
Selamat membaca. . .
Jangan melambungkan harapan terlalu tinggi. Itulah yang seharusnya dilakukan George. Tidak semua harapannya akan terwujud sesuai keinginan nya. Terutama harapan nya terhadap Miranda Starlin.
Wanita itu bukanlah tipe wanita gampangan yang dengan mudahnya akan terperdaya oleh sebuah tawaran yang menggiurkan yaitu menikah dengan pria kaya raya. Ia harus memiliki keyakinan didalam hatinya untuk menjalin sebuah hubungan dengan pria. Tetapi keyakinan itu tidak ditemukannya ketika ia bersama dengan George. "Maafkan saya. Saya rasa saya tidak bisa menikah dengan anda, George." ulang Mira.
Mulut George menganga. Tampak jelas sekali bahwa pria itu begitu terkejut dengan kata - kata Mira. "Apa??? Kau menolak tawaran ku? Mengapa? Apa alasanya?" Sederet pertanyaan meluncur dengan mudahnya dari mulut George.
George tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia heran lalu bertanya - tanya dalam hati, apa wanita ini tidak tahu siapa dirinya sehingga ia menolak tawarannya.
George Goldsmith memang play boy.ย Ia suka bergonta - ganti wanita tanpa memberi jaminan sebuah hubungan yang jelas kepada mereka. Ia hanya memanfaatkan dan mencicipi sebanyak yang bisa dilakukannya lalu mencampakkan mereka begitu saja. Tetapi tentu saja ia tetap memberikan kompensasi yang sesuai agar tidak ada masalah yang akan timbul di kemudian hari.
Meski sifatnya begitu, bukan berarti dia adalah pria yang tidak bertanggung jawab. Ia jelas adalah pria yang sangat bertanggung jawab. Sebab itu dia sudah memikirkan solusi terbaik untuk dia dan wanita itu, yaitu dengan menawarkan pernikahan.
Mira duduk bersandar di kursi danย tangannya ia diletakkan dipangkuannya, mencoba agar tetap terlihat tenang. "Anggaplah apa yang kita lakukan waktu itu hanyalah kencan semalam." kata Mira datar dan tegas.
George menatap tajam ke arah Mira. "Apa kau gila? Bagaimana mungkin kau bisa berkata seperti itu sementara ada kemungkinan bahwa dari hasil perbuatan kita itu akan ada seorang bayi didalam perutmu itu." geram George, jelas sekali ia tidak suka dengan jawaban wanita itu.
Mira terdiam. Perkataan pria itu menimbulkan keraguan terhadap keputusan yang telah dibuatnya.
"Kau! Apa kau tidak kasihan pada dirimu sendiri, bahkan pada bayi itu jika ternyata kau hamil?" serang George lagi agar bisa menyadarkan Mira.
Mira tampak mengerutkan kening, memikirkan apa yang dikatakan George. Kemudian dia berkata, "Itu kan masih belum pasti. Jadi tolong jangan berlebihan. Jangan dulu menunjukan rasa tanggung jawabmu untuk sesuatu hal yang belum pasti."
Mira dapat melihat George mengepalkan tangannya menahan emosi. Dan ia pun mulai merasa gelisah karenanya.
"Maaf," ujar Mira lagi.
"Aku yakin sekali pasti masih ada alasan yang lain mengapa kau menolak tawaranku." tanya George, kali ini suaranya lebih rendah namun tersirat rasa ingin tahu yang mendalam dari nada suaranya itu.
Mira tersenyum hambar. "Kau benar, George." jawab Mira. "Sejujuranya saya memiliki impian tersendiri soal pernikahan. Saya ingin menikah dengan orang yang saya cintai dan yang mencintai saya. Dan sayangnya hubungan kita tidak seperti itu."
__ADS_1
Tawa kecil histeris meluncur dari mulut George. "Jangan bercanda! Cinta itu hanyalah omong kosong!" kata pria itu meremehkan ucapan Mira barusan. "Cinta itu sama sekali tidak ada. Apa kau tidak tahu ? Mantan kekasihmu itu, jika dia memang benar - benar mencintai mu, dia pasti akan mengajakmu menikah bukan malah berselingkuh."
"Jangan kaitkan Dion dengan masalah ini." ucap Mira tegas.
ย "Kenapa jangan ? Tentu saja dia ada kaitannya. Sudah berapa lama kalian berkencan?" tanya George.
"Enam tahun." jawab Mira singkat.
George menarik sudut bibirnya hingga melengkung membentuk senyuman mengejek. "Kalian sudah selama itu berkencan tapi dia belum mengajakmu menikah. Apa kau yakin dia benar-benar mencintaimu?"
Perasaan bimbang menyentak hati Mira. Tampaknya Mira mencintai Dion, malah dengan setulus hati. Tetapi perasaan pria itu terhadapnya masih dipertanyakan. Perkataan George bisa jadi benar. Dion tidak benar-benar mencintainya.
Meski begitu, Mira tetap percaya bahwa cinta itu ada. Mira yakin meski cinta yang ia impikan tidak ditemuinya dalam diri Dion, tapi pasti cinta itu ada pada orang lain yang suatu saat nanti akan dipertemukan Tuhan dengannya.
George memandangi Mira. Ada kebimbangan terpancar jelas dari raut wajah wanita itu.
"Ah, aku rasa ku sudah di tipu oleh pria itu. Dasar bodoh!" pekik George. "Sadarlah Miranda Starlin. Pikirkan semua dengan cermat. Cinta itu tidak ada! Lupakan gagasan menikah dengan orang yang kau cintai dan yang mencintaimu. Lupakan impian konyol mu itu dan terima saja tawaranku."
George kesal. "Apa kau baru saja mentertawakan ku?" Pria itu memandang Mira dengan sorot mata yang mampu membuat bulu kuduk wanita itu berdiri.
Mira membalas tatapan George dengan berani. "Kau salah! Cinta itu ada, hanya saja aku belum menemukannya." kata Mira meyakinkan.
Mira mengibaskan rambutnya ke belakang. "Sebenarnya aku kasihan padamu." kata Mira menyindir. "Aku yakin kau belum pernah merasakan cinta. Aku yakin kau tidak pernah mencintai dan tidak pernah dicintai. Itu sebabnya kau seperti ini. Memaksa bukan membujuk!"
George membeku. Brengsek! George tidak mampu membalas kata - kata Mira. Untuk pertama kalinya dia kalah berargumen dengan seorang wanita.
Mira terkejut menyadari ekspresi George yang tampak kosong setelah mendengar kata - katanya. Astaga! Apa kata - kataku tadi sudah keterlaluan ya? batin Mira.
Rasa bersalah pun menjalar di tubuh Mira, tapi dia buru - buru menepis nya.
Mulut George sedikit bergerak. Tapi seolah tak menemukan kata - kata yang tepat, pria itu kembali menutup mulutnya.
__ADS_1
"Aku rasa pembicaraan kita sudah selesai." Saat tidak ada respon dari George, Mira berkata lagi, "Kalau begitu selamat tinggal."
Mira berusaha mengatakannya dengan suara bersemangat tetapi malah membuatnya terdengar seperti tidak rela.
Ini sudah berakhir. Semua sudah berakhir, gumam Mira dalam hati.
Selamat tinggal.
Mira meninggalkan George dengan langkah berat. Tetapi ia harus segera pergi sebelum ia menangis. Aneh. Mengapa ia ingin menangis?
Setelah memanggil taksi, Mira segera menuju ke bengkel untuk mengambil mobilnya. Jam sudah menunjukan pukul dua lebih tiga puluh menit. Dengan kemacetan kota Jakarta seharusnya dia bergegas dari satu setengah jam yang lalu. Tetapi karena semua yang terjadi barusan, segala rencana Mira hari ini sedikit berantakan.
Selama beberapa detik George masih diam tak bergerak di tempat duduknya. Bagaimana dia bisa mengatakan itu? pikir George. Tentu saja aku pernah mencintai dan dicintai. Tetapi kemudian George ragu. Apakah benar dia pernah dicintai?
***
George langsung kembali ke hotel dan segera menyuruh Steve melakukan rencannya untuk wanita itu.
Setelah Steve berlalu untuk melalukan perintahnya, senyum licik mengembang di wajah pria itu karena memikirkan rencananya terhadap Mira. Raut wajah George tampak tidak menunjukan tanda - tanda kewarasan lagi.
Seumur hidup, George selalu mendapatkan keinginannya. Bagaimanapun caranya ia tidak peduli. Yang terpenting adalah dia berhasil mendapatkan keinginannya. Dan sambil duduk di sofa dan tersenyum licik, George mendesis, "Kau akan menyesal telah menolak tawaranku selagi aku masih berbaik hati padamu."
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Hai kak, terimakasih atas waktu dan dukungan kalian selama ini.
Jangan lupa tinggalkan terus jejak kalian ya.
Tekan tombol suka, tuliskan komentarnya dan berikan vote kalian ya ๐
Terima kasih ๐๐
__ADS_1