
Selamat membaca
Telepon George berdering. Ia kemudian segera keluar dan mencari tempat sunyi. Tidak mungkin ia mengangkat telepon dari Steve Β di ruang pesta ini yang sudah terlalu berisik dengan musik karena tentu saja pasti ada sesuatu yang penting yang berhubungan dengan pekerjaan yang harus disampaikan sekretarisnya itu. Jika bukan karena itu, untuk apa lagi dia menelepon disaat sekarang dimana George sedang menikmati pesta.
"Aku beranya - tanya kenapa kau menelepon disaat aku sedang berpesta. Apakah ada hal yang penting ?"
"Maaf menganggu waktu bersenang - senang anda, tuan. Tetapi ada sesuatu yang penting yang harus saya sampaikan pada anda. Ada masalah yang terjadi dengan produk tasΒ GoldsΒ kita. Beberapa produk yang cacat telah didistribusikan secara tidak resmi. Sehingga beberapa pelanggan meng-komplain, dan meminta ganti rugi."
"Apa? Bagaimana mungkin itu bisa terjadi ? Cepat selidiki siapa yang melakukan itu dan segera atur rapat besok pagi dengan para manager di tiap divisi." perintah George.
"Baik tuan." kata Steve singkat.
Dengan perasaan marah yang mulai menjalar dalam dirinya, George masuk kembali ke dalam ruang pesta. Dalam sekejap perasaan marahnya naik level ketika ia melihati istrinya sedang berdansa romastis dalam dekapan temannya, si predator Brad Rowland. Brengsek!
George mengambil sampanye dengan gerakan kasar dari nampan pelayan yang lewat di sampingnya, lalu ia berjalan lebih dekat ke arah lantai dansa. Tatapannya tidak pernah lepas dari istrinya dan Brad.
Mereka terlalu dekat. Apakah Mira senang dalam posisi seperti itu ? Apakah dia menginginkan Brad meraba - raba pinggangnya itu? Pertanyaan - pertanyaan itu muncul dengan mudahnya di kepala George.
Rasa panas tiba - tiba saja menerjang George. Memang selama ia memperhatikan mereka, segelas sampanye yang dipegangnya telah diteguknya hingga habis. Tetapi sesungguhnya rasa panas yang dirasakannya itu tidak datang dari pengaruh minuman keras melainkan karena perasaan cemburu yang membabi buta.
Ekspresi wajah George mengeras, berjuang melawan dan meredam api cemburu yang ada dalam dirinya.
Beberapa orang datang menyapa George, tapi dia seolah tidak perduli. Bukannya sengaja tidak perduli pada mereka, tapi sekarang fokus pikiran dan perhatiannya hanya tertuju pada mereka, istrinya dan Brad.
George dapat melihat kepala Mira bergerak ke kanan dan ke kiri seolah dia tengah mencari seseorang. Lalu muncul pertanyaan dalam pikirannya, apakah Mira tidak nyaman berdansa dengan Brad ? Kalau memang benar, mengapa ia tidak segera menyudahi itu ? Apakah dia menunggu aku kesana dan...".
__ADS_1
"Berhentilah merasa cemas," tegur Nessa.
Perhatian George teralihkan. Dia menoleh menatap Nessa tetapi sorot matanya masih tetap menampilkan kecemburuan.
"Ayolah, George. Mereka hanya berdansa, bukan berselingkuh." Nessa memberitahu, berharap emosi tidak menguasai kakaknya sehingga dia tidak akan berpikiran yang tidak - tidak terhadap Mira.
"Tenangkan dirimu. Aku akan kesana sehingga Mira kesini." lanjut Nessa lalu segera menuju ke arah lantai dansa.
Semoga ada seseorang datang menolongku, harap Mira dalam hatinya. Tepat setelah menggumamkan harapannya, suara dengan nada perhatian menyapa. "Mira," kata Nessa. "Bolehkan aku berdansa dengan Brad?"
"Tentu saja boleh," kata Mira lalu segera melepaskan tangannya dari leher Brad, padahal ia sadar kalau pria itu sudah membuka mulutnya untuk berbicara, ingin menyampaikan sesuatu padanya. Persetan! Ia tidak ingin mendengarnya. Ia hanya ingin segera pergi dari pria itu.
Saat Mira berbalik, ia mendapati George menatap nya dengan sorot mata garang dan ekspresi dingin sedingin es.
Sudah dapat dipastikan bahwa sekarang ia dalam masalah. Ia berusaha tersenyum ketika berjalan mendekat pada George. Tapi senyum itu segera memudar karena ekspresi suaminya itu sama sekali tidak berubah.
Dan kenyataannya apa yang dipikirkan Mira itu benar. Ketika pesta sudah selesai, dengan cepat George menyeretnya ke lantai atas ke kamar mereka. Begitu pintu terayun terbuka, ketegangan mencekam langsung menyelimuti mereka. Dan saat pintu terbanting menutup, Mira dapat merasakan dalam hatinya gemetar ketakutan.
"Apa kau sudah melupakan perjanjian yang sudah kau tanda tangani ?" serang George. "Biar ku ingatkan! Kau sudah setuju pada semua hal dalam perjanjian itu, termasuk tidak ada pria lain dalam hidupmu kecuali aku."
Mira menundukan kepala untuk membuat dirinya tenang menghadapi serangan George. "Aku masih ingat dengan jelas, bahkan aku menghafalnya dalam pikiranku." kata Mira pelan.
Tawa datar keluar dari mulut George. "Benarkah? Lalu mengapa kau berdansa dengan Brad? Apakah kau menyukainya? Apa kau senang saat dia meraba - raba pinggangmu seperti itu?"
Mira mendongak. "Tidak seperti itu, sayang. Ketika Brad memintaku berdansa dengannya, aku menatap ke sekeliling untuk mencari keberadaan dirimu. Tapi aku tidak menemukanmu. Tetapi Brad masih terus memintaku untuk berdansa dengannya. Tidak mungkin aku menolak. Dia pasti akan malu jika aku melakukannya. Lagi pula kami hanya berdansa. Jadi menurutku itu tidak apa - apa, tapi..."
__ADS_1
"Oh, jadi sekarang kau sudah peduli dengan perasaannya. Hebat! Hebat sekali! Kalian bahkan baru dua kali bertemu, tapi kau sudah mempedulikan perasaannya. Aku pikir tidak lama lagi kau akan menyukainya lalu berselingkuh dengannya."
Rasa panas karena marah mulai menjalari Mira. Sadarlah ia bahwa pertengkaran baru saja dimulai.
Mira membuka mulutnya, mengeluarkan suara decakan yang nyaring. "Selingkuh katamu ? Darimana kau mendapat pemikiran bodoh seperti itu? Hanya karena aku telah berdansa dengannya bukan berarti aku akan menyukainya. Berhentilah berpikir aku akan mengkhianatimu karena aku bukan pengkhianat. Dapat ku pastikan bahwa aku tidak akan pernah melakukannya."
George mengepalkan tangan menahan amarah. "Aku tidak bodoh, Mira. Perlu kau ketahui bahwa yang ku katakan tadi itu adalah berdasarkan fakta dan pengalaman yang sudah ku lihat dan ku rasakan bahwa melalui hal - hal kecil yang dianggap remeh semua orang, nyatanya itu bisa merusak dan menghancurkan sebuah hubungan sepasang kekasih dan bahkan sepasang suami istri seperti kita. Bukankah aku sudah mengatakan padamu bahwa dulu aku pernah merasakan sakitnya dikhianati. Bukankah juga aku telah memberitahumu bahwa sebenarnya aku adalah pria yang lemah dalam urusan perasaan. Seharusnya kau sadar bahwa dari pengalaman masa lalu ku yang kelam itu, penilaianku tentang perselingkuhan tidak hanya berdasar pada saat kau sudah tidur dengan pria lain. Tetapi saat kau membuka cela dan saat kau memberi kesempatan dalam hidupmu kepada seorang pria, maka secara otomatis kau membuka peluang untuk perselingkuhan. Ini New York, Mira. Segala sesuatu bisa terjadi. Dan para pria disini memiliki berbagai macam rencana, jurus dan senjata untuk meraih keinginan mereka. Aku dapat melihat bahwa Brad memiliki minat dan keinginan padamu. Apakah kau tidak menyadarinya?"
Mira mundur. Tubuhnya mati rasa tapi hati dan jiwanya sakit. Kata - kata George seperti pedang yang menusuk dagingnya. Tetapi semuanya benar. Ia memang menyadari minat Brad terhadapnya, tapi ia tidak memiliki keberanian menolaknya. Kemana perginya keberaniannya itu ?
Sebagai jawaban dari kata - kata George, Mira memilih menatap diam ke arah George disertai ekspresi bersalah. Tidak memerlukan waktu yang lama bagi Mira untuk melihat sorot kecemburuan yang ada dimata George. Ya Tuhan, akulah yang bodoh, gumam Mira dalam hati. Mengapa aku tidak memikirkan perasaan suamiku?
Bagi Mira rasanya sulit untuk menemukan kata - kata untuk membalas ucapan George. Namun, bagi George rasanya terlalu lelah untuk melanjutkan percakapan ini. Tetapi ini bahkan bukan percakapan. Ini adalah pertengkaran, pertengkaran sepasang suami istri.
George terlalu marah untuk mendengarkan penjelasan Mira. Jadi tanpa mengatakan apa - apa lagi, George berbalik dan berjalan ke arah pintu, membukanya lalu keluar dan pergi meninggalkan Mira.
πππππππ
Hai semua.
Tap jempol nya dong π
Jangan lupa juga tinggalkan komentar juga
berikan vote kalian.
__ADS_1
Sedikit vote aja sudah sangat berarti bagi author π
Terima kasih ππ