My Crazy Client

My Crazy Client
BAB 10


__ADS_3

Selamat membaca...


Hari sudah gelap ketika Mira bertemu dengan George. Usai menyelesaikan pekerjaannya, Steve menjemput Mira dan segera membawa wanita itu ke hotel dimana George Goldsmith berada.


Ketika masuk ke dalam ruang tamu, Mira dapat melihat George Goldsmith berdiri diantara ruangan makan dan ruang tamu dengan hanya menggunakan kimono handuk yang memperlihatkan setengah dada bidangnya. Dengan penampilan seperti itu, pria gila itu benar-benar terlihat mempesona. Saking mempesona nya, hampir saja Mira meneteskan air liurnya.


Sejujurnya masih ada perasaan takut di hati Mira. Bagaimanapun pria yang bersamanya ini adalah pria yang berbahaya yang harus ia hindari. Tetapi ia sendiri heran pada dirinya. Jika ia harus menghindari pira itu lalu mengapa sekarang ia bisa terjebak, berduaan bersama pria ini ?


"Kau tidak perlu memandangku seperti itu. Bukankah kau sudah melihat semuanya?" ucap George sambil menyeringai menggoda.


Mira memerah. Sialan!


George kemudian memperhatikan Mira dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dan tatapan pria itu sukses membuat Mira risih.


"Sebenarnya apa yang ingin anda bicarakan dengan saya, Mr. George?"


Seolah tuli, George tidak menjawab pertanyaan Mira tetapi malah mengajukan pertanyaan untuk wanita itu.


"Berapa usiamu?"


"Saya rasa itu bukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan saya."


"Jawab saja pertanyaan saya. Berapa usiamu?"


Mira memutar bola matanya dan mendesah. Sebenarnya ia enggan menjawab pertanyaan George tapi kemudian Mira berpikir tidak ada salahnya menjawab. Mungkin dengan begitu urusannya dengan pria itu bisa cepat selesai.


"Dua puluh tujuh tahun." jawab Mira. Kemudian ia memikirkan usianya. Pada usia dua puluh tujuh tahun ini hidupnya kacau dan mendekati hancur.


George mengangkat alisnya. "Benarkah?"


Mira mendadak merasa jengkel. "Itu benar, Mr. George. Usia saya memang dua puluh tujuh tahun." jawab Mira lagi dengan ketus.


George menyeringai dan mengangkat bahu. "Sejujurnya kau terlihat lebih muda dari usiamu."


"Saya akan menganggap itu sebagai pujian. Terima kasih."


"Lekuk tubuhmu jelas seperti usiamu, tapi wajahmu kelihatan lebih segar dan muda. Apa kau tidak memakai make up?"


Mira memutar bola mata. "Demi Tuhan, apakah itu penting?" sergahnya cepat.


"Ya. Menurut ku itu penting. Aku suka kau yang seperti ini, kecuali rok mu itu. Itu terlalu pendek."


"Saya rasa penampilan saya tidak ada hubungannya dengan kesukaan anda, Mr. George. Sebenarnya apa yang ingin anda bicarakan dengan saya?"


"Duduklah dulu."


"Tidak perlu. Saya rasa saya tidak bisa berlama - lama disini jadi..."

__ADS_1


Mata hazel pria itu membara. "Aku bilang duduk. Itu bukan permintaan tapi perintah."


Mira kembali bergidik. Dengan wajah tertunduk ia melangkah menuju sofa lalu duduk. Heran juga. Sifat pemberani wanita itu dalam sekejap hilang dan digantikan dengan sikap idiot.


George ikut mengambil posisi duduk tepat di hadapan wanita itu lalu berdeham - deham. "Pertama - tama kita harus membicarakan tentang kejadian semalam saat kita bercinta."


Mata Mira melotot. "Bercinta?" Potong Mira. "Yang benar saja. Kita tidak bercinta, tapi kau memerkosaku, brengsek. Kau pria tidak tahu diri yang mengambil keuntungan dari wanita seperti ku yang tidak berdaya. Kau bahkan tidak pantas disebut manusia." Mira tidak lagi berbicara sopan. Dia terlalu marah mendengar pernyataan George sehingga kata - kata kasar pantas diterima pria itu.


Sebenarnya sebelum wanita itu tiba disini, George menimbang - nimbang apakah ia harus meminta maaf atas perbuatan tak bermoral nya semalam. Namun egonya tak ingin mengakui kesalahannya pada wanita itu. Lalu wanita itu kembali memprovokasi emosinya.


Dari pada marah, lebih baik tertawa. Itulah yang dilakukan George. "Sebaiknya kau pikirkan kembali ucapan mu barusan, Mira." kata George dalam nada menyendir. "Bukankah kau yang menggoda ku?"


"Apa maksudmu?" Ada ekspresi kebingungan di wajah Mira.


"Kau sengaja kan masuk ke kamarku untuk merayuku agar mau tidur denganmu."


Mulut Mira ternganga. "Apa? Bagaimana bisa anda berpikir seperti itu?"


Mira ingin membuka kembali mulutnya untuk berdebat tapi kemudian ia menutupnya lagi. Perkataan pria itu ada benarnya meski hanya pada bagian masuk ke kamarnya.


Dalam hal ini, siapa yang dapat disalahkan? Jika memang ada yang bersalah, maka mereka berdua lah yang bersalah. Tetapi jika bertanya siapa penyebab semua kejadian ini maka Mira lah orangnya. Kalau saja ia tidak lupa, kalau saja ia tidak sedikit mabuk, kalau saja ia tidak salah masuk kamar, dan kalau saja...


Mira menarik napas panjang lalu berkata, "Tentu saja tidak seperti itu, Mr. George." Suara Mira melembut. "Saya memang mengira kamar anda adalah kamar saya. Namun, itu hanya karena saya lupa nomor kamar saya, bukan karena saya ingin merayu anda."


"Benarkah hanya itu?"


"Iya, tentu saja itu benar."


Mira dan George duduk dalam diam selama beberapa saat sampai wanita itu kembali membuka mulutnya. "Maaf."


George begitu terkejut hingga tak bisa berkata-kata, kecuali memandang wanita itu dengan sorot mata tak percaya. "Apa kau baru saja meminta maaf? Untuk apa?"


"Saya minta maaf untuk kejadian semalam. Saya akui saja juga bersalah dalam hal itu. Tapi daripada saling menyalahkan, mari kita selesaikan masalah ini secara baik - baik."


Secercah perasaan tidak enak mulai bergolak di hati George. Wanita ini bisa dengan mudahnya meminta maaf sementara dirinya sendiri masih bergulat dengan emosinya.


"Ya, kau benar. Kita harus menyelesaikan masalah ini. Ayo kita menikah."


Mata Mira berkedip. "Lucu sekali." Mira tertawa.


George sedikit kesal. "Apanya yang lucu?"


Mata hitam Mira yang cantik melebar. "Kata - katamu tadi itu lucu. Bagaimana mungkin kita menyelesaikan masalah ini dengan menikah? Konyol."


George menarik napas. "Firasat ku mengatakan itu adalah solusi terbaik untuk masalah ini."


George kemudian mengajak Mira makan malam. Selagi makan, mereka bisa berbicara lebih serius lagi.

__ADS_1


Saat Mira menekuni sup nya, George kembali menyinggung tentang pernikahan. "Aku datang kesini membawa beban mencari istri. Ibuku menginginkan seorang menantu."


"Itu tidak ada hubungannya denganku, Mr. George."


"Jelas ada. Aku ingin menikah dengan mu."


"Apa aku terlihat sangat ingin menikah?"


"Tidak. Dan percayalah, aku juga sama tidak inginnya dengan dirimu. Bagiku pernikahan itu sulit. Tapi..."


"Kalau begitu katakan saja pada ibumu kalau kau tak ingin menikah." kata Mira gamblang.


George menelan makanannya. "Jika itu semudah yang kau katakan, aku tidak harus membicarakannya denganmu disini."


"Tapi kau tidak harus menikahi ku hanya karena kita sudah tidur bersama atau karena permintaan ibumu mengenai istri. Asal kau tahu, pernikahan bukanlah permainan."


"Aku tahu. Tapi aku berkewajiban untuk menikahi mu. Bukan hanya karena kita sudah tidur bersama, atau karena permintaan ibuku tapi karena mungkin saja, mungkin saja kau mengandung anakku."


"Apa?" Sekarang giliran Mira yang menatap George dengan tatapan garang. "Kau benar-benar brengsek, pria berandal, pria keparat, ********," Mira memaki George dengan membabi buta.


"Maaf." kata itu dengan sangat lancar keluar dari mulut George.


Gerutu Mira terhenti mendengar kata maaf dari George. Kemudian wanita itu menarik napas panjang dari udara panas yang menyelubungi mereka. Cinta satu malam adalah satu hal. Hamil adalah hal lain. Mira mengerang frustasi. Hidup nya kini benar-benar hancur.


"Menikah lah denganku. Aku membutuhkanmu." kata George parau.


Tidak ada alasan yang lebih konyol daripada aku membutuhkan mu ketika seorang pria mengajak wanitanya menikah. Tapi Mira bukanlah wanita George. Apa yang ia harapkan?


"Aku yakin kita akan sama - sama saling membantu." kata George lagi.


"Membantu?" pekik Mira, benci mendengar kata itu.


"Ya." jawab George singkat. "Aku akan memberikan waktu untuk mu berpikir tentang tawaran ku menikahi mu."


Mira tak mampu berkata - kata lagi. Impian menikah dengan pria yang ia cintai dan yang mencintainya sudah semakin jauh dari kenyataan. Jadi, apakah Mira harus menerima


tawaran pria itu?


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Halo kak,


Gimana nih... apa Mira harus menerima tawaran George menikahi nya? Kasih saran dan masukan kalian dong.


Dan jangan lupa tinggalkan jejaknya juga ya..


Tekan tombol suka, tulis komentar dan berikan vote nya...

__ADS_1


Terima kasih πŸ˜˜πŸ’•


__ADS_2