
Olivya tak ada henti-hentinya menatap kagum ponsel-ponsel yang terpajang dikaca pameran. Ia tahu, ponsel disini pasti harganya sangat fantastic dan ponsel disini hanya ada satu-satunya, maksudnya tak terjual di toko lain manapun.
"Vya, ayo cepat pilih. Sebentar lagi aku ada pekerjaan." ucap Mad.
"Kita ke toko ponsel lain saja, Mad." ucap Olivya.
"Why?" tanya Mad.
"Disini pasti harganya melambung."
Mad mengacak rambut Olivya dengan gemas. Gadisnya ini memang bukan cewek matre yang hanya menginginkan hartanya. Bukan, Bukan Olivya yang ingin dengan Mad, tapi Mad yang ingin dengan Olivya.
"Jika kau mau, aku bisa membeli tokonya untuk dirimu." balas Mad.
"Selalu saja sombong." ketus Olivya.
"Kalau begitu, aku akan menghabiskan uangmu dengan membeli ponsel yang paling mahal disini." goda Olivya. Sebenarnya ia tak ingin melakukan ini, namun ia hanya ingin menguji Madrick. Tapi jika benar dibelikan, keberuntungan berpihak padanya.
"Silahkan nona Vya." balas Mad.
"Excusme," panggil Olivya pada pagawai wanita disini.
"Ya, nona. Ada yang bisa saya bantu?" tawar pegawai wanita itu.
"Berikan saya ponsel yang paling mahal disini," ucap Olivya sambil melirik kearah Mad yang tengah bersantai disofa.
"Mari ikut aku, nona." Olivya mengikuti pegawai itu dari belakang.
"Ini nona, ponsel keluaran terbaru kami. Disini hanya dua di Dunia. Dan salah satunya ada di toko kami. Harganya juga cukup fantastis nona. Anda ingin membelinya." Ucap pegawai itu sambil menunjukkan ponselnya.
"Ya saya ingin membelinya." ucap Olivya.
"Kita cek ya Nona." balas Pegawai itu sambil membuka kotak ponselnya.
Olivya melirik kearah sofa tempat Mad duduk, ia tak menemukan Mad disana. Dimana dia? Olivya Mulai ketakutan, apakah Mad mencoba melarikan diri. Olivya menggigit ujung kukunya. Ia tak mendengarkan sedikit pun penjelasan dari pegawai tersebut yang mulai menunjukkan kondisi ponsel yang Olivya pilih.
"Baik nona, ingin membayar dengan tunai apa dengan kartu?" tanya Pegawai itu. Olivya menoleh kearah pegawai, Olivya tersenyum.
"Sa-"
"Kartu," potong seseorang yang berada dibelakang Olivya.
"Bryan?" tanya Olivya dengan bingung.
"Hai Olivya, kita bertemu lagi." sapa Bryan.
"Bryan, apa yang kau lakukan disini?" tanya Olivya.
"Maksudmu apa? Disini tempat umum Olivya, siapapun boleh datang ke toko ini bukan?" balas Bryan.
"Bu-bukan-"
"Permisi? Bisa kita lakukan pembayarannya?" potong pegawai itu.
"Ah iya, ini kartunya." Bryan memberikan kartu berwarna hitam legam. Kartu yang dimilikki orang yang memiliki kekayaan berlipat.
"Tak perlu," pegawai itu menghentikan pergerakan tangannya untuk menerima kartu dari Bryan.
"Mad?" guman Olivya dengan pelan.
"Saya bayar tunai." ucap Mad seraya memberikan setumpuk uang kearah pegawai wanita itu.
"Baiklah, ponselnya boleh anda bawa nona. Dan ini, garansi ponselnya selama lima tahun." Olivya menerima tas mewah yang diberikan oleh pegawai tersebut.
"Vya, ayo pergi." Mad menarik tangan Olivya menuju keluar toko.
Bryan mengepalkan tangannya dengan kuat. Ia melihat Mad yang menggenggam tangan Olivya dengan erat.
Mad melirik kearah Bryan dan tersenyum sinis.
"Masuk!" ucap Mad dengan dingin kearah Olivya. Olivya pun menurut tanpa membantah.
Mad menutup pintu mobil dengan sedikit kencang dan membuat Olivya yang berada didalam mobil sedikit terkejut. Olivya melihat Mad yang berjalan kearah kursi pengemudi dari dalam jendela. Entah mengapa rasa takut dan khawatir menggerogoti dirinya.
Brakk
Lagi-lagi Mad menutup pintu mobil dengan sangat kencang.
"Lain kali, jangan menerima pemberian siapapun kecuali diriku. Mengerti, Vya?" desis Mad dengan tajam.
"Tap-tapi itu Bryan." jawab Olivya dengan gugup.
"Apakah perkataanku kurang jelas? Aku bilang jangan.siapapun.kecuali.aku." tekan Mad dengan sedikit bentakan.
Olivya mengangguk dengan kepala tertunduk. Entah mengapa saat ini dirinya merasa sangat ketakutan.
"Kau mau makan apa?" tanya Mad dengan suara sedikit normal namun tak sedikitpun hilang dari kesan dinginnya.
"Ak-aku tidak lapar." balas Olivya.
"Jangan memancing emosi ku lagi Vya. Cepat Katakan Mau Makan Dimana?!!" bentak Mad. Saat ini emosinya sudah tak terkendali hanya gara-gara Olivya berdekatan dengan pria lain, lebih parahnya lagi itu adalah Bryan.
"Ma-ma-makan, seafood aja." jawab Olivya.
Madrick melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Olivya memegang erat sabuk pengamannya yang ia kenakan tadi. Dalam hati ia berdoa agar tak terjadi kecelakaan yang diinginkan.
Olivya menutup matanya rapat-rapat. Ia tak ingin melihat kedepan. Seolah-olah depannya adalah neraka.
Mad menyalip semua kendaraan yang didepannya. Ia juga mendapat cacian dan klakson mobil dari para pengendara lainnya.
Ciittt
__ADS_1
"Shit!" rutuk Mad saat ia sedang melaju kencang dan saat itu juga lampu berubah menjadi warna merah.
"Ssshhh," Mad menoleh kearah Olivya yang sedang mendesis. Ia membelalakkan matanya saat melihat dahi Olivya yang terbentur dashbor mobil hingga sedikit mengeluarkan darah.
"Vya, are you akay?" tanya Mad dengan khawatir.
"Don't touch me." seru Olivya dengan sedikit kencang saat Mad mencoba menyentuh kepalanya.
"Jangan menghalangi, Vya!" bentak Mad.
Madrick mengambil selembar tissue dan menempelkan pada dahi Olivya. Olivya sedikit meringis saat nyeri dikepalanya.
"Sudah, cukup." Mad menghentikan aksinya dan kembali ke posisi duduknya saat lampu sudah berubah menjadi hijau.
Mad melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia tak ingin membuat takut gadisnya.
"Ambil kotak P3K dibelakang mobil. Dan cepat bersihkan lukamu." ucap Mad.
Olivya menurut dan segera mengambil sesuatu dibelakang mobil.
"Kosong," guman Olivya saat membuat kotak itu.
"Double shit!" rutuk Mad.
"Kita pulang." ucap Mad.
× × ×
Sesampainya di mansion, Mad langsung mengobati luka Olivya dengan sangat hati-hati. Saat ini mereka berada diruang tamu yang megah seperti aula.
"Maafkan aku." ucap Mad dengan tulus.
Olivya tersenyum.
"Tak apa," balas Olivya.
"Terima kasih untuk ponselnya, Pria arogan." ucap Olivya dengan antusias.
Mad tersenyum sambil mengacak-acak rambut Olivya dengan gemas.
"Apapun yang kau inginkan akan aku berikan."
"Jad--"
"Selain kembali ke Apartemenmu." potong Mad, seakan tau apa yang akan diucapkan oleh Olivya.
Drrrttttt
Ponsel Mad berbunyi. Mad berjalan menjauh untuk mengangkat ponselnnya.
"Adaapa?" tanya Mad mendahului.
"....."
"....."
"Awasi terus dia, aku akan kesana." Mad menutup panggilannya.
"Jika kau lapar, kau boleh minta tolong bodyguard ku untuk membelikanmh sesuatu. Aku pergi." Mad melangkah pergi menjauh dari Olivya.
× × ×
Mad berjalan memasuki perusahaannya dengan gaya angkuh. Wajah dinginnya membuat siapapun menduga bahwa ia adalah pria kejam tak berbelas kasih.
"Tuan?" sapa Gaston dan beberapa pengawal dibelakangnya.
"Dimana dia?" tanya Mad.
"Dia sudah berada diruangan bawah tanah tuan." Mad berjalan lebih dulu dan langsung diikuti oleh Gaston dan beberapa pengawal.
"Kalian gunakan lift lainnya." ucap Mad kepada semua pengawalnya.
Mad berjalan memasuki lift dan menuju lantai bawah tanah.
Saat sudah sampai diruangan bawah tanah, Mad melihat dua orang yang tengah terikat dikursi. Wajah mereka penuh luka lebam dan goresan-goresan disekujur tubuhnya.
"Katakan, apa kesalahan kalian?" tanya Mad mencoba memancing dua orang ini.
Dua orang ini tak kunjung membuka suaranya dan itu membuat Mad semakin emosi.
Pyarr
Suara bantingan yang cukup keras. Mad membanting botol kosong yang berada didekatnya dan membuat serpihan kaca itu menyebar kemana-mana.
"Apa kalian bisu, heh? Apa gunanya mulut kalian?!!" bentak Mad. Sisi iblisnya mulai keluar menguasai dirinya.
"Dasar tak guna!" gumam Mad.
"Gaston!! Setrum pria itu. Dan Edger, setubuhi gadis itu." perintah Mad seraya menuju kursi kebesarannya.
Gaston mulai memasang setrum disekitar kursi pria yang sedang terikat kencang. Pria yang memiliki mata abu-abu, terduduk diam tanpa memberontak. Ia mulai pasrah dengan hukuman yang diberikan oleh Mad.
Edger, salah satu bodyguard nya yang memiliki tubuh tegap dan besar. Wajahnya yang sangar, akan selalu tunduk terhadap Mad. Edger membuka paksa gaun wanita yang ia baringkan dibawahnya.
"Lepaskan ********. Lepaskan!!" teriak wanita itu dengan kencang.
Plakk
Edger menampar dengan kencang pipi wanita itu. Wanita itu hanya pasrah dengan perlakuan Edger padanya.
Setelah wanita itu full *****, Edger mulai melepaskan kancing celananya dan mengeluarkan kejantanannya yang besar dan panjang.
__ADS_1
"Tidak kumohon jangan. Tidak!" lirih wanita itu sambil menutup rapat-rapat bagian ratunya.
Edger membuka paksa kedua kaki wanita itu hingga mengangkang tepat didepan junior Edger. Sekali hentakan, Edger memasukkan seluruh juniornya kedalam senggama wanita itu. Edger mulai memompa wanita itu dengan brutal dan keras hingga membuat wanita itu mendesah kesakitan.
"Eggghhhh, shit! Milikmu sangat longgar. Tak memuaskan." erang Edger ditengah-tengah kegiatannya.
"Pelanhh," desah wanita tersebut.
"Tadi menolak, sekarang menikmati. Wanita murahan." Guman Edger.
Edger terus memompanya hingga ia mencapai klimaks. Sedangkan gadis itu hanya pasrah dibawah kukungan Edger. Setelah lama memompa, Edger hampir mencapai klimaksnya. Ia mencabut kejantanannya dan langsung memasukkan kejantanannya kedalam mulut wanita itu dan mengeluarkan cairannya dimulut wanita itu.
"Telan!" perintah Edger dan langsung dipatuhi oleh wanita itu. Ia menelan habis cairan milik Edger.
"Sudah?" tanya Mad pada Edger. Edger mengangguk seraya membenarkan resleting celananya.
"Arggghhhhhh!!!" teriakan kencang dari pria yang tengah dililit setrum tubuhnya.
"Mad, kumohon hentikan... Mad, kumohon." rengek wanita itu pada Mad.
"Seribu permohonan tidak akan aku terima." balas Maf.
"Tuan ini data dua orang ini." salah satu bodyguard nya memberikan data dua orang yang tengah ia siksa ini.
Reathrin Vallopes wanita berumur dua puluh delapan tahun dan Hammerd Damaskus pria berumur tiga puluh lima tahun. Mereka berdua adalah salah satu pegawai perusahaan milik Mad. Mereka berdua ketahuan membobol rekening perusahaan dan penggelapan uang perusahaan Mad.
Mad meremas data tersebut dengan kuat. Saat ia yang susah mencari uang, orang lain malah mencoba mencurinya.
"You, Jerk." teriak wanita itu dengan keras dan lantang.
Plak
Mad menampar keras wanita itu dengan sangat keras.
"Jerk? Lalu kau sebut apa dirimu yang membobol rekening perusahaan." desis Mad dengan tajam.
"As you *****!!" bentak Mad dengan keras.
Mad mencengkram dahu wanita itu dengan sangat kuat.
"Dengarkan aku *****. Kau telah salah orang untuk mengibarkan bendera perang."
"Aku, Mafia terkejam di Italy dan kau berani bermain-main denganku?"
"Ucapkan selamat tinggal pada dunia. Karena tempat barumu adalah Neraka." sambung Mad dengan senyuman iblis.
"Gaston, berikan mereka siksaan yang setimpal. Aku ingin melihat gadisku dulu. Pokoknya, aku sudah harus mendengar kematian mereka pukul lima sore. Masih ada waktu lima jam untuk kau siksa."
"Dan... Edger, kau boleh menyetubuhi ****** itu sesukamu." setelah mengucapkan sederet perintah untuk anak buahnya, Madrick kembali ke mansionnya untuk melihat gadisnya. Kegelisaan sedari tadi terhadap gadisnya, sangat menyiksa.
×××
Olivya mencoba kamera ponselnya dengan memotret berbagai lukisan yang ada di mansion milik Mad. Ini baru pertama kalinya ia memiliki ponsel yang sangat bagus dan mahal.
"Hasilnya sangat jernih." gumam Olivya.
"Ah, akan kucoba potret diriku." Olivya mengangkat ponselnya untuk memotret dirinya. Olivya tersenyum kearah ponselnya.
Cekrek
Olivya melihat hasil jepretannya. Senyumannya luntur kala melihat hasil foto itu. Dibelakang, ada pria jakung yang berdiri dengan gaya angkuh.
Olivya menoleh dan mendapati Mad yang tengah berdiri dibelakangnya.
"Mencoba ponsel baru heh?" tanya Mad.
Olivya menunduk takut. Semenjak Mad membentaknya tadi dimobil, Olivya menjadi sedikit takut dengan pria itu.
"Maaf," guman Olivya dengan pelan.
Mad berjalan mendekat kearah Olivya.
"Untuk apa? Kau tak melakukan kesalahan, sayang." ucap Mad dengan lembut.
Olivya menutup hidungnya.
"Kenapa?" tanya Mad saat menyadari gelagat Olivya yang sedikit menjauh darinya dan menutup hidungnya.
"Baumu seperti seorang mafia. Cepat mandi." ujar Olivya.
"Bagaimana kau tahu bau seorang mafia?" tanya Mad.
"Entahlah, aku punya feeling terhadap bau seorang mafia." balas Olivya.
"Kamu salah Vya." ujar Mad seraya beranjak pergi untuk membersihkan dirinya.
Olivya tampak berpikir bahwa Mad adalah seorang mafia.
"Bagaimana jika dugaanku benar?" tanya Olivya.
"Semoga tidak."
TBC
like Yang Banyak, Buat Cepet Up >>>
Please dong hargai, cuma tekan tombol Like aja kok.
Terima kasih Readers :3
Maaf part ini pendek :( sebenarnya nggak niat ngasih part pendek, tapi kasihan para Readers yang udah nunggu lama.
__ADS_1
Percayalah, menyusun cerita itu tak mudah :(