
Selamat membaca. . .
Hal yang dapat dilakukan George untuk merespons permintaan ibunya adalah dengan terbatuk. Sementara Mira, wanita itu tampak terdiam tetapi rona merah tercipta diwajahnya kerena malu.
"Oh sayang, tak perlu merasa canggung seperti itu." kata Grace. "Kalian kan sudah menikah, jadi tidak ada salahnya mom meminta hal seperti itu." lanjut Grace.
Mira berdeham, mencoba menghilangkan rasa malunya. "Mom jangan khawatir. Kami selalu berusaha untuk itu. Benar kan, sayang?" kata Mira sambil memandangi George.
"Hmmm... " jawab George singkat.
Ketika seorang anak belum menikah pada usia yang sudah matang, maka orang tuanya akan bertanya dan mendesak agar anaknya segera menikah. Tetapi apabila seorang anak telah menikah, maka hal selanjutnya ditanyakan adalah kapan punya anak.
Mira sudah tahu hal itu sebab sepupu perempuan nya pernah bercerita bagaimana awal pernikahannya dengan suaminya. Hal - hal yang terjadi pada sepupunya hampir sama dengan hal yang terjadi sekarang ini. Jadi seharusnya dia tidak kaget, bukan. Tapi nyatanya sangat sulit bersikap biasa - biasa saja ketika berhadapan langsung dengan hal itu.
Tetapi Mira bersyukur bahwa setidaknya ia dan George sementara berusaha. Begitulah menurut nya. Dan senang rasanya kembali mengingat kenangan tentang bagaimana sentuhan, belaian, gesekan bahkan tusukan dari suaminya itu yang teramat hebat. Semoga semua itu akan membuahkan hasil.
Sarapan pagi itu juga di isi dengan pembicaraan singkat tentang rencana aktifitas sepanjang hari. Tentu saja keluarga Mira masih akan melanjutkan perjalanan wisata mereka. Tidak ada yang keberatan tentang itu. Hanya untuk besok, mereka memutuskan untuk tidak kemana - mana karena akan menemani Grace di rumah sakit sebab besok adalah hari operasinya.
Rencana Mira hari ini masih seperti kemarin, yaitu menemani mom ke rumah sakit. Hari ini mom harus menginap. Mira berasumsi George tidak dapat ikut menemani, tapi syukurlah asumsi nya salah. Pria itu menyediakan waktu untuk ibunya.
Setelah selesai sarapan, semuanya langsung bergegas dengan rencana masing-masing.
***
Hasil tes yang dilakukan Grace di rumah sakit amatlah bagus. Jadi dokter Alex Thompson akan melakukan operasi besok pagi.
Syukurlah operasi nya di majukan seminggu. Jika mengikuti keinginan Grace sebelumnya, ia mau agar operasinya di lakukan setelah uang tahunnya dengan tujuan agar George bisa menemukan calon istri dan membawanya ke acara ulang tahun Grace.
Tapi ini adalah berkah. Tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menyaksikan keberuntungan putranya yang menemukan istri ketika ia melakukan perjalanan bisnis. Dan sangat disyukuri bahwa istri George tidak hanya cantik secara fisik, tapi ia cantik dalam sikap dan tingkah lakunya.
Grace percaya bahwa Miranda dapat membahagiakan George. Wanita itu dapat mengurus, menjaga dan menemani George apapun yang terjadi. Grace dapat melihat bahwa Miranda mencintai George. Benar - benar mencintainya. Bukan hanya mencintai harta atau kekayaan putra nya.
Grace berharap operasinya bisa berjalan lancar. Tapi apabila pun takdir berkata lain, setidaknya Tuhan telah mengabulkan harapannya. Setidaknya ia telah melihat putra nya menikah dan bahagia.
"Kalian pulanglah," kata Grace pada George, Mira dan Nessa. "Kalian butuh istirahat. Lagipula aku tidak akan kekurangan apapun di rumah sakit ini. Ada dokter dan perawat yang menjagaku." lanjut Grace.
__ADS_1
"Baiklah mom," kata Nessa sambil menatap Grace lalu kemudian mengalihkan pandangan nya ke arah George kakaknya. "Maaf, sepertinya aku harus pergi terlebih dahulu karena aku mengurus sesuatu di kampus."
"Tidak apa - apa. Pergilah sekarang, aku dan Mira akan menjaga mommy." kata George.
"Baiklah semua, sampai jumpa." pamit Nessa.
George dan Mira menemani Grace hingga sore hari. Setelah itu mereka pulang, tetapi bukan di rumah ibunya melainkan di rumah George.
"Telepon aku jika butuh sesuatu atau jika kau membutuhkan aku." pinta George sebelum beranjak pergi.
Grace tersenyum lalu mengangguk.
***
Mira langsung menuju ke kamar tamu, tempat ia tidur selama berada di rumah George.
Mira dapat merasakan George memperhatikannya. Dan ia tidak perlu berbalik menatap George untuk membuktikan nya. Firasat nya sangat kuat tentang ini. Bagus! Senang rasanya mulai diperhatikan, gumam Mira dalam hati.
Selama hampir tiga puluh menit Mira berada di kamar mandi di dalam kamarnya. Ia membersihkan diri dengan guyuran air hangat yang keluar dari pancuran. Selama membersihkan diri, otaknya berpikir tentang bagaimana caranya ia ke kamar George. Ia harus kesana, berbagi kamar dan tempat tidur dengan pria itu. Bukankah tidak baik jika sepasang suami istri tidur terpisah, apalagi bagi mereka yang baru saja menikah. Bagaimana pun ia harus pindah.
Perasaan itu mulai ia rasakan kemarin saat George pergi tanpa berkata apa - apa. Di tambah lagi sepanjang siang ia sama sekali tidak mengirim pesan atau menelpon. Sungguh membuat frustasi. Entah mengapa ia merasakan seperti itu. Apa sebenarnya yang terjadi padanya?
Ketika Mira berjalan menuju dapur, tidak ada tanda - tanda kehadiran George di sana. Mira berasumsi mungkin suaminya masih berada di kamar.
Di dapur, Mira menyiapkan makan malam yang sudah di masak oleh koki. Jenete sang kepala pelayan sebenarnya melarang Mira. Tapi ia tetap bersikukuh untuk membantu mengatur semua makanan yang telah tersedia. Apalagi yang bisa ia lakukan selain itu?
Semua memang sudah tersedia di rumah ini. Tapi sekarang dia sudah menjadi nyonya rumah, jadi ia berhak mengatur segala sesuatu di rumah itu. Bahkan George sekalipun. Ia memiliki hak.
Mira mencari George di kamar nya. Ia mengetuk pintu beberapa kali, lalu ketika mendengar jawaban pria itu ia segera masuk.
"Aku kesini untuk mengajakmu makan malam." kata Mira.
"Ok," sahut George.
Saat menikmati hidangan makan malam, Mira memperhatikan wajah George. Ia tampak memikirkan sesuatu. "Apa kau baik - baik saja?" tanya Mira, suaranya terdengar penuh perhatian.
__ADS_1
"Aku baik. Hanya saja aku sedikit memikirkan tentang permintaan mom pagi tadi. Bagaimana menurut mu?"
"Aku pikir kita sementara berusaha mewujudkannya. Apakah aku salah?"
"Entahlah. Bagiku semuanya ini terlalu cepat. Aku tidak yakin sekarang apakah aku bisa menjadi seorang ayah? Maksudku dalam hal tanggung jawab. Tanggung jawabnya berat dan bersifat permanen. Jadi entah mengapa aku ragu apa aku bisa melakukan nya?"
"Percayalah pada dirimu sendiri." kata Mira penuh keyakinan. " Kau pasti bisa melakukannya. Kau pasti bisa menjadi ayah yang baik."
"Kuharap begitu."
"Jadi, bagaimana selanjutnya?" tanya Mira.
"Ikutlah denganku, akan ku tunjukan kamarku padamu. Dan mulai sekarang kamar itu adalah kamarmu juga."
Tidak sekali pun terpikir oleh Mira bahwa George akan berkata seperti itu. Tapi tentu saja dia senang. Dia tidak perlu repot - repot mencari cara untuk pindah ke kamar George. Terimakasih untuk itu.
***
Saat mereka tiba di kamar, Kedua tangan George segera menangkup wajah Mira. Pria itu memulai dengan memberikan ciuman yang keras dan menuntut. Mira dapat merasakan napas George menderu di telinga nya. Ia senang. Ini romantis. Ini hebat.
George mendorong Mira ke belakang hingga wanita itu mencapai tepi ranjang yang berukuran king kize. Ranjang itu berwarna hitam. Kasur, bantal dan selimut nya pun berwarna hitam. George menghentikan sejenak ciumannya lalu berkata, "Itu ranjangku. Aku tidak pernah membawa perempuan mana pun ke ranjang itu. Kau yang pertama. Dan hanya kau. Ayo kita wujudkan permintaan mom."
Mendengar ucapan George, senyum lebar tercipta di bibir Mira, lalu ia berjinjit dan menekan mulut nya pada mulut George lalu mereka bercumbu dengan lebih kuat lagi.
George mendorong tubuh Mira ke ranjangnya lalu mereka pun bersatu.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Hai semua. Terima kasih masih setia menantikan novel ini.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya nya.
Like, comment and vote.
Salam sayang dari author π₯°π₯°π₯°
__ADS_1
Terimakasih πππ