My Crazy Client

My Crazy Client
BAB 33


__ADS_3

Selamat membaca. . .


George mengemudikan mobil dengan pikiran kacau dan wajah keras karena menahan emosi. Kedua tangan nya sesekali memukul roda kemudi mobil, berharap tindakan itu akan mengurangi rasa kesal dan frustasi nya. Suasana hatinya telah berubah menjadi buruk sekali akibat pertengkaran nya dengan Mira.


Brengsek.


George tidak ingin lagi memikirkannya. Tentang pertengkaran mereka ataupun tentang alasan mengapa mereka bertengkar. Itu tidak penting jika dibandingkan dengan pikiran tentang perasaan cemburunya yang membabi - buta. George tahu bahwa ia cemburu karena dia telah jatuh cinta pada Miranda Starlin, istrinya.


Baru saja George menyadari hal itu, bahwa ia telah jatuh cinta pada Mira. Tetapi tidak disangka - sangka, masalah datang seolah diutus untuk menghancurkan perasaannya. Padahal, ia pun sudah berniat meyakinkan Mira bahwa pernikahan mereka tidak perlu memiliki batas waktu seperti yang tertera pada perjanjian pernikahan yang telah mereka tanda tangani.


George sudah terlanjur jatuh cinta dan peduli pada Mira. Dan kini ia menginginkan Mira menjadi istrinya secara nyata, dengan peran sama seperti istri - istri pada umumnya, yaitu mengurus dirinya, rumah nya dan bahkan mengurus anak - anak mereka. Tetapi tentu saja hal yang paling diinginkannya adalah ia bisa bercinta dengan Mira kapanpun ia mau. Wanita itu benar-benar telah berhasil menjerat George.


Tetapi mungkin keinginan George terlalu banyak.


George ingat bahwa keinginan seperti ini pun pernah dirasakannya ketika ia menjalin hubungan dengan Nicole. Namun, apa yang terjadi?


Nicole berselingkuh.


Dan siapa yang menyebabkannya?


Brad Rowland.


George sudah tahu melalui informasi yang diberikan Steve tentang semua rencana busuk Brad terhadap hubungannya dengan Nicole. Namun, alih - alih menyalahkan Brad, George memilih menyalahkan dirinya sendiri sebab perselingkuhan Nicole tidak sepenuhnya karena Brad.


George juga bersalah.


Sial.


Setelah mengemban tanggung jawab sebagai seorang CEO, George lupa waktu karena sibuk bekerja. Pada akhirnya ia juga melupakan Nicole. Sebelumnya, begitu banyak perhatian yang ia curahkan terhadap wanita itu. Tetapi begitu George menggantikan posisi ayahnya, ia menjadi sangat sibuk sampai akhirnya tidak ada lagi memperhatikan wanita itu.


Tetapi memang Nicole wanita yang tidak setia. Ternyata, dari awal hubungan mereka, Nicole sudah berseleweng dengan pria lain, hanya untuk mendapatkan uang. Padahal, dari segi materi, George sudah memberikan lebih dari cukup. Tetapi itu tidak mengherankan sih. Wanita itu kan mata duitan.

__ADS_1


Setelah kejadian itu, George tidak hanya menyalahkan diri sendiri, tetapi ia juga mengasihani dirinya. Betapa bodohnya dia, pikir George. Kebodohan yang memalukan. Bisa - bisanya dia ditipu oleh seorang wanita. Bagi George, peristiwa itu bagai awan gelap yang melahap jiwanya.


Namun, George tidak membenci Brad. Ia tahu dengan jelas alasan mengapa temannya itu berbuat seperti itu. Dia peduli dan sayang pada Valeri, adiknya. Namun, apapun yang terjadi tidak akan pernah membuat keputusan George berubah terhadap perasaannya kepada Valeri. Ia tidak bisa memberi hatinya pada wanita yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri.


Tetapi sekarang, semua jelas berbeda. George sudah menikah. Dan Mira adalah istrinya. George tidak akan membiarkan Brad menghancurkan pernikahan mereka. Namun, bagaimana dengan Mira? Apakah dia berpikiran sama dengannya ?


Ia tidak tahu. Ia tidak yakin.


Demi Tuhan, ini memusingkan!


George menyusuri jalan dengan tanpa tujuan. Ia hanya berputar - putar seperti mengikuti kemana arah angin karena pikirannya masih saja kacau.


Setelah beberapa jam, pikiran George mulai tenang. Kalau begitu, pikir George. Aku pulang saja ke rumah, tidur sebentar, walaupun ia juga tidak yakin apakah dia bisa tidur tanpa kehadiran Mira disisinya. Lalu pada pagi harinya, ia akan langsung ke kantor, mengurus dan menyelesaikan masalah pekerjaan yang diberitahukan Steve kepadanya tadi.


***


Mira duduk terkulai lemah di tepi ranjang.Β Ruang kamar yang begitu luas


susah bernapas. Tetapi pikiran Mira bekerja dua kali lebih keras, berpikir dan bertanya – tanya apa yang


harus ia lakukan sekarang ? Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa George pergi begitu saja, meninggalkan dirinya sendirian disini tanpa menyelesaikan masalah mereka.


Mira mengerti bahwa yang dikatakan George adalah sebuah pemberitahuan dan peringatan bahwa di mana – mana pasti ada saja pria yang tidak baik, yang memiliki motif terselubung ketika mereka mendekati wanita. Ia yakin bahwa apa yang dilakukan George kepadanya itu adalah bentuk perhatian dan kepedulian suami nya terhadap dirinya.


"Apa yang terjadi, Mira? Apakah kau baik - baik saja?" tanya Nessa ketika wanita itu masuk ke kamar. "Maaf," kata Nessa lagi. "bukannya aku ingin ikut campur, tetapi aku mendengar keributan dan aku memutuskan keluar dari kamar dan mencari dimana keributan itu terjadi. Lalu, aku melihat George keluar dari kamar dengan wajah... ummm... " Nessa ragu - ragu mengatakannya tetapi kemudian ia melanjutkan, "wajah George terlihat seperti monster."


Dalam isak tangisnya, Mira berkata, "George marah kepadaku. Aku telah membuat kesalahan." renung Mira. "Aku sudah membuat George terluka dan sakit hati."


"Biar ku tebak," ucap Nessa. "Alasan George marah kepadamu pasti karena kau berdansa dengan Brad. Benar kan?"


Mira hanya mengangguk membenarkan tebakan Nessa.

__ADS_1


Nessa menghampiri Mira lalu duduk disamping nya dan dengan tangan kanannya ia menepuk pelan punggung Mira. "Tidak apa - apa... tidak apa - apa.... " katanya. Nada suara Nessa terdengar menenangkan. "Aku rasa ini hanya salah paham saja. Ini bukan kesalahanmu, ataupun kesalahan George."


Mira mendesah putus asa. "Seandainya George berpikiran seperti itu juga, maka pasti kami tidak akan bertengkar."


"Ia tidak akan berpikiran seperti itu sekarang karena dirinya masih dikuasai emosi." ucap Nessa. "Tunggulah beberapa waktu, baru kalian bicarakan hal ini secara baik - baik. Jangan bersedih lagi. Aku yakin George pasti akan mengerti."


Lilitan kesedihan dalam hati Mira mulai terlepas. Senang sekali disaat seperti ini ada yang menghibur dirinya. "Terima kasih, Nessa. Kau baik sekali." ucap Mira tulus.


"Ini bukan apa - apa. Sekarang kan kita keluarga. Jadi aku harus sayang dan peduli kepadamu karena kau adalah kakakku."


Mira berpaling menghadap Nessa lalu memeluk wanita itu. "Sekali lagi, terima kasih." kata Mira.


"Baiklah, aku lelah dan mau beristirahat. Sebaiknya kau juga harus istirahat sekarang. Lalu besok, pulanglah ke rumah dan bicara pada George. Aku yakin pasti dia ada disana."


"Ok." ucap Mira singkat.


Pertengkaran adalah sisi buruk pernikahan. Dan salah satu penyebabnya adalah komunikasi yang kurang baik. Akibatnya, kesalahpahaman pun bisa terjadi. Lalu berkembang menjadi sebuah pertengkaran. Jika tidak segera diselesaikan, maka pasti akan berkembang lagi menuju kehancuran dan perpisahan.


Namun, Mira tidak ingin menyerah pada pernikahan mereka, apapun yang terjadi. Ia tidak akan membiarkan hubungan rumah tangganya dirusak oleh oang lain atau bahkan dirinya sendiri. Ia akan berusaha keras, melakukan apa saja untuk mempertahankan pernikahannya dengan George. Semoga keadaan ini akan berubah menjadi baik.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Hai semua...


Novel ini akan segera tamat. Nantikan terus ya kelanjutan nya 😊


Jangan lupa tinggalkan jejaknya, like, comment and VOTE.


VOTE dikit aja sudah sangat berarti..


Terima kasih πŸ˜˜πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2