My Crazy Client

My Crazy Client
BAB 16


__ADS_3

Selamat membaca . . .


    Waktu Mira masuk ke kamar, ia berharap George telah pergi. Pria itu bisa datang sendiri ke apartemennya, jadi dia juga bisa pulang sendiri, bukan.


Berada dekat dengan George Goldsmith membuat hati Mira bergolak. Sejujurnya ia telah memiliki perasaan pada George semenjak pria itu menujukan rasa tanggung jawabnya. Perasaan Mira semakin berkembang setelah George menyelamatkan harga dirinya dari pertengkaran antara dia, Dion dan Sintia beberapa waktu lalu. Namun rasa gengsi Mira yang tinggi membuatnya membantah perasaan itu.


Sekarang Mira menyadari bahwa menjaga jarak terhadap George sebenarnya bukanlah hal baik karena usahanya untuk menjauhkan diri dari pria itu justru memperburuk keadaanya. Ia menyesal. Menyesal karena telah menolak tawaran George waktu itu.Menyesal karena keadaan sekarang yang begitu rumit.


Sembari mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian yang lebih santai, Mira bertanya - tanya dalam hati apakah ia harus menyetujui kontrak pernikahan itu ? Mira menghembuskan napas frustasi. Ini semua memang salahnya.


Setelah selesai berpakaian, Mira mengambil kontrak itu yang tadi ia letakkan di atas tempat tidur. Kemudian ia membacanya dengan saksama.


KONTRAK PERNIKAHAN


PIHAK PERTAMA    :     GEORGE GOLDSMITH


PIHAK KEDUA        :      MIRANDA STARLIN


WAKTU


Kontrak pernikahan ini berlangsung selama 1 tahun.


ATURAN


PIHAK KEDUA menjaga kerahasiaan kontrak ini.


PIHAK KEDUA akan mematuhi setiap perkataan PIHAK PERTAMA tanpa ragu dan membantah.


PIHAK KEDUA akan tinggal di New York bersama PIHAK PERTAMA.


PIHAK KEDUA tidak akan bekerja atau memiliki kesibukan yang mengikat.


LARANGAN


PIHAK KEDUA di larang berhubungan (berkencan) dengan pria lain.


PIHAK KEDUA di larang memakai pakaian yang terbuka kecuali saat bersama dengan PIHAK PERTAMA.


PIHAK KEDUA tidak boleh minum minuman keras berlebihan, tidak boleh merokok dan menuggunakan obat terlarang.


PIHAK KEDUA tidak akan mencampuri urusan PIHAK PERTAMA.


TIDAK ADA HUBUNGAN SEKSUSAL antara PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA.


FASILITAS


PIHAK PERTAMA akan menjamin kehidupan PIHAK KEDUA mulai dari makanan, pakaian kebugaran, kecantikan dan keselamatan.


PIHAK PERTAMA akan memberikan uang bulanan pada PIHAK KEDUA sebesar 10,000 USD.


SANKSI


Gagal mematuhi aturan seperti yang tertulis diatas maka PIHAK KEDUA akan membayar denda sebesar 100,000 USD.


Begitulah bunyi tulisan dalam kontrak itu.


    Seumur hidupnya, Mira selalu tahu harus melakukan apa atau lebih tepatnya ia tahu harus mengambil keputusan seperti apa. Meski keputusan yang ia ambil tidak selalu benar, namun selalu ada keyakinan dalam hatinya ketika memutuskan sesuatu. Berbeda dengan sekarang. Ia bingung dan tak berdaya karena ia sama sekali tidak memiliki keyakinan itu.


Mira tidak bisa membiarkan keluarganya berada dalam masalah karena kecerobohan  yang ia perbuat. Tetapi ia juga merasa sangat berat hati untuk menyetujui kontrak itu. Mira tidak ingin masuk dalam pernikahan palsu macam itu seperti orang buta dan bodoh.


Memang benar kata George, ia takkan rugi. Namun, jika dia menandatangani kontrak itu maka ia secara tidak langsung ia telah menipu keluarganya, keluarga George dan Tuhan. Oh, dia memang seorang pendosa, tapi hal ini sungguh - sungguh sangat berat baginya.


Mira memandangi kontrak itu lagi, namun lebih fokus pada bagian 'LARANGAN' pada kalimat terakhir. Kini Mira yakin bahwa George memang tidak menginginkan hubungan serius dengan adanya cinta, gairah dan keringat. Keinginan George untuk menikahinya semata - mata hanya karena ia merasa berkewajiban ditambah lagi dengan desakan ibunya. Tetapi satu pertanyaan berputar - putar dalam otak Mira. Mengapa dia seperti itu ? Akhirnya Mira beramsumsi, pasti telah terjadi sesuatu yang tidak baik padanya di masa lalu. Dan dia harus mencari tahu.

__ADS_1


Mira merasa ia butuh saran. Stella ibunya adalah orang yang dewasa dan bijaksana. Pasti ibunya dapat membantunya, memberikan saran dan nasehat. Meski begitu, sangat tidak mungkin baginya menghubungi ibunya dan menceritakan masalah ini, kecuali dia sudah gila.


Kemudian Mira berpikir untuk menghubungi Lisa sahabatnya. Tetapi niatnya kembali di urungkannya. Akal sehatnya menegur bahwa masalah ini sebaiknya hanya diketahui olehnya dan George.


Cukup lama bagi Mira bergelut dengan dokumen tertulis itu.


Setelah berpikir hampir tiga puluh menit, akhirnya Mira memutuskan untuk menandatangani kontrak itu dan diam - diam bertekad untuk membuat George Goldsmith jatuh cinta padanya. Hanya itu satu - satunya cara agar kontrak pernihakan sialan ini bisa dibatalkan lalu mereka akan hidup seperti pasangan normal.


Mira memang tidak berharap George Goldsmith akan jatuh cinta padanya dalam waktu cepat. Tetapi setidaknya ia sudah bertekad. Mira bukanlah orang yang mudah menyerah.Jadi ia memutuskan akan melakukan apa saja untuk membuat George membuka hatinya untuk Mira. Ia akan berjuang keras untuk merebut hati George Goldsmith meskipun ia tahu mencintai pria itu menuntut pengorbanan yang besar.


Sambil menarik napas dalam, Mira membuka laci samping tempat tidurnya dan menyimpan dokumen itu. "Setelah ini, hidup dan hatiku akan berbeda. Tapi aku yakin aku bisa merubah takdir hidupku menjadi lebih baik. Harus." kata Mira pada diri sendiri dengan optimis.


***


Ketika berjalan ke kamar Mira, George mendapati pintu kamarnya terkunci, lalu ia berseru, "Mira?"


Didalam kamar MIra begitu terkejut mendengar suara bariton itu. "Astaga! Dia belum pergi? Tunggu sebentar." Mira balas berseru.


Saat melangkah keluar dari kamar, George melihat Mira mengenakan kaus dan celana pendek berbahan beledu. George heran. Penampilan wanita itu sangat sederhana namun tidak mengurangi aura cantiknya.


Setelah Mira berdiri didepan pintu kamarnya. jarak antara dirinya dan George hanya beberapa inci saja hingga Mira bisa menghirup aroma pria itu. Aroma maskulin George membuat perut Mira bergolak.


"Kau belum pergi?" Mira berhasil mengeluarkan suaranya di tengah perjuangannya melawan daya tarik pria itu.


"Belum." jawab George singkat.


"Kenapa?" tanya Mira dengan sorot ingin tahu.


"Aku tidak akan pergi karena aku akan tinggal disini." George menjawab tanpa ragu.


"Apa? Maksudmu, kau akan menginap disini?"


George mengangguk dan matanya berbinar. "Ya, benar sekali."


    "Entah mengapa, aku yakin kau sudah menyetujui kontrak itu, Miranda Starlin. Jadi tidak ada salahnya jika aku menginap disini malam ini. Kita butuh saling mengenal sebelum menjalankan pernikahan itu." kata George tegas.


Mira memutar bola matanya. Ia tahu bahwa sia - sia saja berdebat dengan pria itu. Bagaimanapun, pria ini adalah George Goldsmith.  "Terserah kau saja, tapi jangan harap kau bisa tidur dikamarku." pekik Mira.


"Oh, tenanglah, woman. Aku bisa tidur disini." Ucap George sambil menunjuk sofa.


"Bagus," kata Mira ketus.


Apartemen Mira hanya berukuran kecil, dengan satu kamar, ruang tamu, dapur yang kecil serta satu kamar mandi. Tetapi apartemen itu bersih dan nyaman untuk ditempati.


"Aku lapar, Mira." Kata George serak, terdengar seperti ia malu - malu mengatakannya.


Mata Mira membulat saat menatap wajah George. Tapi sesegera mungkin senyuman manis tersungging dibibirnya. "Aku juga lapar." kata Mira sambil tertawa kecil.


"Aku baru saja berbelanja," Mira melayangkan pandangannya mencari belanjaannya. "Oh, Astaga!" Mira menatap belanjaan dan juga tas kerjanya  yang terjatuh di lantai. Buru - buru ia memungutnya dan melekatakkan belanjaannya itu di pantry.


"Tunggulah sebentar, aku akan memasak."


George menatap Mira lekat - lekat. Dan tatapan pria itu sukses membuat jantung Mira berdebar - debar kencang.


"Kau bisa memasak?" tanya George penasaran.


"Aku memang tak semahir para koki restoran," Mira menjelaskan. "Tapi percayalah, rasa masakanku enak."


Bibir George melengkung seperti tersenyum lalu melangkah mendekati meja makan.


Sebelum memasak, Mira mengambil ikat rambut dari dalam tasnya dan mengikat rambutnya menjadi kuncir.


Beberapa menit kemudian, masakan Mira sudah selesai. Mira memasak makanan yang mudah di buat seperti telur orak - arik, sup aspargus dan nasi.

__ADS_1


"Silahkan di cicipi." ucap Mira ketika selesai mengatur makanan itu di atas meja makan.


Mira melirik ke arah George, dan sepertinya dia menunggu Mira untuk duduk.


Mira menarik kursi dihadapan George lalu duduk. Mira beramsumsi bahwa ini adalah makanan paling sederhana dan murah yang pernah dimakan George Goldsmith sepanjang hidupnya.


Selagi makan, Mira bertanya. "Apakah makanannya enak?"


"Lumayan," jawab George datar.


Mira cemberut. Bagaimana aku bisa membuat George Goldsmith jatuh cinta padanya jika memasak saja ia tidak pandai, pikir Mira. Baiklah, langkah pertama yang harus di lakukan untuk merebut hati pria itu adalah dengan belajar memasak. Jika dia sudah berhenti bekerja dan tinggal di New York, ia akan mengikuti kursus memasak agar bisa menyajikan masakan yang lezat pada George. Begitulah rencana awal Mira. Dia akan membuat George bahagia dengan masakannya.


"Aku hanya memberimu waktu untuk berpikir sampai besok pagi," Kata George lagi dengan nada suara sama.


"Mmmm," jawab Mira acuh tak acuh.


Setelah selesai makan, George berinisiatif mengangkat semua piring kotor di meja dan menaruhnya di wastafel. Mira terpukau. Ternyata George Goldsmith bukanlah pria gila dan berbahaya yang harus dihindari. Tetapi mungkin dia adalah pria yang demoktratis.


Benar juga yang dikatakannya. Jika mereka bersama, perlahan - lahan mereka akan saling mengenal lebih dekat. Oh - oh. Kita memang harus saling mengenal lebih dekat agar rencanaku membuatmu jatuh cinta padaku bisa berhasil, gumam Mira dalam hati.


Telepon Mira berdering. Ia segera mengambil teleponnya dari dalam tas kerjanya. "Aku harus mengangkat telepon. Ini Lisa, istri Arifin bosku."


Setelah George merespon kata - kata Mira dengan anggukan, ia menyambar tas kerjanya lalu berjalan ke arah kamar menjauhi George lalu mengangkat panggilan teleponnya.


"Halo, Lis," sapa Mira.


"Ya, halo. Kamu dimana, Mir ?"


"Di apartemenku. Ada apa menelepon malam - malam begini ?"


"Tidak apa - apa. Aku hanya sedikit bosan."


"Apa pernikahanmu membosankan ?"


"Ah, tidak juga. Aku hanya.., Aku pikir sudah lama kita tidak bertemu dan aku merindukanmu."


"Oh begitu. Tetapi aku tidak merindukanmu. Bagaimana ya ?" gurau Mira.


"Sialan kamu!" gerutu Lisa.


Mira tertawa. "Maaf, aku hanya bercanda. Kalau begitu ayo kita bertemu."


"Bisakah kau datang ke rumahku saja ? Aku sekarang tinggal di rumah Arifin."


"Oh, tentu saja bisa." Mira berpikir sejenak. "Aku akan kesana besok sore."


"Baiklah, sampai jumpa besok sore. Daaa..." Lisa menutup telepon.


Mira mengerutkan dahi merasa aneh. Kenapa Lisa langsung menutup telepon ? padahal mereka baru saja berbicara.


Mira keluar lagi dengan membawa bantal dan selimut untuk George. Saat keluar, Mira mendapati George telah duduk di sofa dan memejamkan mata. Mira berjalan perlahan dan menaruh bantal juga selimut yang dipegangnya di ujung sofa jauh dari tempat duduk George.


Setelah itu, Mira kembali lagi ke kamar, tetapi dia tidak mengunci pintu kamarnya. Bukan berarti Mira berharap pada tengah malam George akan masuk ke kamarnya dan tidur dengannya, tetapi Mira merasa tindakan mengunci pintu tidak diperlukan lagi karena pria itu tidak berbahaya.


Sebelum tidur, Mira mengambil sebuah pulpen dan beberapa berkas pribadinya dari dalam lemari lalu ia mengambil kontrak pernikahan yang tadi diletakkannya di laci. Mira kemudian menandatangi kontrak itu tanpa ragu. Mira bersyukur keyakinannya telah kembali. Itu artinya semua akan baik - baik saja. Dia bisa melewati semua ini dan dia akan berhasil.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Hai kak... Jangan pelit jempol dong.


Ayo terus kasih jempol nya dan berikan komentar dan vote nya juga ya...


Percayalah dukungan kakak - kakak semua sangat berarti untuk author ☺☺☺

__ADS_1


Terima kasih 😘💕


__ADS_2