My Crazy Client

My Crazy Client
BAB 25


__ADS_3

Selamat membaca. . .


 


"Dimana suamiku?" tanya Mira pada diri sendiri setelah terbangun dari tidurnya dan ia mendapati tidak ada George disampingnya. "Jangan - jangan dia meninggalkan aku lagi," gerutu Mira.


Mira kemudian berjalan menyusuri setiap ruangan untuk mencari George. Terakhir dia mencari pria itu di kamar mandi. Tetapi nihil. George sudah tidak ada disana lagi.


Kemudian  Mira duduk di pinggir bathup dan pikirannya mulai menerawang. Ia memahami sesuatu bahwa hidup dengan pria itu memang bukanlah sesuatu yang mudah. Meski ikrar mereka untuk saling mencintai sudah diteguhkan, namun bukan berarti mereka akan dengan sangat mudah melakukannya. Terutama George.


Tetapi sejak mengetahui pengalaman asmara George yang buruk di masa lalu, Mira menjadi lebih tertarik untuk dekat dengan pria itu. Ia ingin bersama dengan George, menyayangi dan mencintai pria itu dengan segenap hatinya. Ia ingin memberi semua hal yang ada padanya untuk pria itu agar dia bahagia. Ia ingin lebih dari sekedar menjadi patner George. Ia ingin pria itu mencintainya juga.


Satu hal yang pasti yang harus ia lakukan adalah berjuang dalam pernikahan ini, pikir Mira. Cinta akan menjadi kekuatannya untuk bertahan dalam segala situasi yang akan terjadi, bahkan yang terburuk sekalipun. Dia yakin dia mampu.


Ponsel Mira berdering.


Ia segera melangkah keluar dan meraih ponselnya yang terletak di atas nakas.


Mira tersenyum lega. Setidaknya George tidak lupa untuk memberi kabar padanya meski melalui sebuah pesan.


Pesan dari Goerge.


Maaf aku tidak ada disampingmu saat kau terbangun. Aku di kantor. Ada pekerjaan penting yang harus ku urus. Supir akan menjemputmu dan mengantarmu ke rumah mom.


Setelah membaca pesan dari George, Mira segera membersihkan diri dan bersiap - siap.


***


Entah mengapa George merasa menyesal telah meninggalkan Mira sebelum ia terbangun. Ia bahkan berjalan berjinjit - jinjit untuk keluar dari kamar itu. Dia tampak seperti pencuri saja dengan kelakuan seperti itu.


Seharusnya ia bisa menghentikan perasaannya terhadap Miranda Starlin, pikir George. Ia tidak ingin kembali merasakan cinta karena sungguh itu hanyalah perasaan yang akan membuatnya sakit.


George pernah bermasalah dengan wanita. Jadi setelah itu ia memutuskan untuk tidak melibatkan perasaan dalam setiap hubungan nya dengan wanita, sekalian pun itu adalah istri nya.


 

__ADS_1


Bagaimana perasaannya dan bagaimana perasaan wanita itu tidaklah penting, menurut George. Yang terpenting adalah ia sudah memenuhi keinginan ibunya. Itu lah intinya.


Tetapi rasanya wanita itu telah memberi segalanya untuknya, walau hubungan mereka baru saja dimulai.


"Haruskah aku berkomitmen pada diriku sendiri dan pada ikrar kami bahwa aku harus mencintai wanita itu?" tanya George pada diri sendiri.


Ada sesuatu yang seolah berbisik pada George untuk memberi kabar pada Mira. Selama beberapa menit George mempertimbangkannya. Ia ragu - ragu. Tapi setelah berpikir keras, akhirnya ia memutuskan untuk mengirim pesan pada wanita itu.


Usai mengirim pesan, George memijat kepalanya yang tidak sakit karena rasa frustasi melandanya lalu pikirannya kembali menerawang. Wanita itu telah dengan sengaja membangkitkan gairahnya hingga ia tak bisa mengontrolnya, George menyadari. Siapa sangka percintaan mereka akan meledak - ledak seperti itu. Kini ia merasa kacau.


George kacau karena mengenang bagaimana mereka menghabiskan malam pengantin dengan tidak ada paksaan. Yang ada hanyalah rasa damba dan kenikmatan yang menggairahkan. Salah besar jika memiliki hubungan dengan wanita itu karena bisa saja ia jatuh cinta padanya, pikir George. Hal itu akan menimbulkan terlalu banyak konsekuensi, dan sebenarnya dia tidak ingin menghadapinya. Bukan hanya soal perasaan kali ini tapi tentang peluang wanita itu hamil yang semakin meningkat. Bukan karena George tidak menyukai anak - anak, bukan pula karena dia tidak ingin bertanggung jawab. Tetapi segala sesuatu akan jadi lebih sulit jika ada kehadiran anak diantara hubungannya dengan Mira.


Sambil duduk di kursi kebesarannya, ia menutup mata mencoba menenangkan diri dan juga pikirannya.


Steve mengetuk pintu lalu segera masuk. "Tuan, mari kita pergi." ajak pria itu. "Rapat akan segera di mulai."


Ucapan Steve menyadarkan George dari pikiran kacaunya. "Ok," katanya singkat.


***


Hari ini Grace harus menjalani tes terakhir sebelum operasi nya dilakukan dua hari lagi.


Grace berkata mungkin lebih baik Mira ikut serta dengan keluarganya karena ia sendiri tahu bahwa tidak ada yang bisa diharapkan dari anaknya mengenai bulan madu. George sangat sibuk dengan pekerjaan nya. Bahkan sekarang untuk mengantar ibunya ke rumah sakit, ia pun tidak bisa. George hanya mengandalkan Nessa.


Grace memaklumi kesibukan George. Jadi dia tidak mengeluh. Tetapi Mira tidak akan membiarkan. Kalau George tidak memiliki waktu, ia bisa menggantikannya untuk mengurus ibunya. Bukankah sekarang Grace adalah juga ibunya?


Sisa hari berjalan dengan baik meskipun Mira masih memikirkan tentang George yang tidak lagi memberi nya kabar, selain sebuah pesannya pagi hari tadi. Mira berasumsi pria itu benar-benar sangat sibuk.


Menjelang malam, Mira, Grace dan Nessa pulang. Mereka tidak mendapati keberadaan keluarga Mira ataupun George. Mungkin mereka belum selesai dengan segala urusan mereka, pikir Mira.


Barulah pada malam hari Mira bertemu dengan George, ketika ia keluar dari kamar ibunya. Rambutnya sedikit acak - acakan dan dua kancing pertama kemeja nya terbuka, memperlihatkan kulit halus dada bidangnya.


Jelas terlihat bahwa pria itu benar-benar telah bekerja keras sepanjang hari ini.


Mira ingin mengurus George. Itulah sebabnya ia langsung menghampiri George dan berkata, "Kau tampak lelah. Apa kau sudah makan?" tanya Mira penuh perhatian.

__ADS_1


Mira menunjukan perhatian nya bukan tanpa maksud. Ia berharap semoga dengan perhatian nya, George mau membuka hatinya untuk mencintainya.


"Sudah.Aku sudah makan di kantor," jawab George singkat.


"Kalau begitu, sekarang istirahatlah."


 


George tidak menjawab perkataan Mira tapi ia segera berjalan ke kamarnya. Mira pun mengikuti pria itu sambil tersenyum - senyum.


Setelah berada di kamar, Mira meminta George untuk mandi. Sesaat pria itu menatap curiga pada Mira. Mungkin ia memikirkan yang aneh - aneh ketika Mira memintanya untuk mandi.


"Kau pasti akan merasa lebih baik setelah mandi." kata Mira.


George tampak ragu sesaat, tapi kemudian ia segera melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


Sementara George membersihkan dirinya, Mira mengambil sebuah kaus dan celana pendek pria itu dari dalam lemari lalu meletakkan nya di atas ranjang.


Ketika George muncul kembali, ia segera mengenakan pakaian yang diletakkan Mira di atas ranjang itu lalu segera masuk ke balik selimut sambil dan menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal.


"Terimakasih," ujar George.


Menyenangkan sekali mendengarkan pria itu mengatakan terimakasih dengan nada tulus seperti itu.


Mira tersenyum menerima ucapan terimakasih pria itu. "Sama-sama," kata Mira lembut.


Setelah selesai berbicara, Mira ikut masuk ke dalam selimut dan memeluk pria itu erat - erat.


Apa yang akan dilakukan wanita itu dengan George malam ini ?


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Hai semua. Terimakasih masih setia menantikan novel ini.


Jangan lupa like, comment dan vote ya.

__ADS_1


__ADS_2