My Crazy Client

My Crazy Client
BAB 17


__ADS_3

Selamat membaca . . .


Keesokan harinya, Mira bangun pagi - pagi sekali. Bukan tanpa alasan ia melakukannya. Mira berencana menunjukkan pada George bahwa dia wanita yang rajin dan penuh perhatian. Jadi setelah bangun, sesegera mungkin ia ke dapur dan membuat sarapan.


Mira meyakini bahwa makan bersama akan memberinya kesempatan untuk lebih mengenal pribadi dan tempramen George Goldsmith.


Selama bersama pria itu, Mira tidak pernah melihat George tersenyum lembut. Itu membuatnya penasaran. George selalu saja memperlihatkan senyum sinis, senyum mengejek, senyum hambar dan senyum licik. Dari semua itu tidak ada satupun yang baik untuk dikagumi.


Sebelum memasak, Mira mencari - cari resep dan cara membuat masakan yang cocok untuk sarapan di internet. Namun, semuanya percuma saja karena ia tidak memiliki bahan yang lengkap. Pada akhirnya Mira hanya membuat roti panggang dan telur orak - arik lagi, lalu menyeduh secangkir teh untuk dirinya dan secangkir kopi untuk George.


Setelah semua selesai, Mira membangunkan George yang masih tertidur pulas di sofa ruang tamunya. Akan tetapi, tiba-tiba saja pria itu bangun dan berjalan ke arah kamar mandi.


Luar biasa! Pagi hari ini Mira disunguhkan dengan pemandangan yang indah yang membuat matanya tak berkedip dalam waktu yang lama. George hanya mengenakan kaus dan celana boxer, sehingga membuat dirinya terlihat seksi.


Penampilannya sungguh menggoda.


Saat George duduk di kursi di meja makan, Mira langsung memasangkan serbet bersih di dada George. Pria itu spontan terkejut dan memandangi Mira dengan tatapan aneh.


"Aku menyimpan beberapa serbet di lemari, tetapi aku jarang menggunakan nya. Mungkin sekaranglah waktunya menggunakan ini." ucap Mira setelah menyadari tatapan George yang seperti bertanya - tanya alasan mengapa ia memasangkan serbet itu.


Kemudian Mira memberikan sendok, garpu dan piring yang berisi telur orak - arik di atas roti panggang di hadapan pria itu, lalu meletakkan secangkir kopi di sebelah piring.


"Aku sudah membumbui telurnya, tetapi jika menurutmu itu masih kurang, kau bisa menambahkannya sendiri. Ini garam dan ini merica," kata Mira lagi sambil menunjuk dua buah wadah kecil yang ia taruh di tengah - tengah meja.


Saat George hendak mencicipi makanannya, Mira menahan tangan pria itu.


"Tunggu dulu. Sebaiknya kita berdoa dulu sebelum kita makan." ajak Mira.


Mira melipat tangannya dan memanjatkan doa, sementara George hanya menundukkan kepala.


"Sekarang, kau bisa makan." ucap Mira setelah selesai berdoa.


George langsung mencicipi roti panggang dan telur itu. "Rasanya cukup enak," kata George setelah ia selesai mengunyah.


Jawaban pria itu kali ini cukup membuat Mira senang. Tetapi tentu saja Mira belum puas. Dia harus berusaha lebih keras lagi agar bisa memasak dengan baik.


Selagi menikmati makanannya, George bertanya dengan wajah serius. "Bagaimana keputusanmu? Kau sudah memikirkannya kan?"


"Ya," kata Mira sambil menarik napas dalam - dalam, berusaha tetap tenang. "Sudah aku putuskan, aku akan menikah denganmu."


"Bagus, berarti kau sudah menandatangani kontrak itu kan? Berikan padaku kontrak itu beserta dengan dokumen pribadimu agar aku bisa segera mengurus pernikahan kita." Nada suara pria itu memerintah.


Mira menyesap tehnya lalu menjawab, "Aku sudah menyiapkannya."


Setelah selesai dengan sarapan, George mengambil piring - piring dan cangkir Mira lalu langsung membersihkannya. Sementara Mira mengambil kontrak dan berkas pribadinya didalam kamar.


Mira menyerahkan semuanya kepada George lalu langsung kembali ke kamar mengambil kimono handuk dan segera melesat ke kamar mandi.


George duduk lagi di kursi tadi lalu mengambil ponselnya dan menelepon Steve, menyuruh pria itu menjemput mereka sekaligus menyuruh pria itu untuk mengurus semua keperluan untuk pernikahan mereka.


Belum sempat menyelesaikan pembicaraannya dengan Steve, George menoleh ke arah pintu karena seorang wanita paru baya baru saja masuk.


"Selamat pagi, sayang." kata wanita itu lembut masih dari ambang pintu.


George segera berdiri dan berjalan mendekati wanita itu. "Selamat pagi," jawab George kikuk.


Wanita itu menatap George selama beberapa detik, mulutnya terbuka karena terkejut, kemudian akhirnya ia bertanya, "Kau siapa?"


George cukup yakin bahwa situasi sekarang akan menjadi situasi yang kurang baik, karena begitu melihat wajah wanita itu dalam jarak dekat, George yakin bahwa wanita itu adalah ibunya Mira.

__ADS_1


George sangat yakin karena ia pernah melihat wajah wanita itu dari foto dan keterangan yang diberikan Steve saat menyelidiki semua hal tentang Mira.


Stella memandangi George penuh selidik sembari berpikir. Namun sepertinya ia sama sekali tidak mengenali pria itu. Atau lebih tepatnya belum.


Selama ini, Mira selalu bercerita pada Stella tentang semua teman pria yang dikenalnya. Tapi pria di hadapannya ini, sepertinya belum pernah diceritakan Mira.


"Siapa kau?" tanya Stella sekali lagi.


George berdeham. "Perkenalkan, nama saya George Goldsmith." George mengulurkan tangan kanannya ke depan.


Stella tampak ragu, tapi kemudian membalas menyalami George. "Sedang apa kau disini?" Tanya Stella masih dengan sorot penuh selidik.


Rahang George mengatup, bingung harus mengatakan apa.


"Katakan apa yang kau lakukan disini?" tanya Stella bersikeras.


"Saya menginap disini semalam." jawab George, suaranya pelan seperti ragu - ragu.


"Apa?" Stella menatap pria itu dengan tajam, tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan pria itu.


"Kenapa kau menginap disini? Ini apartemen anakku. Ada hubungan apa kau dengannya?" Nada suara wanita itu terdengar tidak senang.


George tidak tahu harus menjawab apa, karena dia sendiri bingung apa sebenarnya status hubungan nya dengan Mira. Namun George bertanya-tanya dalam hati, apa yang akan dilakukan wanita itu terhadap Mira karena sekarang dia memergoki George berada di apartemen anaknya, pada pagi hari dengan hanya mengenakan kaos dan celana boxer.


Nada suara wanita itu saja sudah seperti kilat yang menggelegar. Apalagi kalau ia bertindak dengan gerakan. Mungkin sebentar lagi Mira akan babak belur.


"Katakan! Ada hubungan apa kau dan anakku?" Ketidaksabaran mewarnai suara Stella.


George hendak membuka mulutnya untuk menjawab, namun perhatian keduanya teralih ke arah pintu kamar mandi yang berderit.


"Aku sudah selesai mandi." kata Mira sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk. "Sekarang kau bisa..." Kata - katanya mengambang ketika melihat ibunya berdiri di ambang pintu bersama dengan George.


"Mama... Ya Tuhan, mengapa mama ada disini?" Suara Mira bergetar.


Wajah Mira memucat ketakutan seperti baru saja melihat hantu.


Habislah aku! kata Mira dalam hati.


"Dia George Goldsmith, calon suamiku ma." ucap Mira terang-terangan, berharap ucapannya sanggup menyelamatkan dirinya dari murka ibunya. "Semalam dia menginap disini tetapi..." Mira ingin menambahkan penjelasannya namun suara teriakan Stella menghentikannya.


"Apa?" Mata Stella membelalak mendengar keterusterangan Mira. "Apa katamu?"


Stella maju dan menerjang Mira. Dipukulinya punggung Mira dengan tas yang digenggamnya. Sepertinya amarah sudah menguasai Stella.


"Bagaimana bisa kau membawa seorang pria menginap di apartemen mu? Anak kurang ajar! Apa kau sudah berubah menjadi perempuan tidak benar? Apa yang ada dalam otakmu? Apa kau tidak berpikir ? Bagaimana bisa kau melakukan ini? Dan apa maksudnya dengan menikah?" geram Stella.


Mira memekik kesakitan. "Ampun ma... maafkan Mira. Biar Mira jelaskan." Tanpa sadar Mira berjalan menjauh dari Stella untuk menghindari pukulan wanita itu.


Kepala George mulai pening melihat pertarungan kedua wanita itu. Sekarang George tahu dari mana sikap bar - bar Miranda Starlin berasal.


"Ku mohon hentikan memukuli nya," George mencoba menengahi namun ia heran dengan kata-kata yang baru saja dilontarkan nya. Benarkah dia tadi memohon?


George memandangi Mira dengan sorot meminta maaf karena apa yang terjadi sekarang tentu saja karena ulahnya.


Dagu George terangkat. "Mari kita duduk dan berbicara dengan kepala tenang." Suara bariton itu datar dan tegas.


Sesaat Stella mempertimbangkan kata-kata pria itu, tetapi kemudian ia berjalan menuju sofa dan duduk disana sambil menyilangkan tangannya di dada.


Ekspresi wajah Stella masih menakutkan.

__ADS_1


Mira memandangi George dengan sorot berterima kasih, seolah pria itu baru saja menyelamatkan nya dari kematian.


Kemudian Mira segera mengambil posisi duduk berseberangan dengan ibunya, sementara George tetap berdiri di antara kedua wanita itu, seolah dia seorang hakim.


Kepala Mira tertunduk, tidak berani menatap ibunya. Ia diam tak bergerak, terlihat seperti tikus basah.


Mira menghitung sampai sepuluh didalam hati baru kemudian memulai pembicaraan. "Maafkan Mira ma," ucap Mira pelan namun ada rasa penyesalan dalam suaranya.


Mira merasa sangat bersalah pada ibunya. Selama ini ibunya selalu mengajarkan dia tentang norma. Dan selama dua puluh tujuh tahun, sebelum mengenal George, hidup Mira teratur. Ia berhasil berperilaku baik sesuai yang diajarkan ibunya. Namun, setelah bertemu dengan pria itu , hidup Mira berubah kacau dan berantakan.


"Ini memang salah ma, tapi kami akan memperbaikinya." lanjut Mira.


"Bertanggungjawab," George mengoreksi. "Kami akan bertanggungjawab."


George Goldsmith tidak akan membiarkan kesempatan yang ada hilang begitu saja. Ia yakin sekarang adalah saat yang tepat untuk memberitahu pada wanita itu mengenai rencana pernikahannya bersama Mira dan meminta restu.


"Kami tidak melakukan apa - apa semalam, kecuali tidur." George menjelaskan. "Saya menginap disini karena saya ingin mengenal putri anda lebih dekat karena saya berencana menikahi putri anda dalam waktu dekat."


Stella melirik Mira. "Apa benar yang dia katakan?"


"Ya, semuanya benar. Semalam dia tidur di sofa ini ma." Mira masih menundukan kepala.


Stella melihat bantal dan selimut yang tersusun rapih di ujung sofa lalu menarik napas panjang, lega.


"Saya rasa anda perlu berbicara dengan Mira terlebih dahulu," kata George tenang.


"Ya," sahut Stella.


"Kalau begitu, saya permisi sebentar. Saya akan kembali lagi kesini pada malam hari." George segera melangkahkan kaki keluar.


"Tunggu!" seru Stella.


Langkah kaki pria itu terhenti. George menoleh memandangi Stella.


"Kapan kau akan menikahi putri ku?" tanya Stella cepat.


"Secepatnya, nyonya."


"Kalau begitu nikahi dia minggu depan."


Mira mendongak, mulutnya ternganga ngeri. "Haaaa?"


Bibir George melengkung membentuk senyuman. Mira tidak yakin senyum apa yang tersungging di bibir pria itu


"Tidak masalah." kata George tenang. "Terima kasih untuk itu, saya akan mempersiapkannya mulai dari sekarang."


..


.


.


.


.


Terimakasih kepada semua yang mau menyempatkan diri membaca novel ini.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya kak.

__ADS_1


Like, comment and vote.


Terima kasih..


__ADS_2