
Selamat membaca . . .
Bersama dengan Mira, George melupakan perjanjian pernikahan yang telah mereka sepakati. Ia bahkan telah membuka hatinya untuk wanita itu. Perhatian dan kasih sayang yang telah di tujukan Mira telah mampu mencairkan hati George yang beku.
***
Semua keluarga berkumpul di rumah sakit pada keesokan paginya. Semuanya sementara menunggu operasi Grace di depan ruang operasi.
Mira duduk di samping George sambil menggenggam tangan pria itu dengan tangan kirinya. Mira memiliki banyak alasan mengapa ia melakukan itu. Ia ingin menenangkan George sebab pria itu tampak tegang dan gelisah. Ia tidak ingin seorang yang dicintainya menanggung beban masalah dan kekhawatiran sendirian. Mira ingin selalu ada dekat dengan George, sebagai penolong dan penghibur. Ia ingin menjadi sahabat, istri bahkan keluarga bagi George, sehingga ia bisa menjadi tempat sandaran bagi suaminya itu.
Lima belas menit telah berlalu. Semua tampak diam dan tenang. Tetapi tiba - tiba tampak seorang gadis pirang yang tinggi, cantik dan seksi dalam balutan gaun berwarna biru ketat dan berbelahan dada rendah berjalan berlenggak lenggok dengan sepatu tumit lima sentimeter menuju ke arah George.
"Hai," sapa wanita itu.
George mengangkat kepalanya menatap wanita itu lalu menyahut, "Hai Val. Mengapa kau ada disini ? Kapan kau kembali ?"
Mira hanya bisa memandang kedua orang itu dengan raut penasaran. Mira dapat melihat sorot kesal karena khawatir pada wanita itu kala ia memandangi George. Mungkin wanita itu peduli pada George, pikir Mira.
"Kau jahat. Kenapa kau tidak memberitahuku tentang pernikahanmu juga tentang mom? Aku disini karena mengkhawatirkanmu." kata wanita itu ketus.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk tidak memberitahumu Val. Semua terjadi terlalu cepat. Aku bahkan tidak membuat pesta yang meriah untuk pernikahanku karena mom sedang sakit. Lagipula aku pikir kau akan lama berada di London." urai George.
Mira kemudian berdeham. George dan wanita itu pun menatap Mira. George segera memperkenalkan Mira pada wanita itu. "Ini adalah istriku." kata George.
"Hai," sapa Mira segera sambil mengulurkan tangan ke arah wanita itu."Aku Miranda Goldsmith." kata Mira lagi, sengaja menekankan kata Goldsmith dengan maksud agar wanita itu tahu siapa dirinya sekarang.
Wanita itu menyambut uluran tangan Mira meski tatapan matanya tajam. "Hai, aku Valeri Rowland." Nada suara wanita itu sama seperti tatapan matanya. Jelas sekali bahwa Valeri Rowland tidak menyukai Mira.
"Senang bertemu denganmu, Val. Bolehkan aku memanggilmu Val?" tanya Mira dengan suara datar, mencoba agar terlihat biasa - biasa saja. Padahal sebenarnya ia pun tidak menyukai wanita itu.
"Kau sudah melakukannya. Dan itu tidak masalah. Kau bisa memanggilku seperti itu. Ngomong - ngomong, bolehkan aku meminjam George sebentar ? Aku ingin berbicara empat mata dengannya."
Mira tampak terkejut dengan kata - kata Valeri, tapi dia tidak bisa mengatakan tidak. Perasaan cemburu tiba - tiba datang menghantam hati Mira. Namun bukan berarti dia harus menjadi posesif juga kan. Mereka kan hanya akan berbicara. Mungkin itu adalah hal yang penting juga. Begitulah pikir Mira. "Tentu saja boleh." kata Mira lalu mengalihkan pandangannya pada George.
George membalas tatapan Mira lalu tersenyum. "Tunggu sebentar. Aku tidak akan lama." kata George lalu melepas genggaman tangan Mira darinya.
__ADS_1
Valeri menyeringai aneh kala menatap Mira. Seringai seperti merendahkan, meremehkan dan menghina. Akhirnya timbul keinginan untuk merobek mulut wanita itu. Tapi tentu saja ia harus menahannya. Sial!
Melihat George dengan wanita itu membuat hati Mira panas terbakar api cemburu. Bayangan akan pelakor tiba - tiba muncul dalam pikirannya. Kali ini ia tidak ingin itu terjadi lagi dalam hidupnya. Ia tidak ingin dikhianati lagi oleh orang yang dicintainya. Tapi apa yang dapat dilakukannya sekarang ? Ia hanya bisa berharap bahwa George tetap akan setia kepadanya.
George berdiri berhadapan dengan Valeri di sudut ruangan, sementara Mira hanya memperhatikan mereka dari tempat ia duduk. Wanita itu banyak bicara sementara George tampak lebih banyak mendengarkan. Sepertinya mereka sedang berbicara hal yang serius.
Setelah hampir tiga puluh menit mereka berbicara, akhirnya George kembali ke tempat duduknya di samping Mira. Tetapi Valeri langsung saja pergi begitu saja. Mira berasumsi mungkin wanita itu sedih dan kecewa pada George, karena ketika ia pergi raut wajahnya berubah murung dan matanya tampak berair.
Mira berusaha menahan diri untuk tidak menanyakan apa yang dibicarakan George dengan Valeri. Sekarang bukanlah waktu yang tepat. Mungkin nanti setelah operasi ini selesai dan ketika mereka hanya berdua saja baru ia bertanya.
Dua jam kemudian dokter Alex keluar dari ruang operasi dengan wajah yang letih tetapi senyum lega menghias bibir dokter itu. "Syukurlah, operasinya berjalan baik. Sebentar lagi Nyonya Grace akan dipindahkan ke ruang perawatan." kata dokter Alex kepada semua yang menantikannya di depan ruang operasi.
Dokter Alex menyarankan agar Grace jangan dulu di ganggu. Ia masih butuh banyak istirahat. Jadi setelah operasi Grace selesai, keluaga Mira pun langsung pulang. Yang tinggal hanyalah Mira, George dan Nessa.
Setelah Grace dipindahkan ke ruang perawatan, George dan Nessa secara bergantian menengok wanita itu. Yang pertama menengok adalah George. Mira dan Nessa menunggu di luar ruangan. Tidak lama kemudian George kelaur dan langsung mengajak Mira pulang. "Kami akan pulang terlebih dahulu," kata George pada Nessa.
"Baiklah. Aku juga akan pulang setelah menengok mom." sahut Nessa.
***
Mira langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara George menuju ke ruang kerjanya di rumah, karena ada hal yang harus ia urus. Sudah dua hari ia tidak bekerja. Jadi tidak heran jika pekerjaannya kini menumpuk.
"Tidak perlu," kata George datar. "Aku mempekerjakan koki handal untuk melakukan itu. Kau tidak perlu repot - repot belajar memasak. Aku tidak yakin kau bisa melakukannya."
Alih - alih tersinggung dengan perkataan George barusan, Mira memilih tertawa pelan. "Aku juga memang tidak yakin apa aku bisa memasak dengan baik," Mira mengakui. "Syukurlah kau mempekerjakan koki yang hebat."
George pun tertawa. Akhir - akhir ini pria itu sering menampilkan senyum dan tawa yang sebenarnya. Tidak ada paksaan dan tidak ada kepura - puraan dalam senyum dan tawa George.
***
Usai menyelesaikan makan malam, George kembali ke ruang kerjanya, sementara Mira berjalan menuju ke kamar. Di kamar Mira mengenakan gaun terbuka berwarna merah. Merah adalah warna favoritnya. Sewaktu ia tinggal di Jakarta, ia membeli gaun merah itu tetapi sama sekali tidak pernah memakainya sebab gaun merah itu tidak hanya ketat tetapi juga berpotongan dada rendah dan mini. Selama ini Mira hanya menyimpan gaun itu. Dan mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk memakainya.
Dengan pakaian seperti itu Mira berjalan menuju ruang kerja George kemudian ia mengetuk pintu.
Tok...tok...tok...(suara pintu diketuk).
__ADS_1
"Masuk," kata George dari dalam ruangan.
Mira berjalan pelan sambil tersenyum menggoda ketika memasuki ruangan. Gerakannya itu mampu mengundang perhatian George yang tengah duduk di kursi kerjanya sambil memegang berkas - berkas. Mria merasakan kepuasan tersendiri melihat wajah tercengan George.
Penampilan Mira membuat sesuatu dari dalam celana jeans hitam George mengeras. Ia pun segera berdiri dan berjalan menyambut Mira dengan mengulurkan tangannya, menggengam tangan Mira dan mengajaknya duduk disofa. Sentuhan di tangan saja sudah membuat tubuh Mira bergetar seperti baru saja tersengat listrik. Aliran listrik sensual.
"Aku tidak menyangka kau akan muncul disini dengan penampilan memukau seperti ini. Aku senang. Aku mau kau mengenakan pakaian ini hanya ketika kau ada bersamaku. Jadilah cantik dan seksi hanya untukku." kata George sambil memandangi mata Mira lalu perlahan turun ke bagian dada.
George mengangkat tangannya lalu mengelus pipi Mira dengan lembut. "Kau sangat cantik, di luar maupun didalam. Aku tahu dan aku yakin tentang itu."
Mira tersenyum lalu beringsut dari George dan berdiri. Dilucutinya pakaian dalam miliknya dengan anggun kemudian melangkah keluar dari itu. George masih disana, duduk tenang memperhatikan Mira seoalah ia adalah hal yang paling memukau yang pernah dilihatnya.
"Tanggalkanlah semua pakaianmu," kata Mira ketika ia memperhatikan pusaka pria itu yang menegang, menekan celana jeans hitamnya. George menang sudah tidak nyaman.Jadi ia pun segera berdiri dan dengan cepat menanggalkan semua pakaiannya.
Mira berjalan menghampiri George dan mengangkangi pria itu. Kedua tangan Mira memegang bahu George untuk menahan tubuhnya. Kemudian Mira mencium George dengan begitu bergairah. Selama beberapa detik mereka bercumbu dengan hasrat yang begitu dalam.
George kemudian menurunkan resleting gaun Mira hingga gaun itu bertumpuk di perutnya. Lalu George mengangkat gaun itu, mengeluarkannya melalui kepala Mira. "Sekarang," kata George parau. "Turunlah ke arahku secara perlahan - lahan."
Mira mengangguk dan langsung melakukannya. Ia merasakan senjata George yang begitu keras. Mira perlahan mulai turun, dan George membantu jalur masuknya dengan memegang pangkal senjatanya. Setelah milik George telah sepenuhnya masuk ke dalam milik Mira, pria itu berbisik, "Oh, sayang. Kau sudah basah. Ya Tuhan, sekarang aku tidak dapat menahannya lagi. Aku menginginkanmu sekarang."
Mira telah mengerti bahwa dalam posisi ini dialah yang memegang kendali. Karena itu dengan segera ia mendaratkan lidahnya, menyapu mulut George, mencium pria itu dengan keras dan menuntut. Dan secara perlahan bagian bawahnya mulai berpacu. Naik dan turun. "Kau sangat seksi dan ketat," kata George tepat ketika pacuan Mira semakin cepat.
Pada awalnya Mira merasakan nyeri. Tapi lama - kelamaan semuanya berubah menjadi nikmat sekali. Tangan George ikut membantu pergerakan Mira sehingga ia bisa menghentak dengan keras kebawah. "Teruskan sayang, ini sungguh nikmat. " geram Geroge serak. Setiap kata - kata dan desahan pria itu membuat Mira lebih bersemangat.
Kedua tangan George memeluk erat tubuh Mira, sementara kedua tangan Mira memegang leher George.Selama beberapa menit yang panjang mereka menyatu dalam aktifitas liar namun nikmat hingga pada akhirnya mereka sampai dipuncak bersama.
Sebelumnya Mira berpikir bahwa memasak dan menyajikan makanan yang lezat kepada George adalah langkah awal untuk mencuri hati pria itu. Namun ia keliru. Langkah awal mencuri hati pria itu adalah dengan pemberian diri secara total, lahir dan batin.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Hai semua.
Bagaimana episode kali ini?
Tinggalkan komentar kalian ya...
__ADS_1
Jangan lupa juga like dan vote nya.
Terima kasih 😘💕