My Crazy Client

My Crazy Client
BAB 21


__ADS_3

Selamat membaca. . .


    Pukul sepuluh pagi Mira, George, Stella dan juga Steve tiba di Manado. Mira sangat senang kembali ke kampung halaman, terlebih sekarang ia bisa melihat lelaki berumur akhir lima puluhan tengah berdiri menyambutnya di area kedatangan bandar udara Sam Ratulangi.


    Lelaki itu adalah ayahnya. Martin menyambut kedatangan putrinya dengan senyum merekah dibibirnya diikut dengan tangan yang direntangkan.


    Mira berjalan cepat menuju ke arah ayahnya dan langsung memeluk pria itu. Mira tidak peduli dengan usianya yang sudah dewasa. Di depan ayahnya dia bisa menjadi putri kecil yang manis dan manja.


 


    Tanpa sadar air mata Mira mengalir membasahi pipinya. "Aku rindu papa." Katanya lirih.


 


    "Papa juga rindu kamu nak." Sahut Martin lembut.


    George berdeham lalu mengumbar senyum. "Halo tuan Martin," sapanya sopan. "Perkenalkan, saya George Goldsmith CEO Goldsmith company dan kekasih putri anda. Senang bertemu dengan anda." Lanjut pria itu dengan aksen Indonesia yang kaku.


 


    Mira meleleh mendengar perkataan George yang blak - blakan. Dalam hatinya bertanya - tanya apakah pria itu benar-benar menganggap nya kekasih? Apakah George sudah mulai menyukainya?


    Martin melepas pelukannya dan segera menjabat tangan George yang terulur lalu tersenyum ramah.


 


   "Saya Martin, ayahnya Mira. Senang bertemu denganmu juga."


    Mira melihat ekspresi wajah ayahnya. Beliau tampak senang, tapi Mira justru merasa sedih melihat ekspresi itu.


 


 


    Seandainya diantara dia dan George tidak terjadi kesepakatan berupa perjanjian pernikahan, mungkin ia takkan merasa bersalah terhadap ibunya, ayahnya dan semua keluarga nya.


 


"Ku rasa cukup perkenalannya. Saatnya kita pergi ke hotel." Kata Stella.


 


    Semua orang kecuali George menatap Stella lekat - lekat tapi mereka tidak berkata apa - apa.


 


"Aku sudah menyewa mobil untuk menjemput kita." Sambung George.


 


    " Bagus. Kalau begitu, kami akan pergi ke hotel dengan mobil kami." Stella memberi tahu George. "Dan Mira akan ikut dengan mobilmu. Tapi dimana Mark?" Tanya wanita itu pada Martin.


 


 


    "Ku rasa sebentar lagi Mark kesini. " Jawab Martin.


 


 


    "Bagus. Mama dan papa akan naik di mobil kita sementara kau ikut bersama George." Ucap Stella kepada Mira sekali lagi.


 


    "Iya ma," Seru Mira dengan senyum gembira. Menurutnya ia harus memasang wajah ceria agar tak merusak sukacita keluarga nya.


    Sebuah mobil grand livina berwarna putih berhenti di depan mereka, diikuti mobil pajero sport berwarna merah dibelakangnya.


 


    Stella dan Martin segera masuk ke dalam mobil grand livina itu sementara Steve membukakan pintu bagian belakang mobil pajero itu. "Silakan masuk tuan George dan nona Mira." Kata Steve.


 


 


    George mempersilakan Mira masuk terlebih dahulu agar ia bisa membantu wanita itu. Setelah wanita itu menggeser tubuhnya ke ujung kursi, George segera masuk dan duduk dengan tegak.


 


 


    Steve duduk di depan, disamping sang supir. "Ikuti mobil putih itu," kata Steve kepada supir sambil menunjuk mobil putih yang berada di depan mobil mereka.


 


 


    Si supir sempat kebingungan selama beberapa saat karena mungkin ia harus berpikir keras sebelum dapat memahami apa yang dikatakan Steve. Maklumlah, aksen Indonesia nya terdengar lebih kaku dan aneh dari George.


 


    "Apa kau lelah?" Tanya George ketika ia menoleh ke arah Mira dan melihat wanita itu menutup matanya.


 


Tanpa membuka mata Mira menjawab, "Tidak."


 


    Pertanyaan George membuat Mira heran. Apa dia baru saja menunjukan perhatianya?


 


 


"Jika kau lelah, bersandarlah padaku dan tidur."


 


 


    Mira semakin heran. Aneh pikirnya. Bagaimana pria ini bisa dengan cepat merubah emosinya? Mira masih ingat dengan jelas bagaimana Semalam pria itu bagaikan srigala yang hendak menerkamnya, tapi pagi hari ini dia bagaikan pria berhati malaikat yang siap menjaganya. Mira juga ingat bagaimana ia menyubit George sekuat tenaga. Bagaimana bisa sekarang pria itu bersikap manis?


"Tidak perlu, aku tidak lelah." Sekali lagi wanita itu menolak.


 


    George menggetarkan gigi. "Sudah ku katakan bersandarlah padaku. Itu bukan permintaan tapi perintah jadi jangan membantah!" Bentak George dengan suara keras.


 


 


    Kata - kata pria itu kembali menyadarkan Mira bahwa adalah sebuah kesalahan apabila membantah setiap perkataan yang keluar dari mulutnya. Jadi tanpa berkata apa - apa lagi Mira segera menyandarkan kepalanya ke bahu George.


 


    Tetapi ia tidak bisa berhenti memikirkan emosi pria itu yang berubah - ubah dengan cepat. Menilik dari sikapnya yang berubah-ubah itu, sudah sewajarnya Mira memiliki perasaan bahwa George Goldsmith memiliki penyakit seperti gangguan kejiwaan.

__ADS_1


 


    Wanita itu kemudian memutuskan kalau ia harus mencari tahu semuanya sebelum pertunangan digelar. Steve mungkin tahu semua hal tentang bosnya ini. Jadi ia berencana bertemu Steve lalu bertanya.


 


 


***


 


 


    Setibanya mereka di hotel, Martin meminta waktu berbicara dengan George. Dan pria itu menyetujuinya. Stella pun ikut serta dalam pembicaraan itu. Bagaimanapun ini Stella. Ia paling tidak suka jika dirinya tidak dilibatkan dalam urusan keluarga mereka.


 


    George mengajak Martin dan Stella ke kamar yang sudah di pesannya. Kamar itu adalah tempat yang tepat untuk mereka berbicara serius.


 


    Ketika berada di kamar, semuanya mengambil posisi duduk di sofa yang tersedia dalam ruangan itu. Martin dan Stella duduk bersebelahan sementara George duduk berseberangan dengan mereka. Kemudian Martin membuka pembicaraan. "Sudah berapa lama kalian berkencan?"


 


 


"Tiga hari," Kata George.


 


    "Apa?" Martin tampak terkejut. "Tiga hari berkencan dan kau sudah mengajak anakku menikah?" Mulut Martin masih menganga tak percaya, tak habis pikir dengan semua ini. "Jangan - jangan kalian sudah melakukan itu." Katanya penuh curiga.


 


    Mengerti dengan maksud pertanyaan calon ayah mertuanya, George segera menjawab. "Maaf tuan Martin, saya menyesal harus mengatakan ini tapi apa yang anda katakan itu benar. Kami sudah melakukannya." Kata George tanpa ragu.


 


 


    Martin nyaris pingsan mendengar kejujuran George. Jika ia memiliki penyakit jantung mungkin hari ini adalah hari kematian nya. Bagaimana tidak? pengakuan George dengan cepat membuat Martin tegang dan memucat.


 


 


    Berbeda dengan Stella. Entah mengapa dia tidak terkejut dengan pengakuan pria itu.


 


    Stella memang sudah mencurigai mereka ketika ia mendapati George menginap di apartemen Mira. Tapi demi mencegah segala kemungkinan buruk, Stella mengusulkan agar George menikahi putrinya secepat mungkin. Itulah alasannya menyuruh George menikahi Mira minggu depan.


 


    Sebelum amarah Martin meledak, cepat - cepat George melanjutkan perkataannya. "Itu sebabnya saya langsung melamar Mira dan segera ingin menikahinya. Saya berjanji tidak akan menelantarkan putri anda. Jadi anda tidak perlu khawatir. Berikanlah restu anda pada kami."


 


 


    Stella meremas tangan Martin. "Sudahlah," kata Stella. "Tidak ada gunanya marah atau benci terhadap George, karena dalam hal ini Mira juga bersalah. George tidak mungkin melakukan itu tanpa persetujuan Mira, bukan. Tapi sesungguhnya kita juga tidak dapat mendikte mereka karena mereka sudah dewasa. Yang terpenting adalah mereka mau bertanggungjawab atas perbuatan mereka dengan segera menikah." Kata Stella lagi sebelum pertengkaran meletus.


 


 


 


 


    "Baiklah, aku akan merestui hubungan kalian tapi tolong jaga Mira dan bahagiakan dia." pinta Martin sungguh-sungguh.


 


 


    "Terima kasih banyak." Perkataan George terdengar tulus. "Setelah bertunangan saya akan membawa Mira ke New York. Mengenai pernikahan, saya tidak bisa menjanjikan pernikahan yang meriah karena sekarang ibu saya tidak dalam kondisi kesehatan yang baik. Oleh sebab itu saya berusaha membuat pesta pertunangan yang pantas untuk Mira. Untuk pernikahannya, kami berencana menggelarnya pada hari Jumat minggu depan. Bagaimana menurut anda?"


 


    Rencana itu disambut baik oleh Martin dan Stella. Mereka mengangguk menyetujui. "Hari jumat kurasa adalah hari yang baik," Kata Stella. " Tidak perlu pesta yang meriah, yang terpenting adalah kalian menikah secara sah di mata hukum juga di mata Tuhan." lanjutnya.


 


    Martin mengusap kedua jemari tangannya diatas pahanya. "Baiklah, kurasa kami harus pergi sekarang dan bersiap - siap. Kau juga harus segera bersiap. Kalau begitu kami permisi dulu." Kata Martin.


 


    Segera setelah Martin dan Stella berlalu, George langsung bergegas mempersiapkan diri untuk acara pertunangannya.


 


 


***


 


 


    Mira telah berada di kamar lain dan sementara berjalan mondar-mandir memikirkan dimana Steve berada sekarang. Ini adalah kesempatan nya mencari pria itu karena ayah dan ibunya sedang berbicara dengan George.Tiba-tiba seseorang menekan bell di pintu. Aktifitas mondar-mandir Mira terhenti lalu ia berjalan ke pintu dan membukanya.


 


 


    Mira senang karena ia tidak perlu repot - repot mencari dimana keberadaan pria itu karena dia sendiri datang menghampiri Mira bersama dengan seorang wanita yang menurut Mira wanita itu adalah seorang perias wajah. Wanita itu membawa peralatan make up nya dan beberapa kantong yang berisi gaun - gaun.


 


    "Permisi Nona, perkenalkan ini Rike. Dia akan membantu anda bersiap - siap." Kata Steve.


 


    Wanita itu tersenyum ramah menatap Mira. "Halo sayang, ijinkan aku membantu mu." Ucap Rike.


 


 


    "Tentu saja Rike, kau harus membantuku agar aku terlihat cantik." Mira mengumbar senyum manis. "Tapi sebelum itu, bolehkah aku berbicara pada Steve sebentar?" Tanya Mira.


 


    "Tentu saja boleh. Saya hanya perlu meletakan semua barang - barang ini lalu saya akan keluar sebentar."


 


"Terima kasih," ucap Mira.

__ADS_1


 


Setelah Rike keluar, Steve segera bertanya. "Ada apa nona? Ada yang bisa saya bantu?"


 


"Aku perlu menanyakan sesuatu padamu. Ku harap kau mau berkata jujur."


 


"Saya dengarkan dulu pertanyaan Anda, nona."


 


"Begini, sebenarnya ini hanya perasaan ku saja. Tapi entah mengapa aku menjadi sangat penasaran. Ku harap kau tidak terkejut dan terlebih lagi ku harap kau tidak melapor pada George." Mira memasang wajah serius ketika berbicara. "Entah mengapa aku merasa George itu, Mmm... apa dia memiliki penyakit seperti bipolar?"


 


    Steve tak mampu bersuara selama beberapa detik. Mimik mukanya menjelaskan bahwa ia ragu apakah harus memberi tahu Mira tentang penyakit bosnya.


 


    "Oh ayolah Steve, beritahu aku. Ini akan menjadi rahasia kita berdua. Bagaimanapun sebentar lagi aku akan menjadi isterinya." bujuk Mira.


 


    Steve menarik napas panjang lalu berkata pelan, "Puji Tuhan penyakit tuan George belum sampai pada penyakit bipolar. Dia hanya menderita penyakit siklotomia, penyakit gangguan jiwa tahap ringan. Dan untunglah penyakit nya segera diobati jadi sekarang dia sudah sembuh."


 


    Mira tercengang dan mulutnya membulat karena terkejut. "Astaga," seru wanita itu tidak percaya. "Jadi dia benar memiliki penyakit gangguan kejiwaan? Bagaimana itu bisa terjadi?"


 


    Meski hanya tahap ringan, Mira tetap bergidik ketika membayangkan George yang benar - benar memiliki penyakit gangguan kejiwaan.


 


    Melihat wajah wanita itu yang tampak ngeri, Steve segera berkata lagi. "Anda tidak perlu takut nona. Penyakit tuan George benar - benar sudah sembuh. Saya harap Anda tidak akan mengubah keputusan Anda menikah dengan tuan George." Nada suara Steve terdengar tidak tenang.


 


    "Jangan khawatir, Steve. Itu tidak akan terjadi. Asal kau tahu aku bukanlah seorang pengecut yang dengan mudahnya mengingkari janji hanya karena masalah kecil." Mira mencoba menenangkan.


 


 


"Syukurlah."


 


"Tapi kau belum menjawab bagaimana George bisa terkena penyakit itu?"


 


"Oh ya." Sebelum menceritakan lebih lanjut tentang yang terjadi pada bosnya George Goldsmith, Steve menghela napas dalam - dalam.


 


 


    "Tiga tahun lalu," Steve mengenang. "Tuan George sangat terpukul karena kematian ayahnya. Tuan Richard meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu-lintas. Masih dalam suasana berdukacita, Tuan George lagi - lagi harus merasakan sakit hati. Ia mengetahui kalau kekasihnya Nicole Harlan berselingkuh. Wanita itu ternyata mata duitan. Ia sama sekali tidak mencintai tuan George. Wanita itu hanya menginginkan hartanya."


 


 


"Kasihan George." Kata Mira prihatin. "Apa karena itu dia menjadi tidak percaya pada cinta?"


 


 


    "Benar sekali. Semenjak kejadian itu sikap tuan George berubah. Beliau menjadi mudah putus asa dan merasa bersalah tetapi terkadang ia menjadi cepat marah. Tuan George juga mengalami insomnia yang luar biasa. Ia bisa tidak tidur selama berminggu-minggu sehingga kondisi kesehatan nya sangat buruk. Badannya menjadi sangat kurus. Tapi beruntung tuan George memiliki keluarga yang baik dan perhatian padanya. Jadi nyonya Grace dan Nona Nessa merawat George sepenuh hati hingga ia berhasil sembuh."


 


"Kasihan George," katanya lagi.


 


    "Penyakit tuan George memang sudah sembuh, tapi sikap dingin, angkuh dan pemarah nya tidak hilang. Dan yang lebih parah, tuan George memandang semua wanita sama saja, hanya menginginkan uang. Itu sebabnya ia tidak ingin lagi menjalin hubungan serius dengan wanita. Tapi kemudian dia bertemu dengan Anda, dan semuanya berubah."


 


    "Oh Steve, itu tidak mungkin. Kau tahu jelas bahwa ia mengajakku menikah karena ia harus memenuhi keinginan ibunya. Bukan karena aku berbeda."


 


    "Itu memang benar. Nyonya Grace memaksa tuan George agar segera menikah. Tapi menurut saya itu hanya salah satu alasannya saja nona. Anda perlu tahu," Steve berkata pelan. "Tuan George bukanlah tipe pria yang mengejar - ngejar wanita."


 


Mira tertawa. "Jadi maksudmu dia mengejar - ngejarku? Lucu sekali!"


    " Nona," Steve menyela. "Selama ini tuan George tidak peduli dengan wanita - wanita yang pernah ditidurinya. Ia hanya memberikan uang yang cukup kepada para wanita itu lalu menendang mereka seperti sampah. Tapi berbeda dengan anda. Anda punya daya tarik, kasih sayang, kekuatan dan keberanian. Itulah mengapa ia melakukan apa saja, anda tahu sendiri apa yang saya maksud, mengenai perjanjian pernikahan. Tuan George rela melakukan itu asal anda mau menikah dengannya." Steve berkata penuh keyakinan."


 


 


"Entahlah Steve," Mira tampak ragu.


    "Nona, percayalah. Anda adalah wanita yang tepat untuk tuan George. Saya yakin tuan George bisa menemukan kebahagiaan bersama anda. Teruslah bersamanya nona, apapun yang terjadi. Dan cintailah dia." Suara Steve terdengar memohon.


 


    Mira merasakan dirinya terenyak mendengar perkataan Steve. "Baiklah. Aku bisa mencintainya, atau mungkin saja sudah. Tapi perasaannya terhadapku masih harus ku perjuangkan. Jadi kau harus membantuku."


 


Steve mengangguk ramah. "Tentu saja nona. Sekarang anda hanya perlu mendengarkan kata - kata tuan George tanpa membantah agar beliau tidak marah. Dan sebaiknya anda juga menaruh perhatian lebih padanya agar tuan George bisa membuka hatinya untuk cinta dan untuk anda."


Mira mengangguk, sorot matanya serius. "Baiklah," Kata wanita itu mantap.


 


 


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


 


 


Hai semua. Terimakasih karena sudah meluangkan waktu membaca novel ini.


Bagaimana episode kali ini?


Jangan lupa di komentari dan jangan lupa juga tinggalkan jejaknya,

__ADS_1


like, kasih bintang 5 dan Vote.


__ADS_2