My Crazy Client

My Crazy Client
BAB 23


__ADS_3

Selamat membaca . . .


    New York adalah kota dengan sejuta pesona. Tidak heran banyak orang ingin datang dan tinggal di kota ini. Tetapi jujur Mira tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan tinggal di kota ini. Oleh karena itu berbagai macam perasaan berkecamuk didalam hati wanita itu.


 Ketika tiba di New York, George langsung membawa Mira ke rumahnya yang terletak di Borough Manhattan, New York city. Mira begitu tercengang dengan kemewahan rumah pria itu.


    Ketika masuk ke dalam rumah, masih dari ambang pintu seorang wanita berkacamata berdiri menyambut kedatangan mereka.


"Selamat malam, tuan George." jata wanita itu dilengkapi senyum simpul.


"Selamat malam Jenette." jawab George. "Ah, Wanita ini adalah Mira." Sambung pria itu memperkenalkan Mira pada Jenette.


Dengan senyuman yang sama wanita itu kembali berkata, "Selamat malam, nona Mira. Senang bisa bertemu dengan anda. Silahkan masuk." Walaupun dengan sangat mudah Jenette memasang wajah senang ketika menyambut Mira, tetapi dalam hatinya bertanya - tanya. Siapa sebenarnya wanita ini ?


Sudah lama tuan George tidak membawa pulang seorang wanita di rumah ini. Hampir tiga tahun tepatnya. Terakhir saat Natal tahun 2017. Kala itu nona Nicole merayakan Natal bersama tuan George lalu wanita itu menginap disini. Setelah itu tidak ada kabar lagi tentang wanita itu. Dan tuan George juga memilih pindah ke rumah ibunya selama satu tahun.


Meski Jenette adalah kepala pelayan di rumah ini, tapi tidak banyak yang ia ketahui tentang majikannya, terhitung sejak tuan George pindah ke rumah ibunya.


Hal itu tidaklah mengherankan. Setelah kembali ke rumah ini, George banyak berubah. Ia menjadi pria yang dingin, angkuh dan pemarah. Sangat jauh berbeda dengan sikapnya yang dulu. Bahkan hingga sekarang pria itu menjadi orang susah diajak bicara. Di tambah lagi majikannya itu jarang sekali pulang. Semenjak menjabat sebagai CEO Goldsmith Company, George menjadi sangat sibuk dalam pekerjaannya.


Mira tersenyum tipis melihat Jenette. "Halo Jenette," sapanya lembut. "Senang bertemu denganmu juga."


    Satu keuntungan berkuliah di universitas bertaraf internasional adalah kau bisa berbahasa inggris dengan baik. Apalagi Mira termasuk mahasiswi yang pintar ketika ia kuliah. Jadi berkomunikasi dengan orang - orang disini bukanlah hal yang sulit. Puji syukur untuk itu.


Ketika berada didalam rumah, Mira memandang sekeliling ruangan dengan penuh minat. "Rumahmu bagus sekali," katanya riang tanpa menatap George. Rasanya kekayaan George Goldsmith tidak perlu dipamerkannya karena sejauh matanya memandang yang terlihat adalah desain interior yang indah dan perabot- perabot yang mahal. Kemudian pandangannya menemukan sebuah piano tertata cantik di sudut ruang tamu.



"Kau bisa bermain piano?" Tanya Mira begitu penasaran.


"Itu bukan urusanmu," jawab George ketus."Pergilah beristirahat." Seperti biasa, nada suara pria itu terdengar memerintah.


"Oh, baiklah." seru Mira singkat dengan perasaan kecewa atas jawab ketus George.


"Jenette," panggil George. "Antarkan wanita ini ke kamar tamu."


"Baik tuan," seru Jenette langsung.


"Mari nona, ikuti saya." lanjut wanita itu sebelum berjalan menuju tangga.


Sebelum tertidur, Mira menenangkan dirinya dengan berpikir bahwa ia pasti sanggup tinggal di rumah ini, berdampingan dengan George dan ia pasti bisa melakukan perannya sebagai istri yang baik untuk pria itu.


Abaikan saja kata - kata ketus pria itu ketika ia berbicara.

__ADS_1


***


Mira terbangun dengan tubuh letih dan kepala yang berat keesokan paginya. Sebenarnya ia masih mengantuk. Tapi suara Jenette seperti lonceng saja hingga ia harus bangun meskipun ini masih jam 7 pagi.


"Nona, tuan George sudah menunggu anda dibawah untuk sarapan." kata Jenette.


"Ok. Beri aku waktu lima menit untuk membersihkan diri. Setelah itu aku akan segera turun."


"Baik, nona. Permisi."


 Saat bejalan menuju ruang makan, Mira takjub dengan semua yang dipandangi matanya. Bahkan ruang makan saja semewah ini. Tapi Mira heran. Mengapa hanya ada empat kursi di ruang makan ? Tidak mungkin dia berhemat kan ? Seharusnya kursinya ada enam, begitulah pikir Mira. Ah, belum sehari disini naluri suka mengaturnya sudah muncul.



    Sesuai dengan perkataan Jenette, George sudah berada di ruang makan dan menyesap secangkir kopi.


"Hai, selamat pagi." Sapa Mira.


"Bisakah kau berhenti bersikap seperti orang yang bodoh?" sembur George.


"Apa? Kau menganggapku bodoh? Jangan sembarangan berbicara!" desis Mira.


"Kalau begitu hentikan tingkah lakumu yang seperti itu, kampungan."


Mata Mira membelalak mendengar ucapan George. Ingin rasanya ia memaki pria itu tapi akal sehatnya menentang. Mungkin ucapan pria itu ada benarnya. Tingkah lakunya mungkin terlihat kampungan. Dan sekarang ia merasa malu. Brengsek!


Mira tidak menjawab kata - kata George tetapi ia segera melakukan apa yang dikatakan pria itu.


***


    Lagi - lagi Mira tercengang ketika memasuki rumah mewah milik orang tua George. Rumah ini luar biasa indah, gumamnya dalam hati. Bukan hanya rumahnya yang membuat Mira takjub, tetapi halamannya juga.



    Halaman rumah ini luas dan ada sebuah taman bunga terletak di samping rumah. Benar - benar indah.


Rumah seperti ini hanya pernah dilihatnya di film - film, tapi kenyataanya kini ia telah berada di rumah semewah ini. Luar biasa!


George membawa Mira ke rumah ibunya bukan hanya untuk memperkenalkan Mira sebagai calon istri nya tetapi sekaligus ingin membicarakan pernikahan dan segera mengurusnya.


 Ketika masuk langsung saja Mira berhadapan dengan seorang wanita yang cantik meski usianya tidak muda lagi. Siapa lagi kalau bukan nyonya Grace Goldsmith ibunya George. Di samping wanita itu berdiri seorang gadis yang cantik dengan mata hazel yang sama persis dengan mata George. Siapa lagi kalau bukan adiknya.


"Halo nyonya Goldsmith. Senang bertemu denganmu." kata Mira cepat bahkan sebelum George ataupun Grace bersuara. Akhirnya ia menyesal telah membuka mulutnya karena sekarang George menatapnya dengan tatapan tidak suka. Ya Tuhan selamatkan aku!

__ADS_1


Mira mencoba tersenyum lalu segera mengulurkan tangannya ke arah Grace.


Wanita itu mengabaikan tangan Mira yang terulur tapi menggantinya dengan segera memeluk Mira dengan perasaan gembira.


"Senang bertemu denganmu juga, sayang." Grace tersenyum lebar. "Kau tahu, sudah lama aku menantikan hari ini, hari dimana George membawa calon istrinya berkenalan denganku. Aku yakin George juga senang bisa bertemu denganmu, benarkan George ?" ucapan Grace terdengar seperti menggoda keduanya.


Hebat! Ekspresi wajah George masih tetap datar. Pria itu seperti tidak punya perasaan saja, kecuali perasaan marah, tentu saja. Berbeda dengan Mira. Wajah wanita itu kini berubah memerah seperti kepiting yang direbus. Tapi jauh dalam hatinya ia merasa senang mengetahui bahwa keluarga George bisa menerima nya dengan tangan terbuka.


"Halo, Mira." Sapa adik George. "Aku Gennesa Goldsmith, tetapi kau bisa memanggilku Nessa."


"Halo Nesa, senang bertemu denganmu." Seru Mira.


"Sudah cukup basa - basinya," desis George. "Aku ingin bicara pada kalian. Ayo duduk!"


Setelah semuanya duduk, George kembali berkata. "Kami akan menikah pada hari jumat minggu depan."


Senyum lebar tiba - tiba menghiasi bibir Grace. "Itu rencana bagus. Aku akan menyiapkan semuanya, mulai dari gaun pengantin mu, siapa yang menjadi pengiringmu, dekorasinya, undangan dan menu makanannya. Apa lagi ya?" Grace tampak antusias.


"Itu tidak perlu mom," sergah George cepat. "Kau tidak harus melakukan apa - apa. Ingat! Kau sedang sakit sekarang."


"Oh, tapi..."


"Kami hanya akan mengadakan upacara pernikahan di rumah ini dengan hanya dihadiri keluarga Mira dan keluarga kita." lanjut George. "Lagi pula Mira sudah setuju dengan ini. Bukan begitu, sayang?"


"Oh ya, tentu." Tanpa sadar nada tertawa Mira agak tinggi. Sejujurnya ia gugup berada disini, terutama ketika membicarakan pernikahan. Mungkin sebaiknya mengiyakan saja apapun yang menjadi keputusan dalam pembicaraan ini.


"Bagaimana dengan gaun pengantin nya?" seru Nessa. Mata hazel gadis itu memandang George dengan penuh tanda tanya.


 Pertanyaan bagus, menurut Mira. Bagaimana mungkin seorang wanita menikah tanpa mengenakan gaun pengantin.


"Kau bisa mengantarnya memilih gaun." suruh George pada Nessa.


"Tentu saja bisa."


"Bagus. Sementara Nessa dan Mira mengurus pernikahan, ku mohon pergilah ke rumah sakit dan lakukan tes agar kau bisa segera di operasi." ucap George pada ibunya.


 Mira tak pernah menyangka bahwa George bisa menunjukkan kasih sayangnya di depan umum. Kekhawatirannya terhadap ibunya mengartikan bahwa ia sangat menyayangi wanita itu.


Tak tahan melihat kekhawatiran yang tergambar di wajah George, Grace segera mengangguk. "Baiklah," kata wanita itu.


"Bagus! Semua beres." Kata George menutup pembicaraan.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Terima kasih karena masih setia membaca novel ini.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, Like Comment and Vote.


__ADS_2