My Dangerous Mafia

My Dangerous Mafia
Don't leave Me


__ADS_3

Olivya keluar dari kamar mandi dengan perasaan gugup dan campur aduk. Ia menundukkan kepalanya malu. Mad yang melihat gadisnya baru keluar dari kamar mandi dengan menunduk, ia mengangkat wajah Olivya. Mad menahan tawa saat melihat rona merah pada pipi Olivya.


"Malu heh?" goda Mad.


Olivya menepis tangan Mad. Ia berjalan tertatih untuk menjauh dari Mad, lebih tepatnya menyembunyikan rona merah di pipinya.


Mad yang melihat itu, ia langsung menggendong tubuh kecil Olivya ala bridal style.


"Aku nggak mau tertawa karena melihat kau akan jatuh." gumam Mad.


"Ish, aku nggak akan jatuh."


Mad meletakkan tubuh Olivya diatas kursi roda. Mad berjongkok didepan Olivya. Kedua telapak tangan besarnya menggenggam tangan Olivya. Tangan satunya ia lepas untuk merapikan anak rambut Olivya yang hampir menutupi wajahnya.


"Dengar ini sayang. Kau akan tetap menjadi milikku, selamanya milikku. Aku takkan melepaskan mu begitu saja. I'm yours and you mine. Aku mencintaimu tulus. Kau ingat sesuatu?"


Olivya menggeleng pelan tanda tak tahu.


"Biarkan aku bercerita. Dulu, saat usiaku tujuh belas tahun, aku tinggal oleh orang tua ku. Dan aku sudah menjadi mafia termuda saat itu. Ditinggal orang yang kita sayangi memang sangat berat untuk kita, dan terkadang kenangan masih melekat indah. Bukan itu yang ingin ku ceritakan. Saat di pagi hari, aku berjalan untuk menenangkan diri. Menjadi mafia muda memang sangat berat untukku saat itu. Aku berjalan-jalan disebuah taman yang indah. Hampir saja pikiran ku tenang saat itu, tapi sepertinya Tuhan tidak membiarkan hal itu terjadi padaku. Aku mendengar isak tangis seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun. Aku mencari suara tangis gadis itu.


Setelah aku menemukan pemilik suara tangis itu, betapa kagetnya aku saat menemukan seorang gadis kecil yang mungil, putih, dan rambut yang panjang sepunggung. Aku menghampiri nya, saat ia melihatku, aku terkejut lagi. Aku terpesona dengan mata indah gadis itu. Apalagi ditambah bulu matanya yang lentik. Saat kutanya mengapa gadis cantik itu menangis, ternyata ia memiliki kesedihan yang sama denganku. Orang tuanya meninggal dunia. Aku turut berduka saat itu.


Namun, tak lama, segolongan anak nakal datang dan melempari ku batu dan mengenai kepalaku hingga berdarah. Namun, gadis mungil ini sangat pemberani, ia mengancam anak nakal ini dengan membawa balok kayu dan anak nakal itu pergi. Lalu, gadis mungil ini juga memberikan sweaternya untuk menutupi luka di kepalaku yang berdarah. Dia mengajakku ke sebuah panti dan menyuruhku untuk duduk di bangku panti dan ia masuk kedalam panti. Tak lama, ia keluar dengan membawa P3K. Dia mengobati luka di kepalaku dengan sangat telaten. Ia mem-perban kepalaku, ya.. walaupun sedikit kurang rapi, tapi aku menerimanya. Setelah itu aku pamit pulang dan dalam jauh, aku terus memperhatikan gadis mungil itu hingga sekarang."


Olivya yang mendengar cerita dari Mad sedikit tak asing. Ia mendengarkan tanpa terlewat sedikitpun dari telinganya.


"Ceritamu persis dengan ceritaku. Dan pria yang kutemui sepuluh tahun yang lalu namanya persis denganmu. Madrick." ujar Olivya.


"Oh, ya? Kita punya kisah yang sama dan itu benar terjadi adanya."


"Apa jangan-jangan kau juga laki-laki yang kutemui sepuluh tahun yang lalu?" tanya Olivya dengan antusias.


Mad mengangguk.


Olivya menutup mulutnya tanda tak percaya.


"Benarkah itu dirimu? Dan apa kau juga yang mengamatiku selama ini?"


Mad mengangguk lagi.


"Dan...." Olivya menggantungkan ucapannya.


"Apa kau juga yang membelikan-ku sebuah apartemen, ponsel dan transferan yang selama ini aku terima?" lanjut Olivya.


Lagi-lagi Mad mengangguk.


"Oh my God, Mad. What are you doing hah? Why do it?"


"Aku hanya ingin memastikan mu berkecukupan. Aku mencintaimu dari sepuluh tahun yang lalu. Dan untuk kuliahmu, aku juga yang menanggung semuanya." ujar Mad.


"Aku akan mengembal--"


"Ssstt, aku melakukannya tanpa pamrih. Hartaku, hartamu juga. Uangku, uangmu juga."


"Bagaimana mungkin Mad? Apa kau tak takut bila aku menipumu?"


"Silahkan tipu aku. Uangku takkan habis untuk kau belanjakan semaumu."


"Sombong sekali."


"Mau jalan-jalan heh?" tawar Mad dan langsung diangguki antusias oleh Olivya.


"Bersiaplah." Mad mengusap puncak kepala Olivya dengan sayang.


***


Mad mendorong kursi roda Olivya di hamparan rumput yang luas, atau biasa disebut dengan taman.


Olivya menikmati angin - angin yang menerpa wajahnya. Udara disiang hari ini, tidak panas dan tidak juga mendung. Pas untuk suasana hati Olivya.


"Mau es krim?" tanya Mad dengan membungkuk disamping kanan Olivya. Olivya mengikuti arah pandang Mad yang mengarah pada kedai es krim. Ia mengangguk dan Mad langsung mendorong kursi roda Olivya menuju kedai es krim.

__ADS_1


Saat tiba, Mad memesan satu es krim vanila untuk Olivya dan Strawberry untuk dirinya. Tak ingin gengsi, Mad menyukai rasa strawberry. Olivya menunggu dimeja yang tersedia pada kedai es krim itu. Ia memainkan ponselnya yang lama tak ia pegang. Ia mulai membuat akun Instagram dan juga Facebook. Asik dengan ponselnya, Ia tak menyadari kedatangan Mad yang membawa dua count es krim.


Mad yang merasa terabaikan, ia langsung merebut ponsel milik Olivya. Olivya sempat meminta untuk dikembalikan ponselnya, namun Mad menyuruhnya untuk menghabiskan dulu es krimnya dan berjanji akan mengembalikan ponselnya.


Mad menyalakan ponsel Olivya.


"Apa password nya?" tanya Mad.


Olivya menyendokan es krimnya kedalam mulut dan setelah itu menelan habis.


"Tanggal lahirku." ujar Olivya. Ia mengira Mad takkan tau tanggal lahirnya, tapi pemikirannya salah. Mad dengan gampangnya membuka ponselnya dan tentunya dengan password tanggal lahirnya.


"Bagaimana kau tahu tanggal lahir ku?" tanya Olivya dengan bingung.


"Tak hanya tanggal lahir mu, aku juga tau semua tentang mu." balas Mad dengan menatap Olivya sekilas lalu kembali fokus pada ponsel Olivya.


"Kau ingin membuat akun Instagram?"


Olivya mengangguk. "Why?"


"Sudah ku buatkan. Syarat yang berlaku untuk mu selama memakai Instagram adalah jangan mengikuti semua akun laki-laki kecuali aku. Dan jangan pernah mengepost foto laki-laki lain selain aku. Paham?"


Olivya mengerutkan dahinya.


"Why like that?" tanya Olivya.


"Karena aku tak suka melihat mu berdekatan dengan laki-laki lain."


"Tap--"


"Jangan membantah." desis Mad yang langsung membungkam mulut Olivya.


"Aku juga sudah mendaftarkan mu di suatu universitas. Mulai minggu depan kau bisa berkuliah."


Mata Olivya berbinar. Ia dari dulu ingin kuliah, tapi keuangan yang menjadi hambatan saat itu.


"Are you seriously?" tanya Olivya dengan antusias


"Dan aku juga sudah membelikan mu sebuah Lamborghini. Tapi kau boleh mengendarainya selagi tidak dengan laki-laki lain. Untuk hari pertama mu masuk kuliah, aku yang akan mengantarkan mu." sambung Mad.


"Kenapa harus terselip kalimat tidak boleh dengan laki-laki lain?" tanya Olivya dengan malas.


"Kau tau aku mencintaimu, jadi aku tak ingin membagi dirimu dengan siapapun. Dan yang berhak menyentuhmu itu hanya aku. Kau paham?"


Olivya mengangguk saja. Ia melanjutkan aksi makan es krimnya yang tertunda.


"Ini" Olivya melihat sebuah kartu berbentuk kotak dengan warna hitam elegan. Ia mengangkat kepalanya dan menjumpai Mad yang sedang mengulurkan kartu hitam elegan itu padanya.


"Untuk apa?" tanya Olivya dengan bingung.


"Kau bisa menggunakan kartu ini untuk belanja apapun sesukamu." ujar Mad.


Olivya menggeleng, "Aku tidak memperlukan nya. Aku tidak terlalu suka berbelanja."


"Bukankah kau butuh untuk membeli perlengkapan untuk hari pertama kuliahmu bukan?"


"Bukankah kau akan mengantarku untuk membelinya, Mad?"


"Of course."


"Kalau begitu, bawalah kartu itu. Kau yang akan membayarnya." ujar Olivya.


"Tap--"


"Maaf, kali ini aku membantah. Aku tidak ingin terlalu mewah. Kau sudah memberikan ku izin untuk kuliah pun aku sudah bersyukur. Ditambah, kau membelikan ku sebuah mobil mewah. Aku rasa, aku harus mengganti semua itu padamu." potong Olivya.


"Tidak. Aku tak berharap kau mengganti semua uangku. Yang ku mau hanya kau selalu ada untukku dan tetap bersamaku."


Seketika Olivya di buat gugup.


"Terima kasih, Mad. Aku akan mencoba untuk mencintaimu. Tapi aku butuh waktu."

__ADS_1


"Aku akan memberikan mu waktu. Aku yakin, kau pasti akan mencintai ku."


"Emm, apakah kau ingin mengajariku berdiri dan jalan dengan benar? Aku bosan terus-terusan menggunakan kursi roda."


"Of course. Cepat habiskan es krimnya." ujar Mad.


Setelah mengabiskan es krimnya,


Mad dan Olivya berjalan menuju hamparan rumput yang luas. Disana cukup sepi. Bukan berarti tidak ada orang, ada, tapi tak begitu banyak.


Mad menuntun Olivya untuk berdiri secara perlahan. Telapak tangan besar milik Mad, menggenggam erat tangan mungil Olivya. Kaki Olivya sedikit gemetar, bukan karena takut, kakinya masih belum kuat alias lemas. Koma selama seminggu bukanlah hal yang baik, itu cukup untuk menguras habis tenaga seseorang.


Setelah berhasil berdiri dengan bantuan kedua telapak Mad, Olivya perlahan melepaskan genggaman tangannya pada tangan Mad. Ia berjalan sangat perlahan. Seakan, ia akan menginjak sebuah duri. Mad siap pasang badan untuk jaga-jaga jika Olivya akan jatuh.


"Aaaaaaa!!"


Hampir saja Olivya terjatuh jika Mad tidak segera menangkapnya. Olivya tak menyerah, ia semakin semangat untuk jalan. Ia mengambil nafasnya secara perlahan dan mulai melepaskan diri dari rengkuhan Mad.


Olivya kembali berdiri tegak, ia mulai berjalan sepelan mungkin. Berhasil, itulah kata yang mungkin ada dipikiran Olivya. Ia semakin lancar untuk jalan, dan mulai sedikit melajukan jalannya sedikit cepat.


"Hei, hati-hati Olivya. Kau akan terjatuh." teriak Mad saat Olivya sudah berjarak beberapa meter darinya.


Olivya berbalik, ia melihat Mad yang berada dibelakangnya. Jarak mereka cukup Jauh. Olivya melihat wajah tampan Mad dari jauh. Begitu tampan, angin kencang menerpa wajahnya dan poni rambutnya pun ikut tergoyang angin.


Olivya tersenyum. "Mad, aku bisa melakukannya. Aku bisa!" teriak Olivya dengan kencang agar suaranya dapat didengar baik oleh Madrick.


Mad tersenyum melihat Olivya yang begitu menggemaskan dimatanya. Ia berlari kearah Olivya dan begitu sampai didepannya, Mad langsung memeluk erat tubuh Olivya. Sangat erat.


Mad menenggelamkan wajahnya diceruk leher Olivya. Olivya terkejut saat merasakan sebuah cairan hangat yang menetes dilehernya.


Mad menangis?


Itulah kalimat yang mewakili pikiran Olivya.


"Mad, are you fine?" tanya Olivya dengan pelan.


"Don't leave me, Vya. Don't leave me." gumam Mad yang semakin mengencangkan pelukannya.


"Hei, aku disini. Aku takkan meninggalkanmu."


"Berjanji padaku, Vya. Kau takkan pergi meninggalkan ku. Berjanjilah."


"Tap--"


"Berjanjilah, Vya." potong Mad.


Olivya mengelus punggung besar Mad. Ia membuang nafasnya dengan berat.


"Ya, aku berjanji. Aku takkan meninggalkanmu." ujar Olivya dengan tulus.


Entah apakah ia bisa memegang janjinya atau tidak. Ia serahkan semua pad Tuhan. Biarkan Tuhan menjadi pengatur segalanya.


Mad melepaskan rengkuh nya. Ia memegang kedua pipi Olivya. Wajahnya semakin dan dengan perlahan, Mad mencium bibir Olivya. Tak ada berontakan dari Olivya, Mad pun mulai menyapu permukaan bibir Olivya dengan lembut. Olivya pun mulai membalas ciuman Mad.


Lama mereka beradu mulut, mereka tak sadar jika mereka sudah menjadi bahan tontonan orang-orang. Pasalnya, yang sedang berciuman ditempat umum seperti ini adalah Mad. Madrick Vallencio. Seorang Mafia yang terkenal di Negaranya.


Itulah yang membuat orang-orang sekitar menyaksikan adegan ciuman Olivya dan Mad, dan bahkan ada yang memotretnya secara terang-terangan.


Bagi yang menonton, ini adalah hal yang langkah. Mad yang terkenal kejam, bis takluk juga dengan seorang gadis kecil nan polos.


Olivya merasa malu, ia memeluk lengan Mad dengan kuat. Jemarinya mencengkram erat jas milik Mad. Mad yang tahu akan ketakutan gadisnya, Ia langsung membawa Olivya pergi. Ia menggendongnya seperti karung beras. Olivya memukul punggung besar Mad dengan tangannya yang kecil. Orang-orang pun bersorak ria.


"Seribu pukulan mu, takkan berasa apa-apa untukku." ujar Mad.


"Turunin, aku takut jatuh." teriak Olivya.


"Akan ku jamin, kau takkan jatuh. Diam atau aku perkosa kamu disini."


Mad tersenyum saat sudah tak ada lagi pemberontak kan dari gadisnya. Ancamannya begitu manjur.


TBC

__ADS_1


__ADS_2