My Dangerous Mafia

My Dangerous Mafia
Penembakan


__ADS_3

Mad berjalan sepanjang lorong perusahaannya. Ia berniat untuk keruangan bawah tanah yang ada di perusahaannya. Banyak para Karyawan yang yang tak mengetahui soal itu, dan hanya anak buah Mad yang tahu.


Mad merasakan hawa panas diruangan ini. Ia juga mencium bau sangat menyengatkan. Disana, ada anak buahnya yang sedang mencoba mencampurkan sebuah cairan baru. Cairan yang akan membuat kulit orang yang mengenainya jadi busuk dan mengelupas.


"Tuan?" sapa salah satu anak buahnya dengan hormat dan sopan.


"Ada hama baru, aku mau kau menyiapkan pistol yang hanya bisa menggunakan sidik jariku." perintah Mad.


Bodyguard itupun hanya mengangguk, entah alasan apa Mad menyuruhnya, ia tak berani untuk bertanya soal itu.


"Tuan, harus berapa biji akan kusiapkan?" tanya bodyguard itu. Mad tampak menimang-nimang dan berpikir.


"Tunggu kabar dariku" balas Mad sambil melangkah pergi.


Disisi Lain


Olivya tengah termengu dipinggiran kolam renang. Kakinya ia masukkan kedalam kolam. Pandangannya kosong, kedua tangannya saling meremas.


Apakah ini takdir hidupku? Kenapa serumit ini? batin Olivya.


"Olivya!" panggil seseorang dari belakang. Olivya menyadarkan lamunannya dan menoleh kebelakang. Ia terkejut yang mendapati Verlyn dengan gadis asing disebelahnya. Olivya mengangkat kakinya dari dalam kolam. Ia berdiri dan berjalan mendekat kearah Verlyn.


"Verlyn? Kau sudah pulang? Kenapa cepat sekali?" tanya Olivya. Pasalnya, Verlyn selalu pulang sore.


"Iya, karena Dady menjemputku" balas Verlyn.


"Dady?" tanya Olivya dengan bingung.


"Iya Dadyku"


"Ohh, baguslah Ver. Kau sudah bertemu dengan ayah kandungmu. Aku turut ikut senang." ucap Olivya dengan senang.


"Ya, bahkan aku sudah bertemu dengan ayahku setiap hari, namun aku tak menyadari." ujar Verlyn.


"Maksudmu?" tanya Olivya dengan bingung.


"Kenalin, ini Violin. Saudara kembarku. Dan kau tau siapa ayahku sebenarnya?"


"Siapa?"


"Aku." Olivya melihat seseorang paruh baya yang baru datang.


"Uncle Gaston?" tanya Olivya dengan bingung.


"Yaps, mereka adalah putri kembarku nak Olivya." ujar Gaston.


"Benarkah?" tanya Olivya dengan senang.


"Iya. kenalin, Violin Jordaness Ningsih." Violin mengulurkan tangannya kearah Olivya. Dengan senang, Olivya menerima jabatan tangan Violin.


"Aku Olivya Macrime." balas Olivya.


"Nice to meet you"


"Nice to meet you too" Olivya tersenyum.


"Apakah kau juga akan tinggal disini?" tanya Olivya pada Violin. Violin menatap Gaston untuk meminta jawaban dari pertanyaan Olivya.


"Untuk sementara Violin akan tinggal di apartemen paman dan juga dengan Verlyn" jawab Gaston.


Olivya merubah mimik wajahnya menjadi cemberut.

__ADS_1


"Kenapa tidak disini saja paman? Aku akan kesepian lagi nanti." ujar Olivya.


"Kami belum mendapatkan iz--"


"Saya izinkan putrimu untuk tinggal disini. Sebagai catatan untuk menemani Olivya." potong Mad yang entah sejak kapan sudah berdiri di pintu kaca yang menghubungkan mansion dengan kolam renang.


Mad berjalan mendekat kearah Olivya. Ia berdiri disebelah Olivya.


"Apakah kau bicara serius?" tanya Olivya.


"Ya." balas Mad singkat.


"Terima kasih tuan"


"Hm,"


Dorrrr


"Akkhhh,"


"Olivya!!!" Mad berteriak kencang, saat kaki mulus Olivya terkena tembak Hingga mengeluarkan darah segar.


"Hiks.... Sakit.." erang Olivya yang sudah ambruk.


"Gaston, gerakkan pengawal cepat!!" perintah Mad yang langsung diangguki oleh Gaston.


Violin dan Verlyn bingung harus melakukan hal apa. Mad pun sudah membopong tubuh mungil Olivya.


"Kalian, beritahu para Maid untuk membawakan obat." ujar Mad pada Violin dan Verlyn.


"Ayo!" ajak Verlyn dan langsung memasuki kedalam mansion.


"Hiks... Mad, sakit..." Mad merasa dicambuk hatinya sangat mendegar lirihan Olivya.


"Tuan, ini obatnya." ucap Maid dengan sopan dan diikuti Verlyn dan Violin dibelakangnya.


"Kamarnya mewah. Beruntung gadis itu." bisik Violin pada Verlyn.


"Ssttt, diam." balas Verlyn dengan bisikan.


Mad mengobati luka tembak Olivya dengan sangat hati-hati. Sebelumnya, Mad telah memberikan Olivya obat bius hingga membuat Olivya tertidur.


"Mad, kenapa tak dibawa dirumah sakit saja? Dokter lebih tahu soal mengeluarkan peluru." ucap Verlyn.


"Kau pikir aku bodoh? Apakah kau bisa menjamin kalo Vya akan bisa bertahan hingga rumah sakit?" balas Mad dengan menatap tajam Verlyn.


Verlyn diam seribu bahasa. Mad kembali fokus pada kaki Olivya dan mengobatinya dengan telaten. Lama ia berkutit dengan luka Olivya, akhirnya selesai juga. Mad berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tangannya yang penuh darah.


"Bersihkan ini, aku akan pergi. Kalian, jaga Olivya disini. Setengah jam lagi, Vya akan sadar." ucap Mad pada Violin dan Verlyn. Ia melangkah keluar kamar.


"Saya permisi," ucap maid setelah membersihkan sisa-sisa kapas dan juga obat merah. Verlyn mengangguk


sebagai jawaban. Verlyn berjalan dan duduk ditepi ranjang. Ia melihat wajah Olivya yang pucat ditambah dengan kerutan di dahinya, tanda dalam tidurnya pun Olivya dilanda ketakutan.


"Apakah dia pacar si Mad?" tanya Violin. Verlyn menoleh kearah saudaranya.


"Mad memaksanya untuk menjadi kekasihnya." balas Verlyn lalu kembali menatap wajah Olivya.


"Aku akan kebawah mengambil minum." ujar Violin. Baru beberapa langkah ia berjalan, Verlyn menghentikan langkah Violin.


"Jika kau ingin kebawah, ajak pengawal yang ada diluar kamar. Sekarang, rumah ini belum aman." Violin mengangguk.

__ADS_1


Violin keluar kamar dan mendapati dua pengawal bertubuh besar dengan pakaian serba hitam.


"Hallo?" salah pengawal muda menoleh kearah Violin.


"Apakah kau bisa mengantarkanku mengambil minum dibawah?" tanya Violin.


"Mari nona." ucap pengawal muda itu.


Violin berjalan beriringan dengan pengawal itu. "Ngomong-ngomong siapa namamu?" tanya Violin.


"Jason," jawab pengawal bernama Jason dengan singkat.


"Sudah berapa lama kau bekerja disini?" tanya Violin basa basi. "Sudah hampir lima tahun" balas Jason.


"Lumayan lama." balas Violin.


Violin dan Jason sudah sampai didepan dapur. Violin melangkah masuk kedalam dapur yang megah. Ia berhenti tepat didepan lemari pendingin, sikapnya yang tak kenal permisi, tidak sedikitpun luput darinya. Violin mengambil beberapa camilan didalam lemari pendingin dan tak lupa minuman soda untuk ia bawa keatas. Ia mencari sesuatu yang dapat membantunya untuk membawa camilan dan minumannya, hingga ia menemuka setumpuk keranjang putih yang elegan. Violin mengambil satu dan menaruh camilan dan minumannya kedalam keranjang. Ia melangkah keluar dan mendapati Jason yang masih berdiri tegak didepan dapur.


"Tolong bawain," ucap Violin pada Jason. Sikap bosy-nya sangat melekat pada dirinya. Jason pun mengangguk dan mengambil alih keranjangnya. Ia melangkah terlebih dahulu meninggalkan Violin.


"Loh, kok ditinggalin? Kalau ada penjahat gimana? Hey, Jason! Tunggu!" Violin berlari mengejar Jason yang hendak menaiki tangga.


× × ×


Mad melangkah keluar gerbang mansion dengan angkuh. Seseorang yang telah menembak Olivya sudah berhasil ditangkap oleh anak buahnya. Mad tersenyum ala devil saat melihat siapa yang tengah disekap anak buahnya.


"Wow, Yuan? Apa kabar?" tanya Mad dengan senyuman liciknya.


Yuan merupakan mantan anak buahnya yang berasal dari China. Dulu, Yuan pernah menjadi tangan kanan seorang Madrick, namun Yuan telah mengkhianati Mad dengan cara membobol semua aset kekayaan Mad. Namun, bukan Mad jika ia berhasil ditaklukkan oleh lawannya. Ingin rasanya Mad membunuh Yuan saat itu juga, namun kesempatan emas didapat oleh Yuan. Saat itu, mood Mad sangat bagus hingga ia meloloskan Yuan.


Namun, kali ini Mad takkan memberikan ampun dalam bentuk apapun. Siapapun berani melukai gadisnya, nyawa sebagai gantinya.


Yuan menatap tajam kearah Mad. Tatapan yang menunjukkan bahwa ia tak ada rasa takut sedikitpun kepada Mad. Mad yang tahu arti tatapan Yuan pun tertawa hambar.


"Buruk sekali hidupmu. Permainanmu sangat menjijikan, kau pikir, kau bisa mengalahkanku?" tanya Mad dengan angkuh.


Bruk


Mad menendang perut Yuan dengan keras hingga membuat Yuan mengeluarkan darah segar dari mulutnya dan ambruk terlentang. Mad menginjak perut Yuan.


"Siapa yang berani menyuruhmu melakukan hal konyol seperti ini?" desis Mad tepat didepan wajah Yuan.


"Jawab bodoh!"


Plak


Mad menampar keras pipi kanan Yuan. Yuan merasa panas dan nyeri pada pipinya. Tamparan Mad memang sangat keras.


"Baiklah jika kau tak ingin memberitahuku, akan kucari tahu sendiri." sambung Mad. Ia berdiri tegak, membenarkan sedikit jasnya yang kusut.


"Gaston!! Bawa ia kedalam ruang penyiksaan, siksa dia dan paksa dia untuk beritahu siapa dalang dibalik ini semua." perintah Mad yang langsung diangguki oleh Gaston.


Gaston dan anak buah Mad lainnya membopong tubuh lemah Yuan dengan kasar. Mad melirik arlojinya. Ia tersenyum ala devil.


"Kau hanya berani main dibelakang." gumam Mad masih dengan senyuman Devilnya.


TBC


Maafkan lama ya teman-teman. Aku juga harus fokus ke tugas sekolah yang semakin menumpuk. Doakan cepat selesai dan lebih cepat pula aku update MDM.


Love u all :3

__ADS_1


__ADS_2