
Dengan langkah gontai, Verlyn memasuki mansion mewah milik Mad. Saat ini, ia diputuskan untuk tinggal di mansion Mad, dengan tujuan untuk menjadi teman seorang Olivya.
"Verlyn? Kenapa baru pulang?" tanya Gaston saat tak sengaja lewat dan bertemu dengan Verlyn.
"Sudah jam sepuluh malam, kenapa baru pulang?" tanya Gaston sekali lagi.
"Aku harus panggil uncle atau apa?" tanya Verlyn.
"Uncle,"
"Aku habis dari club!" jawab Verlyn dengan wajah yang malas.
"Untuk apa kau kesana?" tanya Gaston dengan nada tinggi namun santai.
"Hanya berjoget, tidak lebih." balas Verlyn dengan malas.
"Kau tak minum kan?" tanya Gaston dengan nada mengintimidasi.
Verlyn menghembuskan nafasnya dengan berat seraya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kembali ke kamarmu." perintah Gaston.
"Kalo tidak karena uncle pasti aku sudah ada dikamar." balas Verlyn lalu beranjak dari hadapan Gaston.
×××
Olivya menatap nanar pada sebuah aplikasi yang berjudul Instagram. Ia menstalker akun lamanya. Disana, diakun lamanya, terdapat banyak sekali foto dirinya, kakaknya, dan juga kedua orang tuanya.
Tampak mereka tersenyum bahagia, seperti tak ada masalah berat yang sedang dijunjungnya. Namun, itu semua sirna hanya karena seorang mafia tak berbelas kasihan.
"Selamanya, aku akan benci dengan seorang mafia." gumam Olivya sambil meremas kuat ponsel barunya.
"Percuma juga kau membenci mafia, itu takkan membuat kedua orang tuamu kembali." ujar seseorang yang entah sejak kapan sudah berdiri dihadapannya.
"Madrick?"
Madrick duduk disebelah Olivya. Tatapan seperti biasa saat ia berhadapan dengan Olivya. Tatapan lembut.
"Jangan membenci seorang mafia, Vya. Tak semua mafia itu kejam ataupun jahat. Mereka hanya melakukan tugasnya saat ada orang lain yang mengibarkan bendera perang padanya" Gumam Mad.
"Kenapa pernyataanmu, seakan-akan kau itu seorang mafia, Mad." balas Olivya.
"Tidak, aku hanya memberitahumu saja. Soal percaya atau tidak, itu hakmu. Namun, perlu kau ingat," Mad menggantungkan ucapannya seraya menatap dalam manik mata Olivya.
"Jodohmu akan seorang mafia." gumam Mad dengan pelan.
Olivya sontak langsung berdiri dengan kedua tangan menggenggam.
"Apakah kau seorang mafia?!" tanya Olivya dengan nada tegas.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Mad.
"Kau bilang, aku hanya milikmu. Milik seorang Madrick Vallencio. Yang kau maksud jodoh itu kau? Kau seorang mafia?" bentak Olivya.
Bodoh kau Mad! batin Mad merutuki dirinya.
"Jangan dipikirkan, aku bukan seorang mafia. Aku CEO. Bukan jauh-jauh pikiranmu yang menganggap ku mafia." balas Mad dengan dingin.
"Tap--"
"Tidur, sudah malam. Besok bangun pagi." ujar Mad dan langsung beranjak pergi keluar kamar Olivya.
Olivya terdiam sambil memikirkan sesuatu. Biasanya, Mad akan membiarkannya tidur sampai siang Pun, Mad tak melarang.
Tak mau memikirkan terlalu panjang, Olivya menaruh ponselnya diatas nakas dan segera tidur lalu menyelimuti dirinya sendiri.
×××
__ADS_1
Dihamparan rumput yang luas nan hijau, gadis cantik dengan gaun putih selutut, memandangi seluruh hamparan hijau yang panjang. Disini sangat bersih, tak ada sampah sekecil ataupun kecuali batu kerikil yang tertutup oleh rumput.
"Dimana aku?" tanya gadis kecil dengan bingung.
"Olivya," gadis kecil itu menoleh dan mendapati kakaknya dan juga kedua orang tuanya. Olivya memandangi dirinya, kenapa ia masih berumur 14 tahun?
"Olivya, sini nak." panggil seorang ayah yang sangat Olivya rindukan.
"Dady, Momy, Kakak?" seru Olivya dengan senyuman yang tulus.
Olivya berlari kearah mereka, semakin dekat dan semakin dekat, hingga akhirnya jatuh kedalam pelukan mereka.
"Dady? Momy? Oliv nggak mau ditinggal sendiri. Oliv mau ikut kalian." ucap Olivya dengan wajah yang sedih.
"Tidak bisa sayang, kamu harus bisa hidup tanpa kami. Ada seseorang yang sangat mencintaimu, tapi bukan itu yang Momy maksud, dia orang yang saat ini berjuang untuk Momy, Dady dan Kak Ranelly." ucap Orlan--Momy Olivya dengan sangat lembut.
Olivya merintikan airmata. Pernyataan yang Orlan katakan. Siapa sosok sosok yang berjuang untuk keluarganya.
"Olv," panggil Ranelly. Keluarganya selalu memanggilnya dengan sebutan Olv.
Olivya mengangkat wajahnya untuk melihat wajah cantik Ranelly.
Ranelly memeluk Olivya dengan cukup erat. Begitu juga dengan Olivya.
"Jangan menangis, kakak selalu sayang sama kamu. Walaupun kamu keras kepala, kamu adalah adik kakak satu-satunya." Ranelly melepaskan pelukannya.
"Dengar, apabila orang yang mencintaimu itu gagal berjuang untuk kakak, Momy dan Dady. Kamu harus bisa ikhlas dengan kepergian kami." sambung Ranelly.
"Nak," panggil Werson--Dady Olivya.
"Dady." lirih Olivya dan langsung memeluk Dadynya sangat erat.
"Dady, i want follow you. I can't life without you." Rengek Olivya. Airmatanya mengguyur deras dipipinya.
"Nikmati dulu hidupmu nak, kami akan mengawasimu dari jauh." gumam Werson seraya mengelus surai coklat milik Olivya.
Werson melepaskan rengkuhannya dan langsung menghapus airmata putrinya.
"Tap-tapi, Ol-Olivya mau ikut kalian." balas Olivya dengan tangis yang masih sedikit tergugu.
"Dengerin kami kali ini saja sayang. Jika orang yang mencintaimu itu berhasil berjuan untuk kami, kami akan tetap bersama kamu." ucap Orlan dengan lembut.
"Momy, orang yang mencintaiku itu siapa? Olv tidak punya siapa-siapa selain kalian." tanya Olivya.
"Kamu akan tahu nak." balas Werson.
"Jaga dirimu, kami pamit." ucap Werson sambil menggandeng tangan Ranelly dan juga tangan Orlan. Mereka memutar balik tubuhnya dan berjalan menjauh dari Olivya.
Ingin sekali Olivya mengejar, namun kakinya seperti sudah menjadi batu, tak bisa digerakkan.
"Dady!!!"
"Momy!!!"
"Kak Ranelly!!"
Teriak Olivya begitu nyaring, sungguh ingin sekali Olivya berlari sekencang-kencangnya untuk mengejar mereka.
"Dady!!!"
"Momy!!!"
Olivya terbangun dari tidurnya. Keringat dingin mengguyur dahinya. Mimpinya begitu terasa sangat nyata.
"Hanya mimpi?" guman Olivya dengan lirih.
"Kenapa begitu nyata? Orang? Siapa orang yang mencintaiku dan berjuang untuk keluargaku? Siapa?" guman Olivya dengan pandangan kosong. Mulutnya terus meracau tentang sosok yang disebutkan ayahnya, ibunya dan bahkan kakaknya. Orang yang mencintainya? Siapa?
__ADS_1
Olivy melirik kearah jam yang ada diatas nakas. Jam mini kotak menunjukkan pukul tiga pagi. Olivya merangkul wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Hanya mimpi," racaunya.
Olivya mengambil gelas diatas nakas. Ia hendak meminum air namun ternyata gelasnya kosong. Olivya menghembus nafasnya dengan berat. Kaki jenjangnya diturunkan hingga menampak diatas marmer yang dingin. Olivya mengambil sandalnya yang ia letakkan dibawah tempat tidur dan langsung memakainya. Olivya tak lupa membawa gelas yang kosong untuk diisi air. Dengan gerakan lincah, Olivya berhasil membuka password pintunya dan langsung keluar menuju dapur.
Olivya menuruni tangga dengan sedikit diselingi uapan dari mulutnya. Matanya terasa memberat untuk segera ingin ditidurkan. Saat berada diujung tangga bawah, Olivya samar-samar mendengar suara yang sangat tidak cocok didengar. Dan sepertinya suara itu berasal dari ruang tamu.
"Ahmmm, uhhhh.." Olivya mengernyit saat tahu itu suara apa. Suara desahan seorang wanita.
"Ughhhtt, sangat longhhgar." Olivya melebarkan kedua matanya saat mengenal milik suara itu.
Olivya berjalan kearah ruang tamu. Gelas yang ia pegang jatuh kebawah, terkejut melihat adegan didepan matanya. Mad yang tengah tidur diatas sofa dan wanita dengan make up yang amat tebal. Wanita itu duduk diatas kejantanan Mad lebih tepatnya sudah menyantu dengan milik wanita itu.
"Olivya?" guman Mad dan langsung bangkit dengan mendorong wanita itu hingga jatuh diatas karpet tebal dan empuk.
Mad menarik resleting celananya dan membenarkan kaosnya. Sedangkan wanita yang tadi disetubuhinya masih telanjang bulat. Mad mendekat kearah Olivya dan Olivya memundurkan langkahnya. Ia tak menyangka bahwa Mad sebejat itu.
"Awhhh.." Olivya meringis saat kakinya tak sengaja menginjak pecahan kaca gelas yang ia jatuhkan tadi.
"Olivya," ucap Mad.
"Jangan mendekat. Kau najis." guman Olivya dengan airmata yang bercucuran karena merasa sakit dikakinya.
"Apa yang--"
"Mad? Kenapa kamu urus ****** itu? Mari kita lanjutkan. Aku tahu kamu tersiksa karena belum sampai pelepasan." ujar Wanita itu yang bergelayut manja di lengan Mad. Wanita itu sudah memakai cd dan bikini nya.
"Diam *****!" Bentak Mad dan langsung melemparkan kertas cek yang sudah ia siapkan untuk membayar ****** yang ia sewa.
Wanita itu memungut pakainya dengan wajah yang kesal karena belum mendapat pelepasan dari Mad.
"Oliv," guman Mad dengan lirih. Ia merasa teriris saat melihat Olivya yang menangis tergugu karena luka dalam dikakinya. Ia merutuki dirinya, seharusnya ia tidak melakukan hal bodoh tadi di ruang tamu.
Olivya berjalan tertatih menuju dapur untuk mengobati lukanya.
"Memang seharusnya aku tak pantas tinggal disini. Aku tak mau lagi mendengar suara laknat itu tadi." ucap Olivya dengan pelan.
Olivya menegang, tubuhnya terasa melayang. Mad menggendongnya ala bridal style dan berjalan dengan angkuh menuju kamar Olivya.
"Lepaskan aku," Olivya memberontak, bau wanita itu melekat pada tubuh Mad.
"Diam!" bentak Mad dan membuat pergerakan Olivya untuk memberontak berhenti.
Mad membawa tubuh mungil Olivya kedalam kamarnya. Ia sengaja tak membawa ke kamar Olivya sendiri karena Mad ingin mengobati luka Olivya.
Mad mendudukkan Olivya diatas pinggir ranjang. Mad melangkah menjauh untuk mengambil kotak P3K didalam lemari khusus obat-obatan. Mad kembali sambil membawa ember berisi air. Mad duduk dibawah Olivya. Dengan hati-hati, Mad mengangkat kaki Olivya dan membasuhnya diember yang sudah terisi air.
"Hiks.. sakit.." lirih Olivya saat merasakan nyeri yang luar biasa dikakinya yang diusap Mad dengan handuk kecil.
"Sssttt, sakitnya tidak akan lama." Mad merasa teriris hatinya saat mendengar tangisan pilu gadisnya.
Mad mulai mengoleskan obat merah dikaki Olivya lalu memasangkan perban dengan sangat telaten. Setelah selesai, Mad mengangkat kepalanya untuk melihat wajah merah Olivya.
"Aku mau tidur." ucap Olivya dan hendak berdiri namun dihentikan oleh Mad dengan menahan bahunya.
"Kamu tidur disini saja, aku akan tidur dikamar tamu." ucap Mad.
Olivya pun langsung membaringkan tubuhnya dan menarik selimutnya dan berbalik memunggungi Mad.
Mad berjalan keluar dan menutup pintunya dengan sangat hati-hati. Mad berjalan menuju ruangan kerjanya. Ia mendudukkan dirinya diatas kursi kebesarannya. Ia memijat pelipisnya.
"Kau bodoh Mad!" guman Mad dengan tajam.
"Seharusnya kau melakukannya tidak diruang tamu." gumannya lagi.
"Bodoh!! Bodoh!!" Mad membenturkan kepalanya disandarkan kursi.
Brakkk
__ADS_1
"Tuan, Nona Olivya....."
tbc