My Crazy Client

My Crazy Client
BAB 26


__ADS_3

Selamat membaca. . .


"Apa yang kau lakukan ?" tanya George ketika Mira menyandarkan kepalanya di dadanya dan memeluk pinggangnya dengan erat. "Kau tidak boleh begini. Kau tidak boleh tidur disini." kata George lagi sambil mengangkat tangan Mira yang melingkar di perutnya.


"Lantas aku harus tidur dimana?" Mira balas bertanya.


Jeda sejenak sebab George tidak tahu harus mengatakan apa.


"Mmmm," George tampak berpikir. "Mungkin kau bisa tidur di sofa," katanya ragu - ragu.


Situasi ini tidak baik, menurut George. Ketika Mira memeluknya, ia merasakan desakan yang nyaris tak mampu ia kendalikan dimana dia ingin menarik wanita itu lebih dekat dan menciumnya dalam - dalam. George susah payah menahan desakan - desakan itu. Sial!


"Aku tidak mau," tolak Mira. "Aku akan tidur disini, di sampingmu, dan memelukmu erat - erat agar besok ketika aku terbangun kau masih bersamaku." Perkataan Mira menjelaskan apa yang sebenarnya di rasakan wanita itu.


"Tapi..."


Mira menyentuh wajah George dengan tangannya, lalu jari telunjuknyamenyentuh bibir George. "Sssttt..." jangan berisik. Tenang saja, kita tidak akan melakukan apa - apa malam hari ini selain tidur." Mira berkata sambil tersenyum - senyum.


George menyentak tangan Mira. "Bukan itu maksudku. Kau jelas tahu bahwa aku tidak bisa tidur sebelum melakukan sesuatu dengan seorang wanita."


"Kalau begitu ayo lakukan," tantang Mira.


George mendesah panjang. Sial! Wanita ini sengaja menggodaku lagi, gerutu George dalam hati.


Ketika tidak ada suara lagi yang keluar dari mulut George, Mira membuka mulutnya dan bertanya. "Apa kau menghindariku? Mengapa?"


"Tidak," dusta George.


"Lalu mengapa kau meninggalkanku pagi tadi sebelum aku terbangun? Apa ada yang salah ? atau jangan - jangan kau malu. Oh, jika itu tentang keperkasaanmu, kau tidak perlu khawatir sayang. Kau tahu, kau sangat hebat!" kata Mira serius.


"Bukan. Ini Semua bukan tentang itu."


"Lalu tentang apa ? Maukah kau memberitahuku ?" bujuk Mira sambil mengusap dada bidang George yang masih terbungkus rapih dengan kaus hitamnya.


George menghela napas panjang, mencoba mengungkapkan kebenaran. "Perasaan," katanya singkat.


"Oh baiklah, aku akan jujur padamu tentang perasaanku." ujar Mira. "Aku mencintaimu sejak kau menyelamatkan harga diriku didepan mantan kekasihku dan selingkuhannya. Kemudian perasaanku mulai berkembang saat kau terus hadir didekatku dan terus memaksaku untuk menikah denganmu." Mira memperjelas semuanya.


"Ya, aku memang menolakmu pada awalnya, tapi itu hanya karena aku gengsi." Mira tertawa ketika mengenang. "Sekarang aku tidak akan menutup - nutupi perasaanku yang sebenarnya kepadamu. Aku mencintaimu."


"Jangan!" kata George tegas. "Jangan mencintaiku karena aku tidak akan pernah bisa mencintaimu. Tidak denganmu atau dengan wanita manapun."


"Mengapa?"tanya Mira penasaaran. "Apa karena kau tidak percaya pada cinta ?"

__ADS_1


George merendahkan suaranya lalu menjawab, "Itu urusan pribadi, kau tidak perlu tahu."


Jawaban George membuat Mira sedih. Ia berharap George mau bercerita tentang kehidupan pribadinya, tentang lukanya, tentang ketakutannya, tentang kegelisahannya dan tentang semua yang dirasakan pria itu. Tapi meski begitu, ia tidak boleh memaksa.


Ini tidak akan menjadi masalah, menurut Mira, karena ia menyadari bahwa hubungan mereka belum sampai pada tahap saling mempercayai. Jadi wajar saja jika George masih bersikap tertutup.


"Baiklah," kata Mira. "Aku tidak akan memaksamu menceritakan semua hal yang terjadi padamu, baik di masa lalu maupun di masa sekarang. Tetap ku mohon jangan paksa aku untuk berhenti mencintaimu. Dan bolehkah kau memberi kesempatan padaku untuk membuktikan cintaku padamu?"


George terdiam selama beberapa detik. Pembicaraannya dengan wanita ini bukan seperti pembicaraan yang biasa mereka lalukan pada waktu - waktu yang lalu dimana wanita ini banyak membantah, berteriak dan menolak. Sekarang ia berubah menjadi lemah lembut, baik hati dan penuh kasih sayang. Miranda Starlin telah berubah.


 


Cukup lama bagi George untuk membuka mulutnya. Setelah berpikir, ia pun berkata "Baiklah. Terserah kau saja. Tapi jangan mengharapkan apa - apa dariku. Aku tidak bisa berjanji membalas perasaanmu terhadapku."


"Hmmm," hanya suara itu yang dikeluarkan Mira. Kemudian dia mengangkat kepalanya dan mendaratkan ciuman lembut nan ringan di pipi lalu di bibir George. "Selamat tidur," kata Mira.


George berputar dan menindih Mira lalu menutup bibir wanita itu dengan bibirnya. Lidahnya lahap menjelajahi mulut Mira, seolah pria itu kelaparan. Bukankah ia tidak bisa tidur sebelum melakukan sesuatu terhadap wanita ini?


Ketika Mira menatap George, mata pria itu membara dengan intensitas. Lalu dengan berani, tangan Mira merayap menyentuh boxer George hingga ia bisa menggenggam milik pria itu.


Tidak ada kata - kata lagi yang terucap dari kedua mulut dua insan itu. Yang ada hanyalah tindakan yang menimbulkan desahan. Tangan George membelai sisi wajah Mira lalu ia kembali mencium wanita itu dengan lebih panas lagi.


Beberapa saat kemudian keduanya menyatu dalam gerakan penuh kenikmatan. Tangan Mira terus meremas punggung George sampai sesuatu dari dalam intinya keluar. Tak lama setelah itu George mencapai mengeram ketika ia tiba pada puncaknya.


***


Keesokan pagi, ketika Mira terbangung, ia masih mendapati George tertidur begitu pulas. Ia pun tersenyum memandangi wajah pria itu yang tampan. Bahkan dipagi hari saja, dengan rambut berantakan dan mulut seditik terbuka, ketampanan pria itu masih saja jelas terlihat. Mira gembira dengan pemandangan pagi hari ini.


Mira tidak membangunkan George. Ia hanya mengecup pipi George dengan lembut dan singkat, lalu ia turun dari tempat tidur dan bergegas berjalan ke dapur.


Di dapur sudah ada Stella ibunya. Wanita itu mencoba membantu menyiapkan sarapan, tapi terlihat jelas bahwa  si kepala pelayan terus saja menghalangi niat wanita itu. Sebenarnya Mira pun ingin melakukan hal yang sama. Ia ingin membantu memasak di dapur, meski masakannya sama sekali belum ada perkembangan. Tapi ketika melihat kepala pelayan mencegah ibunya dengan segala cara seperti itu, akhirnya Mira mengurungkan niatnya.


Mira berjalan mendekati ibunya. "Selamat pagi, ma" sapa Mira.


"Selamat pagi. Kau sudah bangun ?"


Belum sempat membalas ucapan ibunya, Mira mendengar seluruh pekerja di rumah ini menyapanya. "Selamat pagi, nyonya." Kepala pelayan, koki dan para pelayan serentak memberi hormat pada Mira.


"Oh, selamat pagi semua," sapa Mira sopan.


Kepala pelayanpun berdeham. "Maaf nyonya, jika anda tidak keberatan, saya akan mengantar anda dan juga ibu anda ke ruangan keluarga agar anda berdua bisa leluasa berbicara." Si kepala pelayan menawarkan.


Mira melihat bahwa kehadiran dirinya dan ibunya memberi rasa tidak nyaman atau lebih kepada rasa khawatir pada semua pekerja dirumah ini. Bisa jadi mereka akan terkena masalah jika para majikan tahu bahwa tamu di rumah ini membantu mereka mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

__ADS_1


"Tentu saja," jawab Mira. "Ayo ma, kita pergi dari sini."


Si kepala pelayan hendak mengantar mereka, tapi kemudian langkahnya terhenti ketika Mira kembali berusuara. "Tidak perlu mengantar kami. Selesaikan saja pekerjaanmu, Emma." kata Mira pada si kepala pelayan. "Kami akan ke ruang tamu saja." lanjut Mira.


Mira tidak yakin apakah dia menyebut nama si kepala pelayan itu dengan benar. Tapi kemudian wanita itu tersenyum sopan dan berkata, "Baiklah, nyonya. Terima kasih."


***


Setelah berada di ruang, Mira dan Stella duduk berdekatan. Lalu Mira bertanya, "Boleh aku tahu, apa rencana kalian hari ini?"


"Kami masih akan melanjutkan jalan - jalan kami, sayang. Well, jika memang masih boleh." jawab Stella.


"Tentu saja boleh, ma. Kapan lagi kalian akan menikmati jalan - jalan seperti ini ? Oh ya, bagaimana perjalanan kalian kemarin ?"


Stella menceritakan semua yang ia lakukan dengan keluarga yang lain. Mulai saat mereka menuju tempat - tempat wisata dan apa saja yang mereka makan serta apa saja yang mereka beli. Sesekali tampak senyum dan tawa dari bibir Stella juga bibir Mira.


***


Beberapa menit kemudian, kepala pelayan mengumumkan bahwa sarapan pagi akan segera dimulai. Mira segera kembali ke kamar dan membangunkan George, sementara Stella juga kembali ke kamar membangunkan Martin.


Mungkin hari ini dia mau bermalas - malasan, pikir Mira ketika ia mendapati suami tampannya masih saja tertidur pulas. "Hei, bangun! Ayo bangun, sayang." Panggilan sayang untuk pria itu mulai fasih diucapkannya.


George mengerjapkan mata dan menggeliat. "Jam berapa sekarang?" tanya pria itu dengan suara kaget.


"Ini masih pukul 07.10. Kau belum terlambat untuk ke kantor, tapi kita sudah terlambat untuk sarapan. Ayo turun! Semua orang menunggu kita."


***


Ketika mereka menuju ke ruang makan, tampak keluarga besar sudah berkumpul. Untuk pertama kalinya, setelah tiga tahun, meja makan ini penuh dengan kehadiran keluarga Mira. George tidak memiliki keluarga besar seperti Mira. Ayahnya anak tunggal, dan ibunya hanya memiliki satu saudari yang tinggal di Jerman bersama suaminya. Nenek dan kakek George pun sudah tiada.


Ketika George meninggalkan rumah ini dan tinggal di panthouse miliknya, kesunyian lebih terasa di rumah ini. George tahu itu. Hanya ada ibunya dan Nessa yang makan di meja makan sebesar ini. Benar - benar terasa sunyi.


Namun pagi hari ini berbeda. Dengan kehadiran dirinya, Mira istrinya, kedua orang tua Mira dan adiknya serta saudari dari ibunya, membuat suasana kali ini ramai. Dan George senang karena tampaknya ibunya juga senang dengan hal ini. George yakin dengan hati yang gembira dan dengan kehadiran orang - orang yang baik di samping ibunya, beliau akan kuat menjalani operasinya. Dan dia akan sembuh.


Sarapan berjalan dengan baik sampai Grace melontarkan harapannya. "George," panggil Grace.


"Ya, mom." jawab pria itu.


"Aku memiliki sebuah permintaan lagi," kata Grace serius. "Aku ingin memiliki cucu."


 


 

__ADS_1


__ADS_2