My Crazy Client

My Crazy Client
BAB 30


__ADS_3

Selamat membaca . . .


Satu minggu kemudian, Grace sudah berada dirumahnya. Syukurlah kesehatan wanita itu sudah mulai pulih sehingga kemarin ia sudah bisa dipulangkan dari rumah sakit.


Mira dan George memutuskan untuk tinggal sementara di rumah Grace. Wanita itu memang memiliki banyak pembantu di rumah yang siap mengurus setiap kebutuhannya. Disana juga ada Nessa adik George yang juga siap menjaga ibunya. Tetapi naluri sebagai seorang anak yang harus bertanggung jawab pada orang tua telah menghantam hati Mira. Jadi ia mengajak George untuk tinggal disana sampai kesehatan ibu mereka benar - benar pulih.


Sementara itu, seluruh keluarga Mira telah kembali ke Indonesia sejak tiga hari lalu. Mereka tidak bisa berlama - lama di New York karena mereka memiliki tugas dan tanggung jawab yang harus mereka penuhi di tempat asal mereka . Terutama bibi Mira yang tinggal di Bekasi. Suaminya sudah beberapa kali menelepon hanya untuk menanyakan kapan ia akan kembali, padahal sebenarnya suaminya itu tahu persis waktu kepulangan mereka. Mungkin sang suami sudah begitu merindukan sang istri.


Keluarga Mira tidak bisa berpamitan pada Grace karena pada hari mereka pulang, Grace masih masih terbaring lemah meski wanita itu sudah sadar. George memberitahu bahwa tidak apa - apa tidak berpamitan pada ibunya. Ia pasti akan mengerti. George dan Mira akan menyampaikan salam dan ucapan 'semoga cepat sembuh' dari seluruh keluarga Mira kepada Grace nanti, ketika ia sudah benar - benar sembuh.


Dan benar saja. Ketika kesehatan Grace mulai membaik, George dan Mira secara perlahan - lahan memberitahu pada Grace apa saya yang telah terjadi selama ia dirawat di rumah sakit, termasuk tentang kepulangan keluarga Mira beberapa hari yang lalu dan tentang doa - doa serta harapan - harapan mereka untuk Grace. Ia menganggukkan kepala dan tersenyum bahagia ketika ia mendengar pemberitahuan mereka. Itu pertanda bahwa ia senang dan berterimakasih bahwa keluarga Mira mempedulikannya.


Mira dan George ikut ke bandara untuk mengantarkan keluarga mereka. Saat mereka datang ke New York, mereka menaiki pesawat pribadi George. Tetapi saat mereka kembali ke Indonesia, mereka sepakat memilih naik pesawat komersil saja. Mereka ingin punya pengalaman perjalanan seperti turis pada umumnya.


***


Pagi hari ini, Mira duduk di depan meja rias yang diatur dengan cantik didalam walk in closet (ruang penyimpanan pakaian, sepatu, tas, aksesoris, dasi, ikat pinggang dan lain - lain) sambil merapihkan rambut, sebelum ia pergi menemui Grace di kamarnya. Sementara George ada dibelakangnya, sementara berganti pakaian. Mira dapat melihat seluruh tubuh atletis pria itu dengan jelas melalui cermin. Luar biasa indah!


Mira tersenyum - senyum sendiri karena pikirannya mulai berkelana tentang pergulatan mereka seminggu terakhir ini. Ia menghitung dalam hatinya sudah berapa kali ia bersetubuh dengan suaminya. George memang hebat. Sepertinya pria itu tidak pernah mengenal rasa lelah, karena meski ia tetap bekerja dari pagi hingga sore hari, lalu  pada malam harinya ia menengok mom di rumah sakit, nyatanya ia masih memiliki banyak tenaga untuk bertempur, meluncurkan senjatanya pada titik kenikmatan Mira.


George memang selalu bisa mengejutkan Mira dalam banyak hal, terutama soal gaya. Tidaklah mengherankan seperti itu sebab George banyak memiliki pengalaman tentang itu sebelum menikah dengan Mira. Tidaklah juga mengherankan bagi Mira apabila ia selalu terkejut dengan cara main George sebab dirinya sama sekali tidak memiliki pengalaman.Tetapi kejutan sensual George benar - benar dapat membuat Mira melayang, terbang tinggi ke langit.


Mira bersyukur dapat mengimbangi George. Meskipun setelah itu ia benar - benar tumbang. George kuat sekali. Ia harus bermain sedikitnya tiga babak saat mereka bergelut. Setelah itu barulah ia merasa puas. Dan untungnya Mira lebih daripada kata bersedia menanggapi hal itu.

__ADS_1


Tetapi kejutan yang diberikan George tidak hanya itu saja. Entah mengapa pria itu tiba - tiba saja menjadi romantis sekali terhadap Mira. Selama seminggu ini, George sudah lima kali memberikan bunga dan hadiah kepadanya. Mulai dari perhiasan, pakaian, tas, sepatu, handphone hingga voucher perawatan kecantikan di sebuah klinik kecantikan terkenal di New York. Mira sangat senang menerima semua pemberian George. Ia percaya bahwa hadiah - hadiah yang diterimanya adalah bentuk perhatian dan kasih sayang suaminya itu terhadap dirinya.


Tepat pukul tujuh Mira dan George bersama Nessa bertemu di depan pintu kamar Grace. Kemudian datang sang pelayan membawa sebuah kue ulang tahun. Ya, hari ini adalah ulang tahun Grace. Hari ini ia berhari ulang tahun yang ke 57 tahun. Meski Nessa sudah menyiapkan pesta kejutan untuk Grace sebentar malam, tapi Mira mengusulkan bahwa mereka (keluarga)  harus memberi kejutan khusus kepada Grace pada pagi hari, meski hanya dengan sebuah kue ulang tahun sederhana dan iringan nyanyian lagu selamat ulang tahun. Dan George dan Nessa menyetujuinya.


"Kau saja yang memegang kue ulang tahun ini," kata Nessa pada George dengan suara pelan sambil mengambil kue ulang tahun dari tangan si pelayan dan langsung memberikannya ke tangan George. "Kau memegang kue ini sementara aku dan Mira menyanyikan lagu." lanjut Nessa.


"Ok."sahut George.


"Tunggu!" seru Mira dengan suara pelan."Kita pasang saja lilin ini sehingga nanti mom hanya tinggal meniupnya."


"Ide yang bagus," kata Nessa. "Dimana korek apinya?"


Si pelayan memberikan korek api pada Nessa lalu wanita itu segera menyalakan lilin angka 57 yang berada diatas kue ulang tahun berwarna cokelat putih itu.


Setelah mengetuk pintu beberapa kali dan setelah terdengar jawaban 'silahkan masuk' dari dalam kamar, Mira, George dan Nessa pun segera masuk, melangkahkan kaki mereka mendekati Grace yang masih berbaring di tempat tidur sambil menyanyikan lagu wajib saat seseorang berhari ulang tahun sambil bertepuk tangan.


Happy birthday to you


Happy birthday to you


Happy birthday to you


Grace bangun dan wajahnya tampak terkejut dengan kehadiran ketiga anaknya. Tapi beberapa detik kemudian wajah terkejutnya tergantikan dengan raut wajah penuh kebahagiaan.

__ADS_1


Grace tahu bahwa selama ini sangat sulit mengumpulkan kedua anaknya di rumah ini, terutama George, karena ia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Tapi pagi hari ini ia senang karena bukan hanya dua anaknya yang terkumpul, tapi kini sudah menjadi tiga anak, terhitung dengan menantunya. Grace senang karena mereka semua ada disini, terlebih ketika ia melihat George membawa sebuah kue ulang tahun.


"Selamat ulang tahun mom," ucap Nessa lalu segera memeluk ibunya. Tiba - tiba airmata jatuh membasahi pipi Nessa. Bukan airmata kesedihan melainkan airmata kebahagiaan. Ia bersyukur bahwa Tuhan masih memberikan kesembuhan serta kesempatah hidup bagi ibunya.


Setelah melepas pelukannya, Nessa menghapus airmata di pipinya dengan tangannya sendiri, sementara Mira segera memeluk Grace sambil berkata, "Selamat ulang tahun mom. Semoga mom selalu sehat dan bahagia." Airmata kebahagiaan juga mengalir membasahi wajah Mira. Perasaannya dan perasaan Nessa sama. Ia pun bersyukur karena Grace bisa sembuh dan berkumpul bersama dengan mereka.


"Aku juga ingin memelukmu mom, tapi kurasa kau harus meniup lilin ini." ucap George.


"Oh, tentu saja. Terima kasih atas kejutan ini." kata Grace gembira.


Grace meluncur ke tepi ranjang lalu segera memejamkan mata untuk berdoa, sebelum ia meniup lilin angka 57 yang tertancap cantik di atas kue ulang tahun. Setelah selesai berdoa, Mira, George dan Nessa menghitung dari angka satu sampai tiga lalu setelah itu Grace langsung meniup api di lilin angka 57 tahun itu. Ketika apinya padam, Mira dan Nessa kembali bertepuk tangan.


Mira segera mengambil kue ulang tahun itu dari tangan George agar suami nya itu bisa memeluk Grace.


"Selamat ulang tahun mom. Aku senang kau sudah sembuh sekarang. Semoga kau akan selalu sehat dan bahagia." ucap George tulus. Kemudian ia berbisik di telinga Grace, "Kau harus sehat karena kami sementara berusaha mewujudkan keinginanmu tentang seorang cucu. Kau harus sehat agar bisa melihatnya."


Grace tersenyum menatap George ketika putranya itu melepaskan pelukannya. "Tentu saja, sayang. Aku akan menjaga kesehatanku baik - baik agar aku bisa melihatnya." ucap Grace penuh semangat.


Mira dan Nessa tampak bingung dengan ucapan Grace. Tapi mereka tidak berniat bertanya karena yang terpenting adalah Grace bahagia. Sejatinya kebahagiaan itu sederhana, sesederhana melihat orang yang kita sayangi tersenyum bahagia.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Hai semua. Terima kasih sudah membaca novel ini.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.


Like, comment and vote 🙏


__ADS_2