
Pagi yang cerah. Sang mentari menyapa bumi dengan sinarnya. Cahaya matahari masuk melalui celah-celah gorden yang sedikit terbuka, hingga, membuat gadis cantik yang sedang meringkuk diatas kasur mengedipkan matanya karena silau.
Olivya menyibakkan selimutnya, ia menyesuaikan matanya dengan sinar matahari yang masuk. Olivya terbangun dan beranjak dari kasur. Ia membuka lebar-lebar gordennya hingga sinar matahari sepenuhnya masuk kedalam kamarnya yang luas ini. Olivya membuka pintu balkon, ia berjalan menuju balkon dan berhenti tepat di railing balkon. Ia melihat kota Italy yang sangat indah dari atas kamarnya. Sangat indah. Matanya menangkap sebuah bangunan besar yang menjulang tinggi. Sangat indah dan mewah. Pasti yang punya bangunan perusahaan itu orang kaya.
Lama ia menatap bangunan tersebut, tanpa sadar seseorang tengah memeluknya dari belakang. Olivya terkejut, saat ia tahu siapa yang memeluknya, Ia tak lagi memberontak. Wangi khas yang membuat gadis itu tau siapa pemiliknya.
"Melihat bangunan itu heh?" suara serak khas orang bangun tidur masuk kedalam gendang telinga Olivya. Sungguh, seksi.
Olivya mengangguk, ia memang tengah memperhatikan bangunan besar yang menjulang tinggi.
"Ingin Kesana?" tanya Mad, sambil meletakkan dagunya diatas pundak Olivya.
"Apa boleh?"
"Tentu saja boleh."
"Serius?"
Mad membalik badan Olivya hingga berhadapan dengan nya. "Bersiaplah sebelum aku berubah pikiran."
Olivya mengangguk, ia melepaskan diri dari Mad dan berlari menuju kamar mandi dengan ceria. Soal kakinya, Olivya sudah lancar berjalan.
Mad menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat tingkah Olivya yang seperti anak kecil. Ia merasa senang, apabila Olivya bermanja dengannya. Mad berjalan keluar kamar mandi. Ia juga harus bersiap diri untuk mengantarkan Olivya ke gedung yang menjulang tinggi itu.
***
Olivya selesai bersiap. Ia keluar dari walk in closet. Olivya hanya mengenakan gaun hitam selutut dengan bagian lengan yang pendek. Warna gaunnya sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Olivya mematut dirinya di cermin. Rambutnya yang sepunggung, ia biarkan tergerai. Ia memutar tubuhnya didepan cermin. Olivya memuji kecantikan dirinya yang alami. Alami maksudnya tanpa make up. Ia mendekatkan wajahnya di depan cermin hingga bayangan cermin penuh dengan wajahnya.
Olivya memegang bibirnya yang pucat, Ia membuka rak kaca cermin yang mewah ini. Betapa terkejutnya dia, banyak sekali macam-macam lipstik. Bukan dari yang termurah, tapi semuanya adalah lipstik yang harganya tak bisa dibilang murah.
Pilihannya jatuh pada sebuah liptin berwarna pink. Olivya pun langsung memoleskan sedikit liptin itu.
Setelah selesai, Olivya mengambil ponselnya yang berada diatas tempat tidur. Ia menyalakan ponselnya dan, banyak sekali notifikasi dari Instagram yang mengikuti akunnya. Baru semalam ia membuat akun Instagram, sudah beribu orang yang meminta pertemanan dengannya.
Olivya baru sadar, ada satu orang yang sudah ia ikuti akun Instagram nya. Saat dibuka, itu adalah akun Mad. Ia membuka akun Mad, ia terkejut lagi. Ternyata followers akun Instagram Mad sudah mencapai ratusan ribu.
Tak ingin berlamaan dengan ponselnya, Olivya langsung mematikan ponselnya dan berjalan keluar kamar. Sebelum itu, ia mengambil flat shoes berwarna hitamnya.
Olivya berjalan menuruni tangga. Disaat sudah diujung tangga, Ia berpapasan dengan Mad. Olivya terperangah melihat penampilan Mad.
Perfect batin Olivya.
Siapapun akan tergoda dengan penampilan Mad. Ia menggunakan tuxedo hitam yang melekat begitu pas ditubuhnya. Sangat gagah dan .... Tampan.
"Tergoda heh?"
Olivya mengalihkan pandangannya, bagaimana bisa ia tertangkap basah oleh Mad saat ia menatapnya dengan terang-terangan.
Mad sendiri tak bisa memungkiri jika gaun yang Olivya kenakan sangat pas ditubuh Olivya. Dan warna nya pun serasi dengan tuxedo yang ia kenakan.
"Tuan, mobilnya sudah siap." Olivya bernafas lega, pengawal itu tadi membantu Olivya dalam kegugupan yang nyata. Mad menoleh, ia pun mengangguk kearah pengawalnya.
"Ayo," Olivya melihat ukuran telapak tangan kearahnya. Dengan gerakan pelan nan ragu, Olivya menggapai telapak tangan Mad yang besar itu. Tak sebanding dengan telapak tangannya yang kecil.
Mad menggenggam erat tangan Olivya. Mereka berjalan beriringan menuju pintu utama. Saat sampai, Olivya melihat sebuah mobil hitam mewah didepannya. Oh ayolah, ini hanya mengunjungi sebuah gedung, bukan ingin melakukan tunangan atau pernikahan.
Salah pengawal membukakan pintu belakang untuk Olivya dan Mad.
"Mad, kenapa pakai mobil mewah?" tanya Olivya dengan pelan saat pengawal telah menutup pintunya.
"Aku ingin membuatmu merasa istimewa dengan hal kecil." balas Mad.
"Hal kecil? Ini berlebihan untukku Mad. Kit---"
__ADS_1
"Ssshhhh, diam lah. Jangan mengoceh lagi." potong Mad dengan meletakkan jari telunjuknya didepan bibir Olivya.
Mad menekan salah satu tombol yang berada diatas mobil. Seketika, sebuah dinding pemisah antara sopir dengan penumpang tertutup. Hingga menyusahkan Olivya untuk melihat pemandangan dari depan.
"Kenapa kau menutupnya? Aku tak bisa melihat pemandangan didepan."
"Apakah kaca sebelah mu tak bisa kau lihat Vya sayang?"
"Tapi aku ingin melihat didepan, bukan dari samping."
"Ya Tuhan. Diam lah Vya sayang. Aku tak ingin membuatmu turun dari mobil ini." ujar Mad dengan selembut mungkin.
"Kalau begitu, turunkan aku disini." tantang Olivya.
Mad memberi isyarat sesuatu dan mobil pun berhenti. Olivya tercengang.
Apakah dia seriusan menurunkanku disini? batin Olivya.
"Turun." titah Mad dengan wajah datar.
Seketika tubuh Olivya menegang.
"Ayo turun, bukankah itu mau mu nona Olivya?" tanya Mad.
Olivya menarik nafasnya dalam-dalam. Dengan tekad yang sudah bulat, Olivya membuka pintu mobil. Kakinya sudah turun satu, ia menoleh kearah Mad yang senantiasa masih menatapnya dengan wajah datar.
Cepat-cepat, Olivya turun dari mobil. Ia menutup pintu mobilnya. Seketika itu, mobil pun melaju meninggalkannya. Setelah mobil itu pergi dari hadapannya, di sebrang, ia melihat Mad yang berdiri tegap dengan menatapnya. Wajahnya yang datar dengan setelah tuxedo yang pas pada tubuhnya.
Mad berjalan tegap kearah Olivya. Rambutnya yang sedikit panjang, berterbangan karena angin. Olivya hampir saja berhenti bernafas saat melihat ketampanan Mad.
"Jika kau turun, maka aku juga akan turun. Aku takkan membiarkan mu sendirian." Olivya menjadi salah tingkah dengan ucapan Mad yang terdengar seksi ditelinga nya.
"Ayo." Mad mengulurkan tangannya kepada Olivya. Dengan senang hati, Olivya meraih uluran tangan Madrick.
***
Banyak para pegawai yang berdiri dari duduknya dan memberikan hormat pada Mad.
"Kenapa mereka seperti sedang hormat padamu?" tanya Olivya dengan bingung.
"Aku pemilik gedung ini." jawab Mad dengan enteng.
"Kamu ini, mengaku saja."
"Ya sudah jika kamu tak percaya."
"Mad, aku pengin ke atas gedung."
"Di kabulkan. Ayo."
Mad menarik tangan Olivya menuju lift. Hingga lift terbuka, Mad dan Olivya melangkah masuk. Jari telunjuk Mad memencet tombol yang menunjukkan angka 40.
"Apakah kita akan lama berada didalam lift ini? Lihat, tingkatnya saja sampai 40. Adakah yang lebih tinggi lagi dari ini?"
"Tentu saja ada. Tapi aku akan mengajakmu keruangan kerja ku." balas Mad.
"Apakah seriusan ini gedung milikmu?"
"Kau masih tak percaya rupanya."
"Tentu saja aku tidak percaya. Kau kan seorang mafia, jarang seorang mafia yang memiliki sebuah gedung. Ada sih, mungkin takkan setinggi ini."
"Apakah bukti diriku masih belum kuat untukmu?" tanya Mad.
__ADS_1
"Mungkin."
Setelah itu, mereka berdua saling diam. Hingga, sebuah lift telah mengantarkan mereka ke lantai 40. Olivya mengikuti langkah panjang milik Mad yang berjalan mendahuluinya.
Mad membuka sebuah pintu yang bercat putih. Warna kesukaannya. Dengan modal sidik jari, pintu itu berhasil dibuka. Mad mengajak Olivya untuk masuk. Entah untuk ke berapa kalinya ia dibuat terperangah oleh Mad. Ruangan ini jauh lebih mewah dan indah dari gedung loby. Dan ditembok tepat didepan saat ia masuk, tertuliskan nama Madrick Vallencio's.
"Ayo."
Mad berjalan lebih masuk lagi kedalam ruangannya. Ia mengajak Olivya menuju balkon ruangannya. Rasa gemetar menyelimuti diri Olivya. Bagaimana tidak? Lantai balkon ini terbuat dari kaca. Hingga dapat menampilkan ketinggian gedung dari atas sini. Jangankan menginjak, melihat saja, Olivya sudah ngeri.
"Ayo." ajak Mad.
"Nggak, a-a-aku takut." balas Olivya dengan terbata-bata.
"Lama." Mad menarik paksa Olivya hingga tubuh Olivya menubruk dada bidang Mad.
"Tuhan, Tuhan. Selamatkan aku." ujar Olivya dengan mata tertutup dan memeluk erat tubuh Olivya.
"Apakah kau ingin tetap di pelukanku, baby?"
Olivya membuka matanya dengan lebar. Ia melepaskan tubuhnya dari tubuh Mad. Seakan, ia juga lupa dimana dia berdiri sekarang. Di kaca bening yang menampilkan ketinggian gedung ini.
"Maaf." dengan perlahan Olivya menunduk. Ia pun langsung sadar dimana kakinya berdiri sekarang.
"Aaaahhhhhh." teriak Olivya yang langsung memeluk tubuh kekar Mad.
"Tenanglah, ini takkan membuatmu jatuh."
"Aku takut, aku takut, aku takut." gumam Olivya.
"Hey, jangan menangis Vya sayang. Kita takkan mati disini."
"Huaaaaa, aku takut." tangis Olivya yang semakin pecah.
Mad yang tak tahan langsung menggendong tubuh Olivya seperti anak kecil. Ia melangkah menuju masuk kedalam ruangan tak membiarkan pintu balkon yang terbuka. Mad mendudukkan tubuh mungil Olivya diatas meja kerjanya. Dengan gerakan perlahan, Mad menghapus air mata Olivya.
"Kenapa kau begitu takut, heh?" tanya Mad.
"Aku trauma, dulu ikat rambutku jatuh dari atas gedung sekolah dan aku mencoba menangkapnya, dan seketika itu tubuhku ikut terjatuh, untung ada sebuah ****** yang menyelamatkan ku." jawab Olivya.
"What? Seberapa tinggi gedung sekolah Mu itu?"
"Dua meter."
Mad menahan tawanya, "Vya sayang, setinggi tiga meter saja ku bisa melompatinya. Ini hanya dua meter, tidak terlalu tinggi."
"Tapi bagi seorang perempuan seperti ku, dua meter itu tinggi."
"Iya-iya, terserah padamu. Masih mau keatas atap?" tawar Mad.
"Enggak mau. Mad, aku lapar." rengek Olivya.
"Mau makan apa sayang, hm?"
"Apa saja yang penting bisa dimakan."
"Bagaimana kalo kita makan masakkan Italy?"
"Setuju."
***
TBC
__ADS_1