bersamanya atau kehadiran nya disini hanya karena terpaksa.
Setelah selesai dengan pilihannya, keheningan berdenyut diantara mereka sebelum pandangan Mira menangkap sesuatu yang membuat dirinya penasaran.
"Tunggu sebentar disini, aku harus memastikan sesuatu." kata Mira lalu segera berlalu meninggalkan George.
George memperhatikan kemana perginya wanita itu. Untunglah wanita itu tidak meninggalkannya, mengingat mereka baru saja selesai memesan dan tentu saja mereka belum berbicara apa - apa. Wanita itu hanya berjalan ke belakang tepat di sudut kanan restoran, menghampiri sepasang kekasih yang tengah menikmati makanan mereka.
Mira berjalan ke sudut kanan restoran sambil mengamati dengan saksama apakah pria dan wanita yang sedang makan itu adalah Dion dan Sintia.
Ketika Mira semakin mendekat, ia benar-benar yakin dengan dugaannya.
Saat tatapan Mira bertemu dengan tatapan Sintia, Mira memandangi wanita itu dengan tatapan garang dan kedua tangannya yang berada di samping badan mengepal. Darimana lagi sikap itu ia pelajari kalau bukan dari George, pria gila itu. Dan tampaknya Mira sudah sangat mahir melakukannya. Terbukti wajah Sintia langsung memucat melihat sikap wanita itu.
"Sintia," Mira menggertakan gigi kesal. "Kau sengaja kan melakukan ini padaku. Merebut pacarku dengan tidak tahu malu!"
"Pacarmu, siapa?" Jawab Sintia kaku, berpura-pura bodoh.
Mata Mira melotot kemudian ia mengambil gelas yang berisi jus alpukat lalu menyiram jus itu tepat di kepala Sintia."Dasar wanita murahan!" katanya garang.
__ADS_1
Sintia tampak terkejut dengan perbuatan Mira. Berani - beraninya ia mempermalukannya seperti ini. Sintia pun mulai geram.
Setelah menyiram wanita itu dengan jus alpukat, Mira berkata lagi. "Baiklah, ambil saja sampah ini." Mira menunjuk Dion dengan jari telunjuknya lalu mengalihkan tatapan tajamnya pada pria itu. "Dia adalah sampah yang aku buang. Dia adalah sampah, dan kau adalah tong sampahnya!" raung Mira selagi mengalihkan pandangannya lagi ke arah Sintia.
Tidak terima dengan perkataan dan pelakukan Mira, Sintia segera bangkit dan hendak melayangkan tamparan di wajah Mira. Tapi dengan gerakan cepat dan lincah, Mira berhasil menahan tangan Sintia. "Jangan menyentuhku, wanita sialan! Kau pantas menerima semua itu karena memang kau perempuan murahan."
"Hentikan!" Teriak Dion sambil menarik tubuh Mira sehingga wanita itu terhempas ke belakang. "Kau sudah keterlaluan! Jangan berani menghinanya atau kau akan menyesal!" ancam Dion. "Kau harus sadar, kau itu hanya masa laluku dan dia adalah masa depanku. Jadi jangan sekali - kali kau menghinanya."
Selama ini, selain bersikap jujur, Mira juga selalu berusaha bersabar terhadap siapa saja dengan harapan ia bisa menghindari masalah di antara semua orang yang menjalin hubungan dengannya. Termasuk kedua orang di hadapannya ini. Tetapi kini ia tidak mampu lagi bersabar. Habis sudah kesabaran Mira mendengar perkataan Dion.
"Kau sama brengseknya dengan dia," Mira meledak. Dia menampar Dion kemudian mendorongnya hingga terhuyung ke belakang menabrak kursi.
"Tidak usah berbicara dengan makhluk seperti mereka," kata George lalu segera memegang bahu Mira dan mengiring wanita itu pergi dari sana.
Perkelahian mereka telah mengundang banyak perhatian. Seharusnya perkelahian ini berakhir disini sebelum ada diantara wanita-wanita itu yang rambutnya acak - acakan karena bergulat.
"Apa - apaan itu tadi? Siapa kau?" tanya Dion dengan kesal.
Pertanyaan itu menghentikan langkah George. Pria itu mendesah dan sudut bibirnya melengkung mengejek, "Pria sepertimu memang sampah. Apa kau tidak tahu? Tidak ada gunanya berbicara dengan sampah karena itu lebih baik kami pergi."
Mulut Dion ternganga, begitu terkejut dengan kata-kata pria itu. Tetapi lebih dari pada itu adalah ekspresi mengejeknya terus membayang dimata Dion dan membuat dia begitu kesal. Namun entah mengapa ia tak dapat bertindak. Dion hanya bisa memandangi pria itu yang berlalu meninggalkan mereka sambil merangkul Mira dengan posesif.
"Kita tidak bisa pergi, kita bahkan belum makan apapun." kata Mira sambil memandangi George, berusaha sekuat tenaga menenangkan diri.
ย "Tenanglah, ini bukan satu - satunya restoran yang bisa kita datangi. Kita akan makan di restoran lain." George terus menggiring Mira keluar dari restoran.
"Tapi kita sudah memesan makanan."
"Tidak apa - apa, aku sudah membayarnya."
"Tapi... tapi..."
"Sudah ku katakan itu tidak masalah, mengapa kau selalu saja membantah?" geram George.
Mira cemberut, menyesal telah membantah. Beberapa detik lalu pria itu berubah menjadi superhero yang menyelamatkan nya. Tetali sekarang ia telah kembali ke wujud aslinya, pria gila yang angkuh. Mira tidak sanggup lagi jika harus kembali berkelahi. Jadi, sekarang ia memilih diam dan menuruti perkataan George untuk kebaikan dirinya.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Hai kak, jangan lupa tinggalkan jejaknya ya..
tekan tombol like, berikan saran dan kritik juga masukkannya biar alur novel aku ini semakin baik dan menarik.
__ADS_1
Jangan lupa juga berikan vote kalian ya ๐๐
Terima kasih ๐๐