My Dangerous Mafia

My Dangerous Mafia
What Happend With Olivya?


__ADS_3

Olivya turun dari dalam mobil. Ia sengaja meninggalkan kantong belanjaan jajannya di mobil, agar Mad yang membawanya. Kakinya melangkah masuk kedalam mansion. Ia melihat Berta yang sedang mengelap meja dan berniat untuk menyusulnya.


Tanpa di duga, Olivya langsung memeluk Berta dengan sangat erat. Berta pun terkejut, ia tak tahu apa yang terjadi pada gadis satu ini.


"Berta!!!! Hari ini adalah hari yang begitu menyenangkan untukku." teriak Olivya sambil sedikit mengguncang tubuh Berta yang masih ia rangkul.


"Nona, saya kotor. Nanti baju nona ikut kotor." ujar Berta yang merasa tak enak.


"Tidak penting itu, Berta." balas Olivya.


Sedetik kemudian, Olivya melepaskan rangkulannya pada Berta.


"Boleh aku tahu, kenapa gadis cantik ini sangat bergembira?" tanya Berta.


Olivya mengajak Berta untuk duduk dan menceritakan segalanya yang ia lewati hari ini. Hari dimana ia merasa hidupnya lengkap. Pertanyaan-pertanyaan yang meliputi otaknya, sudah terjawab. Semua ketidaktahuannya, sudah terbukti.


"Wah... Tuan Mad memang pria yang sangat baik. Selain ia mencintaimu, ia juga melindungimu dengan separuh nafas yang ia punya." ujar Berta setelah mendengarkan semua cerita dari Olivya.


Olivya mengangguk sambil tersenyum lebar, "Ya. That's right."


"Huh! Dimana gadis itu?" Olivya dan Berta menoleh kearah sumber suara. Saat Mad berjalan mendekat, Berta spontan berdiri dan pamit untuk pergi.


"Kenapa?" tanya Olivya saat melihat tatapan jengkel dari Mad yang ditunjukkan padanya.


"Aku ini pengawal mu atau kekasihmu? Disuruh bawa kantong plastik lagi." gerutu Mad sambil meletakkan kantong plastik berisi jajan itu diatas meja ruang tamu.


"Boleh juga tuh jadi pahlawan." gumam Olivya.


"Sini kau."


Mad mengangkat tubuh kecil Olivya dan digendongnya seperti karung beras. Olivya memberontak untuk diturunkan, ia memukul-mukul punggung Mad sambil mengayunkan kedua kakinya.


Ide jahil pun muncul, Mad berputar dengan cukup kencang agar gadis yang ia gendong ini ketakutan. Olivya berteriak sekeras mungkin untuk di turunkan.


"Hahhhhh!!!! Mad!!!!! Huaaaaaa!!!!" teriak Olivya dengan sangat nyaring saat Mad mulai naik diatas meja dan melompat kebawah.


"Heh, apa-apaan ini? Mad, turunkan dia."


Zakira yang baru saja datang saat mendengar suara teriakan yang sangat nyaring. Ia melihat adegan yang sangat membuatnya takut. Bagaimana jika Olivya jatuh dan terjadi hal yang begitu fatal?


Mad menuruti ucapan Zakira, ia menurunkan tubuh Olivya. Mad menahan tawa saat melihat rambut acak-acakan Olivya sambil berdiri yang tak sepenuhnya tegak. Kepala Olivya masih pusing karena Mad berputar-putar tadi.


"Grandma, di-dia. Dia ingin membunuhku." ujar Olivya dengan suara sedikit lemah.


"Mad, kamu tahu kan jika tadi yang kamu lakukan bisa terjadi hal fatal?" tanya Zakira pada cucunya yang memasang tampang tak berdosa.


"I know. Tapi aku nggak bermaksud membunuh kekasihku sendiri." balasnya dengan tenang.


"Kau tak apa, sayang?" tanya Zakira pada Olivya.


Olivya memegang perutnya dan seperti ini muntah. Setelah itu, ia memuntahkan apa yang ia makan tadi. Mad terlihat khawatir, wajah Olivya terlihat sedikit pucat. Ia sama sekali tak berpikir jika hal yang ia lakukan sebagai candaan tadi, berakibat seperti ini pada gadisnya.


"Vya? Kau tak apa?" tanya Mad sambil menangkup wajah Olivya dengan kedua telapak tangannya.


Zakira ikut khawatir, ia melenggang pergi untuk menelpon seorang dokter.


Menit berikutnya, Olivya pingsan dan Mad langsung menangkap tubuh Olivya agar tidak terjatuh kebawah. Ia membopong tubuh gadisnya menuju lantai atas.


Saat sudah sampai di kamar, Mad menggosok kedua tangan tangan gadisnya dengan telapak tangannya yang besar. Raut kesedihan dan rasa penyesalan, begitu kentara pada wajah Mad. Apa seburuk ini akibatnya tadi?


Tiba-tiba seseorang masuk, Jon dan Armon. Armon tampak khawatir, ia langsung duduk disebelah putrinya sambil mengelus puncak kepala Olivya dengan sangat lembut.


"Apa yang terjadi? Aku mendapat info jika putriku muntah-muntah dan pingsan." tanya Armon sambil menatap Mad.


"Saya tadi bercanda dengan Olivya, bermain putar-putaran. Tapi entah kenapa dia langsung mual-mual." balas Mad tanpa raut wajah ketakutan terhadap Armon.


Armon menggelengkan kepalanya, ia tak sepenuhnya menyalahkan Mad. Ini sebuah kecelakaan kecil, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan.


Sang dokter pun masuk, Armon menggeser tubuhnya untuk memberikan sang dokter ruang. Dokter benar-benar memeriksa tubuh Olivya dengan sangat detail. Kenapa tidak? Tatapan Mad yang tajam, membuat Dokter berhati-hati dalam melakukan pemeriksaan.


"Bagaimana?" tanya Mad dengan wajah datar. Wajah yang sangat pintar menutupi segala emosi dalam bentuk apapun.


"Gadis ini hamil. Ia bisa saja mengalami pusing hanya karena hal sensitif. Seperti pusing, kelelahan, atau sakit perut." ujar sang dokter.


Dalam hati Mad sangat terkejut. Tapi sebisa mungkin ia menutupinya agar tak begitu kentara. Jon dan Armon pun turut terkejut.


"Saya akan kasih obat jika sewaktu-waktu ia sakit perut atau pusing. Ingat, sakit perut saja bisa membuat dirinya pingsan, apalagi nanti pas lahiran? Maka itu, jangan membiarkan gadis ini kelelahan sedikitpun." sambung sang dokter sambil memberikan resep obat kepada Mad.


Dokter pamit pergi dengan diantar oleh Jon.


"Tebus obat ini. Suruh pengawal jika kau lelah. Kau boleh istirahat, tanya Berta untuk letak kamar mu." ujar Mad pada Armon.

__ADS_1


Armon mengangguk dan mengambil alih resep obat.


"Nak, apa kata dokter tadi?" tanya Zakira yang baru saja datang.


"She's pregnant." balas Mad.


Zakira menutup mulut, terkejut. Ia tak percaya ini. Gadis berusia tujuh belas tahun sedang mengandung. Bukan masalah besar bagi dirinya. Tapi, ia merasa kasihan dengan gadis kecil ini yang harus mengurus seorang bayi nantinya.


"Kau membuatnya hamil?" tanya Zakira pada Mad.


"Bukan keinginanku, ini sebuah hal yang tidak kami sengaja."


Zakira mengangguk, ia berpamit untuk pergi ke dapur, melanjutkan masak makan malamnya.


Mad memegang tangan Olivya. Air matanya menetes dari pelupuk matanya. Entah kenapa, berita soal kehamilan gadisnya ini, mampu membuatnya meneteskan air mata. Bukan air mata kesedihan, namun air mata kebahagiaan. Olivya, gadis itu mewujudkan mimpinya untuk meminang seorang bayi.


"Thank you, babe. Thank you. Aku akan terus menjagamu." bisik Mad sambil mencium bibir ranum Olivya.


"Mad?"


"Kamu sudah bangun? Bagaimana? Masih pusing?" tanya Mad.


Olivya menggeleng, "Kamu kenapa nangis?" tanya Olivya sambil memegang pipi Mad yang terdapat sisa air mata.


"Really? I cry?"


"Ish, Mad. Kau habis menangis. Ada apa?"


Mad menggenggam tangan Olivya yang tadi memegang pipinya. Ia mengecup telapak tangan gadisnya berkali-kali.


"Thank you, Vya. Thank you." gumam Mad.


Olivya mengerutkan keningnya, "Soal apa?"


"You give me, little baby."


"Bayi? Mana?"


"In here." ujar Mad sambil memegang perut Olivya yang masih datar. Olivya pun reflek ikut memegang perutnya yang datar.


"Aku?? A-a-aku, aku hamil?" tanya Olivya.


Mad mengangguk. Lengkungan dibibirnya terbentuk dengan sangat lebar. Olivya turut ikut meneteskan air matanya.


"Kau akan tidur disini?"


"Tidak, kau yang akan tidur dikamarku. Agar aku bisa lebih leluasa memantau mu dan calon anakku."


Olivya mengangguk patuh, ia masih tak bisa berkata-kata lagi. Hari ini begitu spesial baginya. Lengkap sudah hidup yang ia dambakan. Ada seorang Ayah walaupun tak ada seorang Ibu, ada sebuah keluarga yang mencintainya, dan seorang lelaki pendamping hidup yang begitu menyayangi nya. Sekarang, hadirlah sosok peri kecil di perutnya.


"Aku akan membesarkan dia sepenuh hati dan jiwa ku." gumam Olivya sambil menyibakkan bajunya dan mengelus perutnya.


"Bukan hanya kau, tapi aku juga. Kita akan sama-sama merawat dia layaknya seorang pangeran." timpal Mad.


***


Mad menuntun Olivya untuk turun kebawah. Olivya terkekeh dan sempat menolak saat Mad merengkuhnya dengan begitu posesif.


"Mad, usia kandunganku masih beberapa hari bukan hamil besar." ujar Olivya.


"Ct, diamlah. Jika kau dan calon anakku terluka bagaimana? Ditambah kau sangat bandel." balas Mad.


Olivya hanya diam. Saat sudah sampai diruang makan untuk makan malam, ia melihat ada Zakira, Jon dan Ayahnya yang sedang duduk manis disana. Mereka sedang menunggu kedua pasangan ini untuk turun dan makan malam bersama.


"Maafkan aku, Grandma. Aku tak bisa membantumu masak makan malam." ujar Olivya dengan raut wajah penyesalan.


"Tak apa. Disini banyak maid, jadi aku tak sendiri." balas Zakira dengan lembut.


"Besok aku akan membantumu membuatkan sarapan." ucap Olivya.


"Big no!! Apa-apaan kau, Vya? Kau sedang hamil. Jangan banyak gerak dan tetaplah istirahat." sahut Mad tak terima.


"Hei, usia kandungan ku masih kecil. Jadi tak apa jika aku membantu hal ringan di dapur."


"Tidak!! Sekali aku bilang tidak, akan seterusnya tidak!!" balas Mad, "Lagian, apa gunanya aku mempunya puluhan maid disini jika tidak untuk melayanimu?" sambungnya.


"Uhhhh, makasih sayang." Olivya mencubit pipi Mad dengan gemas. Gemas akan semua ke possesifannya.


"Kalian tidak akan membiarkan aku mati kelaparan kan?" tanya Jon sambil menatap Olivya dan Mad secara bergantian.


Olivya memilih duduk disebelah Armon dan Mad duduk disebelah Olivya. Gadis itu diampit oleh dua orang yang sangat ia cintai dan sayangi selama ia dunia.

__ADS_1


"Tidak akan Grandpa. Ayo makan." balas Olivya.


Suasana meja makan menjadi hening. Hanya terdengar suara dentingan sendok yang beradu. Jikalau sedang makan, alangkah baiknya jika tidak berbicara, bukan? Itulah yang diterapkan Olivya dari Ayahnya sejak kecil.


Setelah selesai makan, para maid membereskan meja makan.


"Kalian mau mencoba puding buatan ku?" tanya Zakira yang sangat antusias untuk menawarkan puding buatannya.


"Of course, Grandma." sahut Olivya dengan bersemangat.


"Tunggu sebentar, saya ambilkan."


Zakira beranjak dari duduknya dan pergi menuju kulkas untuk mengambil puding hasil buatannya.


"Ini dia..." seru Zakira sambil membawa dua piring besar berisi puding coklat dan greentea.


Olivya tampak bersemangat. Ia mengambil piring berukuran kecil dan meminta Zakira untuk mengisi piring kecilnya itu dengan potongan puding rasa coklat. Setelah dapat yang ia inginkan, Olivya segera menyantapnya.


Satu suap telah masuk kedalam mulutnya.


Aneh, tidak seperti biasanya ia merasa ingin mual. Dan sejak kapan rasa coklat menjadi sedikit pahit? Ia yang tak kuat untuk menahannya, segera memuntahkannya diatas lantai. Mad yang melihat itu pun langsung bergegas mengurut tengkuk Olivya.


"Kamu kenapa?" tanya Mad.


Olivya mengambil tisu dan mengusap mulutnya. "Aku tidak tahu. Entah kenapa puding rasa coklat itu sangat pahit." balas Olivya.


Jon memakan satu suap sendok kecil berisi puding kedalam mulutnya dan mengecapnya. Begitu juga dengan Armon. Ia memastikan jika ucapan Olivya benar.


"Tidak pahit." seru Jon.


Armon mengangguk, "Iya tidak pahit." sambung Armon.


Zakira menghembuskan nafasnya. "Mungkin efek dari kehamilan Olivya yang sensitif terhadap coklat." ujarnya.


"Baiklah, aku akan membawa dia ke kamar." sahut Mad sambil membopong tubuh Olivya yang lemas karena usai memuntahkan semua makanannya.


Saat sampai di kamarnya, Mad membaringkan tubuh Olivya diatas ranjang.


"Mad, aku lapar lagi." lirih Olivya.


"Tunggu sebentar. Aku akan mengambilkan mu sup bubur."


"Tetap disini." pinta Olivya.


Mad menghembuskan nafasnya dengan berat. Selain sensitif terhadap coklat, ternyata gadisnya ini sangat manja padanya saat hamil. Sesuai permintaan gadisnya untuk tetap bersamanya, alhasil Mad menyuruh maid melalui telepon rumah untuk mengantarkan sup bubur ayam.


"Mad, bawa Chokie kemari." rengek Olivya.


Mad mengerutkan dahinya. Tentu kalian tahu siapa itu Chokie. Yaps, seekor macan besar milik Mad.


Mad POV On


Aku mengusap wajahku. Kehamilan gadisku baru dihitung beberapa hari tapi ia sudah meminta yang tidak masuk akal. Jika dulu Olivya sedikit takut dengan si macan, tapi kenapa dia meminta Chokie untuk kemari? Ke kamarku pula.


Melihat wajahnya yang memelas, mau tak mau aku harus menuruti keinginannya itu. Aku menelpon Gaston untuk membawakan Chokie kemari.


Lama menunggu, akhirnya seseorang mengetuk pintu. Aku segera membuka pintu dan ternyata Berta datang dengan membawa nampan berisi sup bubur. Ku ambil alih nampan itu dan kembali menutup pintu. Saat berbalik badan, entah sejak kapan gadis ini berubah menjadi posisi duduk dan memancar kan sebuah senyuman.


Aku sedikit takut akan perubahan dari gadis ini. Tidak ada hujan, petir, atau salju, tapi Olivya ku ini mengembangkan sebuah senyuman. Aku jadi takut jika kerasukan sebuah boneka yang tengah tersenyum lebar.


"Kau--kau, kau oke kan?" tanya ku memastikan.


"Yah, kenapa?" tanya Olivya yang masih tidak menyurutkan senyumannya.


"Jangan tersenyum terlalu lebar begitu. Lebih terkesan kerasukan boneka daripada manisnya." ujarku. Bukan aku tak mau jika Olivya tersenyum padaku. Tapi aku merasa aneh saja.


Kulihat wajahnya yang berubah cemberut. Apakah ada yang salah dengan ucapan ku? Kenapa wajahnya cepat sekali berubah. Jika tadi merengek, tersenyum ala kerasukan boneka, dan kini cemberut bagai mulut bebek.


"Kau jahat, Mad. Aku membencimu." ucapnya.


Tunggu sebentar, aku baru sadar jika sejak tadi aku berdiri terus dengan membawa sebuah nampan. Kaki ini melangkah mendekat kearah gadis yang tengah cemberut. Aku meletakkan nampan itu diatas nakas dan mulai membujuk dan meminta maaf. Aku dengar-dengar, jika seorang wanita hamil sedang marah ataupun cemberut, maka akan susah dibujuk ataupun dirayu.


Tapi, tak sulit bagiku untuk meluluhkan hati gadis ini. Dengan bujukan sebuah kata-kata manis, Olivya menjadi terbawa perasaan.


Aku mulai menyuapi wanita hamil ini dengan secara perlahan. Tak lama, ada sebuah ketukan.


"Masuk." ucapku yang menjadi sebuah sandi voice yang dapat digunakan khusus suaraku dan Olivya.


Masuklah Gaston dengan menggiring seekor macam besar yang merupakan kesayanganku. Sebenarnya ada tiga macan, tapi aku lebih memprioritaskan ke Chokie.


Olivya merentangkan kedua tangannya untuk menyambut kedatangan Chokie. Hal yang membuatku menahan tawa adalah, Chokie datang padaku dan mengeluskan kepalanya di lenganku.

__ADS_1


"CHOKIEEEEEE!!!!!!!"


TBC


__ADS_2