My Crazy Client

My Crazy Client
BAB 24


__ADS_3

Selamat membaca. . .


Satu minggu kemudian...


    George Goldsmith memang tidak percaya pada cinta tapi pernikahan berbeda lagi. Syukurlah ia bukan pria anti pernikahan. Dan setidaknya ia menemukan wanita yang baik, yang cocok dijadikan istri.


Miranda Starlin tidak seperti wanita - wanita yang ia kenal selama ini, wanita yang hanya menginginkan uang dan kekayaannya. Dan wanita itu juga tidak pernah repot - repot melakukan segala cara untuk menarik perhatian George. Ia sudah punya daya tarik dan pesona luar biasa dari dalam dirinya.


George terpaku melihat Mira dalam balutan gaun pengantin berbahan sutra tipis rancangan seorang desainer terkenal di New York. Wanita itu terlihat sangat cantik dan sempurna, mirip seperti seorang putri kerajaan.


Sementara itu, ketika berjalan menuju altar yang di buat di dekat taman bunga samping rumah ibunya George, Mira memperhatikan pria itu. Ia menyadari bahwa George Goldsmith memiliki karisma luar biasa dengan segala yang ada dalam dirinya. Bukan hanya karena pria itu kaya raya, tetapi karena ia memiliki tubuh atletis dan wajah yang tampan, terutama dalam balutan tuxedo hitam pekat.


Mira didampingi ayahnya berjalan pelan menuju altar. Langkah mereka menyesuaikan alunan piano yang mengiringi. Perasaan gugup bercampur bahagia menyelimuti hatinya. Akhirnya ia menikah.


 George segera menggenggam tangan Mira ketika wanita itu berada di altar. Dan tepat saat mereka bersitatap,    George mengumbar senyum lebar yang membuatnya terlihat mempesona. Ia benar - benar tersenyum, bukan senyum yang dibuat - buat seperti yang selama ini ditampilkan nya. Baru kali ini Mira melihat senyum seperti itu tersungging di bibir pria itu. Oh Tuhan, dia kelihatan luar biasa tampan dan seksi.


 Setelah ini Mira dapat memastikan bahwa ia akan dengan senang hati bertekuk lutut jika pria itu mengajaknya bercinta. Ya Tuhan, belum apa - apa pikiran nya sudah di penuhi dengan hal - hal sensual yang ingin dilakukannya dengan George. Astaga!


Rasa panas menjalari tubuh Mira. Tubuhnya yang gugup dibarengi dengan perasaannya yang bahagia berusaha keras bekerja sama untuk dapat mempertahankan diri, setidaknya sampai upacara pernikahan ini selesai.


Bapak pendeta yang berdiri diantara mereka pun mulai berbicara. "Di hadapan kita telah berdiri lelaki dan perempuan ini yang datang untuk memohon berkat dari Tuhan dalam pernikahan mereka. Karena itu mari kita dengarkan janji nikah mereka yang akan mereka ucapkan di hadapan Tuhan." kata si bapak pendeta.


"Miranda Starlin," kata George. "Aku menerimamu menjadi istriku dan berjanji di hadapan Tuhan untuk mencintai dan melayanimu baik waktu suka maupun duka, dalam keadaan sehat maupun sakit."


"George Goldsmith," kata Mira. "Aku menerimamu menjadi suamiku dan berjanji di hadapan Tuhan untuk mencintai dan melayanimu baik waktu suka maupun duka, dalam keadaan sehat maupun sakit."


Sambil mengangkat tangannya lebar - lebar, bapak pendeta kembali berkata, "Dengan ikatan janji suci itu saya nyatakan kalian resmi menjadi suami - istri. Semoga Tuhan menolong dan memberkati kalian dalam menepati janji nikah ini, Amin."


 Mira merasakan getaran dalam dirinya. Sekarang mereka telah resmi menjadi sepasang suami-istri, dan ia sangat mengucap syukur karenanya.


 


George dan Mira berjalan menyapa para keluarga dan beberapa teman George, teman baiknya, Brad dan Joel.


"Selamat atas pernikahan kalian." kata Brad dan Joel.


 Mira tersenyum manis pada teman - teman George saat menerima ucapan selamat dari mereka.


Setelah beberapa menit membaur dengan semua orang yang hadir dalam upacara pernikahan mereka, George    mengajak Mira pergi. "Ayo kita pergi dari sini," George berbisik di telinga Mira.


Ketika Mira melirik di wajah George, ada tanda memerintah disana. Sejenak Mira ragu karena acaranya belum benar-benar selesai. Tapi kemudian ketika melihat pandangan dingin di mata George, akhirnya Mira menyetujui.


***


    George membawa Mira ke hotel miliknya, di sebuah kamar suite yang indah. Kamarnya menjadi semakin indah dengan hiasan mawar merah di atas ranjang. Oh, romantis sekali.


Tetapi bukan berarti George yang menyediakan semua itu. Jika bukan karena ibunya memaksa agar mereka menghabiskan malam pengantin di kamar hotel ini, George akan lebih memilih menghabiskan malam pengantin nya di apartemen miliknya sehingga mereka bisa tidur di kamar berbeda.

__ADS_1


Tapi disinilah mereka.


Mira merasa seharusnya ia lebih mempersiapkan dirinya menghadapi pernikahan atau lebih tepatnya menghadapi situasi canggung sekarang ini dimana kini ia hanya berduaan dengan George.


Melihat kecanggungan Mira, George segera bersuara, "Tenanglah, aku tidak akan melakukan apa - apa padamu. Aku tidak akan mengingkari perjanjian pernikahan yang sudah kita tanda tangani Aku tidak akan melakukan yang seharusnya dilakukan para pengantin baru di malam pertama mereka."


Mira kecewa, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar nya. Persetan dengan perjanjian kontrak itu! Toh sekarang mereka sudah sah menjadi suami istri. Apa salahnya jika mereka melakukan hubungan suami istri?


"Tidak apa - apa." ucap Mira. "sebenarnya kita tidak harus melakukan persis seperti perjanjian yang sudah kita sepakati.


"Apa maksudmu?"


Tanpa berkata apa - apa, Mira maju mendekati George lalu melingkarkan tangannya pada leher pria itu dan mendaratkan bibirnya pada bibir George. Kemudian Mira mencium George dengan lembut tetapi ciuman itu sanggup menumbuhkan gairah panas dalam tubuh mereka. Oh, mungkin dirinya sudah gila!


 


Sebenarnya George hanya berpura-pura saja saat mengatakan ucapannya tadi. Demi Tuhan, ia pun tak sanggup  menahan diri ketika berada dekat dengan Mira karena hanya menghirup aroma wanita itu saja sudah membuatnya mabuk kepayang dan linglung. Pertanyaan sekarang adalah berapa lama lagi George bisa bertahan apalagi saat ini wanita ini sudah memulainya.


Awalnya George hanya diam. Tetapi tak butuh waktu lama pria itu segera membalas ciuman Mira, lalu tangannya mengusap punggung telanjang Mira, memberikan sapuan yang lembut dan sensual.


Mira merasakan tubuhnya terbakar. Sentuhan George membuat Mira semakin bergairah. Lalu ia melengkungkan punggungnya, menekankan dadanya ke dada George.


"Mira," bisik George parau ketika menarik bibir nya dari bibir wanita itu. "Kau yakin dengan ini?" George memberanikan diri bertanya walaupun sebenarnya ada kemungkinan wanita itu menolaknya.


"Sssttt..." bisik Mira. "Aku tidak pernah seyakin ini. Lakukanlah!"


"Ini tidak salah." kata Mira tegas."Kita sudah resmi menjadi suami istri, jadi ini tidak salah."


Tentu saja ini tidak salah. Dalam hati George bersorak gembira.


"Baiklah, aku akan melakukannya dengan lembut dan secara perlahan. Aku ingin kau menikmati setiap sentuhan ku hingga mulutmu mengeluarkan desahan kenikmatan."


George mengulum bibir Mira dengan penuh hasrat, lebih dalam dan dalam lagi. Wanita itu benar - benar memiliki citarasa manis seperti madu yang sanggup membangkitkan gairah George menjadi luar biasa membara.


 


"Aku ingin menyentuh seluruh tubuhmu dan menciumnya. Aku ingin mencium dadamu, perutmu dan bagian diantara kedua kakimu." bisik George menggoda.


 Ledakan gembira menyelimuti Mira ketika ia mendengar ucapan George. Ia pun tersenyum malu - malu. Atau lebih tepatnya pura - pura malu padahal ia menginginkannya.


Secara perlahan - lahan George melucuti pakaian Mira. Oh, Ini sangat menyenangkan dan George menikmatinya.


 Miranda Starlin sekarang adalah istriku dan milikku, George menyadari. Apapun dapat dilakukan nya bersama dengan wanita itu, terutama soal bergulat di ranjang.


Ketika gaun Mira telah merosot, George dapat memandangi tubuh putih wanita itu. Ia ingin mengecupnya, menjelajahinya dari ujung kepala hingga kaki.


Dengan lembut George menyentuh dada Mira dan meremasnya, lalu tangannya perlahan - lahan turun melintasi perut lalu lebih ke bawah lagi pada bagian tengah kaki wanita itu. Ia membelai bagian itu dengan lembut sekali.

__ADS_1


Mira terengah, tak mampu mengeluarkan suara selain desahan kenikmatan.


Malam ini tidak ada bantahan untuk George.


Diangkat nya tubuh Mira lalu di hempaskan nya di atas ranjang dengan lembut, lalu ia sendiri melepaskan pakaiannya dengan gerakan secepat kilat.


Kemudian George mencondongkan tubuhnya ke depan, menempelkan bibirnya ke bibir Mira lagi, kali ini sedikit lebih liar, sementara sebelah tangannya menjelajahi bagian sensitif wanita itu.


Tak mampu menahan diri lagi, George menjelajahi tubuh Mira semakin ke bawah. Dicumbunya leher wanita itu dengan lembut dan sepenuh hati, lalu turun ke bagian dada lalu perlahan turun ke bagian perut, mencumbu nya lagi dengan begitu bergairah, lalu turun...turun...dan turun lagi.


 


George merengkuh kedua kaki Mira erat - erat dengan kedua tangan nya lalu segera mencium bagian itu dengan lembut dan berhasrat, tepat di bagian sana.


Mira berseru pelan karena terkejut, lalu menggeliat. Astaga! Ini begitu nikmat.


Tangan Mira terbenam di rambut George, sementara lidah George terbenam pada miliknya.


Setelah beberapa menit dalam aktifitas itu, Mira mendorong pelan tubuh George hingga pria itu terlentang. Dan ia melakukan hal yang sama persis seperti yang dilakukan George kepadanya.


 


Mira tidak memiliki pengalaman dalam hal ini dengan para lelaki, tetapi imajinasinya luas dan liar. Inilah yang paling ia takutkan ketika bermesraan dengan lelaki. Ia harus menjaga dirinya baik - baik agar tidak terdorong pada hasrat ini. Syukurlah sekarang ia sudah menikah, jadi tidak ada lagi yang harus dijaga karena sekarang ia melakukannya dengan suaminya sendiri.


 Jika ia sudah mulai, ia takkan pernah berhenti sampai mendapatkan kepuasan. Itulah George Goldsmith,menyangkut masalah bergulat di atas ranjang. Karena itu George mencium bibir Mira lagi... lagi... dan lagi. Mereka bercumbu dengan segenap perasaan yang bergolak dalam diri mereka.


George menangkup wajah Mira kemudian berbisik parau, "Aku siap."


Mira mengangguk dan dalam hitungan detik mereka pun bersatu.


Sementara dalam kegiatan mereka, Mira membisikan sesuatu yang menyenangkan hati George. "Tahukah kau bahwa kau kuat sekali!" katanya ceria. "Teruslah seperti itu. Aku benar-benar menikmatinya."


 Wajah dan hati George berseri - seri mendengar pujian Mira. Bersama dengan wanita lain, ini hanya menjadi sebuah kebutuhan bagi George. Tapi bersama dengan Miranda Starlin jelas itu sangat berbeda. Bersama wanita itu ia bahagia.


Akhirnya pada malam pengantin mereka, mereka melakukannya, bergulat dengan liar di segala sudut ruang kamar itu, sampai mereka kelelahan.


💕💕💕💕💕💕💕


Terimakasih karena sudah meluangkan waktu membaca novel ini.


To Enyol :


Terima kasih telah memotivasi 😂😂


To Sekar Arum :


Terima kasih karena selalu menantikan novel ini 😊😊

__ADS_1


__ADS_2