My Dangerous Mafia

My Dangerous Mafia
Accident


__ADS_3

MAD POV ON


Aku melangkah masuk kedalam kamar hotel. Malam ini sangat melelahkan bagiku, bagaimana tidak? Setelah sampai di Hawai, aku dan rekan kerjaku yang lain langsung terjun lapangan untuk melakukan survei tempat. Ditambah, laporan jika Olivya semakin dekat dengan Carson, membuat kemarahanku sampai diatas ubun-ubun kepala.


Disaat semua memutuskan untuk liburan di Hawai, aku lebih memutuskan untuk kembali ke Italy. Dan Gaston, dia tidak ikut bersamaku, melainkan akan langsung terbang ke Indonesia. Jika aku tak membatalkan kerja sama ku dengan CEO besar yang berada disini, Amerika, aku tidak akan balik ke Italy secepat itu.


Aku membuka pintu balkon hotel. Dari atas sini, aku dapat melihat banyak gedung-gedung pencakar langit. Dan pemandangan yang indah dari Pulau Hawai, Amerika Serikat ini.


Ku ambil botol vodka yang tersedia lemari pendingin, ku buka dengan kasar. Pandanganku menuju kearah jalanan, tapi pikiranku lari kearah Olivya. Apakah aku marah dengan gadis itu? Tentu saja, aku sudah tau segalanya. Yang membuatku marah, Olivya bahkan tak mengatakan kepada laki ingusan itu, jika aku ini kekasihnya.


Pengawalku merekam segalanya, dan aku mengetahuinya. Aku menegak kasar minuman ini, hingga menimbulkan rasa panas pada tenggorokan. Masa bodoh, rasa panas tenggorokan, tak sebanding dengan panas di hati dan kepala.


Setelah minuman ini habis, aku kembali masuk kedalam kamar. Tak lupa untuk mengunci pintu balkon kamar. Satu botol vodka, tak membuatku mabuk. Mungkin aku sudah terbiasa minum, sehingga satu botol besar pun dan memberikan efek apapun bagi tubuhku ini.


"Arg!!" aku menjambak kuat rambutku.


Hari yang berat bagiku, hingga membuatku frustasi.


"Awas kau Carson! Dan... Vya." seringaiku sambil membayangkan wajah mereka berdua.


***


Olivya melangkah menuju meja makan. Malam ini, ia benar-benar sangat lapar.


"Nona, kau ingin memakan sesuatu?" tanya Berta dengan sopan.


"Ya, apakah ada makanan?" balas Olivya.


"Makanan tadi siang sudah basi nona, jika nona mau menunggu, saya buatkan makan malam."


"Ah iya, terima kasih Berta."


Olivya melangkah menuju meja makan, sedangkan Berta mulai berkutik di dapur. Sambil menunggu makan malam yang dibuatkan oleh Berta, Olivya membuka ponselnya. Ia membuka aplikasi line. Dihembusnya nafas dengan kasar, ia jengkel karena Mad tidak membalas pesannya. Atau, Mad juga tak online seharian?


Olivya mencoba berpikir apa kesalahan yang ia buat hingga membuat Mad menjadi marah. Sudah cukup ia berpikir Mad sibuk, sesibuk apapun Mad, pria itu akan memberinya sebuah kabar.


Pikirannya jatuh pada sosok Carson. Ia melototkan kedua matanya saat teringat sesuatu.


Ya ampun, aku lupa. Seharian aku bersama Carson dan pengawal Mad yang ditugaskan untuk menjagaku pasti melaporkannya pada Mad. batin Olivya.


Ia menggigit ujung kukunya, ia takut, bagaimana sikap Mad saat tahu. Olivya tahu jika ini salah paham, tapi melihat betapa dekatnya dia dengan Carson seharian, pasti membuat si Mad berpikir yang tidak-tidak pasal dirinya.


"Nona, makan malamnya." Olivya Sedikit terkejut, ia memalingkan pandangannya kearah Berta yang sedang meletakkan satu-persatu menu makan malam. Ada sup ayam, pasta, dan kepiting asam manis. Makanan yang menggugah selera ini, seketika hilang pada diri Olivya. Ia lebih memikirkan hal yang akan Mad lakukan saat sudah balik nanti.


Yang membuatnya takut, Mad adalah seorang mafia kejam. Tidak ada kata menerima maaf dari dirinya. Kesalahan walau seujung kuku pun, Mad akan tetap memberikan hukuman. Tidak peduli siapapun itu orangnya.


"Nona, ayo dimakan." titah Berta saat menyadari bahwa Olivya terus saja melamun.


"Ah iya." balas Olivya dengan gugup. Ia memilih memakan pasta yang menurutnya simpel.


"Nona, anda terlihat sedang ketakutan dan banyak pikiran. Ada apa?" tanya Berta dengan lembut. Jiwa keibuan dari dalam diri Berta, membuat Olivya gemar terhadap maid satu ini.


"Ti-ti-tidak, tidak ada. Aku hanya kepikiran soal presentasi besok di kampus. Ya, ya, emm, ya... Presentasi besok." balas Olivya dengan gugup.


"Anda berbohong nona, dari gelagat anda sudah ketahuan. Jika nona bersedia untuk cerita, saya bisa kapan saja nona. Apapun masalahnya, jangan terlalu dipendam sendiri. Dan, jangan terlalu dipikirkan. Atau nona akan jatuh sakit. Dan tuan Mad akan marah jika tahu nona sakit."


Mungkin Mad tidak akan peduli lagi. Batin Olivya.


"Ya sudah, lanjutkan makannya. Saat mau kasih makan ikan dulu." ujar Berta.


"Berta tunggu."


"Ya nona?"


"Besok tolong mandiin anak kucing baruku. Dan tolong malam ini beri dia susu."


"Baik nona." Berta melangkah pergi meninggalkan meja makan. Olivya memakan pasta nya sambil memikirkan apa yang bakal Mad lakuin pada dirinya.


Setelah makan malam, Olivya berniat untuk kembali kedalam kamar. Ia memutuskan untuk tidak masuk kuliah dulu selama beberapa hari, dan kepala Universitas pun menyetujuinya. Olivya butuh untuk istirahat sejenak.


"Nona." Olivya mengurungkan langkah kakinya yang hendak menaiki anak tangga. Ia menatap kearah pengawal Mad yang memiliki badan tegap.

__ADS_1


"Iya?"


"Nona, saya mendapat berita jika tuan Mad besok akan kembali ke Italy." ujar pengawal itu.


Detak jantung Olivya berpacu semakin cepat. Antara senang Mad kembali cepat, dan takut Mad akan melakukan hal sesuatu yang akan membahayakan Carson dan dirinya. Mad seorang yang tak kenal kata ampun.


"Nona?"


Olivya membuyarkan lamunannya. Ia mengerjapkan matanya. "Hah, i-i-iya. Kira-kira, Mad akan sampai jam berapa? Aku akan menjemputnya di Bandara."


"Mungkin sekitar jam empat sore nona."


"Baiklah, terima kasih infonya."


Olivya melanjutkan naik keatas menuju kamarnya. Sesampainya dikamar, Olivya segera mencari keberadaan ponselnya, setelah ketemu, ia mencari kontak Mad. Harapannya pupus saat pesan yang ia kirim tak kunjung di balas.


"Aku akan terima." gumam Olivya.


***


Madrick menggeret kopernya saat sudah tiba di Bandara Hawai. Mad dan Gaston harus berpisah tujuan, Gaston ke Indonesia dan Mad kembali ke Italy.


"Tuan, boleh saya periksa isi kopernya?" tanya seorang penjaga.


"Kenapa?" tanya Mad dengan wajah datar.


"Pemeriksaan ini sudah menjadi rutinitas setiap penumpang tuan."


Mad memberikan kopernya, sebelumnya, Mad lupa untuk membeli ponsel baru. Ia akan membelinya jika sampai di Italy nanti.


"Tuan, pesawat akan di delay selama setengah jam. Ada kendala pada mesin." ujar seorang penjaga yang telah selesai memeriksa isi koper milik Mad.


Mad menatap arlojinya, ia mengangguk dan menuju pada sebuah kafe. Saat sudah sampai, Mad menuju tempat yang jauh dari pengunjung lainnya. Seorang pegawai wanita menghampirinya dan menawarkan sebuah pesanan. Mad hanya memesan sebuah coffe dan pancake berukuran mini.


Mad menatap kearah air mancur secara tak langsung karena terhalang dinding kaca. Entah kenapa hari ini ia merasa lelah, bahkan ia tak bisa berpikir untuk apa yang akan ia lakukan terhadap Olivya yang telah melanggar aturan.


"Kau disini?" Mad menoleh kearah seseorang. Wanita yang selama ini ia cari keberadaannya, telah berdiri tepat di depannya.


"Lovina?" gumam Mad dengan alis berkerut.


Lovina gadis yang dulu pernah menculik Olivya dengan aksi tembakan. Entah mengapa, Mad merasa dendam yang dulu ia tanam sudah hilang. Mungkin, efek bad mood Mad saat ini.


Tanpa meminta izin, Lovina duduk didepan mantan kekasihnya -- Mad. Bahkan Mad tidak keberatan saat Lovina memilih duduk didepannya. Lovina memesan minuman dan sebuah pasta.


"Apa kabar dirimu, Mad?" tanya Lovina saat selesai memesan menu makanan.


"Seperti yang kau lihat." balas Mad singkat.


"Kurang semangat." gumam Lovina.


"Btw, why? Apakah gadis mu itu selingkuh?" tanya Lovina lagi.


"Kau tahu?" tanya Mad.


"Tidak, aku hanya menebaknya."


Seketika itu keadaan menjadi hening saat seorang pramusaji datang dan membawakan pesanan Mad. Lovina pun tak berniat mengganggu Mad.


"Kau akan kemana?" tanya Mad.


"Kau peduli terhadap ku Mad?" tanya Lovina dengan berbinar.


"Tidak."


"Aku akan kembali ke Italy. Sebenarnya penerbangan ku nanti jam sepuluh."


"Ini baru jam delapan."


"Iya aku tahu, tapi aku ingin jalan-jalan dulu. Lagian, aku check out dari hotel pukul tujuh."


"Pesawat ku akan berangkat, aku pergi." ujar Mad sambil berdiri dari duduknya dan menyambar kopernya.

__ADS_1


"Em, Mad. Tunggu."


Mad menatap tangan Lovina yang memegang pergelangan tangannya.


"Maaf, sebelumnya kejadian yang lalu aku minta maaf. Kau boleh menghukumku." ujar Lovina dengan wajah memelas.


"Lupakan, aku sedang tak mood dalam balas dendam." Setelah mengucapkan hal itu, Mad melangkah  keluar kafe. 


Mad melangkah kearah petugas. Ia bertanya apakah pesawat yang akan ia tumpangi berapa lagi untuk siap. Sang petugas pun menyarankan Mad untuk segera masuk kedalam kabin, karena pesawat telah siap.


Mad melangkah Sepanjang lorong menuju kabin. Ia melihat-lihat pesawat yang berjejer rapi. Saat sudah hendak masuk kabin, di sambut hangat oleh pramugari cantik yang berdiri dipintu masuk kabin. Mad hanya melewati pramugari cantik itu tanpa meninggalkan senyum sedikitipun.


Mad duduk dikursi first class yang mewah dengan fasilitas yang memungkinkan para penumpang nyaman dan tentunya memakan harga yang cukup fantastis. Setelah mendapat aba-aba bahwa pesawat akan lepas landas, semua para pramugari melakukan gerakan yang sama untuk memberitahukan fungsi dari perlengkapan yang ada dipesawat. Dengan gerakan perlahan, pesawat pun berhasil lepas landas.


***


Olivya mulai bersiap-siap untuk menjemput Mad di Bandara. Meskipun kedatangan Mad masih terbilang cukup lama, Olivya tetap kekeuh untuk bersiap-siap awal.


Setelah merasa dirinya telah siap, Olivya turun kebawah. Ia akan menonton televisi sejenak di ruang tamu dengan beberapa maid yang memang sedang tidak ada hal yang perlu dikerjakan, karena semuanya telah siap.


Olivya bukanlah tipe orang yang membeda-bedakan. Ia tak sungkan untuk berdekatan dengan siapa pun, toh ia juga bukan orang kalangan atas. Ia begini karena kebaikan Mad padanya. Sebelumnya tidak ada perlakuan buruk yang dilakukan Mad pada dirinya, tapi entah mengapa Olivya masih merasa gelisah dan bersalah terhadap Mad. Mungkin Mad akan berpikir, dengan perginya ia keluar Negeri, Olivya bisa berdekatan dengan lelaki manapun. Padahal itu bukan niat terselubung dari diri Olivya.


"Nona, boleh aku ganti nomor sembilan? Aku ingin melihat berita." tanya salah satu maid, pasalnya mereka saat ini sedang menonton serial masakan.


Olivya hanya tersenyum dan mengangguk.


"Berita siang ini, dikabarkan bahwa sebuah pesawat penerbangan Hawai ke Italy mengalami kecelakaan. Pesawat ini jatuh dari ketinggian lima ribu kaki, dalam artian pesawat Ciago's ini jatuh saat lepas landas. Dugaan pertama adalah sebuah kendala pada mesin pesawat sehingga seorang pilot kehilangan keseimbangan untuk mengatur ketinggian pesawat. Para petugas dan ambulan telah datang untuk mengeksekusi para korban yang masih hidup dan mati. Untuk sementara, para penumpang yang masih hidup, di alihkan ke rumah sakit yang berada di Hawai. Semua..."


"Nona?" Berta mengguncang bahu Olivya saat melihat Olivya hanya diam melamun sambil merintikkan airmata.


"Nona? Adaapa?" tanya Berta yang mulai khawatir.


"Mad..." gumam Olivya dengan airmata yang semakin deras.


"Nona? Ada apa dengan tuan Mad?" tanya Berta yang mulai berpikiran yang tidak-tidak.


"Mad berada didalam pesawat itu. Jam penerbangannya pun sama dengan pesawat yang ditumpangi Mad, hiks...." tangis Olivya mulai pecah. Pegawai yang mendengar ucapan Olivya pun ikut terkejut, banyak juga para maid yang merintikkan airmatanya. Mad adalah seorang yang kejam, namun Mad tak pernah berlaku kasar sedikitpun kepada mereka.


"Nona, pesawat yang ditumpangi tuan Mad jatuh." ujar seorang pengawal Mad yang baru saja datang memberi tahu apa yang ia dengar.


Olivya menangis tersedu-sedu dipundak Berta, Berta pun mengelus punggung Olivya untuk memberikan kekuatan.


"Aku ingin nyusul Mad, aku ingin kesana. Ayo, antarkan aku kesana." pinta Olivya sambil menangis. Berta menatap pengawal tadi yang masih betah berdiri ditempat. Pengawal itupun mengangguk, ia memberitahukan bahwa pesawat pribadi Mad sedang menganggur.


Berta ikut dengan Olivya, para maid yang lain menyiapkan beberapa pakaian Olivya untuk dibawa ke Hawai. Berta pun menyiapkan beberapa pakaiannya. Dua orang pengawal siap menjaga perjalanan Olivya dan Berta hingga ke Hawai.


Olivya duduk termenung didalam mobil. Pandangannya kosong, pikirannya melayang pada sebuah senyuman Mad yang diberikan padanya. Tanpa sadar, airmatanya menetes dan jatuh di pipinya. Ia menangis dalam diam.


Berta menyusul masuk kedalam mobil, ia menenangkan Olivya dan memberikan kekuatan serta ucapan yang akan menguatkan hati Olivya.


"Nona yang kuat ya, semoga tuan Mad baik-baik saja. Nona tadi dengarkan jika korban yang meninggal tidak banyak? Hanya beberapa nona." ujar Berta.


"Bagaiman kalo Mad masuk dalam kategori penumpang yang meninggal?"


"Ssstt, Nona jangan berpikiran negatif dahulu. Minta sama Tuhan jika tuan Mad akan selamat."


"Apakah itu benar?"


"Saya yakin nona, pasti tuan Mad masih hidup. Bukan nona saja yang merasa sedih, tapi kita semua. Sosok Mad adalah seorang yang paling mulia di mata kita semua. Karena apa? Karena kebanyakan dari kita banyak yang tinggal bersama tuan Mad saat tuan Mad masih kecil. Termasuk saya, saya dulu baby sister tuan Mad."


Olivya menghapus airmatanya, ia mebatap kearah Berta. "Makasih, kau telah memberikan ku kekuatan. Aku akan berdoa agar Mad selamat dari kecelakaan ini." ujar Olivya.


Berta tersenyum.


Mobil pun berjalan meninggalkan pelantaran mansion megah. Sepanjang jalan, pikiran Olivya menatap kosong kearah jalanan melalui jendela mobil.


Semoga kau selamat. Tunggu, tunggu aku. Aku datang.. batin Olivya.


TBC


Maaf lama update guys. Lagi fokus sama kerjaan. Lupa juga kalo ada tanggungan di Wp:)

__ADS_1


Inshaallah Update secepatnya sebagai gantinya:)


Happy Reading:3


__ADS_2