My Crazy Client

My Crazy Client
BAB 35


__ADS_3

Selamat membaca. . .


Perkataan George sama sekali tidak mencerminkan isi hatinya. Rasa panik langsung menjalarinya saat ia melihat Mira jatuh pingsan. Kemudian rasa panik itu meningkat menjadi rasa takut. George takut kehilangan Mira. "Ya Tuhan, sayang...Apa yang terjadi padamu?" tanya George saat ia dengan cepat berjalan ke arah Mira.


George tahu bahwa tidak akan ada jawaban atas pertanyaannya sebab yang seharusnya menjawab sudah tidak sadarkan diri.


George semakin ketakutan saat melihat wajah Mira memucat seperti mayat. Cepat - cepat George menggendong tubuh Mira, membawanya keluar, mengantarnya ke rumah sakit.


Saat melintasi ruang tamu, George berteriak memanggil Jenette.


Cepat - cepat Jenette keluar dan menghampiri tuannya itu.


"Ada apa tuan? Apa yang terjadi?"


Jenette terkejut melihat Mira yang sudah tidak sadarkan diri dalam gendongan George. "Ya Tuhan..." kata Jenette lagi.


"Ikut aku ke rumah sakit. Cepat buka pintu mobil."


Jenette mengambil kunci mobil dari laci lalu segera membuka pintu belakang.


"Kau naik dulu." perintah George. "Biarkan kepala Mira bersandar di pahamu."


"Baik, tuan."


Usai membaringkan Mira di kursi belakang, George langsung mengemudikan mobil.


Dalam perjalanan mereka ke rumah sakit, Jenette melaporkan apa yang terjadi selama satu minggu ini.


"Nyonya memang sudah terlihat sakit sejak beberapa hari yang lalu, tuan." kata Jenette. "Nyonya sering pusing, mual dan muntah - muntah. Saya sudah menyarankan agar nyonya diperiksa oleh dokter. Tetapi nyonya menolak. Kata nyonya ia hanya terkena penyakit asam lambung. Katanya juga, nyonya sudah memiliki penyakit itu sejak dulu." urai Jenette.


"Dia memang suka membantah, Jenette. Itu adalah sikap buruknya. Dia tidak akan peduli pada saran baikmu. Aku pernah mengalaminya dulu." kata George. "Mulai sekarang, kalau dia sakit, kau tidak perlu bertanya apakah dia ingin diperiksa atau tidak. Kau harus segera menelpon dokter. Mengerti?"


Jenette mengangguk. "Iya, tuan. Maafkan saya."


Tidak lama kemudian mereka sudah tiba di rumah sakit. George segera menggendong Mira lagi, mengantarkannya ke UGD.


Berita kedatangan George langsung tersebar sampai ke telinga dokter Alex yang notabennya adalah dokter keluarga Goldsmith. Dokter Alex pun segera menuju ke UGD.


"Dokter Alex," kata George cemas. "tolong periksa keadaan istriku." pintanya.


"Tentu, tuan."


Sementara dokter Alex memeriksa Mira, Jenette menjelaskan apa yang di alami nyonya nya itu.


Dokter Alex kemudian bertanya, "Tuan, apa Anda tahu kapan terakhir kali nyonya Mira datang bulan?"

__ADS_1


George diam. Dia tidak tahu.


"Pada dasarnya nyonya Mira tidak sakit. Maksud saya dia tidak memiliki penyakit yang parah. Nyonya Mira hanya kelelahan dan mungkin stress. Sebab itu dia pingsan." Dokter Alex menjelaskan. "Tetapi ada juga kemungkinan sekarang nyonya Mira sedang mengandung. Namun, saya harus memastikannya dengan melakukan tes darah." lanjut dokter Alex.


"Lakukan saja." kata George cepat. "Lakukan semua pemeriksaan agar ada hasil yang pasti."


Dokter Alex tersenyum. "Baik, tuan."


Dokter Alex menyuruh salah satu perawat mengambil darah Mira. Lalu dokter Alex kembali berkata kepada George, "Tuan, saya permisi dulu. Saya akan kembali untuk menjelaskan apa yang terjadi setelah hasil tes darah keluar. Dan saya juga sudah menyuruh perawat untuk menyiapkan kamar untuk nyonya Mira."


"Oke." ucap George.


Perlahan mata Mira mulai terbuka. Ia tampak kaget dengan keberadaan nya sekarang. Tetapi dia sedikit tenang karena George berdiri di sampingnya.


" Apa kau baik - baik saja?" tanya George khawatir.


Mira mengangguk kecil. "Aku baik - baik saja." katanya. "Tapi, mengapa aku disini?"


Mira hendak bangun tetapi tangan George menahannya. "Jangan dulu banyak bergerak. Kau harus beristirahat. Tadi kau pingsan, jadi aku segera membawamu kemari. Dokter Alex sudah memeriksamu. Tetapi untuk memastikan apa penyebab kau pingsan, perawat sudah mengambil darahmu dan sekarang sementara memeriksanya. Tidak lama lagi hasilnya akan keluar."


Tetapi Mira tidak fokus mendengarkan apa yang baru saja dikatakan George. Pikirannya teringat dengan kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka. "George," kata Mira lembut. "kita perlu bicara."


Mata Mira berbinar penuh harap.


George menatap serius kepada Mira. Ia tahu apa yang ingin dibicarakan oleh istrinya itu. Tetapi ia benci membicarakan itu.


"Maafkan aku," ucap Mira lirih, disertai air mata yang mengalir di pipinya. "Aku akui aku bersalah. Aku sudah menyakitimu. Namun, aku benar-benar tidak menikmati sentuhan Brad seperti yang kau tuduhkan. Aku hanya...."


"Kita akan bicara soal itu nanti." kata George cepat, memotong ucapan Mira.


"Tidak ada nanti. Kita harus membicarakan nya sekarang." tegas Mira. Ia menarik napas panjang kemudian melanjutkan. "Percayalah bahwa aku hanya ingin disentuh olehmu karena hanya kaulah yang aku cintai. Aku berani bersumpah bahwa aku berkata jujur. Aku serius dengan ucapan ku. Aku benar-benar mencintaimu, sayang."


George tersenyum gembira, tersentuh dengan kata-kata Mira. Lalu ia sedikit membungkuk untuk menghapus air mata Mira. "Aku percaya." ucap George lembut. "Kau tidak perlu menjelaskan apa - apa lagi. Aku percaya padamu. Jadi jangan menangis lagi. Aku ingin kau tersenyum bahagia saat bersamaku. Aku juga minta maaf karena aku telah berkata kasar padamu. Maafkan aku."


"George," ucap Mira lembut. "aku sangat merindukanmu. Aku pikir kau meninggalkan ku. Kemana saja kau selama satu minggu ini?"


George meraih tangan Mira. Hal yang sama juga dirasakannya. Ia merindukan Mira.


"Maaf, aku tidak memberitahu mu. Ada masalah pekerjaan yang serius. Aku berangkat ke Hongkong untuk mencari orang yang menyebabkan masalah itu. Manager marketing yang menangani produk tas Golds diam - diam menjual secara ilegal semua tas yang cacat produksi."


"Bukankah seharusnya barang - barang yang cacat produksi itu di musnahkan?" tanya Mira.


"Seharusnya memang begitu, tetapi dia tidak melakukan nya. Malah dia juga melakukan kesalahan fatal lainnya. Selamat satu tahun ini dia merekayasa laporan produksi barang agar dia bisa korupsi." jawab George.


"Astaga.... " Mira tampak terkejut.

__ADS_1


"Itulah alasan mengapa aku sangat sibuk selama seminggu ini. Si manager itu pikir dia bisa lari dariku." George menyeringai. "Untunglah sekarang semua masalah sudah selesai. Dia sudah menerima hukuman yang sesuai dengan perbuatannya."


"Kau tidak membunuhnya kan, sayang?"


George tertawa.


Merupakan suatu kebodohan apabila terlibat masalah dengan George. Ia bisa memerintahkan orang-orang disekitarnya untuk menyelesaikan masalah apapun tanpa mengangkat jari. Hanya sekali berkata saja, orang-orang akan langsung melakukan apa yang diperintahkannya. Jadi siapapun yang mencuranginya pasti akan menerima hukuman yang setimpal.


Tetapi semua masih dalam batas kewajaran. Untunglah ia bukan seorang gangster yang melakukan cara hitam untuk membalas setiap orang yang berbuat kesalahan terhadapnya. Ia selalu menempuh jalur hukum untuk memberi pelajaran kepada orang-orang yang bersalah terhadapnya.


"Tenang saja, sayang. Aku bukan orang seperti itu. Si manager sekarang sudah mendekam di penjara. Dia akan menerima hukuman sesuai dengan perbuatannya."


Mira mendesah lega. "Bagus." ucap Mira. "Kau memiliki sikap perfeksionis. Tetapi apa kau tahu?" tanya Mira. "kebanyakan orang yang perfeksionis menderita stress tinggi karena terlalu banyak bekerja. Aku tidak ingin kau seperti itu."


"Tidak perlu mengkhawatirkan itu. Sekarang aku lebih daripada kata sehat."


"Tapi kau tampak kelelahan, sayang. Aku tidak ingin kau sakit. Aku sangat khawatir padamu, apalagi selama satu minggu ini sangat sulit bagiku untuk menghubungi mu. Tidakkah kau mengerti bahwa aku takut sesuatu yang buruk menimpamu bahkan menimpa kita."


Hening sesaat. Suasana diantara mereka dipenuhi dengan berbagai hal yang terkatakan. Namun, George tahu bahwa sikap istrinya itu menunjukkan bahwa ia peduli pada George dan pada hubungan mereka.


Suara dokter Alex memecah keheningan. "Selamat malam, nyonya." sapa dokter Alex pada Mira. "Bagaimana keadaan anda?"


"Sedikit lebih baik meskipun saya masih merasa pusing."


"Itu sangat wajar, nyonya." kata dokter Alex. "Hasil tes darah anda sudah keluar. Dan itu menunjukkan bahwa sekarang anda sedang hamil enam minggu. Selamat!" Dokter Alex tersenyum bahagia saat memberitahu.


Pada awalnya George dan Mira tampak terkejut. Tetapi kemudian mata mereka berbinar menyatakan bahwa mereka juga bahagia dengan pemberitahuan dokter Alex. Berita dari dokter Alex adalah berita yang mengejutkan sekaligus menggembirakan bagi mereka.


Akhirnya Mira hamil. Hamil bayi George.


George segera menarik Mira dan memeluknya sangat erat lalu mendaratkan ciuman lembut di kepala Mira sebelum berkata, "Aku sangat senang. Terima kasih, sayang."


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Halo kakak - kakak. Adakah yang kangen sama novel ini?


Maaf aku lama up nya..


Aku mohon pengertiannya dari kakak - kakak semua. Aku ga bisa up setiap hari. Maaf...🙏


Karena sebisa mungkin aku selalu berusaha membuat cerita di tiap episode nya memiliki rasa. Dan setiap bab jumlah katanya juga 1000 lebih.


Jadi mohon pengertiannya ya.


Semoga kakak - kakak tetap ngasih dukungan. Like, comment dan VOTE.

__ADS_1


VOTE dikit saja sudah sangat berarti 😊😊😊


Terima kasih😘💕


__ADS_2