My Crazy Client

My Crazy Client
BAB 38


__ADS_3

Selamat membaca....


Brad duduk bersandar di Sofa sambil memejamkan mata. Ia bukannya tidur, tetapi ia sedang berpikir.


Menyebalkan sekali, pikir Brad, ketika ia tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk melanjutkan rencana jahatnya pun ia tidak bisa lagi.


Brad tersenyum kecut. Ia baru menyadari bahwa apa yang ia lakukan adalah tindakan kejahatan. Kemana sikap pria terhormat yang selama ini selalu di junjung nya.


Bagaimanapun dia dan George telah berteman lama. Dan bagaimanapun cinta tidak bisa dipaksakan. Semua orang berhak menerima ataupun menolak cinta. George sudah menerima cinta Mira, bahkan ia sudah memberikan hatinya untuk istri nya itu. Berarti sudah tidak ada kesempatan lagi bagi Valeri.


Bukan salah George jika ia menolak cinta Valeri. Meski memang cara penolakan nya tidak disukai Brad, tapi pria itu harus bersyukur karena George tidak memberikan harapan palsu pada adiknya.


Brad menghembuskan napas dengan berat. "Sudah saatnya bagi Valeri untuk menghadapi dan menerima kenyataan pahit ini", gumam George. Hidup bersama dengan George tidak mungkin terjadi. Well, sejak awal itu semua memang sudah tidak mungkin.


Setelah cukup lama larut dalam pikirannya, akhirnya Brad memutuskan untuk terbang ke Inggris, mengunjungi Valeri dan mencoba menghibur adiknya itu.


***


Di rumah sakit, wajah Mira tampak lebih cerah setelah ia mandi dan berganti pakaian, meski pakaian yang dikenakannya bukanlah pakaian pribadinya, namun pakaian pasien rumah sakit. Tentu saja Jenette sudah berada bersama dengan Mira, dan wanita itupun telah membawa pakaian nyonya nya itu. Namun selama berada di rumah sakit, para pasien harus mengenakkan pakaian yang di sediakan pihak rumah sakit.


Jenette sibuk membersihkan meja tempat George dan Mira makan pagi tadi. Sementara Mira sendiri kembali berbaring di ranjang di temani dengan ponselnya.


Mira menekan menu kontak pada ponselnya lalu segera menghubungi Stella mamanya.


Waktu di New York menunjukkan pukul 09.10 itu artinya di Manado sudah pukul 21.10 sebab New York dan Indonesia memiliki perbedaan waktu 11 jam, dimana Indonesia lebih cepat waktunya dibanding New York.


Pada dering ketiga panggilan dari Mira diterima oleh mamanya.


"Halo, sayang. Selamat malam. Apa kabar? Ada apa menelepon malam - malam begini?" tanya Stella bertubi-tubi.


Mira terkekeh. "Halo, ma. Disini belum malam ma. Disini masih pagi." jawab Mira.


"Oh, mama tidak tahu. Lalu bagaimana kabarmu sayang?"

__ADS_1


"Aku baik ma. Mama, papa dan Mark apa kabar?"


"Kami semua juga baik. Bagaimana disana? Maksud mama, keadaanmu disana. George memperlakukan kamu dengan baik kan?"


"Tentu saja ma," ucap Mira bersemangat. "malah sekarang kami sedang berbahagia karena aku hamil. Sebentar lagi kami akan menjadi orang tua." lanjut Mira.


"Benarkah?" tanya Stella seolah tidak percaya, namun sebenarnya ia pun senang. Akhirnya putrinya bisa mengandung. Akhirnya dia bisa menjadi seorang nenek. "Selamat sayang," ucap Stella bahagia. "jaga kesehatan mu juga kesehatan anak dalam kandungan mu. Jangan terlalu lelah dan jangan banyak berpikir. Makan makanan yang bergizi serta istirahat yang cukup ya.... " Sederet nasihat dilontarkan oleh Stella untuk putri nya itu.


"Iya ma. Tetapi sayangnya sekarang aku berada di rumah sakit."


"Apa yang terjadi? Mengapa kau berada di rumah sakit? Siapa yang sakit? Apa kau baik - baik saja?" tanya Stella begitu penasaran sekaligus khawatir.


"Aku baik ma," ucap Mira mencoba memberi penjelasan. "aku hanya mengalami morning sickness. Namun, sekarang rasa mual dan muntah ku sudah berkurang." lanjut Mira.


Stella mendesah lega. "Syukurlah kau tidak apa - apa. Memang beberapa wanita hamil akan mengalami hal demikian. Itu wajar. Mama. berharap semoga kamu dan anak dalam kandungan mu tetap sehat dan nantinya ia bisa bertumbuh baik."


"Iya, ma. Terimakasih."


Setelah berbicara cukup panjang di telepon, saling menitip salam kepada keluarga, Mira pun mengakhiri panggilannya. Namun setelah selesai menelepon mamanya, ia langsung menelepon Lisa sahabatnya. Sudah cukup lama mereka tidak mengobrol. Terakhir kali saat hari pernikahan Mira. Lisa menelepon nya hanya untuk mengucapkan selamat. Setelah itu belum ada kabar lagi dari Lisa.


"Hai, sepertinya kau sedang sibuk menikmati kebersamaan bersama suami mu itu sehingga kau lupa untuk menghubungi ku." kata Lisa ketus.


Mira tertawa kecil. "Memang benar apa yang kau katakan itu. Aku sangat sibuk sekarang." jawab Mira sambil mengenang semua hal yang telah dilakukannya bersama George. Semuanya terasa luar biasa hebat sehingga benar-benar bisa menguras waktu.


"Sialan..." Lisa mencicit cukup keras sampai - sampai Mira harus menjauhkan telepon dari telinganya.


"Astaga. Pelankan suaramu itu!" pinta Mira.


"Oh oke. Jadi katakan padaku apa yang terjadi? Bagaimana keadaanmu disana?" tanya Lisa penasaran.


"Well, sekarang aku di rumah sakit akibat perbuatan George."


"Apa...? Bagaimana bisa? Apa dia memukulmu?" Nada suara Lisa mulai terdengar geram.

__ADS_1


Mira kembali tertawa kecil. "Tentu saja iya. Setiap malam George selalu memukulku dengan senjata tumpulnya sehingga sekarang aku hamil."


"Oh Tuhan, kau hampir membuat jantung ku keluar karena ketakutan. Aku pikir George melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap mu. Ternyata.... Ya Tuhan. Kau ini benar-benar! Sekarang katakan padaku, apa itu nikmat atau sakit ?" tanya Lisa.


"Jangan berlagak bodoh. Tentu saja itu sakit pada awalnya namun selanjutnya hanya nikmat yang terasa. Benar-benar nikmat. Bukankah kau juga sudah merasakannya?"


Ada jeda yang cukup panjang. Lisa tidak menjawab pertanyaan Mira. Mira pun mulai berpikir kalau sahabatnya mungkin belum merasakannya.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu yang buruk antara kau dan Arifin?" Kali ini Mira yang mulai merasa khawatir.


Lisa mendesah panjang lalu berkata, "Tidak ada hal buruk yang terjadi antara kami. Hanya saja kami memang belum melakukannya karena aku belum siap." jelas Lisa.


Mata Mira membulat tak percaya. "Apa??? Bagaimana bisa?"


"Entahlah, aku hanya merasa aku belum siap karena jujur aku masih belum mencintai Arifin. Sejauh ini ia sangat baik padaku. Ia menunjukan bahwa ia benar-benar peduli dan mencintai ku. Terkadang juga aku merasa ia cemburuan terhadap hal - hal kecil. Namun, tetap saja aku masih belum bisa menyerahkan diriku seutuhnya padanya."


"Ya Tuhan, Lisa. Sebaiknya kau rubah pola pikir dan perasaan mu itu segera. Bagaimanapun Arifin telah menjadi suamimu. Pria membutuhkan pelayanan di tempat tidur agar dia tidak selingkuh. Aku harap kau segera siap untuk menyerahkan hidup dan hatimu pada mantan bosku itu."


"Aku pun berharap hal yang sama." ucap Lisa. "Well, kurasa kita memiliki persoalan rumah tangga yang jauh berbeda yang harus kita urus dengan baik. Aku harap kau dan bayimu segera membaik agar kau bisa segera pulang. Aku juga berharap kau bisa berbahagia bersama George. Sampaikan salam ku padanya." lanjut Lisa sebelum akhirnya mengakhiri panggilan telepon.


Semua pasangan yang sudah menikah memang memiliki masalah rumah tangga yang berbeda-beda. Namun, sejatinya masalah harus dihadapi dan dicari solusinya.


💖💖💖💖💖💖💖


**Mohon maaf aku ucapkan kepada para pembaca ku yang selalu setia sama novel ini. Aku emang hiatus selama beberapa Pekan karena aku keseringan main GC. Wwkwkkk 😁😁😁


Maaf yaaa semua 🙏🙏🙏


Namun sebisa mungkin aku akan melanjutkan novel ini hingga tamat.


Nantikan Yaaa 😊😊😊


Terima kasih 😘💕

__ADS_1


__ADS_2