
Selamat membaca. . .
Sekujur tubuh George terguncang. Ia telah melakukan kesalahan yang besar. Selama ini ia memang terkenal dengan gelar play boy, tetapi tentu saja itu hanya dalam kategori bergonta - ganti wanita setiap malam. Tapi satu kali pun ia tak pernah berpikir akan melakukan hal seperti itu - memerkosa.
Ketika membuka pintu kamar, George bergegas mencari wanita itu ke segala penjuru ruangan. Akan tetapi ruangan itu sudah kosong.
Saat melintas di tempat tidur, George melihat noda merah yang ada di atas ranjang. Ia mendesah lalu berkata pada diri sendiri. "Kau memang brengsek."
Kemudian pandangannya beralih ke nakas. Ia pun menggerutu, "Dia tak mengambil itu? Apa dia berusaha membuat aku terlihat benar - benar brengsek? Sialan!"
George mengakui bahwa ia telah melakukan kesalahan besar. Tetapi ia enggan mengakuinya setelah memikirkan beberapa hal.
Sebenarnya apa yang terjadi tidak sepenuhnya kesalahan nya, pikir George. Wanita itu datang sendiri dan berdiri di depan kamarnya seolah menunggunya mempersilahkan masuk. Jelas George akan berpikir bahwa wanita itu adalah wanita yang ditugaskan untuk melayani dia.
Menilik juga dari kejadian semalam selama pergulatan mereka, masih terngiang - ngiang dengan jelas di telinga George desahan centil wanita itu yang sudah pasti karena dia menikmati setiap hentakan George. Jadi bagaimana mungkin ini adalah kesalahannya? Sudah jelas ini adalah kesalahan wanita itu. Kalau saja dia tidak datang, kalau saja dia tidak begitu mempesona dan kalau saja dia memprovokasi George sudah pasti pria itu tidak akan melakukannya.
Tapi tetap saja George tidak bisa mengabaikan kemungkinan wanita itu akan menuntutnya di kemudian hari. Meski wanita itu jelas bersalah, tetapi tentu akan sangat merepotkan dan sangat sangat memalukan apabila media mengetahui peristiwa semalam. George membenci kehidupan pribadinya menjadi konsumsi media.
Bagaimanapun ia harus mencari wanita itu mulai dari sekarang. Aroma parfum lavender wanita itu masih tercium jelas. Itu artinya wanita itu belum lama meninggalkan kamar ini.
George kemudian memutuskan untuk mengecek CCTV. Selagi berjalan keluar dari kamar, George merogoh saku nya untuk mengambil ponsel lalu menghubungi Steve.
"Bantu aku mengecek CCTV hotel, tepat di depan kamarku." Suara pria itu lantang dengan nada memerintah.
"Baik, tuan." seru Steve menjawab perintah bosnya itu.
Beberapa menit kemudian George dan Steve sudah berada di ruangan departemen keamanan, melihat dengan saksama semua yang tampil di depan pintu kamar George.
Setelah menunggu selama kurang lebih dua puluh menit, George tahu bahwa wanita itu juga menginap di hotel ini tapi dia jelas salah memasuki kamar. Dan tentu saja wanita itu sudah meninggalkan hotel sejak jam sembilan pagi tadi.
"Cari tahu semua hal tentang wanita itu." Perintah George.
Steve hanya mengangguk - angguk, tanpa banyak berkomentar apalagi bertanya. "Ya, akan segera saya lakukan." kata Steve dengan ekpresi serius.
__ADS_1
"Sebaiknya anda segera bersiap tuan," saran Steve. "Sebentar lagi anda harus bertemu dengan tuan Rahardian." sambung pria itu.
"Oh, aku hampir lupa. Baiklah, aku akan bersiap. Jangan lupa untuk segera mengabari ku jika kau sudah menemukan informasi tentang wanita itu." kata George.
"Tentu, tuan. Apapun untuk anda."
***
Tepat pukul dua belas siang George bertemu dengan Arifin Rahardian.
" Selamat siang, Mr. George. Senang bertemu dengan anda." sapa Arifin dengan seulas senyum yang lembut.
"Selamat siang, tuan Rahardian. Senang bertemu dengan anda juga."
"Silahkan duduk," ucap Arifin sopan.
Arifin segera memberikan dokumen grafik penjualan Goldsmith brand kepada George.
Arifin berdeham lalu mulai menjelaskan. "Seperti yang bisa Anda lihat dalam laporan tersebut, perusahaan kami mampu menjual produk - produk anda dengan baik. Sejauh ini keuntungan nya cukup besar. Sepanjang tahun 2019 kami berhasil. . ."
"... akan senang jika ke depan Goldsmith company akan memperpanjang kontrak dengan perusahaan saya, Star Group dan..."
George terus merasa gelisah. Ini jelas sudah berlangsung terlalu lama, batin George, yaitu perihal kabar dari Steve. Dimana dia sekarang? Apa sebenarnya yang dia lakukan ? Mengurus pekerjaan seperti ini saja terlalu lama. Apa dia sudah kehilangan kemampuanya ? tanya George pada diri sendiri.
Arifin menyadari bahwa ada sesuatu yang dicemaskan oleh pria dihadapannya ini, melihat dari ekpresinya bahkan dari gerak gerik pria itu. Dengan berani ia pun bertanya. "Apa anda sakit, Mr. George? Saya lihat anda tampak gelisah." tanya Arifin perhatian.
"Tidak apa - apa. Saya baik - baik saja." Sementara ia berbicara, ia merasakan ponselnya bergetar. Dengan cepat ia merogoh sakunya, mengambil ponsel. "Ah, sebenarnya saya harus mengangkat panggilan ini. Boleh saya permisi sebentar?"
Arifin menatap George dengan heran tetapi ia menganggukkan kepalanya menyetujui. "Ya, tentu saja bisa. Silahkan."
George langsung berdiri lalu berjalan ke arah pintu restoran dan segera menerima panggilan telepon itu. Akhirnya Stevee meneleponnya.
"Kenapa lama sekali memberi kabar?" gerutu George. " Bagaimana? Dimana wantia itu sekarang?" Sederet pertanyaan di lontarkan George dengan cepat.
__ADS_1
"Maaf sudah membuat anda menunggu lama tuan." kata Steve dengan nada suara sopan.
"Wanita itu bernama Miranda Starlin. Dia masih single. Keluarganya tidak tinggal bersama dengannya disini, tetapi mereka berada di Kota Manado. Dia bekerja di Star Group selama enam tahun dan kini ia menduduki jabatan manajer marketing Star departemen store." lanjut pria itu. "Dan sepertinya wanita itu sedang menunggu kedatangan anda, tuan."
"Dia menungguku?" tanya George heran.
"Iya, tuan. Sekarang Miss Miranda sedang berada di Golds counter, menunggu client dari New York. Itu artinya dia sedang menunggu anda."
Wajah George berseri - seri, seperti baru saja memenangkan jakpot. "Kerja bagus, Steve. Kalau begitu sampai bertemu disana."
Ketika George kembali menemui Arifin, pria itu menatap lurus - lurus ke arahnya.
"Maaf jika anda terganggu. Saya tidak bermaksud membuat anda..."
"Tidak apa - apa." potong Arifin cepat - cepat. "Saya yakin telepon tadi pasti sangat penting untuk anda."
"Benar sekali, terima kasih sudah bersedia memahaminya. Kalau begitu, bisakah kita langsung ke toko?"
"Sekarang? Tetapi anda belum melihat dokumen..."
"Itu akan saya lakukan disana, jika anda tidak keberatan tentu saja."
"Itu bukan masalah, Mr. George. Disana pasti lebih baik karena ada manager kami yang bisa menjelaskan semuanya tentang ini."
George menyeringai dan bergumam dalam hati. "Tentu saja dia harus menjelaskan segalanya, segalanya tentang semua, tentang pekerjaan dan tentang dirinya. Sebentar lagi kita akan bertemu. Tunggu aku, woman."
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Hallo kak, Terima kasih masih setia meluangkan waktu membaca novel aku ini.
Jangan lupa tinggalkan jejak nya ya kak...
tekan tombol suka, tuliskan komentar dan berikan juga vote nya ya...
__ADS_1
Terima kasih 😘💕