
Selamat membaca . . .
Mira terbangun keesokan paginya dengan kepala yang berat. Cahaya mentari yang mulai mengintip dari balik cela - cela jendela pun seolah tak mampu mengurangi rasa pening di kepalanya. Kesadarannya baru benar - benar pulih setelah ia menyadari tidak ada satu helai benangpun ditubuhnya selain selimut putih yang menempel erat.
"Ya Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi padaku? Bagaimana bisa begini?" gumam Mira.
Mira nyaris gila memikirkan apa yang terjadi semalam. Bagaimana dirinya di terobos dan bagaimana bisa ia menikmatinya. "Sialan," pekik Mira. "Bagaimana ini bisa terjadi ? Ngomong - ngomong, dimana pria brengsek itu ?" Mira melayangkan pandangannya mencari - cari sosok pria semalam.
Kosong.
"Jangan - jangan pria itu ada di kamar mandi." Mira menduga - duga. Perlahan ia turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi masih dengan memegangi selimut putih. "Awh..Perih sekali." Mira meringis menahan perih dipangkal pahanya. Sadarlah ia bahwa ia sudah kehilangan kesuciannya. Mata nya kembali berkilau karena air mata.
Mira tidak melihat siapapun didalam kamar mandi saat ia membuka pintu.
Kosong.
"Wah, hebat sekali dia." gerutu Mira. "Berani - beraninya dia meninggalkan aku seperti ini." Ia kemudian mengumpat. "Dasar pria brengsek! Apa dia pikir aku wanita penggoda? Apa dia buta ? Apa dia tidak punya mulut untuk bertanya? Bagaimana bisa dia berbuat seperti ini padaku ?"
Mira kembali ke kamar dan segera mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai lalu bergegas memakainya. Ia pun segera membereskan barang - barangnya. Sejenak Mira mendesah. Airmata yang tidak ingin ia keluarkan lagi dengan cepat menuruni wajahnya. "Bagaimana sekarang ? Apa yang harus aku lakukan ?" Rasa takut dan cemas melanda wanita itu. "Maafkan aku ma, aku tidak bisa menjaga diriku baik - baik." ucap Mira keluh.
Sebelum beranjak pergi dari tempat ia berdiri, sekilas Mira melirik selembar kertas di atas nakas. Perhatiannya pun tertuju disana. Ia berjalan mendekat dan mengambil selembar kertas itu. Dalam sekejap kertas berbentuk persegi panjang itu berubah kusut akibat perbuatan tangan Mira yang meremas kertas itu keras - keras. "Dia benar - benar brengsek." geram Mira. "Bagaimana bisa meninggalkan cek sebanyak ini ? Apa dia pikir aku perempuan binal ? Apa dia pikir dia bisa membeli tubuhku dengan uangnya ? Dasar pria keparat! Pergilah neraka!!!"
Umpatan Mira terhenti saat ponselnya berdering. Cepat- cepat ia mengambil ponselnya dari dalam tas lalu mengangkat panggilan itu. "Halo pak, selamat pagi." sapa Mira dari balik telepon genggamnya sembari meletakkan cek bernilai seratus juta itu pada tempatnya semula.
"Kau dimana ? Saya hanya ingin bertanya apa kau sudah memberikan laporan penjualan produk Golds pada Tasya?"
Tasya adalah sekretaris bosnya Arifin.
"Sudah Pak. Saya sudah memberikan laporannya pada mba Tasya sejak beberapa hari lalu. Tetapi untuk berjaga - jaga, saya juga membawa salinannya karena saya tahu sebentar siang anda akan menemui client kita dari New York."
"Bagus. Saya belum bisa terhubung dengan Tasya. Apa kamu bisa membawa laporannya padaku ?"
"Tentu bisa, pak. Namun, mungkin sebaiknya saya bertemu bapak di lobi saja." usul Mira.
__ADS_1
"Baik kalau begitu. Kita bertemu di lobi."
Mira memutar kedua bola matanya. "Demi Tuhan, ada apa dengan semua pria ? Apa semuanya memang brengsek ? Seharusnya anda menikmati kebersamaan romantis anda dengan Lisa. Bahkan ini masih belum jam delapan, bagaimana bisa anda sudah memikirkan pekerjaan ?"
Selagi berjalan menyusuri lorong kamar hotel, Mira terus menerus memikirkan bagaimana hidupnya sekarang. Ia tahu suatu hari nanti ia akan diterobos. Tapi seharusnya tidak sekarang. Seharusnya tidak dengan cara seperti ini. Seharusnya dengan orang yang ia kenal, bukan dengan seseorang yang namanya saja ia tidak tahu.
Ketika berdiri didepan pintu kamar 2023, Mira menggerutu. "Bodoh! mengapa aku baru mengingatmu sekarang ?"
Mira segera membuka pintu dan langsung melesat ke kamar mandi, membersihkan diri cepat - cepat lalu bersiap - siap. Tak butuh banyak waktu bagi Mira untuk selesai bersiap. Di ambilnya tas miliknya, laporan yang diminta Arifin dan di tariknya koper berwarna merah miliknya lalu segera turun.
"Maaf, apa anda sudah menunggu lama pak ?" ucap Mira saat menghampiri Arifin. "Ini laporannya." sambung Mira.
"Tidak, saya baru saja tiba. Mengapa kau membawa kopermu ?" Arifin melirik koper berwarna merah di belakang Mira. "Apa kau akan pulang sekarang?" tanya Arifin dengan suara nya yang datar.
Pria itu adalah pria yang gila kerja. Tidak heran dikantor julukan pria itu adalah CEO SETAN. Pria itu selalu menekan para karyawan, khususnya di bagian pemasaran agar bisa meningkatkan penjualan. Dan ekspresi pria itu juga selalu datar. Tidak bisa dipahami apakah itu karena sifatnya yang pendiam atau karena ia menjaga image nya di depan semua karyawannya.
"Iya. Bolehkah saya pulang sebentar ? Setelah itu saya akan langsung ke kantor." kata Mira dengan nada memohon.
"Tidak, tidak usah ke kantor. Sebaiknya kau langsung ke Golds Counter. Jika client kita ingin memeriksa keadaan toko, kau harus ada disana."
"Ok," balas Arifin sambil berpaling meninggalkan Mira.
***
Sementara itu Geroge masih menikmati sarapannya. Secangkir kopi kental dan beberapa potong roti panggang menjadi menu pilihan dipagi hari yang cerah ini.
"Good morning Mr. George," kata Steve ketika ia mengambil posisi duduk berhadapan dengan pria itu. "Bagaimana malam anda ?" Steve tersenyum.
"Sudah ku duga. Kau masih tidak membiarkanku beristirahat dengan tenang." George tidak memasang muka garang tetapi sedikit tersenyum.
"Tapi wanita semalam luar biasa. Bagaimana kau bisa mengenal wanita itu ?" tanya George antusias.
Steve mengerutkan dahi, tampak bingung. "Wanita ? Semalam ? Siapa ? Ah, maksud anda Lucy. Saya memang menyuruhnya melayani anda tuan, tapi setelah itu tidak ada lagi wanita. Tuan sudah memarahi saya karena Lucy mengganggu waktu anda, jadi bagaimana mungkin saya melakukannya lagi ?"
__ADS_1
"Apa? Jadi semalam kau tidak mengirmkan wanita untukku ?" tanya George sekali lagi mencari kepastian. Dalam hati George harap - harap cemas.
Steve menggeleng. "Tidak, tuan."
George terperanjat. "Jadi wanita semalam bukan . . ." Ucapan George mengambang. "Oh, tidak!"
Dengan setengah berlari George meninggalkan Steve, bergegas menuju ke lantai lima belas, menuju kamar presidential suite miliknya, kamar yang menjadi saksi bisu perbuatan tak bermoralnya terhadap wanita itu.
Mulut Steve hanya bisa menganga melihat ekspresi wajah tuannya yang tiba - tiba pucat seolah baru saja terjadi masalah besar dalam hidupnya. " Apa terjadi sesuatu yang buruk ?" Tidak ada jawaban atas pertanyaan pria itu karena yang seharusnya menjawab sudah menghilang.
Berbagai perasaan menggelekak di hati George. "Bagaimana bisa aku melakukan perbuatan tidak terpuji itu ? Dan ya Tuhan, wanita itu masih perawan. Aku sudah membiarkan diriku merenggut kehormatan wanita itu. Aku sudah menghancurkan hidupnya," kata George dalam hati. "Semoga wanita itu masih berada di kamar. Aku harus menyelesaikan kesalahpahaman ini. Aku harus, bagaimanapun caranya.
.
.
.
.
.
.
.
Hallo Kakak - kakak,
jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya.
Tekan tombol suka, Tuliskan komentarnya (saran ataupun kritik) dan jangan lupa vote ya.
Percayalah, komentar dari kakak - kakak sangat berarti bagi author.
__ADS_1
terima kasih 😘💕