
Dorrrr
"Akkhhh."
Mad meringis kesakitan saat seseorang telah menembak lengannya dan darah banyak yang keluar bercucuran. Mad menatap anak buah Xander yang menembak lengannya tadi. Walaupun lengannya tertembak, Mad tidak lengah sedikitpun. Pistol masih erat ia genggam dan tidak jatuh ke bawah.
"Tuan?" panggil anak buahnya yang terkejut saat melihat lengan tuannya tertembak.
Mad mengarahkan dagunya pada anak buah Xander. Anak buah Mad mengangguk, ia mengerti apa yang diperintahkan tuannya.
"Dengan lengan seperti itu, apakah kau masih lanjut?" ledek Xander dengan kekehan.
"Kau buta atau bagaimana? Aku memiliki dua tangan." balas Mad dengan tajam.
"Bagaimana jika kita lawan dengan tangan kosong tanpa senjata?" tawar Xander.
Mad tahu, ini adalah siasat Xander agar Mad kalah. Dengan lengan yang masih menanam peluru kecil dan darah yang keluar terus, kemungkinan kecil Mad akan mengalahkan Xander. Bukan ia takut ataupun lemah, ini efek panasnya peluru dan menyedot habis tenaganya
"Bodoh! Dunia semakin canggih, dan kau ingin adu jotos?" tanya Mad dengan senyuman devil nya.
"Satu hal yang ku ketahui. Ternyata kau mafia yang miskin akan senjata, dan mafia yang bodoh." sambungnya.
"Aku tak pernah cari gara-gara padamu. Berikan Olivya pad--"
"Shut fucking up. Urusan Olivya, juga menjadi urusanku. Kau mencari gara-gara pada gadisku, berarti kau juga cari masalah padaku. Apa yang kau inginkan dari Olivya, heh?"
"Aku yang membunuh seluruh keluarga Olivya. Dan aku sebagai mafia, tak ingin satupun korban ku lepas tanpa merasakan betapa sadisnya aku." balas Xander.
"Sudah ku duga. Langkahi dulu kematian ku, sebelum ingin menghabiskan nyawa gadisku." desis Mad dengan tajam dan tatapan yang mematikan.
Xander dan Ven secara bersamaan menodongkan pistol kearah wajah Mad. Mad tersenyum kecut, ia tak yakin jika ia akan mati hari ini, jadi ia tak merasa takut sedikitpun. Mad melihat jari Xander dan Ven yang sedang ingin menarik pelatuknya. Saat pelatuk itu siap ditarik, dengan gerakan gesit, Mad membalikkan arah tangan Ven dan Xander. Hingga wajah Ven terkena tembak oleh Xander, dan wajah Xander pun terkena tembak Ven.
Mad menyunggingkan senyumannya. Cukup mengeluarkan sedikit usaha, lawannya telah mati karena ulahnya sendiri.
"Tuan?" sapa Gaston yang baru saja datang.
"Suruh anak buah lainnya untuk mengurus mayat dua manusia busuk ini. Aku akan ke mobil untuk mengobati luka ku." ujar Mad sambil memegang lengannya. Telapak tangan satunya pun penuh dilumuri darah lukanya sendiri.
"Akan ku antar ke dokter tuan. Wajah tuan sangat pucat." ucap Gaston dengan khawatir. Pasalnya, luka Mad banyak sekali mengeluarkan darah dan wajahnya pun pucat.
"Tidak usah, aku bisa sendiri." tolak Mad.
Mad berjalan keluar markas, ia menuju mobilnya yang ia parkir tidak begitu jauh.
"Tuan Mad." Mad menoleh, ia melihat anak buahnya yang tadi memanggilnya dan berjalan bersama seorang dokter.
"Ada apa?" tanya Mad dengan wajah datar.
"Aku bawakan seorang dokter, aku tahu tuan pasti tidak ingin pergi ke rumah sakit."
Mad mengangguk, ia memerintahkan dokter itu untuk cepat mengeluarkan peluru yang berada di lengannya. Sang dokter pun mengangguk dan mulai mengeluarkan alat medis nya.
"Stop!" Mad menghentikan pergerakan dokter saat ingin menyuntiknya. Sang dokter mengangkat satu alisnya.
"Tidak usah di bius." ujar Mad dengan mantap.
"Tapi ini sangat menyakitkan."
"Tidak! Laksanakan saja apa yang aku perintahkan."
Dokter itu menghembuskan nafas dengan berat. Ia tak bisa membantah keras kepala milik Mad. Sang dokter memerintahkan Mad untuk melepas semua pakaiannya. Selain celana. Hingga, badan Mad terekspos. Dokter ini melihat luka pada lengan kekar milik Mad.
Mad menahan perih yang luar biasa. Saat sang dokter merogoh lubang bekas tembakan dengan sebuah alat. Keringat telah membasahi dahi dan sekujur tubuhnya.
"Shh, Arrghh." geram Mad. Ini benar-benar menyakitkan.
"Ini belum seberapa, apakah ingin ku bius?" tanya dokter ini. Ia merasa kasihan dengan Mad yang terus menahan rasa perih yang hebat.
"Tidak! Lanjutkan saja." titah Mad dan dokter itu melanjutkan aksinya.
Bukan karena apa Mad menolak untuk di bius. Jika di bius, Mad akan tertidur dan akan lupa untuk menjemput gadisnya. Ia sudah berjanji, bahwa ia yang menjemputnya. Ia lebih memikirkan Olivya Ketimbang dirinya. Ia berpikiran, jika Olivya nya akan direbut pria lain di kampus tempat Olivya berkuliah.
"Apakah masih lama?" tanya Mad dengan lemas. Tenaga nya benar-benar terkuras habis untuk menahan rasa perih yang luar biasa.
"Ahh, sudah." balas Dokter itu sambil menunjukkan sebuah peluru yang berhasil ia ambil kepada Mad.
***
Kringggg
__ADS_1
Suara bel pulang sudah berbunyi. Olivya memasukkan seluruh bukunya kedalam tas. Setelah selesai, Olivya mengambil ponselnya dan menelpon seseorang. Siapa lagi jika bukan Mad?
"Hey!"
Olivya terkejut, ia hampir saja melemparkan ponselnya. Olivya menoleh kearah seseorang yang menganggetinya tadi.
"Kau ini."
"Ku lihat, kau sedang asyik dengan ponselmu. Kenapa?" tanya Carson sambil melirik ponsel Olivya dengan sekilas.
"Aku sedang menelpon seseorang, untuk menjemput ku." balas Olivya yang masih berkutik dengan ponselnya. Bahkan, ia sudah mengirim banyak pesan terhadap Mad.
"Aku bisa mengantarmu pulang." tawar Carson.
"Ti-ti-tidak. Ya, tidak perlu." ucap Olivya dengan gugup.
"Kenapa kau gugup? Memangnya, kenapa?"
"Aku tidak boleh pulang dengan siapapun. Aku akan di jemput, jadi maaf."
"Okay, ayo." Carson menarik pergelangan tangan Olivya.
Olivya menahan kakinya.
"Kemana? Aku akan dijemput."
"Kita akan berjalan keluar bersama."
Olivya mengangguk. Mereka berdua berjalan sambil bersenda gurau. Banyak yang menatap iri kearah Olivya, khusus nya para wanita-wanita disini. Saat sudah sampai di parkiran, Carson menaiki mobil lamborghini berwarna birunya. Ia membuka kaca mobilnya.
"Aku pulang dulu ya. Dah." ujar Carson sambil melambaikan tangannya.
Olivya melambaikan tangannya balik sambil tersenyum. Setelah itu, Carson menjalankan mobilnya dan menghilang dari parkiran kampus.
"Eghmm." Olivya menoleh kearah seseorang yang sedang berdehem padanya.
Tiga orang cewek dengan pakaian yang sangat mini dan ketat. Pria berhidung belang, akan tertarik dengan penampilan ketiga wanita ini.
"Kau cewek baru disini?" tanya seorang wanita dengan pandangan remeh kearah Olivya.
Olivya hanya mengangguk dan tersenyum. Ia bahkan tak ada pikiran negatif soal ketiga cewek ini. Mungkin, ini awal Olivya akan memiliki seorang teman disini selain Carson.
"Kenapa begitu? Aku dan Carson hanya berteman biasa. Dia baik, aku menyukainya." balas Olivya.
"Kau tak tahu aku? Aku adalah Caryn. Pemilik hati seorang Carson Weber." ujar wanita ini yang bernama Caryn.
"Kau salah paham sepertinya, aku menyukai Carson hanya sebatas teman biasa. Tidak ada maksud lain."
"Bohong! Jelas-jelas kau terlihat akrab dengan Carson. Kau tau? Semenjak kehadiran mu disini, Carson mencampakkan ku dan melupakan ku begitu cepatnya." geram Caryn.
"Tidak, kau salah. Carson hanya teman bagiku, a-a-aku tidak merebut Carson darimu."
"Jauhi Carson, atau akan ku buat kau--"
"Apa?!"
Caryn menoleh kearah sumber suara. Olivya yang mengenali suara itu hanya diam sambil menunduk. Ia sangat tahu dan kenal siapa pemilik suara ini. Suara derap kaki terdengar begitu jelas mendekat kearahnya. Saat itu juga, suara itu derap kaki itu berhenti tepat disebelah Olivya.
Mad, pria itu menatap Caryn dengan tajam. Berani sekali wanita ini mengancam gadisnya. Selama ia bersama Olivya, sekata pun Mad tak pernah mengancam gadisnya.
"Tuan Mad?" gumam Caryn dengan raut wajah yang ketakutan. Siapa yang tak mengenal Mad? Mafia kejam ini hampir di kenal seluruh kota.
Olivya merasa takut dan malu. Entah apa yang akan ia terima besok ketika masuk kuliah lagi. Pada ketiga gadis ini akan menyebarkan berita yang tak benar akan faktanya.
"Katakan, kau akan mengancam apa pada gadisku, hm?" tanya Mad dengan pelan namun terkesan dingin.
"Gadis?" tanya temannya Caryn dengan pelan.
"Ti-ti-tidak tuan. Kau mungkin salah dengar. A-aku, tidak sedang mengancam." Caryn mencoba mengelak. Mad menatap Caryn dengan tatapan mengitimidasi.
"Sa-sa-saya pamit dulu." Caryn berlari menjauh dan diikuti dengan kedua temannya.
"Caryn, apakah kita tak salah lihat tadi?" tanya temannya. Mereka berhenti tepat di parkiran mobil Caryn.
"Ryn, Madrick terlihat jauh lebih tampan dan hot dari fotonya. Ya Tuhan, aku ingin meminta fotonya." ujar teman Caryn dengan rambut yang diikat satu Seperti ekor kuda.
"Yulia, apa yang kau katakan? Kau habis ditangan mafia kejam itu, baru tahu rasanya." ujar Poli-- Gadis yang paling dewasa diantara mereka.
"Ryn, apakah kau berpikir yang sama denganku?" tanya Poli pada Caryn.
__ADS_1
"Ya, gadis ingusan itu adalah pelacurnya si Mad." jawab Caryn.
"Aku tahu bagaimana merendahkan gadis ingusan itu di mata Carson." ujar Caryn dengan senyuman liciknya.
Olivya menoleh, ia menatap kearah Mad. Tepat pada manik matanya yang indah. Mad pun menatap manik mata Olivya balik. Olivya dapat melihat, kemarahan dari wajah si Mad. Ia tak berani bertanya, toh Mad akan mengatakannya sendiri.
"Masuk." ujar Mad dengan dingin. Bahkan, sangat dingin. Olivya pikir, Mad akan mengatakan alasan mengapa dirinya marah. Tetapi tidak, Mad justru menyuruhnya masuk kedalam mobil dengan nada dingin dan wajah datar.
Olivya mengangguk, ia tak ingin memancing lebih dalam kemarahan si Mad. Lebih baik, ia menuruti apa kemauan pria satu ini. Setelah Olivya masuk kedalam mobil, Mad menyusul nya dan duduk di bagian pengemudi.
"Gunakan sabuk pengamannya." titah Mad tanpa melihat Olivya sedikitpun.
Lagi-lagi Olivya hanya menuruti apa yang dikatakan Mad. Ia memakai sabuk pengamannya, begitu juga dengan Mad. Olivya menyadari satu hal, wajah Mad terlihat sangat pucat dan seperti menahan rasa sakit. Tapi rasa sakit apa? Olivya tak mengetahui. Justru yang sedang kesakitan adalah dirinya. Soal kejadian semalam, dimana ia kehilangan masa depannya.
Mad melajukan mobil nya dengan kecepatan diatas rata-rata. Jalan tidak sepi dan tidak ramai, bahkan Mad menyalip atau melanggar lalu lintas yang ada. Olivya memegang sabuk pengamannya dengan erat saat Mad menambah laju kecepatan dan menerobos lampu merah.
"Mad, kau..."
Ucapan Olivya terpotong saat mendengar suara sirine mobil polisi. Ia menoleh kebelakang, ada dua mobil polisi yang sedang mengejar mobil Mad.
"Mad, ada polisi. Pelan kan lajunya." ucap Olivya dengan ketakutan.
Bukannya mengurangi kecepatan, Mad justru menambah lajunya. Saat ada sebuah belokan, Mad membelokkan mobilnya tanpa mengerem sedikitpun, bahkan suara decitan roda pun terdengar.
"Mad.." gumam Olivya. Seketika, suara sirine mobil sudah tidak lagi terdengar.
Citttttt
Olivya hampir saja terbentuk dasbor mobil yang berada di depannya. Untung saja ia memakai sabuk pengaman. Olivya menoleh kearah Mad. Wajahnya masih datar dan dingin menatap kearah depan.
"Mad?" panggil Olivya.
Masih diam. Mad masih diam. Aneh, kesalahan apa yang Olivya perbuat hingga membuat Mad marah.
"Mad--"
Olivya terkejut saat Mad langsung menancap gasnya dengan kecepatan tinggi. Rasanya, Olivya ingin berteriak sekarang.
***
Saat sudah tiba di mansion, Mad menyeret Olivya menuju kamarnya. Olivya hendak memberontak, karena Mad menyeretnya dengan paksa dan kasar. Olivya tak menyukai hal-hal kekerasan.
Mad mendorong tubuh Olivya masuk ke kamarnya. Ia mengunci pintunya.
"Apa yang kau lakukan dengan pria itu?" tanya Mad dengan pelan namun terdengar tajam.
"Mad, siapa? Siapa yang kau maksud? A-aku, aku tak mendekati siapapun." ujar Olivya.
"Bohong! Siapa pria itu hah?!" bentak Mad.
Mad mendapatkan laporan dari anak buahnya, jika Olivya selama di kampus berdekatan dengan seorang pria muda. Yang tak lain adalah Carson. Hal itu membuat api cemburu Mad menyala. Patut ia marah, Olivya telah berjanji padanya untuk tidak mendekati pria manapun. Tapi ia merasa di khianati. Oh ayolah Mad, hanya masalah sepeleh. Bukan hal yang serius. Seseorang berteman siapapun itu wajar. Kaya atau miskin, cantik atau jelek, tampan atau buluk, laki atau cewek. Itu wajar.
"Di-di-dia Carson."
"Kau sudah berjanji bukan jika tidak mendekati siapapun?" tanya Mad.
Olivya mengangguk.
"Lalu kenapa kau mendekati pria itu hah?!"
Keobsesian Mad terhadap Olivya sudah melampaui batas wajar. Dimana si Mad sangat takut jika kehilangan seorang Olivya.
"Argh, pembohong!"
Pyarrrr
Mad memukul guci besar yang berada disampingnya hingga pecah. Olivya terkejut, ia memejamkan matanya. Mad benar-benar marah. Olivya tak menyangka, segini besar pengaruh nya bagi Mad.
Olivya membuka matanya, ia melihat lengan baju Mad yang basah. Dengan ragu, Olivya menyentuh lengah Mad. Ia terkejut saat melihat jarinya yang dilumuri darah seusai menyentuh lengan Mad.
"Mad, lengan mu..." ujar Olivya yang tak berani ia teruskan.
Mad menatap lengannya, ia yakin, jahitannya yang belum kering pasti membuka lagi. Mad membuka pintu dan keluar, tak lupa ia menutup pintu dengan gebrakan.
Olivya memegang kepalanya yang pusing dengan tingkah Mad yang aneh. Mungkin, ia harus akan terbiasa dengan perilaku si Mad.
"Keras kepala." gumam Olivya.
TBC
__ADS_1