My Crazy Client

My Crazy Client
BAB 13


__ADS_3

Selamat membaca. . .


    Ketika berada di mobil, George menyuruh Steve mengantarkan mereka ke restoran lain. Dimana saja, terserah.


Sementara itu Mira hanya diam. Menurut Mira menyedihkan sekali dirinya karena George melihat sisi bar - bar nya tadi. Terlintas dipikirannya ketika tadi dia mengata - ngatai Sintia dan bagaimana dia mendorong tubuh Dion dengan segenap kekuatannya. Memalukan! Dia seperti wanita liar.


Tetapi yang paling parah adalah betapa menyedihkan dirinya karena selama ini dia tidak menyadari bahwa teman  dan kekasihnya menjalin affair di belakangnya. Saat Sintia berdiri tadi, Mira dapat melihat dengan jelas bahwa wanita itu telah berbadan dua. Pantas saja Dion segera memutuskan hubungan mereka karena ternyata dia telah menghamili Sintia. Benar - benar brengsek kedua manusia itu, batin Mira.


George melihat mulut Mira bergerak mengatakan bodoh... bodoh... bodoh... Tetapi tidak ada suara yang terdengar. George menduga wanita itu sudah gila.


"Apa kau baik - baik saja?" tanya George sambil terus memperhatikan Mira.


"Iya, aku baik - baik saja." Mira berpaling memandangi jendela mobil mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah.


"Sekarang, tidak ada alasan untukmu menolak tawaran ku untuk menikah." kata George percaya diri.


"Laki - laki itu sudah mengkhianati mu. Dia juga sudah mencampakkanmu. Lagi pula, kalau di lihat - lihat laki - laki itu tidak ada bagus - bagusnya sama sekali. Tampangnya biasa saja dan menurutku dia juga tidak terlalu kaya." Nada suara George terdengar merendahkan.


"Tutup mulutmu." sergah Mira cepat. "Kau tak berhak menghinanya."


George mengernyit. "Kau masih membelanya ? Bagaimana bisa? Jelas - jelas dia sudah menyakitimu. Apa kau bodoh?"


Mira tak menghiraukan perkataan George tapi semakin gesit membela mantan kekasihnya itu. "Dia memang telah menyakitiku, tetapi dulu dia adalah orang baik. Sedikitpun tidak pernah dia menyakitiku. Malahan dia menjagaku dengan sangat baik. Selama kami berpacaran dia tidak pernah meminta lebih..."


"Tetapi dia meminta itu pada wanita lain." potong George cepat. "Apa kau tidak sadar bahwa dia itu brengsek?"


"Berhenti mengatai dia brengsek. Dia dibanding dirimu, seratus kali lebih baik. Dia tidak brengsek melainkan kaulah yang brengsek."


Mira tak sadar bahwa para pria paling tidak suka jika dibandingkan - bandingkan. Bukan hanya para pria saja, tetapi semua orang tidak suka jika dirinya dibandingkan dengan orang lain.


Dan kata - kata Mira barusan telah menyulut api dalam diri George.


George mengeluarkan suara geraman murka dan mendorong tubuh Mira begitu kuat hingga kepala wanita itu membentur kaca jendela dan dia tersudut.

__ADS_1


George mengurungnya dengan kedua lengan kokohnya. Mira dapat melihat dengan jelas rahang pria itu menegang dan ada garis kerutan di dahinya. Sekarang ia merasa dirinya akan tamat.


"Biar ku tegaskan padamu. Aku paling tidak suka dengan orang yang keras kepala, yang suka membantah, dan yang menghina diriku." Suara pria itu semakin lama semakin naik satu oktaf dan kedua tangannya semakin memperkuat cengkraman pada bahu Mira.


"Senang mendengarnya," kata Mira terbata - bata, mencoba terlihat tenang. "Berarti saya tidak termasuk dalam kategori orang-orang yang tidak anda sukai."


Sebelah alis George terangkat dan sorot mata pria itu semakin ganas memandangi Mira. "Tentu saja tidak seperti itu Miranda. Maksud perkataanku tadi adalah kau harus mendengarkan aku. Jangan pernah lagi membantah ucapanku. Mengerti?"


Mira cepat - cepat mengangguk karena ia merasa sudah kehabisan oksigen.


"Katakan kalau kau mengerti," teriak George.


"Iya, aku mengerti." jawab Mira dengan suara bergetar karena ketakutan. Kemudian ia memejamkan matanya, lagi - lagi menyesali perkataannya.


Amarah George sedikit reda, tetapi dia masih saja menggerutu. "Berani - beraninya kau membandingkan diriku dengan pria itu." George melepaskan cengkraman nya lalu kembali memandang ke arah depan. "Apa? Dia lebih baik dariku? Dalam hal apa? Sialan!"


Dari sudut mata Mira melihat Steve hanya seperti patung karena bersikap seolah tidak terjadi apa - apa disini. Tetapi itu sangat wajar menurutnya karena disini yang memegang kendali adalah George.


Mira memutuskan untuk mengunci mulutnya rapat - rapat dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Sungguh menjengkelkan terjebak dengan seorang seperti George Goldsmith, batin Mira. Sepanjang hidupnya baru kali ini dia bertemu dengan pria yang sulit di tebak perangainya. Itu membuat perasaan takut sekaligus cemas secara bersamaan muncul dalam hatiny.


Saat menikmati makan siang, baik Mira maupun George, tidak ada yang membuka mulutnya untuk berbicara.


Situasi menjadi sangat tegang.


Ekspresi wajah George masih datar dan dingin. Tatapan matanya masih sinis. Sikapnya juga masih kikuk sehingga membuat Mira takut untuk berbicara. Atau lebih tepatnya Mira tak yakin dengan apa yang dapat dikatakan nya ketika ia membuka mulutnya. Bagaimanapun ini Miranda Starlin, wanita keras kepala dan suka membantah.


Keheningan tercipta selama mereka menyantap makanan. Tapi ketika selesai dengan aktifitas makan mereka, Mira memberanikan diri mengeluarkan suaranya. Ia harus mengatakan suatu hal penting pada George. Namun, ia sudah memikirkan kata - kata yang akan diucapkannya agar tak lagi memprovokasi emosi pria itu.


"Maaf dan terimakasih." Suara Mira pelan tapi George masih bisa mendengar kata - kata wanita itu.


"Untuk apa kata maaf mu itu dan untuk apa kata terima kasihmu itu?" tanya George masih sedikit kesal.


Akal sehat Mira menyadari bahwa butuh penjelasan lebih panjang untuk permintaan maafnya dan ucapan terima kasihnya.

__ADS_1


Mira menarik napas panjang lalu kembali berkata, "Saya minta maaf karena telah menyinggung perasaan anda dengan membandingkan diri anda dengan Dion. Saya sadar itu bukanlah perbuatan yang baik. Saya menyesal. Maafkan saya, Mr. George." ucap Mira tulus.


"Panggil aku George." Perintah pria itu. Ya, tentu saja itu perintah. Jangan lupa, setiap kata - kata pria itu adalah perintah.


Amarah George mereda mendengar permintaan maaf Mira yang tulus itu. Bahkan ketika mendengar kata menyesal keluar dari mulut wanita itu, ia merasa senang.


"Baiklah, George. Saya juga berterima kasih karena tadi anda sudah menolong saya. Saat itu, jika tidak ada anda mungkin saya sudah babak belur dihajar Sintia dan Dion. Sekali lagi terima kasih."


"Bagus kalau kau sadar." kata George singkat tapi nada suaranya semakin diperlunak.


Mira berdeham. "Dan mengenai tawaran anda waktu itu, saya sudah memutuskan." kata Mira lambat - lambat.


 


Mira menyadari tatapan saksama George yang memperhatikan dirinya yang hendak mengatakan keputusannya.


Situasi berubah tegang.


"Maaf, saya menolak tawaran anda. Saya rasa saya tidak bisa." kata Mira dengan nada suara rendah, tampak seolah dia menyesal harus mengatakan itu.


"Apa???" Sorot mata George yang ganas itu serta amarah diwajahnya muncul kembali.


Alasan wanita itu meminta maaf dan mengucapkan terimakasih tadi hanyalah basa - basi saja, putus George. Yang sebenarnya ingin disampaikan nya adalah ini, penolakan atas tawaranku. Brengsek!


Napas Mira tercekat. Demi Tuhan, kali ini Mira tak tahu apa yang salah dari ucapan nya. Untuk ketiga kalinya Mira menyesal telah membuka mulutnya berbicara pada George. Mungkin seharusnya dia diam saja di hadapan pria itu.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Hai kak, jangan bosan - bosan ya membaca novel aku.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya,


klik like, tulis komentar dan berikan vote kalian 🙏🙏

__ADS_1


Terima kasih 😘💕


__ADS_2