
Kalo ada typo, tolong tandai ya... Ini selesai nulis langsung update. Jadi revisi nunggu bergiliran..
Happy reading
___________________________
Olivya, Berta, dan dua pengawal masuk kedalam pesawat pribadi milik Mad. Dalam sepanjang perjalanan, Olivya terus meramalkan doa untuk Mad. Ia sempat membuka berita tentang pesawat jatuh dan masih sekitar beberapa orang yang ditemukan masih hidup namun mengalami luka yang berat.
"Sebaiknya nona tidur, biar kami yang akan berjaga. Perjalanan cukup memakan waktu banyak." ujar pengawal Mad dengan wajah datarnya.
Olivya menurut saja, ia membaringkan tubuhnya diatas kasur yang ada di pesawat besar ini. Berta sedang berkutik di dapur untuk membuatkan sarapan selama di pesawat dan dibantu oleh tiga pramugari pribadi pesawat ini.
"Aku kasih melihat nona Olivya yang sepertinya sangat terpukul melihat berita ini." ujar Berta sambil memotong-motong wortel. Tema masakan kali ini adalah sup daging.
"Apakah sudah ada ikatan diantara mereka berdua?" tanya Elsa-- salah satu pramugari cantik dengan berkulit hitam.
Berta tersenyum sambil mengambil bawang, "Ya. Tapi hanya sebatas sepasang kekasih."
"Aku akan berdoa agar mereka terjalin hingga ke pelaminan." ucap Dyrot -- Seorang kapten pilot.
"Heh, kau meninggalkan kendali pesawat. Bagaimana kalo jatuh?" tanya Berta dengan raut wajah yang ketakutan.
"Hahaha..." Dyrot dan ketiga pramugari ini tertawa.
"Kan pengemudi pesawat ada dua. Co-pilot dan Pilot." balas Elsa.
Berta hanya mengangguk malu, "Maklum, baru pertama kali naik pesawat." ujar Berta.
"Buatkan dua cangkir kopi untuk saya dan co-pilot." pinta Dyrot.
"Baik, Kapten." balas Rely-- Seorang pramugari dengan rambut yang sebahu.
Dyrot kembali, Rely pun membuatkan kopi untuk para sopir.
"Buatkan juga untuk para pengawal." pinta Berta pada Rely yang sedang menyeduh air panas ke dalam cangkir.
"Oke." balas Rely dan mengambil dua cangkir lagi.
***
Setelah menempuh perjalan yang cukup jauh, akhirnya mereka sampai di pulau Hawai, Amerika Serikat. Olivya ingin langsung terjun ke rumah sakit yang menjadi tampungan para korban penumpang pesawat jatuh.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Olivya tidak mengantuk. Selama perjalanan, Olivya menghabiskan waktunya hanya untuk tidur. Dan ia rasa, malam ini bukanlah hal yang bagus untuk ditunda mencari keberadaan Mad.
"Nona, kita tanyakan pada resepsionis nya saja." saran Berta.
Olivya mengangguk dan berjalan cepat kearah meja resepsionis.
"Nanny, data penumpang pesawat jatuh yang masih hidup." ujar Olivya.
"Sebentar saya cari." ujar seorang Nanny cantik. (Nanny adalah Suster)
"Ada tiga belas orang hidup saat pencarian ini. Anda ingin mencari dengan atas nama?" tanya Nanny ini dengan sopan.
"Madrick, Madrick Vallencio." balas Olivya dengan cepat.
"Mohon maaf, atas nama Madrick Vallencio tidak terdaftar disini."
"Nggak mungkin, coba cari lagi. Pasti ada." ujar Olivya dengan sedikit teriak dan air mata yang sudah menderas.
"Sudah nona, tapi tetap saja tidak ada."
Harapan Olivya pupus, ia menangis sejadinya. Berta mencoba menenangkan Olivya.
"Nona, coba lihat itu?" ujar Berta.
Olivya mengangkat wajahnya, ia menatap kearah ranjang yang didorong oleh beberapa perawat ditunjuk oleh Berta. Olivya mendekat kearah beberapa perawat yang sedang mendorong ranjang itu dan diikuti oleh Berta dan dua pengawal.
"Kumohon berhenti sebentar." perawat ini menghentikan dorongnya. Olivya menatap intens wajah seorang pria dengan luka di kepala yang terbilang cukup parah. Telapak tangannya mengusap darah yang menutupi wajah pria itu.
Saat tahu siapa pria itu, Olivya menutup mulutnya. Tak peduli jika tangannya masih berlumuran darah.
"Oh, gosh... Mad.." teriak Olivya.
"Maaf nona, kami harus menangani pasien secepatnya." ujar salah satu perawat. Olivya memberikan jalan, tubuhnya lemas. Ia terduduk dilantai yang dingin dan menangis dengan histeris.
"Mad, hiks.. hiks..." Olivya menutup wajahnya dengan telapak tangan yang penuh dengan darah.
"Nona, nona yang sabar. Kabar baik pertama, tuan Mad masih hidup. Berdoa lagi nona, agar tuan Mad bisa selamat dan kembali membuka matanya."
"Tapi... Tapi lukanya cukup parah, hiks..hiks.."
"Sstt, cukup nona. Tuan Mad akan sedih jika tau nona seperti ini. Jika nona kuat, Tuan Mad juga pasti akan kuat melewati ini semua."
Pengawal memberitahukan bahwa mobil menuju ke apartemen pribadi Mad yang berada di Hawai telah siap. Olivya sempat menolak untuk kembali ke apartemen, tapi berkat bujuk dan rayu dari Berta, Olivya ikut saja walau air mata masih belum bisa berhenti.
Saat sampai di apartemen, Olivya tetap tidak bisa tidur. Berta yang berada disebelahnya sudah tertidur pulas, ia tahu, Berta pasti kelelahan mengurus dirinya seharian. Rasa khawatir terus menyelimuti diri Olivya saat terbayang-bayang bagaimana parahnya luka di kepala Mad.
Olivya melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua malam. Dengan gerakan perlahan, Olivya turun dari ranjang agar tak mengganggu tidur Berta. Malam yang larut ini, ia nekat pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Mad.
Olivya membuka pintu kamarnya, sebuah keberuntungan. Dua pengawal itu sedang tertidur pulang diatas sofa yang lebar. Nampaknya dua pengawal ini juga kelelahan sama seperti Berta. Olivya kembali ke dalam kamar, ia melupakan ponsel dan dompetnya. Setelah mengambil, Olivya berjalan keluar apartemen.
Saat sudah sampai di loby, ia melihat sebuah taksi yang berjejer rapi didepan gedung apartemen. Olivya menaiki salah satu taksi dan meminta untuk mengantarkannya di rumah sakit, dimana Mad sedang dirawat.
Olivya tidak fokus dengan pemandangan indah pulau Hawai ini. Pikirannya terus melayang kearah keadaan Mad. Taksi yang ia naiki ini membelok kearah salah satu rumah sakit yang menjadi tujuan Olivya. Setelah membayar dengan harga yang sudah ditentukan, Olivya bergegas turun dan langsung masuk kedalam rumah sakit.
Pertama kali yang ia tuju adalah meja resepsionis.
"Nan, kamar tuan Madrick Vallencio korban kecelakaan pesawat jatuh dimana ya?" tanya Olivya.
"Sebentar saya cek dulu."
Olivya menunggu seorang Nanny cantik ini mengotak-atik komputernya.
__ADS_1
"Diruang Golden VVIP nomor 31." Olivya langsung bergegas masuk kedalam lift dan menuju ruang Golden VVIP.
Setelah sampai, Olivya mengurutkan satu persatu nomor. Diujung sana, ia melihat angka nomor 31. Tak menunggu lama, ia berjalan cepat. Olivya langsung membuka pintu ruang rawat Mad. Air matanya kembali deras saat melihat kondisi Mad saat ini. Banyak sekali alat penunjang kehidupan yang terpasang ditangan dan kepala Mad.
"Mad.. hiks." lirih Olivya sambil memegang tangan Mad yang terinfus.
"Anda siapa?" Olivya terkejut saat melihat seorang perawat masuk dengan membawa alat pemeriksaan dan juga didampingi seorang dokter paruh baya.
"Sa-sa-saya kekasihnya." ujar Olivya dengan gugup.
"Kamu kekasihnya?" tanya dokter itu dengan ramah.
"Iya."
"Kondisi tuan Madrick saat ini sedang mengalami koma."
Deg
Hati Olivya bagai tersambar petir saat mengetahui bahwa Mad mengalami koma. Yang artinya, tidak dapat diprediksi kapan Mad akan sadar.
"Benturan di kepalanya cukup parah. Yang saya takutkan, tuan Mad akan mengalami amnesia."
Olivya menangis dalam diam. Hatinya bagai dihantam seribu batu. Mad akan mengalami amnesia? Walaupun itu masih dugaan, tapi entah mengapa ia merasa takut jika hal itu benar terjadi.
Olivya duduk disebelah ranjang Mad. Dokter dan perawat telah pergi meninggalkan ruangan sejak dua puluh menit yang lalu. Olivya terus menatap wajah pucat Mad. Ia menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Rasa kantuk pun datang, ia membaringkan kepalanya disebelah tangan Mad dengan posisi yang masih duduk dikursi.
Hari sudah menjelang pagi, Berta dan dua pengawal masuk kedalam ruangan Mad dengan wajah yang khawatir. Bagaimana tidak? Berta bangun di pagi hari dan tak menemukan keberadaan Olivya disebelahnya. Secepat mungkin Berta memberitahukan pengawal dan mencari Olivya ke rumah sakit. Berta bernafas lega saat melihat Olivya tertidur pulas disebelah ranjang Mad.
"Kalian bisa jaga disini, saya akan cari sarapan untuk kita makan." ujar Berta dan langsung diangguki oleh dua pengawal ini.
Berta melangkah keluar ruangan, sedangkan kedua pengawal itu berdiri tegap di depan ruangan dengan wajah datar khas mereka.
Olivya mengerjapkan matanya saat sinar matahari menyilaukan matanya. Matanya yang sembab, membuat pengelihatan Olivya sedikit meremang.
"Nona sudah bangun? Tadi saya khawatir saat tidak ada nona di apartemen." ujar Berta yang baru saja masuk sambil membawa sebuah tas yang berisi makanan.
"Maafkan aku Berta, aku tak bisa tidur." ujar Olivya.
"Sudahlah, yang penting nona baik-baik saja. Saya bawakan pasta, ayo dimakan dulu."
"Bagaimana dengan pengawal? Apakah mereka juga sudah makan?"
"Saya sudah memberikan bagian mereka sarapan. Ayo sarapan nona."
Olivya menuju sofa. Ia menunggu Berta yang sibuk menata pasta didepannya. Perutnya memang sangat lapar, terakhir ia makan saat di pesawat.
"Berta, kau tak makan?" Olivya berhenti memasukkan garpu yang sudah dibaluti pasta saat melihat Berta hanya diam sambil menatapnya makan.
"Nona makan dulu, saya nunggu nona selesai."
Olivya menggeleng, "Ayo makan. Kita makan bersama."
"Tidak nona, itu tidak sopan."
"Eh, baiklah nona. Saya akan makan."
Olivya tersenyum dan kembali menyendokkan garpu nya kedalaman mulut.
***
Tiga hari kemudian...
Olivya senantiasa berada dirumah sakit. Bahkan, ia meminta pengawal untuk membawakan kopernya di rumah sakit. Selama Mad dirawat, ia akan tidur, mandi, dan makan diruangan ini.
Olivya sedari tadi melamun, ia menatap kosong kearah wajah Mad yang masih senantiasa menutup matanya. Tiga hari sudah berlalu, dan Olivya lewati dengan hari-hari yang suram tanpa ada ke-posesifan dari Mad.
"Mad, kapan kau akan sadar?" lirih Olivya sambil mengeluarkan air mata. Berta pamit kembali ke apartemen untung mencuci baju. Olivya pun tak keberatan.
"Buka matamu Mad, lihatlah.. aku disini. Maafkan aku Mad yang telah melanggar perintah mu. Hukum aku dengan cara apapun Mad, tapi jangan seperti ini. Kau akan semakin membuatkan tersiksa dengan kondisi mu ini. Apa indahnya dengan kau terus menutup mata? Lihatlah, ada yang lebih indah untuk kau tatap daripada kegelapan. Mad.. hiks... Buka matamu, Mad."
"Engh," Olivya mengangkat wajahnya saat mendengar lenguhan dari seseorang. Matanya yang masih sisa airmata sedikit berbinar saat melihat pergerakan dari tubuh Mad. Dengan cepat, Olivya memencet tombol yang akan memanggil Dokter. Tak lama, dokter pun datang dengan seorang perawat yang mengikutinya.
"Dok, dia bergerak." ujar Olivya dengan berbinar.
"Saya periksa."
Dokter memeriksa tubuh Mad dengan berbagai alat pemeriksaan.
"Puji Tuhan, tuan Mad sadar dengan cepat. Dia kuat, dia mampu melewati masa komanya." ujar sang dokter.
Mad membuka sempurna matanya. Ia menatap kearah Olivya dan langsung beralih kearah dokter.
"Dimana saya?" tanya Mad dengan wajah datar.
"Anda dirumah sakit." jawab dokter.
"Apa yang terjadi padaku?" tanyanya lagi
"Kau mengalami kecelakaan pesawat, Mad." balas Olivya.
Mad mengerutkan alisnya sambil menatap Olivya.
"Siapa kamu?"
Deg
Deg
Deg
Hati Olivya bagai tersambar petir. Pertanyaan yang Mad lontarkan membuat pendirian Olivya runtuh.
"Dok. Dia-dia..." Olivya tak mampu melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
"Seperti yang saya katakan, tuan Mad kemungkinan besar akan mengalami amnesia karena benturan yang berada di kepalanya. Dan, tuan Mad pasti mengalami amnesia atau mungkin selamanya. Saran saya, jangan memaksa tuan Mad untuk berpikir lebih keras atau sakit di kepalanya akan bertambah."
Olivya tidak mampu mencerna ucapan sang dokter.
Mad??
Mad mengalami amnesia?
Amnesia???
SELAMANYA??
Sang dokter pamit pergi dan diikuti seorang perawat.
"Mad.. kau--kau, kau tak mengenalku?" tanya Olivya dengan air mata yang sudah hampir deras.
"Saya tidak peduli siapa anda. Yang pasti saya tidak mengenal anda. Bisakah saya meminta bantuan? Tolong ambilkan saya segelas air." ujar Mad.
Bahkan, Mad menggunakan kata-kata formal padanya. Olivya hanya menurut mengambilkan air minum Mad dengan air mata yang masih mengguyur. Setelah itu, memberikan segelas mineral pada Mad.
"Kenapa anda menangis?" tanya Mad.
Olivya menghapus airmatanya, ia tersenyum kearah Mad.
"Tidak tuan, saya hanya menangis haru saat tuan sudah bangun." Olivya bisa saja mengatakan bahwa dirinya adalah kekasihnya. Tapi ia masih ingat ucapan dokter bahwa melarang Mad untuk berpikir keras terlebih dahulu.
Ceklek
Seseorang masuk kedalam dengan membawa keranjang buah yang cukup besar.
"Mad, aku sungguh mengkhawatirkan keadaanmu saat tahu pesawat yang kau tumpangi jatuh." Lovina menaruh keranjang buah diatas meja dan langsung berhambur ke pelukan Mad.
"Kau baik-baik saja kan?" tanya Lovina dengan wajah yang khawatir.
"Aku sudah cukup baik." balas Mad dengan senyuman tipis.
"Em, maaf. Aku tidak menyadari keberadaanmu." ujar Lovina saat Olivya yang baru saja meletakkan gelas sisa Mad minum.
"Maafkan aku Mad karena lancang memelukmu." lanjut Lovina sambil menatap Mad.
"Tidak apa-apa, kau berhak untuk itu." balas Mad.
"Tapi kekasihmu?" tanya Lovina dengan bingung sambil menatap kearah Olivya.
"Dia bukan kekasihku, dia hanya seorang maid."
Hati Olivya bagai ditikam seribu pisau. Ucapan dari Mad mampu membunuh harapannya dalam sekejap. Separah itukah Mad melupakannya?
Mad... batin Olivya memanggil nama Mad dengan lirih.
Hati sangat sakit saat melihat kedekatan Mad dengan gadis yang pernah menculiknya. Bahkan Olivya ingat betul wajah gadis itu. Bahkan, Mad tak mempermasalahkan jika Lovina pernah menculiknya.
Madrick Vallencio. Seorang yang belum pernah menyakiti hati Olivya, kini bukan hanya menyakiti, tapi meruntuhkan kekuatan hati Olivya.
Jika Olivya pikir ini adalah sebuah balasan atas kelakuannya yang melanggar ucapan Mad untuk tidak berdekatan dengan siapapun, ini sungguh menyakitkan bagi Olivya.
Tidak mungkin ini hanya balasan, Olivya melihat sendiri bagaimana parahnya luka di kepala Mad dan jika Mad mengalami amnesia, itu hal yang lumrah.
"Tuan? Tuan sudah sadar?" Berta yang baru saja masuk kedalam ruangan sambil membawa rantang berisi makanan.
"Berta? Kamu disini juga?" tanya Mad.
"Iya tuan, saya menjaga nona Olivya." balas Berta. Berta masih belum tahu jika Mad mengalami amnesia.
"Untuk apa? Seorang maid yang bekerja untukku harus mandiri dan tidak bergantungan pada orang lain." balas Mad.
"Maksudnya tuan?"
"Maid ini datang untuk merawatku kan? Kenapa juga harus kau jaga?" ucap Mad sambil menatap kearah Olivya yang sedang menunduk.
"Tuan, nona Olivya bukan seorang ma--"
"Berta, kau bawa makanan kan? Tuan Mad pasti lapar." potong Olivya saat tahu apa yang ingin Berta katakan.
"I-iya, nona."
"Berta, kenapa kau memanggil dia nona? Kedudukan dia denganmu sama. Yang pantas kau panggil nona adalah gadis cantik di depan ku ini." sambar Mad sambil membelai rambut panjang milik Lovina.
Berta merasa terkejut, ia masih belum seutuhnya paham.
"Tap--"
"Berta, ayo keluarkan makanannya. Mad sudah lapar." potong Lovina dan langsung merampas rantang dari tangan Berta.
"Kalian berdua boleh pergi, biarkan kami berdua didalam." Titah Mad dengan menyuruh Berta dan Olivya untuk keluar ruangan.
Olivya dan Berta patuh saja. Saat sudah diluar ruangan, Olivya memberitahu kenyataan bahwa Mad mengalami amnesia dengan air mata yang sudah deras membanjiri pipinya.
"Nona Olivya yang sabar ya, saya yakin. Pasti tuan Mad akan sembuh dari amnesia. Nona hanya perlu berdoa sama Tuhan." tutur Berta.
"Rasanya sakit melihat Mad berdekatan dengan seorang wanita yang pernah menculikku, hiks.."
"Yang sabar ya non. Nona Lovina memang begitu orangnya, saya tahu sifat aslinya."
Olivya mengerutkan dahinya, "Bagaimana bisa?" tanya Olivya dengan bingung.
"Nona Lovina anak orang kaya yang sekarang bapak nya sudah bangkrut. Tapi, mereka berhasil membangun kembali perusahaannya. Fakta yang harus nona tau, nona Lovina adalah mantan kekasih tuan Mad"
Fakta baru lagi yang Olivya tahu. Sebelumnya ia memang tak tahu jika wanita itu adalah mantan kekasih Mad. Mantan, yang pastinya akan membuat Mad jatuh cinta lagi terhadap Lovina dan melupakan dirinya.
TBC
Update nih, hihihi.
__ADS_1
Love you all :3