My Dangerous Mafia

My Dangerous Mafia
Putri Kembar Gaston


__ADS_3

Teman-teman, ini aku selesai nulis langsung publis. Jadi kalo ada typo mohon maklum ya..


Happy Reading


++++++


Werson sedang berjalan malas menuju garasi mobilnya. Lagi-lagi Xander memerintahkan dirinya untuk bergerak cepat.


"Dasar pria tua, bisanya menyuruh saja." gerutu Werson sambil membuka pintu mobilnya.


"Huh.." Werson membuang nafasnya dengan malas, tak menunggu lama Werson menyalakan mesin mobilnya dan mulai menjalankan mobilnya. "Harus dimana lagi aku mencari?" tanya Werson yang sedari tadi menjalankan mobilnya tak tentu arah. Werson menghentikan mobilnya. Ide licik mulai keluar dari benaknya. Secepat kilat, Werson meraih ponselnya dan mulai menelpon seseorang.


"Halo?" ucap Werson mendahului.


"...."


"saya punya tugas untukmu"


"...."


"Jadilah pembantu dirumah Madrick Vallencio"


"....."


"Soal gaji, tak perlu ditanya. Laksanakan dengan sebaik mungkin. Jangan menimbulkan kecurigaan pada Mad."


"....."


"Selamat bekerja"


Werson tersenyum ala devil. Baginya, tak sulit untuk memerintahkan orang lain. Tawaran uang yang melimpah dan juga ancaman, selalu menjadi prioritasnya. "Jika ada yang mudah, mengapa harus yang sulit?" gumam Werson lalu menjalankan mobilnya.


× × ×


Verlyn berjalan menyusuri kampusnya. Dengan langkah malas, Verlyn memasuki ruang kelasnya. Ia sengaja datang pagi-pagi sekali karena tak ingin bertemu dengan anggota bullying yang sangat menyebalkan. Verlyn melempar tasnya diatas meja dengan asal. Ia menghembuskan nafas dengan berat.


Brakkkk


Verlyn memutar bola matanya dengan malas. Ia tahu, siapa pemilik ulah suara gebrakan itu.


"Ups, sudah datang pagi ternyata dia." Verlyn mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan Renzo yang merupakan ketua Genk bully itu.


"How are you, honey?" tanya Renzo sambil memegang dagus Verlyn. Dengan kasar, Verlyn menepis tangan Renzo dari dagunya.


"I want your gone." balas Verlyn dengan tajam


"Today, you looked so beautiful." Verlyn menatap tajam Renzo yang berada didepannya.


"Tapi bohong, bwahahahhaaha." tawa keras Renzo, membuat semua anggota genknya ikut tertawa.


"Follow me." Renzo menarik tangan Verlyn dengan kasar.


"Lepaskan!" Verlyn mencoba memberontak, namun kekuatan Renzo tak sebanding dengannya.


"Please, lepaskan!" lirih Verlyn dengan lemah.


Renzo membawa Verlyn kedalam kamar mandi. Renzo mengunci pintu kamar mandinya. Verlyn melangkah mundur saat tatapan Renzo mulai nakal mengabsen bentuk lekuk tubuhnya. "You still virgin, honey?" tanya Renzo dengan seringaian.


"Jangan berani menyentuhku." teriak Verlyn.


"Hahah, siapa juga yang ingin menyentuhmu. Dada kecil, body lurus. Nggak ada nafsu sama sekali." ledek Renzo.


"Biarkan aku pergi." Verlyn mulai menggapai knop pintu kamar mandi. Namun dengan gerakan cepat, Renzo menarik tangan Verlyn hingga Verlyn terbentur pada dada bidang Renzo.


"Jangan pernah pergi dariku." bisik Renzo tepat didepan telinga Verlyn.


"Lepasin!" Verlyn mencoba memberontak dengan mendorong dada bidang Renzo, membuat Renzo mundur beberapa langkah. Verlyn membuka pintu kamar mandi dan berhasil. Verlyn berlari keluar kamar mandi. Banyak sekali mahasiswa dan mahasiswi yang menyaksikannya keluar dari kamar mandi. Verlyn menyerobot segerombolan mahasiswa dan mahasiswi itu yang sedang meneriakinya dan juga mereka dirinya. Ia merasa hancur dan sangat hancur. Ia malu, anggapannya sekolah diluar negeri hanya ingin menambah ilmu lebih luas. Bukan mencermarkan namanya hingga luas.


Brak


Verlyn menangis sesenggukan dengan posisi yang terduduk. Tak sengaja ia menabrak seseorang.


Byurrr


Verlyn mendongak saat kepalanya diguyur oleh jus tomat. Minuman yang paling Verlyn benci baunya dan entah salah apa dia, kini ia kena guyuran minuman itu.


"What the ****, how are you doing?" benak Verlyn dengan kencang. kesabarannya sudah habis.


"Wow, sudah berani berkata kasar rupanya." balas Violin yang merupakan anggota Genk bullying Renzo.


Verlyn, hendak menampar Violin namun dengan sigap, Violin menangkap tangan Verlyn dan berbalik menampar pipi Verlyn dengan sangat kencang hingga menimbulkan memar kebiruan dipipi Verlyn. Violin menjambak rambut Violin dengan keras.


"You're bitch" ujar Violin tepat didepan muka Verlyn.


"VIOLIN!!" suara bentakan yang keras membuat Violin melepaskan jambakannya pada rambut Verlyn.

__ADS_1


Verlyn menatap seorang pria paruhbaya yang sangat ia kenali.


"Gaston?" tanya Verlyn dengan pelan. Ya, pria itu adalah Gaston, yang merupakan tangan kanan seorang Madrick Vallencio.


"Dady?" guman Violin. Verlyn menatap Violin dengan bingung. Dady? apa maksudnya?


"What are doing with your sister?" Verlyn melebarkan kedua matany tanda terkejut.


"Sister?" tanya Verlyn dengan pelan.


"What do you mean Dady? she's not my sister. she's other people" balas Violin. Ia tak mau menerima fakta bahwa Verlyn adalah saudara perempuannya.


"Apa maksudmu, uncle?" tanya Verlyn pada Gaston.


"Kamu adalah putriku. Verlyn Jordaness Ningsih. Aku adalah Dady mu, Gaston Jordaness."


"Kamu bohong." ujar Verlyn. Ia juga sama dengan Violin, tidak bisa menerima kenyataan.


"Aku tak berbohong. Aku Gaston Jordaness, mantan suami Siska Ningsih. Kalian adalah saudara kembar. Dan Violin, inilah saudara kembarmu yang kau cari-cari selama belasan tahun. Kalian berdua sempat mengalami amnesia karena mencoba bunuh diri dan untungnya kalian semua tertolong. Setelah kalian sembuh, Dady memutuskan untuk membawa Violin ke Italy dan Verlyn tetap diasuh oleh Siska." Seketika, Violin dan Verlyn saling menatap. Tanpa mereka sadari, Mereka tersenyum. Violin melihat adiknya yang selama belasan tahun ia cari kini ada didepannya, Adiknya yang ia rindukan ternyata korban bullying-nya.


"Verlyn? That's you? My sister? My twins?" tanya Violin dengan airmata yang sudah melolos dipipinya.


"Ak-aku? Aku kembaranmu? Apakah itu benar?" tanya Verlyn setengah tak percaya.


"Iya nak, Violin adalah saudari kandungmu." ucap Gaston.


Verlyn memeluk tubuh Violin. Violin pun membalas pelukan Verlyn tak kalah eratnya. Verlyn mengurai pelukannya. Ia menghapus airmatanya yang sudah melolos.


"Violin, kenapa kau tak mengatakan yang sebenarnya padaku?" tanya Verlyn.


"Jikapun aku tahu, aku takkan membiarkanmu dibully oleh teman-temanku." balas Violin. Sedetik kemudian, Violin menundukkan kepalanya.


"Maafkan aku Verlyn. Aku telah membuat hidupmu menjadi suram, aku telah membullymu hingga kau stress. Maafkan aku Verlyn, aku benar-benar menyesal." ucap Violin dengan lirih. Ia tak berani menatap mata kembarannya, ia merasa malu dengan apa yang selama ini ia perbuat pada kembarannya.


"Tak apa Violin. Aku akui, memang aku sedikit stress dan syok. Karena pembullyan ini, aku yang tak pernah masuk ke club malam sekarang aku harus bolak-balik ke Club hanya untuk menghilangkan stres. Tapi tak apa, aku memaafkanmu." balas Verlyn. Violin Mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan manik mata hitam milik Verlyn.


Violin memeluk Verlyn dengan sangat erat. Ia menangis diperlukan Verlyn.


"Manusia seperti aku, tak pantas mendapatkan maaf darimu." ucap Violin.


Gaston memperhatikan putri-putrinya yang sedang melepas rindu. Gaston ikutan terharu. Tanpa sadar, airmatanya jatuh dari pelupuk matanya.


"Lihat Siska. Putrimu kembali bersama." gumam Gaston dengan menyebut nama mantan istrinya.


"Violin!!"


"Kenapa kau berpelukan dengan gadis Nerd ini." tanya Agnes dengan mimik wajah yang jijik.


"Stop memanggilnya nerd. She's my twin." balas Violin.


"Wow, ternyata kau kembarannya si gadis menjijikkan ini." sahut Damin.


"Berhenti kalian mengejek putriku. Atau kalian tau akibatnya." bentak Gaston dengan menjadi temeng untuk putrinya.


"Maafkan pak tua. Memang putri anda adalah putri yang menjijikkan." balas Damin.


Buk


Gaston memukul pelipis Damin hingga membuat Damin tumbang.


"Jangan ganggu putriku, atau kalian akan tahu akibatnya." desis Gaston dan langsung menarik kedua tangan putrinya untuk pergi.


"Dad, bagaimana dengan kuliahku?" tanya Verlyn.


"Akan aku izinkan pada dosenmu." balas Gaston.


Gaston, Verlyn dan Violin duduk dikursi penumpang. Gaston sebenarnya ingin duduk depan disebalah supir, namun Verlyn tak membolehkannya. Alhasil, mereka duduk bertiga dikursi penumpang bagian belakang. Untung saja kursi nya lumayan lebar.


"Dad, aku mau menanyakan sesuatu." tanya Verlyn sambil menatap kearah luar jendela.


"Katakan" balas Gaston.


Verlyn menghebuskan nafasnya.


"Jika Dady tahu aku adalah putrimu, kenapa waktu itu Dady menggeretku untuk disetubuhi dengan Mad?" tanya Verlyn.


"What's?" tanya Violin dengan terkejut.


"Apakah itu benar Dad? Kenapa kau Setega itu dengan putrimu sendiri?" tanya Violin.


"Saat itu, Dady belum tau bahwa kau adalah putri Dady. Keajaiban Tuhan, Mad tidak menyetubuhimu. Setelah Dady berpikir lama, Dady baru tahu kalau namamu adalah Verlyn dari salah satu pembantu. Saat itu juga, Dadi curiga. Kenapa namamu mirip dengan nama Putriku yang. Dady pun mencari tahu data tentangmu. Dan ternyata benar, kau adalah putriku." ucap Gaston panjang lebar.


"Kau tahu dad? Mama memberitahuku, bahwa aku tak memiliki seorang ayah. Dan itu membuatku hingga jatuh sakit selama beberapa hari. Mama bilang, bahwa Dady bersetubuh dengan seorang jalang" ujar Verlyn dengan lirih.


"Apakah itu benar Dad?" kali ini Violin yang bersuara.

__ADS_1


"Yes, its true." balas Gaston dengan pelan.


"Kenapa kau lakukan itu dad? Aku disini seakan-akan tak tahu siapa ibuku, aku dilahirkan siapa?. Aku tak ingat segalanya. Tapi kenapa Dady tak memberitahuku jika ibu kandungku masih hidup?" seru Violin. Wajahnya memerah menahan amarah yang ingin meludak.


"Violin tenanglah. Ini memang salah Dady. Dady melakukan hal itu benar-benar dalam keadaan terpengaruh alkohol. Jauh dalam lubuk hati Dady, Dady sama sekali tak ingin pisah dengan ibu kalian. Tapi ibu kalian keras kepala dan tak mau mendengarkan penjelasan dari Dady." ujar Gaston.


"Jika aku jadi Mama, akupun akan tetap minta pisah. Dady benar-benar melakukan hal yang sangat menjijikan." sahut Violin.


"Maafkan Dady. Dady tahu Dady salah, tapi please, jangan membenci Dady. Mau bagaimanapun, Dady tetap mencintai kalian." lirih Gaston.


"Dad. Don't cry, dad. I'm sorry." ucap Verlyn sambil merangkul Dady-nya.


"Kalian berdua adalah emas untuk Dady. Kalian putri kecil Dady." Gaston mencium puncak kepala kedua putrinya.


×××


Madrick memasuki perusahaannya dengan langkah panjangnya. Semenjak ada Olivya dimansionnya, Mad lupa dengan posisinya yang juga sebagai CEO. Madrick memasukki lift khusus untuk dirinya. Ia memencet tombol lantai paling atas, yaitu ruang kerjanya.


Madrick keluar dari dalam lift. Ia membuka pintu ruang kerjanya. Banyak sekali berkas yang menumpuk diatas meja kerjanya. Mad membanting bokongnya pada kursi kebesarannya. Mad melihat jam yang melingkar pada pergelangan tangannya. Menunjukkan pukul dua belas siang. Madrick menghebuskan nafasnya dengan gusar. Ia mengambil satu persatu berkasnya untuk ia teliti dan juga tanda tangani.


Ponselnya bergetar. Ia melihat ada pesan masuk dari Gaston, tangan kanannya.


Tuan, aku izin untuk kembali kerumah. Tuan tau? Verlyn adalah putri kandungku yang selama ini aku rindukan.


Itulah isi pesan Gaston. Mad hanya mengerutkan dahinya. Hal yang baru ia dengar, Verlyn putri kandung Gaston?


Tak mau banyak berpikir, Mad tak peduli akan itu. Mad kembali fokus pada berkasnya.


Tok tok


Mad mengalihkan pandangannya. Seseorang dari luar mengetuk pintunya.


"Masuk!" seseorang yang mengetuk pintu pun masuk kedalam sesuai aba-aba dari Mad.


"Tuan, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda." ucap Erlin yang merupakan sekertaris pribadi Madrick.


"Suruh dia masuk!" balas Mad.


"Baik tuan." Erlin melangkah keluar ruangan Mad dan tak lama kemudian masuklah pria berbadan tegap dengan kulitnya yang hitam.


"Siapa kau?" tanya Mad dengan dingin.


Tanpa disuruh, pria itu langsung duduk didepan Mad dengan gaya angkuh. Kacamata hitamnya ia lepas hingga menampilkan matanya yang berwarna biru air. Pria tersebut tersenyum miring kearah Madrick. Badannya besar, tapi akan kalah dengan badan milik Mad.


"Madrick Vallencio, kenalin saya Warmon Imanuel." ucap pria itu yang bernama Warmon. Warmon mengulurkan tangannya. Mad menatap lekat wajah Warmon, ia sama sekali tak berniat untuk menerima uluran tangan Warmon.


"Ah jika kau masih bingung, aku adalah seorang mafia asal Belanda." ucap Warmon dengan gaya angkuh.


"Tujuanku kesini hanya untuk membeli pistol-pistol produksimu, dan ah... Juga narkoba anjing." ucap Warmon.


"Kau boleh menemui tangan kananku, sekarang pergilah." balas Madrick dengan dingin.


"Jika aku tak mau?" tantang Warmon.


"Akan ku seret kepalamu terlebih dahulu sebelum kakimu" ujar Madrick dengan tajam.


"Ah baiklah, aku pergi. Tatapanmu sangat membunuh." balas Warmon.


Warmon berdiri dari duduknya dengan berjalan keluar sambil bersiul.


Brakk


Warmon menutup pintu dengan didebrakan yang cukup keras. Sepergian Warmon, Mad mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.


"Cari tahu tentang Warmon Imanuel. Dua jam, saya harus sudah menerima kabar tentang Warmon." ucap Madrick dan langsung menutup sambungannya secara sepihak.


Mad kembali fokus ke berkas-berkasnya yang menumpuk. Satu persatu mulai ia baca dan tanda tangani. Sebagian ada yang ia sobek karena tak menurut sesuai kriterianya.


Srekkk


Mad menyobek berkasnya yang menurutnya tak nyambung dan langsung membuangnya ditempat sampah yang berada di dekatnya. Ia meletakkan bulpoin yang ia genggam sedari tadi dan menyenderkan punggungnya dikursi kebesarannya.


Ingin sekali ia berteriak untuk melepas semua keletihan yang ia rasakan. Bukan soal mengurus Olivya, tapi karena musuh yang tak kunjung berkurang, justru bertambah.


Kling


Mad melihat ponselnya yang menyala pertanda ada pesan masuk. Ia melihat pesan yang dikirim oleh anak buahnya. Diraihnya ponsel mewah itu dan membuka pesan. Hebat, belum dua jam, data diri Warmon Imanuel sudah ia dapatkan.


Warmon Imanuel,seorang mafia asal Belanda. Warmon adalah penipu yang handal dan juga hacker yang berkualitas. Banyak para mafia yang ia tipu diberbagai dunia dan menghacker semua kekayaan para mafia dunia. Warmon memiliki istri yang bernama Nancy Imanuel dan juga dua orang putri kembar bernama Elcya Imanuel dan Alcya Imanuel.


Mad menyunggingkan senyumnya saat membaca pesan itu.


"Satu hama telah hadir" gumamnya sambil berdiri dari duduknya dan melangkah pergi dari ruangannya.


Tbc

__ADS_1


Maapkan lama.


55 Vote for Next


__ADS_2