My Crazy Client

My Crazy Client
BAB 39


__ADS_3

Selamat membaca. . . .


Hari sudah malam ketika George kembali ke rumah sakit. Saat berada di ambang pintu kamar inap Mira, George berhenti sejenak sebelum masuk ke dalam. Ia menarik napas dalam-dalam untuk mempersiapkan diri menjawab pertanyaan istrinya itu. Dengan kondisi wajah yang terluka seperti ini, pastilah akan mengundang banyak pertanyaan dari Mira.


Ketika pintu berayun terbuka, George mendapati Mira tengah berbaring di ranjang. Namun, istrinya itu tidak tidur. Ia bersama dengan ponselnya. Mungkin sedang seru - serunya bermain ponsel hingga ia tak menyadari kehadiran George.


George mengarahkan pandangan nya ke sekeliling ruangan. Istrinya itu hanya sendirian sebab Jenette sama sekali tidak terlihat di manapun.


George berjalan menghampiri Mira. Sebelum akhirnya tiba di dekat istri nya itu, Mira sudah menyadari kehadiran George. Mira mendongak memandang George yang sementara berjalan ke arahnya.


Perasaan terkejut dan senang secara bersamaan menghantam hati Mira ketika ia melihat wajah George. Bahkan sekarang pikirannya sudah mulai melantur kemana - mana dan wajahnya pun langsung berubah memucat.


Segala sesuatu tentang George itu sempurna, baik soal kekayaan maupun soal penampilan. Secara fisik George adalah pria yang tampan.


Namun, kini wajah tampan pria itu hilang digantikan dengan wajah bengkak dan lebam.


"Apa yang terjadi dengan wajahmu? Apa kau berkelahi? atau apa kau di rampok?" tanya Mira begitu khawatir.


"Ini tidak apa - apa. Aku baik - baik saja. Tenanglah!" jawab George singkat sambil memegang tangan Mira.


Ketika tatapan mereka bertemu, George tersenyum pada Mira dalam kesakitan nya. Tentu saja Mira tahu bahwa suami nya itu sedang merasa kesakitan. Tetapi ia berusaha keras untuk menahannya. Memangnya manusia mana yang tidak akan merasakan kesakitan saat wajahnya babak belur?


George masih tetap tersenyum pada Mira dan pandangan matanya sangat mampu menenangkan perasaan khawatir Mira. Namun, bukan berarti rasa penasaran istrinya itu telah hilang. Ia tetap menyerukan beberapa pertanyaan kepada George.


"Ku mohon katakan padaku apa yang terjadi dengan wajah mu itu? Apa kau berkelahi? Atau...?"


"Ya, " jawab George segera. Ia menarik napas panjang lalu melanjutkan. "tadi aku bertemu dengan Brad lalu kami sedikit bertengkar. Ia memukul ku, tapi aku membiarkan nya. Aku pantas menerima ini. Tetapi aku telah memintanya untuk menjauhimu agar tidak ada gangguan dalam hubungan kita. Lebam dan luka ini sebanding dengan permintaan ku kepadanya." jelas George.


Mira hanya bisa mendengarkan dengan saksama. Ia tidak bisa berkata apa - apa. Mira kemudian memeluk George dengan erat untuk menenangkan hatinya sambil berharap pelukannya bisa mengurangi rasa sakit George.


"Ngomong - ngomong, dimana Jenette?" tanya George.


"Ia sudah pulang. Tidak ada yang bisa ia lakukan disini jadi aku menyuruh nya pulang." jawab Mira.


Jenette memang tidak dapat melakukan apa apa di rumah sakit selain menemani Mira. Tetapi Mira merasa kasihan kepada wanita itu yang hanya duduk - duduk saja tanpa bisa melakukan apa - apa sepanjang hari. Itulah mengapa Mira menyuruh Jenette pulang.


George berupaya mengalihkan pembicaraan dengan harapan agar istrinya itu tidak merasa sedih dan khawatir. Perkelahian antara sesama pria seperti yang dilakukannya dengan Brad adalah hal biasa. Namun, bagi Mira mungkin tidak seperti itu. George memeluk Mira dan mencium kening dan pipi istri nya itu. "Aku tidak apa - apa sayang," kata George lembut saat ia selesai menciumi Mira. "kau tidak perlu khawatir. Ok?"

__ADS_1


Setelah selesai mengatakan itu, George mendorong pelan bahu Mira agar ia bisa berbaring di ranjang. "Istirahatlah." ucap George lembut tetapi tetap tegas.


George mengulurkan tangannya menyentuh puncak kepala Mira dan membelai nya. "Tutup matamu dan tidurlah."


Seperti biasa.George adalah pria yang mengintimidasi.


George baru menghentikan belaiannya di kepala Mira ketika istrinya sudah tertidur.


***


George duduk di sofa sambil memikirkan sebuah hadiah yang akan diberikannya kepada Mira sebagai rasa syukur dan terimakasih nya atas semua yang terjadi diantara mereka. Rasanya semua sudah ada. Pakaian bermerek, tas dan sepatu bermerek bahkan perhiasan sudah dimiliki Mira. Kecuali satu. Mobil. George akhirnya memutuskan untuk memberikan hadiah sebuah mobil untuk istri tercinta nya.


George langsung menghubungi Steve menyuruh pria itu membeli sebuah mobil.


***


George berdiri di samping ranjang, menaruh satu tangannya di saku celana sambil mengawasi Mira yang masih tidur. George tidak ingin membangunkan Mira meski sekarang jam sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi. George tidak sampai hati mengganggu tidur istrinya itu sebab dia begitu menikmati memandangi wajah Mira yang tetap terlihat cantik di pagi hari meski tanpa polesan make up.


Ketika mata Mira mengerjap, George tersenyum sambil berkata, "Selamat pagi sayang." George kemudian mendekat dan mendaratkan ciuman lembut di bibir Mira.


Kesadaran tentang apa yang barusan terjadi adalah keharmonisan. Siapa sih yang tidak bahagia jika ketika terbangun di pagi hari, orang yang kau cintai berada di sampingmu. Amat terlebih ketika orang itu memberikan ciuman pagi yang romantis. Bukankah itu luar biasa menyenangkan?


"Aku punya kabar baik untukmu." ucap George bersemangat.


"Benarkah ? Katakan apa itu?"


"Beberapa menit yang lalu dokter datang dan mengatakan bahwa kau sudah boleh pulang hari ini. Jadi, aku sudah berkemas agar saat kau bangun kita bisa langsung pergi."


Ekspresi Mira tampak sangat bahagia. Sejujurnya dia sudah bosan berada di rumah sakit. "Oh... akhirnya aku bisa pulang." kata Mira senang.


Cepat - cepat Mira ke kamar mandi dan membersihkan diri lalu segera mengganti pakaian nya.


"Aku siap," ucap Mira ketika ia keluar dari kamar mandi.


"Kalau begitu ayo pulang."


***

__ADS_1


George menuntun Mira ke arah sebuah mobil BMW berwarna merah yang terparkir di area rumah sakit.


Mira menoleh ke arah George. Matanya seolah sedang mengatakan pertanyaan yang berhubungan dengan mobil merah itu.


"Kejutan..." seru George sambil tersenyum menatap Mira. "Ini adalah hadiah kecil dariku untukmu, sayang." kata George untuk menjawab pertanyaan dari sorot mata Mira.


Kejutan dari George langsung membuat Mira tersenyum lebar. Ia tampak sangat gembira. "Terima kasih sayang," ucap Mira tulus. "lalu, mana kuncinya?"


George mengambil kunci mobil dari saku celana nya. "Ini dia." kata George sambil mengangkat kunci mobil tersebut. "Tapi kau belum bisa mengemudikan mobil ini. Selain karena alasan kesehatan mu, kau juga belum tahu jalanan disini."


Mira mengangguk membenarkan dan menyetujui. Sebenarnya ia juga memikirkan hal yang sama. "Tidak masalah. Aku tetap merasa sangat senang karena kau sudah memberikan mobil berwarna merah ini untukku."


George membuka pintu mobil lalu mempersilahkan Mira masuk.


"Bagaimana kau tahu kalau aku menginginkan memiliki mobil berwarna merah?" tanya Mira ketika mobil mulai melaju.


"Tentu saja aku tahu," ucap George sambil mencuri pandang menatap Mira.


Lagi - lagi Mira terkejut dengan apa yang baru saja di katakan George.


"Kau tahu, sejak aku menyadari perasaanku yang sebenarnya terhadap dirimu, aku telah memutuskan untuk mengetahui segala sesuatu tentang dirimumu bahkan sampai pada apa yang dipikirkan oleh otakmu itu, aku harus tahu. Kenapa? Karena aku ingin membahagiakan mu." lanjut George. Nada bicara nya terdengar serius.


Mira tercengang sekaligus merasa begitu gembira. "Wow... Hebat sekali!"


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bonus foto mobil barunya Mira...



__ADS_2