My Crazy Client

My Crazy Client
BAB 22


__ADS_3

Selamat membaca. . .


    Mira tersenyum bahagia mendapati pesta pertunangannya begitu meriah. Keluarga Mira memang besar. Dari keluarga sebelah ayahnya , ia memiliki tiga paman dan dua bibi, tiga sepupu perempuan dan delapan sepupu laki-laki. Dua sepupu perempuan dan lima sepupu laki-laki nya sudah menikah dan di karuniai anak. Sedangkan dari keluarga ibunya, Mira memiliki satu orang bibi yang tinggal di Bekasi, dua sepupu perempuan dan satu sepupu laki-laki.


Mira heran. Bagaimana semuanya bisa hadir pada pertunangan nya, padahal acara ini terkesan mendadak.


 Bukan hanya itu. Bagaimana bisa para sahabat, kenalan dan tetangga juga hadir disini? Mira mengira - ngira bahwa yang hadir memeriahkan pesta pertunangannya bisa mencapai dua ratus orang.


Dekorasi ball room nya juga sangat indah. Bunga - bunga berwarna merah serta hiasan - hiasan senada yang tertata rapih di sepanjang altar membuat dekorasi ini sempurna, sesuai impian Mira.


Semuanya memang luar biasa. Terlebih saat George menyematkan cincin berlian di jari manis Mira, wanita itu merasa bak putri didalam dongeng yang diceritakan ibunya sewaktu ia kecil.


Sepanjang acara mata Mira terus berbinar dan bibirnya terus melengkung membentuk senyuman gembira.


***


    Mira segera kembali ke kamar hotel setelah acara usai. Ia langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai. Blouse bermodel sabrina berwarna merah dan celana jeans panjang berwarna hitam biru tua menjadi pilihannya. Meski pakaiannya tidak terbuka, tapi lekuk tubuh wanita itu sangat kentara dan itu membuatnya terlihat seksi.


Stella juga berada dikamar bersama Mira. Ia juga hendak mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana panjang. Tapi lebih daripada itu ia hendak berbicara dengan Mira. Ya, mereka perlu berbicara.


 Selagi memperhatikan putrinya yang sementara bercermin, Stella membuka mulutnya untuk memulai pembicaraan. "Maafkan mama karena memaksamu untuk segera menikah. Tapi, sesungguhnya ini adalah yang terbaik untuk semua."


 Mira berpaling menghadap ibunya. "Tidak ada yang perlu dimaafkan karena dalam hal ini mama tidak bersalah." Sekuat tenaga Mira menahan gugup yang ia rasakan. "Seharusnya aku yang minta maaf karena aku telah mengecewakan mama dan papa." gumam Mira lambat - lambat agar ia tidak menangis.


Stella menatap Mira dengan tatapan sendu. "Tidak. Kau tidak pernah mengecewakan mama dan papa. Terkadang memang kau membuat kesalahan. Tentu saja semua orang pernah melakukannya. Tapi alih - alih menyesali kesalahan itu, kau lebih memilih untuk memperbaikinya. Kau selalu memiliki sikap bertanggung jawab."


 Keduanya saling bertatap mata, seperti sedang berkomunikasi melalui sorot mata. Secara otomatis Mira menyadari bahwa ibunya pasti sudah mengetahui kecerobohan yang dilakukannya dengan George.


Mira mendapati dirinya maju mendekat pada ibunya lalu tersungkur dan memeluk wanita itu erat - erat. Air mata Mira pun langsung merebak. Selama beberapa detik Mira menumpahkan kesedihan, rasa bersalah dan rasa malunya melalui tangisan pilu.


"Sudah, sudah." hibur Stella. "Jangan menangis lagi."


Mira kemudian menatap wajah ibunya. "maafkan Mira ma," ucapnya sedih.


Stella menarik napas dalam-dalam, menguatkan diri. Kemudian ia mengulurkan tangannya tepat di tulang pipi Mira, lalu mengusap nya dengan lembut. "Kau harus bahagia, berjanjilah!" Suara wanita itu terdengar bukan seperti memohon, melainkan seperti memerintah.

__ADS_1


Mira menatap ibunya tanpa mampu menjawab. Jadi ia hanya bisa mengangguk.


"Dengarkan!" kata Stella lagi. "Pria pada dasarnya egois. Dalam sebuah rumah tangga, para pria biasanya menginginkan agar kita, para wanita menganggap mereka sebagai pemimpin daripada sebagai patner."


Mira tertegun mendengar nasihat ibunya.


"Aku tahu sedari dulu kau sangat suka membantah bahkan menolak secara terang - terangan apabila ada sesuatu yang tidak kau sukai. Tetapi sekarang kau tidak boleh egois."


Mira yakin kata - kata ibunya itu mengartikan bahwa itu bukan sikap yang baik.


"Setelah menikah, hidupmu sudah berbeda," lanjut Stella. "Tidak semua hal harus berjalan sesuai keinginan dan aturanmu. Aku berharap kau mau berubah. Lebih banyaklah mendengar daripada berbicara."


Mira membuka mulutnya ingin menyela, tapi kemudian menutup nya lagi. Tanggapan yang ingin dikatakannya tiba-tiba saja lenyap.


"Semua akan baik - baik saja asal kau mau bersabar. Aku yakin cinta akan tumbuh diantara kalian seiring dengan berjalannya waktu."


Mira tidak tahu bagaimana harus merespons kata - kata ibunya itu, jadi sekali lagi ia hanya bisa menganggukkan kepala. Kali ini gerakan itu keliatan jelas sehingga membuat Stella menampilkan senyum lembut dibibirnya.


Tepat setelah itu pintu kamar di ketuk. Mira menyeka air matanya lalu segera membuka pintu.


Mira berpamitan pada kedua orang tuanya, kepada Mark adiknya dan kepada beberapa anggota keluarga yang masih berada di hotel.


"Maaf, kami tak bisa mengantarmu sampai bandara." kata Martin sedih.


"Tidak apa - apa pa. Lagipula kita minggu depan kita akan bertemu di New York." Seru Mira.


Mira memeluk sekali lagi pada ibunya dan ayahnya dan Mark adiknya sebelum ia pergi.


***


    Perjalanan Mira ke New York melayangkannya pada kehidupan baru yang jauh berbeda dengan kehidupan lamanya.


Keberadaannya di New York bukan hanya sekedar karena ia akan menikah. Tetapi lebih daripada itu ia harus bertualang, merebut hati sang CEO Goldsmith Company.


Tiba-tiba terlintas dalam pikirannya apa saja yang ia ketahui tentang pria itu.

__ADS_1


George adalah CEO Goldsmith company.


George memiliki riwayat penyakit siklotomia.


Sikapnya dingin, angkuh dan pemarah.


Apa lagi ya? pikir Mira.


Astaga! ternyata hanya itu yang ia ketahui tentang George.


Kemudian ia bertanya-tanya dalam hati. Apa yang George ketahui tentang dirinya? Oh rasanya sudah banyak. Bahkan mungkin sudah semuanya.


Meski begitu, Mira yakin ini jelas bukan dasar yang kuat untuk menikah. Sebab itu Mira memutuskan untuk mengenal pria itu.


 Bukan berarti Mira lupa tentang perjanjian pernikahan bodoh itu, yang telah ditandatanganinya. Tapi persetan dengan itu. Lagi pula, apakah itu penting? Toh dia tidak akan berselingkuh. Ia adalah tipe wanita yang setia.


Mira mengusir jauh - jauh ingatannya tentang perjanjian itu.


    Sebaiknya ia terlebih dahulu bersikap terbuka terhadap George. Ia akan menceritakan semua hal tentang dirinya, meskipun pria itu mungkin sudah mengetahuinya. Lalu setelah itu perlahan - lahan akan masuk ke dalam hidup George, kemudian memintanya untuk mulai membuka diri.


George membutuhkan dirinya, pikir Mira dalam hati. Entah mengapa ia sangat yakin akan hal itu. Dan ia senang menjadi seseorang yang dibutuhkan.


Pria itu sebenarnya tidak jahat ataupun gila, meski wajahnya garang seperti itu. George hanya merasa kecewa terhadap cinta. Tapi bukan berarti cinta itu bersalah kan?


 Cinta tidak akan pernah salah, bukan. Mungkin yang ada dalam kehidupan George selama menjalin kasih dengan mantan nya itu bukankah cinta yang tulus.Oh, berapa sakit rasanya mengalami itu. Mira paham benar bagaimana rasanya.


Belajar dari pengalaman cinta yang menyakitkan, Mira tahu bahwa George membutuhkan seseorang yang memperhatikannya, menyayangi dan mencintainya sepenuh hati.


Dan Mira berjanji akan memberikan semua itu.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Hai semua. Terimakasih karena sudah meluangkan waktu membaca novel ini.


Untuk Arianty, terimakasih karena selalu mendukung...

__ADS_1


__ADS_2