
*Aku berlari, terus berlari tanpa arah dan tujuan. Sesekali aku menengok ke belakang, suara derap kaki yang bersahutan semakin membuatku menambah kecepatan berlari ku. Aku terjebak, entah jalan apa yang ku lalui ini. Rasanya sepi dan hampir tak ada orang. Kanan dan kiri ku penuh dengan pepohonan yang menjulang tinggi. Aku menengok ke belakang, suara derap kaki itu semakin dekat, aku bingung. Kaki ini mengajakku pada sebuah tong besar yang berada hampir ditengah hutan. Sampai ku di depan tong besar ini, aku memasukkan tubuhku guna untuk bersembunyi. Aku menutup mulut ku. Suara kaki itu semakin dekat, apakah aku akan bernasib sama dengan kedua orang tua ku? Tidakkk, aku tidak ingin seperti itu. Masa depanku masih panjang.
"Sialan, dimana anak itu?" samar-samar ku dengar seseorang yang sedang mengumpat. Aku yakin, itu masih seseorang yang tadi mengejar ku.
Oh Tuhan, kenapa ini terjadi padaku? Kenapa? Kenapa tidak pada orang lain yang mampu menjalani ini semua? Aku menangis, ku sandarkan punggung ku pada dinding tong besar. Ku mengadah kan kepalaku melihat langit-langit sore hari. Mataku mengeluarkan banyak air mata. Bagaimana nasib ku hari ini jika aku berhasil ditangkap?
Aku terus meramalkan doa kepada Tuhan. Semoga, Tuhan memberikanku keselamatan. Sedikit samar-samar ku dengar suara derap kaki yang menjauh. Aku sedikit bernafas lega, aku berencana untuk mencari kedua orang tua ku.
Aku sedikit mulai berdiri dan mengitip sedikit dari dalam tong. Sepi, ku sempurnakan mengangkat tubuhku. Dengan tubuhku yang sedikit pendek ini, aku menjadi sedikit kesusahan untuk keluar dari dalam tong. Namun, bukan sangat sulit untukku, Dady ku pernah mengajariku untuk loncat tinggi dan aku berhasil. Kedua kaki ku telah menapak pada tanah dengan sempurna, ku edarkan pandanganku, jalan mana yang harus ku tempuh? Aku sama sekali tak tahu jalan ini. Heh, jalanan macam apa ini? Sepi sekali. Aku mengusap sisa air mata yang hampir mengering di pipi ku. Kaki ku mulai berjalan kemana angin membawaku. Tak heran jika aku berjalan lebih dalam lagi kearah hutan. Aku harus minta tolong kepada siapa lagi? Jikalau aku menyerahkan diriku pada mafia yang mengejar ku tadi, aku takkan bisa menyelamatkan kedua orang tua ku. Ya aku tahu, di umur ku yang menginjak empat belas tahun ini, akan kecil peluang untuk melawan seorang mafia. Dady ku sendiri seorang mafia, tapi ia bukanlah seorang mafia yang kejam ataupun jahat. Dady ku adalah mafia yang digemari banyak orang, termasuk aku dan momy ku. Dady juga tak keberatan jika harus menolong seseorang yang memang harus di tolong. Mafia sebagai jabatannya, karena Dady suka sekali membunuh seseorang yang suka mencari masalah dengan Dady. Istilahnya Jangan kau ganggu macan yang sedang tidur, jika ia bangun karena mu, nyawa sebagai ganti permohonan maaf. Itulah yang sering kali Dady katakan padaku.
Aku menoleh ke belakang, kabut putih menutupi separuh jalan, matahari mulai tenggelam. Bukan cerita horor atau mistis, tapi hanya cerita seorang anak laki-laki berumur empat belas tahun yang berjalan sendirian di hutan yang sepi tanpa senjata. Aku berhenti, aku melihat dari kejauhan sebuah rumah yang minimalis dengan cat warna abu-abu yang hampir semua mengelupas. Rumah itu sangat kecil jika dibandingkan dengan mansion milik Dady. Tanpa ragu, aku berjalan kearah rumah minimalis itu. Siapa tahu, aku akan mendapatkan bantuan disana. Setidaknya secuil makanan dan tidur sehari. Walau untukku masih sangat susah untukku untuk tinggal di tempat kumuh seperti itu, namun mau bagaimana lagi? Aku tak ingin mati konyol dengan dimakan hewan buas disini.
Langkahku semakin dekat, ya, mendekati rumah minimalis itu. Pintunya tertutup, aku berjalan kearah jendela. Mengintip isi dari dalam rumah itu. Rumahnya sangat rapi, namun bagian luarnya saja yang begitu. Aku tak percaya, rumah minimalis yang sudah ku nilai buruk, isi dari dalam rumah itu sangat rapi. Tanpa menunggu lama, aku mengetuk pintunya. Cukup lama aku mengetuk, kaluarlah seorang wanita paruh baya dengan menggunakan celemek. Sudah dapat diduga, pasti ia usai memasak atau memang sedang memasak. Wajah wanita paruh baya ini sangat ramah, tak kulihat sedikitpun ke galakan dari dalam dirinya.
"Hei, Who are you?" tanya nya dengan lembut.
"Emm, hai." balasku dengan malu-malu.
"What is your name? Kenapa kamu sendirian disini?" tanyanya lagi.
"My name is Madrick Vallencio. I'm lost."
"Oh my god. Kamu anak nya seorang mafia yang bernama Hendrick Vallencio?" tanyanya.
Hendrick Vallencio adalah nama dady ku. Dan momy ku bernama Marline Vallencio. Kalian pasti sudah tahu, nama ku Madrick diambil dari potongan nama orang tuaku Ma dan Drick.
Aku mengangguk, wanita ini mengajakku untuk masuk kedalam rumahnya. Aku melihat, seorang pria paruh baya yang sedang menyesap kopinya dan juga membaca koran. Saat melihat ku, pria itu meletakkan koran nya diatas meja dan menghampiriku. Wajahnya kebingungan lalu menatap wanita yang berada disebelahku ini.
"Jon, anak ini tersesat. Kita akan membiarkan dia untuk tinggal semalaman disini, besok kita akan mengantarkan dia pulang." ucap wanita itu.
Pria paruh baya ini membungkukkan sedikit badannya.
"Siapa namanya?" tanyanya dengan lembut.
"Madrick." jawabku.
"Baiklah, ayo aku akan mengantarkan ke kamarmu. Kau pasti lelah."
"Tunggu, aku belum tahu nama kalian." ucapku.
"Ah iya, kami hampir lupa. Saya Zakira Corllete dan ini suami ku Jon Corllete. Kami hidup yang jauh pemukiman, ya bisa dibilang untuk menghindari keramaian dan juga teror para mafia."
"Tapi aku anaknya seorang mafia."
Zakira tersenyum, "Aku tahu itu, tapi Dady mu bukanlah pria yang kasar atau pembunuh. Tuan Hendrick adalah pria yang dermawan, ya walaupun dia seorang mafia. Dadymu lebih banyak memaafkan orang-orang yang menipunya, disaat semua mafia langsung membunuhnya, Dadymu memaafkannya."
Aku tertegun mendengarnya, kenapa mafia seperti Dady harus sebaik itu? Mungkin aku akan berjanji, jika aku yang akan menjadi mafia, siapapun akan ku bunuh yang berani mengusik ketenangan ku. Ahaha, apakah aku akan seberani itu? Lalu mengapa aku tadi berlari saat anak buah mafia itu mengejarku?
"Nak, ada apa?" aku membuyarkan lamunan ku.
"Tidak ada, emm bisa antarkan aku pulang sekarang? Aku tak tahu jalanan hutan disini." ujarku.
"Tapi nak, hati sudah mulai gelap. Sebaiknya kamu nginap disini sehari ya? Besok Jon akan mengantarmu." balas Zakira.
Aku menggeleng, "Aku harus menyelamatkan orang tua aku. Mereka disekap, aku tak akan membiarkan mereka tewas ditangan mafia itu."
"Kau masih sangat kecil untuk mengetahui urusan orang dewasa nak." sahut Jon.
"Jika kalian berada diposisiku, apakah kalian akan membiarkan orang yang kalian sayang tersiksa?"
Zakira dan Jon saling menatap, aku berharap mereka mau mengantarkan ku.
"Baiklah, kami akan mengantarmu. Jon, bersiaplah."
Jon mengangguk, "Aku akan memanasi mobil dulu."
Jon berjalan pergi dan Zakira pamit untuk berganti pakaian terlebih dahulu. Aku duduk di sofa yang sudah tua dan penuh dengan tambalan. Aku melihat seisi dalam rumah ini. Tak ada yang menarik, hanya saja perhatianku terarah pada sebuah lukisan besar. Lukisan yang menampilkan gambar wajah seseorang. Aku bangkit dari dudukku dan berjalan mendekat kearah lukisan itu.
"Mad kita akan berangkat sek--"
"Ini wajah siapa?" tanyaku dengan memotong ucapan Zakira.
"Bukan siapa-siapa, ayo kita berangkat. Keburu malam." Zakira menarik tanganku. Kepalaku menoleh dan melihat lukisan itu untuk yang terakhir kalinya.
Aku memasuki sebuah mobil tua namun masih layak untuk digunakan. Zakira membantuku untuk naik pada kursi belakang dan terakhir menutup pintu mobil. Jon yang sudah duduk di depan bagian pengemudi dan disusul Zakira yang duduk disampingnya.
__ADS_1
"Apakah kalian tidak memiliki anak?" tanyaku. Aku tahu ini lancang.
Jon dan Zakira saling bertatapan. Jon menoleh kearah ku. "Punya, tapi dia sudah berkeluarga." Setelah mengucapkan hal itu, Jon menjalankan mobilnya.
"Siapa namanya?" tanyaku lagi.
"Kami sering memanggilnya Alline."
Aku hanya mengangguk, tak ingin banyak bertanya, aku lebih memfokuskan perhatianku pada pemandangan hutan yang mulai gelap. Banyak burung-burung yang mulai berterbangan diatas awan, dan sedikit terdengar suara pepohonan yang terkena angin. Aku menatap jam tangan yang melingkar dipergelangan tanganku. Jam menunjukkan pukul setengah enam malam. Bayang-bayangan dimana aku dikejar oleh anak buah mafia dan hingga aku tersesat di dalam hutan yang lebat ini.
"Mad, kau tidur saja jika mengantuk. Aku akan membangunkan mu jika sudah sampai." ujar Jon.
Aku mengangguk, dan mulai membaringkan tubuhku diatas kursi pengemudi bagian belakang ini. Benar apa kata Jon, aku benar-benar mengantuk. Mungkin aku kelelahan karena berlari tadi.
***
"Mad, bangun nak. Mad?" aku mengerjapkan mataku saat seseorang tengah mengusik tidurku. Ku buka mataku dan ternyata Zakira.
"Apakah sudah sampai?" tanyaku yang langsung bangkit dari posisi terlentang.
"Sudah, tapi dirumah sepertinya sedang tidak aman. Lihatlah, banyak sekali para pengawal jahat." aku mengikuti arah pandang Zakira yang mengarah pada mansion megah Dadyku. Benar apa katanya, aku ingat betul. Orang-orang itulah yang mengejarku tadi.
"Aku akan tetap masuk, Dady dan Momy ku dalam bahaya di dalam sana." aku menggeser tubuh Zakira dan turun dari mobil.
Zakira menarik tanganku. "Kita akan masuk bersama-sama nak. Jon, ayo."
"Are you sure, Kira?" tanya Jon.
"Ayolah Jon, jika kau tak ingin masuk, aku yang akan masuk dengan Mad."
Jon meraup wajahnya dengan kasar. "Baiklah kita akan masuk bersama-sama. Tapi kita tidak bisa masuk melalui pintu depan."
"Lalu? Darimana kita akan masuk?" tanya Zakira.
Dapat kulihat, tampak Jon sedang berpikir keras.
"Aku tahu. Di samping mansion ada sebuah pintu yang tersamarkan dengan tembok. Itu adalah tempat paling aman untuk kita masuk kedalam mansion." ucapku. Aku memang masih ingat saat Dady menunjukkan ku sebuah ruangan dan pintu rahasia.
"Ayo." ajakku.
Click
Sesuatu berbunyi, aku berhasil menemukan tombolnya. Double shit! Aku melupakan paswordnya. Berulang kali aku mencoba tapi tetaplah salah.
"Nak, apakah masih lama?" tanya Zakira.
"Aku melupakan paswordnya."
"Coba kau ulangi nak, hari sudah semakin gelap."
Brakk
Dengan tak sengaja, Jon menjatuhkan sebuah pot yang bergantung pada tembok.
"Hei, siapa disana?" teriak salah anak buah mafia jahat. Aku mencoba berusaha untuk mengingatnya.
Pasword tembok ini ada enam digit. Tanggal lahir Dady, Momy dan kamu.
Seketika aku ingat ucapan Dady. Dengan cepat, aku memencet sebuah angka yang merupakan tanggal lahir ku, Dady dan Momy. Sementara bodyguard yang tadi meneriakki sudah hampir mendekat kearah kami.
Pintu terbuka otomatis, aku menyuruh Zakira terlebih dahulu untuk masuk lalu disusul dengan Jon dan terakhir aku. Saat itu juga bodyguard itu telah sampai dan aku langsung menutup pintunya hingga tersamar kembali oleh tembok.
"Thanks God." ujar Zakira.
"Kita akan kemana selanjutnya nak?" tanya Zakira.
Aku mengajak mereka berduka untuk berjalan terus hingga kita menemukan sebuah ruangan yang takkan diketahui siapapun. Aku mengotak-atik jam tanganku guna menyalakan senter yang ada di jam ini. Setelah sampai di depan sebuah pintu yang bercat putih. Aku pun membuka pintu tersebut, alangkah terkejutnya aku saat melihat kedua orang tuaku yang sedang bersembunyi disana. Kaki ku berlari kearah mereka dan langsung memeluk Momy. Aku menangis, begitu juga momy.
"Baby? Are you fine?" tanya Momy dengan menyentuh pipi ku.
"I'm fine mom, how about you mom?"
"Same like you, baby."
"Madrick, kamu tidak ada yang luka kan?" aku menoleh kearah Dady yang sama khawatirnya seperti momy.
__ADS_1
"It's okay, dad."
"Mom, Dad, berterima kasihlah pada Zakira dan Jon. Mereka yang telah mengantarkan ku pulang disaat aku tersesat di hutan." ujar ku. Momy dan Dady langsung menatap kearah Jon dan Zakira.
"Mama?" aku mengerutkan dahi ku, mama? Momy memanggil Zakira mama?
Momy langsung berdiri dan memeluk Zakira dengan erat. Begitu juga dengan Zakira, mereka berdua menangis dipelukan. Zakira mengurai pelukannya. Ia menghapus jejak air mata momy.
"Kau baik-baik saja kan nak? Momy sungguh mengkhawatirkan mu." ujar Zakira.
"Aku baik-baik saja, Ma."
"Papa?"
Momy pun bergantian langsung memeluk Jon. Setelah cukup lama berpelukan, Momy menatapku. Ia menyuruhku untuk mendekat kearahnya.
"Mad, ini orang tua momy. Maaf sebelumnya jika momy tidak bercerita tentang Grandma dan Grandpa mu. Ayo, panggil dia Grandma dan Grandpa." pinta Momy.
"Grandma? Grandpa?" ujarku sambil menatap Zakiran dan Jon bergantian.
"Ya, baby. Yes." ujar Grandma dan langsung memelukku.
Brakkkk brakkk.
Aku menoleh kearah pintu. Ada seseorang yang mencoba untuk mendobrak pintu.
"Hen, apakah mereka tahu persembunyian kita?" tanya Momy pada Dady
"Mungkin, kalian jangan ada yang berisik. Tetap disini." pinta Dady.
"Hen, mau kemana kau? Jangan bertindak bodoh, Hen."
"Tenanglah, baby. Aku akan segera kembali." setelah mengucapkan hal itu, Dady langsung mengecup bibir momy sekilas.
Dady pun langsung membuka pintu dan menembak seseorang yang berada dibalik pintu dengan pistol yang sudah ia pegang sedari tadi.
"Jon, ayo bantu Hendrick. Aku yakin, fisikmu masih kuat untuk bertarung. Ayo." pinta Grandma.
"Aku butuh senjata untuk itu."
"Ini Dad, ini pistol terbaru dan ini pelurunya. Didalam pistol itu sudah ada peluru, dan peluru ini untuk berjaga-jaga jika peluru didalam pistol itu habis." Momy menyerahkan pistol berukuran kecil namun elegan. Jika tak salah, aku pernah diajari Dady menembak menggunakan pistol itu, dan aku sedikit terpental saat aku menarik pelatuk nya.
Grandpa mengambil alih pistol itu dan mulai berjalan keluar menyusul Dady.
***
Hendrick sibuk dengan aksi tembak menembaknya. Bahkan ia mampu untuk menghindari peluru yang akan menembus dagingnya. Anak buahnya yang tadi menyerah, kini mulai bangkit saat melihat tuannya yang sedang berjuang menembaki anak buah mafia kejam. Anak buah Hendrick pun turut menembak dan menghantam para penjahat dengab tangan kosong.
Dorr dorr dorr
"Wohooo, asik sekali..." teriak Jon saat berhasil menembak lawan tepat sasaran.
"Dady?" Hendrick menoleh dan mendapati Jon yang sedang tersenyum senang.
"Aku menyukai pistol ku ini Hen. Aku merasa senang karena bisa menembak lagi."
Dorrr.
Hendrick menembak lawan yang berjalan mendekat kearahnya namun pandangannya tetap mengarah pada Jon.
"Sudah jangan khawatirkan aku. Meskipun aku sudah tua, tapi aku mampu untuk menghajar semua." ujar Jon dengan bangganya.
"Kita tak punya banyak waktu, Dad lihat mereka datang."
Dorrr
Dorrr
Dorrr
Hendrick menembaki lawan yang baru saja datang. Ia sempat mengumpat saat lawan bukannya berkurang namun justru malah bertambah.
"Hahaha, rasakan ini. Uhuuuu, kena kau." Jon menembaki lawan dengan tawa yang menggelegar. Ia merasa bangga dengan dirinya yang masih mampu memainkan pistol. Lawan didepan nya ia lumpuhkan kakinya hingga tak bisa lagi berjalan atau berdiri. Ini siasat Jon, jika tangan yang ia tembak, maka laki masih bisa berjalan untuk menyerang, tapi jika kaki yang ditembak, maka tidak bisa lagi berdiri ataupun berjalan.
TBC*
__ADS_1