
Selamat membaca. . .
Kemacetan Jakarta memang luar biasa. Mira baru tiba di bengkel pada jam empat lebih empat puluh lima menit. Jadi, dia memutuskan untuk tidak kembali lagi ke kantor tetapi langsung pulang.
Dalam perjalan ke apartemennya, Mira memikirkan tentang George. Pria itu memang angkuh tapi ada sesuatu yang menarik dari dalam dirinya. Mungkin ketampanannya. Tetapi semakin Mira larut dalam pikirannya tentang pria itu, dia semakin menyadari bahwa ada sisi baik dari dalam diri George. Setidaknya dia telah menunjukan rasa tanggung jawabnya dengan menawarkan pernikahan.
Mira menghentikan mobil karena lampu lalulintas telah berganti dengan warna merah. Pikirannya kembali berkelana ke masa saat dia bertemu dengan George sehari setelah insiden kecerobohon itu. Tanpa sadar senyum geli tersungging di bibir Mira ketika memikirkan perkataan George, “Ya, kita harus menyelesaikan masalah ini. Ayo kita menikah. Menikalah denganku. Aku membutuhkanmu.”
Bunyi klakson dari mobil di belakang Mira mengembalikan kesadaran wanita itu. Mira mengumpat. “Sial." Mira segera memindahkan gigi, menginjak gas dan melaju dengan kecepatan sedang.
Dalam perjalanan menuju apartemen nya Mira masih membayangkan rambut coklat George, mata hazelnya, rahang nya tegas serta otot - otot tubuh pria itu. George memang lebih baik dalam segala hal yang berhubungan dengan fisik, tetapi tidak dengan kelakuannya. Meski demikian, George Goldsmith tetap saja begitu menarik.
Sebelum tiba di apartemennya, Mira singgah di supermarket untuk berbelanja. Stok makanan dalam kulkasnya sudah hampir habis. Mira menghabiskan cukup banyak waktu untuk berbelanja. Alhasil, Mira membawa dua kantong penuh belanjaannya.
***
George langsung kembali ke hotel dan segera menyuruh Steve membuat dokumen tertulis untuk Miranda Starlin lalu setelah itu dia harus melaksanakan rencana George untuk wanita itu.
Steve mengangguk dan segera melaksanakan perintah bosnya itu. Steve menduga bahwa George telah benar – benar tertarik pada wanita itu sehingga ia rela melakukan apa saja demi untuk membuat wanita itu menyetujui tawarannya.
Disatu sisi Steve senang karena ada seorang wanita yang mampu menarik perhatian George. Tiga tahun rasanya sudah cukup untuk pria itu bersikap dingin. Selama tiga tahun George hidup dengan tidak mempedulikan orang lain. Bahkan dirinya saja pun ia tak peduli.
Sejak merasakan sakit hati karena pengkhianatan kekasihnya di masa lalu George telah hidup tanpa percaya lagi pada wanita dan cinta. Ia menderita. George Memendam sakit yang teramat dalam tapi ia selalu berhasil menutupi nya.
Sekarang adalah waktu yang tepat untuknya berubah. Sekarang dia harus merasakan kebahagiaan. Dan Miranda Starlin adalah kebahagiaannya, pikir Steve. Semoga.
Di lain hal, Steve merasa bersalah harus mengorbankan Mira dalam rencana yang dibuat George. Bagaimana tidak ? Steve mencetak beberapa foto pada saat Mira berada di bar hotel dan pada saat wanita itu masuk dan keluar dari kamar Goerge (foto di ambil dari rekaman CCTV).
George memerintahkan agar Steve mengirimkan foto - foto itu pada teman - teman Mira dan pada orang tuanya lalu mengarang cerita bahwa Mira memiliki pekerjaan sampingan yaitu sebagai wanita penghibur, jika saja ia tetap menolak tawaran George. Mira yang malang.
George selalu mencari kelemahan setiap musuh - musuhnya agar dia bisa berhasil mendapatkan apapun yang dia inginkan. Dan Steve adalah kaki tangan George yang cakap. Steve sering melakukan pekerjaan seperti ini. Merekayasa dan memfitnah. Sekarang Miranda Starlin seakan telah berubah menjadi musuh George. Dan mereka berdua tahu bahwa nama baik wanita itu dan nama baik keluarganya adalah kelemahan Mira. Nama baik adalah kehormatan yang harus selalu dijaga wanita itu.
***
Setelah Mira tiba di apartemennya, ia segera membuka pintu, menutupnya dan langsung menyalakan lampu di ruang tamu. Ketika berbalik untuk meletakkan kantong belanjaannya di dapur, Mira dikejutkan dengan kehadiran George Goldsmith yang duduk di sofa ruang tamunya sambil tersenyum licik . Mira terperanjat dan berteriak sehingga kantong belanjaannya terjatuh.
__ADS_1
“Kau ? Sedang apa kau disini ? bagaimana kau bisa masuk di apartemenku?”
"Itu tidak penting. Aku kesini karena aku punya sesuatu untukmu." George melempar beberapa lembar foto di atas meja ruang tamu.
Sekujur tubuh Mira gemetar melihat foto - foto itu. "Apa maksud semua ini? Apa kau sedang mengancamku ?"
"Apa kau takut?" George menyeringai. "Bayangkan apa yang akan terjadi jika foto - foto itu tersebar." Nada suara George terdengar mengancam. "Bagaimana reaksi teman - temanmu jika mereka tahu tentang foto ini. Oh, dan bagaimana reaksi orang tuamu jika mereka tahu tentang ini dan tentu saja tentang pekerjaan sampinganmu."
"Apa maksudmu?" pekik Mira. "Kau jelas tahu bahwa itu tidak benar. Jangan memfitnah. Aku bukan wanita...."
"Ya... ya... Kau memang bukan." potong George. "Tetapi apa kau yakin teman - temanmu akan percaya? Dan orang tuamu. Apa kau yakin mereka akan percaya dengan kata-kata mu setelah mereka melihat ini?"
Mira memandang George dengan sorot tajam. "Apa yang kau inginkan dariku, Mr. George ? Katakan! Apa yang kau inginkan dariku? " teriak Mira.
Pria itu lagi - lagi menyeringai. "Sederhana saja. Terima tawaranku."
Sederhana? Apanya yang sederhana? batin Mira. Sejak awal, segala sesuatu tentang George Goldsmith bukanlah hal sederhana.
Kemudian George memberikan sebuah dokumen pada Mira. "Baca lalu tanda tangani ini." kata pria itu tegas.
Beberapa detik kemudian Mira menatap George dengan tatapan tak percaya. "Bagaimana mungkin kau bisa berpikir menulis perjanjian seperti ini ? Pernikahan yang normal saja aku tidak mau, apalagi pernikahan palsu seperti ini. Apa kau gila?"
"Aku tak pernah sewaras ini, Mira." kata George datar.
"Jangan bersikap egois. Tahukah kau selama ini yang kau lakukan hanya membantah...membantah...membantah... Hanya itu yang kau lakukan." bentak George.
Mira terlihat sangat jengkel, tetapi dia tidak bisa berargumen. Wanita itu membuka mulutnya lalu dalam sekejap menutupnya kembali.
George merasa seperti di atas angin. Sebentar lagi dia akan memenangkan pertempuran.
"Sekarang," kata George lagi. "Pikirkan tentang orang tuamu. Pikiran tentang kemungkinan kau hamil. Anak yang kau kandung bukan hanya anakmu, tapi juga anakku. Apa kau mau saat dia lahir dia tak memiliki ayah?"
"Sekarang masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa aku hamil." sergah Mira cepat.
George memperhatikan tubuh Mira yang gemetar. "Duduklah dulu. Kau butuh duduk."
__ADS_1
Mira tak mendengarkan perkataan George tapi hanya memejamkan mata memijit dahinya yang tak sakit.
George menggeram. Ya Tuhan, berikan aku kesabaran.
"Duduk, Miranda." George memberi perintah.
Ketika Mira memandang George, sorot mata pria itu berkilat. Akhirnya dia pun menuruti kata - kata pria itu.
"Bagus." ucap George. "Sekarang dengarkan aku."
"Dari tadi aku mendengarkan mu, brengsek." Mira mengingatkan.
"Kita hanya menikah selama satu tahun. Setelah itu kau bebas." lanjut George. "Kau hanya perlu menandatangani kontrak pernikahan itu dan melakukannya dengan patuh selama satu tahun. Aku berani jamin kau tidak akan rugi."
Seumur - umur, baru kali ini Mira merasakan beban yang begitu berat dalam hidupnya. Setiap orang memiliki moment dimana mereka harus menentukan pilihan. Dan sekarang Mira memiliki moment itu.
Keheningan menggantung sesaat karena suasana di antara mereka dipenuhi dengan berbagai hal yang tak terkatakan. Terutama Mira. Ia tak tahu harus mengatakan apa.
"Jadi, bagaimana keputusanmu?" George bertanya dengan tak sabar. "Jika ternyata kau tidak menyetujuinya, maka bersiap - siaplah menerima kenyataan terburuk. Kau pasti tidak akan suka dengan apa yang akan aku lakukan dengan foto - foto itu." George memperingatkan.
"Aku tidak tahu," gumam Mira, benci karena ia tidak bisa berpikir.
Sambil berdiri Mira kembali bergumam, "Berbaik hatilah sedikit. Beri aku waktu untuk memikirkannya," pinta Mira.
George kecewa tetapi entah mengapa ia menyetujuinya. "Baiklah. Aku memberimu waktu sampai besok."
Sebelum masuk ke kamar, sesaat tatapan Mira terkunci pada George. Sebuah tekad terpampang jelas di wajah Pria itu. Berdasarkan tekad itu Mira menyadari bahwa ini bukanlah akhir tetapi ini merupakan awal.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Halo kak. Terima kasih masih setia membaca novel aku ini.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya kak 😊
Like, Comment and vote 🙏
__ADS_1