My Dangerous Mafia

My Dangerous Mafia
Mencoba Bunuh Diri


__ADS_3

Brakk


"Tuan, Nona Olivya mencoba lompat dari balkon kamar!" Mad yang tengah menenangkan kepalanya kembali tersentak. Secepat kilat ia berdiri dan menuju kamarnya. Ia melihat Olivya yang tengah mencoba mencoba menaiki railing balkon. Namun, kedua tangannya ditahan oleh pengawal Mad.


Mad berjalan kearah Olivya. Dengan kasar, Mad membalikan tubuh Olivya hingga menatap dirinya. Tubuhnya gemetar karena tangis. "You crazy hah?!" bentak Mad dengan amarah yang meluap.


Mad memberikan isyarat kepada pengawalnya untuk pergi meninggalkan Mad dan Olivya sendiri.


"Olivya?" Verlyn datang dengan wajah yang terkejut.  Dari ambang pintu Ia melihat Olivya yang tengah berhadapan dengan Mad. Salah pengawal Mad yang baru keluar dari kamar Mad memberikan isyarat untuk meninggalkan Olivya dan Madrick berdua. Verlyn pun mengangguk dan pergi meninggalkan kamar Mad.


Olivya menangis sesenggukan. Jujur, Olivya paling tak bisa jika harus dibentak. Paling tidak bisa.


Mad memegang pipi Olivya dengan sedikit kasar, hingga matanya bertemu dengan mata sembab Olivya.


"I say with you Olivya. Look at me!!" desis Mad dengan tajam.


"What are you doing hah?! Try kill yourself hah?!" Olivya semakin deras mengguyur airmatanya.


"I ask you, Vya. Tell me!! Are you doing?" tanya Mad dengan suara yang melembut.


"Yes, i want kill myself. My life is useless!!" balas Olivya dengan mengibaskan kedua tangan Mad yang memegang pipinya. Mad memegang tangan Olivya, namun langsung dihempas oleh Olivya.


"Don't touch me, Jerk!" bentak Olivya.


"I'm so sorry Olivya. Aku hanya--"


"Shut up, Jerk! I not want hear your voice!!" Potong Olivya.


"Semuanya akan-"


"**** of everything!! I don't care with you. Now, let me gone. I can't stay here with a Bastard." potong Olivya lagi.


Mad maju kearah Olivya. Hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa senti.


"Jangan harap bisa lepas dariku, Vya. Itu takkan terjadi" desis Mad.


"Hiks... Aku sudah terlalu tertekan. Tolong jangan tambahi beban hidupku.. Hiksas... Aku hanya sebatang kara, aku tak punya siapapun disini." balas Olivya dengan tangisan yang pilu. Mad merasa teriris mendengar tangisan gadisnya. Ia memeluk tubuh mungil Olivya dengan sangat erat. Ia mengelus surai panjang milik Olivya. Tangisan sedikit tenang, deru nafasnya pun teratur. Mad tahu, Olivya telah tertidur dipelukannya. Mad membopong tubuh mungil Olivya dengan sangat hati-hati.


"Dad, Mom, Kak Ranelly." Olivya mengingau dengan menyebut anggota keluargannya.


"Kak, Olivya ingin ikut. Hiks..." guman Olivya ditidurnya.


"Sstttt, tenang Olivya." bisik Mad dengan mengelus puncak kepala Olivya. Si Olivya pun sedikit tenang.


Mad bangkit dari duduknya dan mengangkat selimutnya untuk menutupi tubuh Olivya hingga ke dada. Mad mengecup puncak kepala Olivya dengan perlahan.


"Nice dream baby." bisik Mad sebelum akhirnya pergi beranjak keluar kamar.


Didepan kamar, Mad mendapati Verlyn yang tengah duduk manis disebelah pintu kamar Olivya. Verlyn langsung berdiri saat tau Mad sudah keluar dari kamar Olivya. "Bagaimana kondisi Olivya?" tanya Verlyn dengan raut wajah yang terlihat khawatir. Bagaimana pun, Verlyn telah menganggap Olivya seperti kakaknya sendiri.


"Kamu pikir saya dokter?" balas Mad dengan ketus. Verlyn menghebuskan nafas dengan gusar. "Aku tau kamu bukan dokter, tapi mafia." balas Verlyn.


"Nah itu tau" balas Mad dengan santai. Tak memperdulikan kebengongan Verlyn, Mad berjalan menjauh dari hadapan Verlyn. Hari ini ia benar-benar lelah.


"Tanganku gatal, sudah berhari-hari aku tak membunuh." guman Mad sambil berjalan menuju kamarnya. Madrick memiliki jiwa Psycho yang mulai tumbuh dari dalam dirinya. Ia merasakan aneh dalam dirinya saat merasa senang sewaktu membunuh.


Mad hendak menggapai password sidik jari kamarnya. Namun, suara salah bodyguardnya menghentikan pergerakannya.


"Tuan, saya menemukan ini dibalkon kamar Olivya." ucap Cisco--Bodyguard Mad.


Mad melihat sebuah kotak berukuran sedang yang dibawa oleh Cisco. Mad menautkan alisnya, seingatnya ia tak memberikan hadiah apapun terhadap Olivya selain ponsel.


Mad mengambil alih kotak itu dan membawanya masuk kedalam kamar.


"BW?" guman Mad dengan bingung. Detik berikutnya, ia tersenyum ala devil. "Permainan siap dimulai!" desis Mad dengan tajam. Tak menghilangkan sedikitpun senyuman jahatnya.


***


"Werson!!" panggilan nama seseorang menggema di seluruh ruangan mansion megah. Pria berpostur tubuh tegap pun menoleh kesumber suara. Ia tengah bersantai diruang tamu dengan cemilan dipangkuannya dan ponsel ditangannya.


"What's up?" tanya seorang pria yang dipanggil dengan sebutan Werson, dengan santai. Pria paruh baya itu menghela nafas dengan berat. "Kenapa kau bersantai? Lakukan tugasmu, kau sudah terlalu banyak mengulur waktu." balas Pria Paruhbaya tersebut.


Werson merubah duduknya menjadi tegap. Ia berdehem sebelum akhirnya membuka mulutnya untuk bicara.


"Aku tak tahu lagi harus menggunakan cara apa. Anak buahmu, bekerja tak ada yang becus. Aku sendiri juga bingung, Mad terlalu kuat untuk ditaklukkan." balas Werson.

__ADS_1


"Werson--"


"Dad, please. Kenapa kau selalu memanggilku dengan sebutan Werson? Aku punya nama inti" potong pria muda yang dipanggil dengan sebutan Werson oleh Dadynya.


"Aku lebih suka memanggilmu dengan sebutan Werson. Itu pertanda kau adalah anak dari seorang Xander Werson." balas Pria paruhbaya tersebut yang memiliki nama Xander. Xander Werson adalah seorang mafia asal New York. Sudah sekitar sepuluh tahun lebih, Xander tinggal di Italy hanya karena satu urusan yang belum terlesaikan.


"Dad, dari rahim wanita yang kau nikahi, aku sudah anakmu."


"Diam! Kau mengingatkanku tentang ibumu. Kau tahu? Sudah lama aku memendam rindu kepada ibumu, namun kau membuka lebar luka yang ku tutup rapat-rapat." balas Xander.


Werson menghela nafas dengan berat.


"Come on dad, what happend with you? You be crazy. Momy already ia dead!"


"Werson! Itu ibumu. Jaga mulutmu ya." bentak Xander.


"Baiklah, aku kalah!"


Xander melangkah meninggalkan Werson sendiri diruang tengah. Xander ingin mendinginkan kepalanya sejenak. Bagaimanapun, Werson selalu membenci ibunya sendiri. Entah karena hal apa ia membenci ibunya sendiri.


***


Sinar matahari dipagi hari begitu menyilaukan mata. Mata cantik Olivya berkedip-kedip saat merasakan cahaya terang yang menyapa matanya melalui celah-celah jendela.


"Engghh... Kenapa kepalaku sakit sekali ya?" tanya Olivya dengan lirih. Sungguh berat rasanya jika dibuat untuk bangun. Dengan sekuat tenaga, Olivya memaksakan tubuhnya untuk duduk dan bersandar dikepala ranjang.


"Pukul delapa!" gumam Olivya saat melirik jam Beker sebelahnya.


"Kenapa pergelangan tanganku memar semua?" tanya Olivya. Ia sedikit bingung dengan pergelangan tangannya yang memar. Ia lupa bahwa semalam, pengawal Mad memegang pergelangan tangannya dengan erat hingga meninggalkan bekas memar.


Olivya bangkit dari atas ranjang. Kaki jenjang nya menyapa marmer yang dingin. Olivya mencari sandalnya dibawah tempat tidur. Dengan nyawa yang belun terkumpul sempurna, Olivya berjalan ke kamar mandi dengan langkah gontai. Setelah sampai dikamar mandi, Olivya melihat wajahnya didepan pantulan cermin besar. Terdapat sedikit hitam-hitam dibagian bawah mata.


Olivya berjalan kearah pintu kamar mandi dan menguncinya. Lalu mengisi bak mandi dengan air hangat. Dengan perlahan, Olivya mulai melucuti pakaiannya hingga full *****.


***


Mad berjalan menuju dapur. Pagi-pagi sekali ia sudah bangun untuk berolah raga. Disana, ia melihat para koki yang sedang menyiapkan makanan pagi dibantu oleh para maid lainnya.


"Ambilkan sarapan untuk Vya, biarkan aku yang mengantarnya." perintah Mad dengan dingin.


"Tuan tak ingin sarapan terlebih dahulu?" tanya kepala Maid disini.


Maid itupun mengangguk dan pergi menyiapkan sarapan pagi untuk Olivya. Sesuai perintah tuannya. Mad duduk disalah satu kursi yang ada diruang makan. Ruang makan yang mewah dan elegan.


"Tuan," Mad menoleh kearah sumber suara yang memanggil namanya. Mad mendapati Gaston yang tengah berlari kecil kearahnya.


"Adaapa?" tanya Mad dengan wajah yang amat datar.


"Tuan, ada seorang wanita yang ingin menjadi pembantu disini." ucap Gaston saat sudah berdiri didepan Mad.


Mad mengerutkan alisnya. "Kau yakin dengan wanita itu?" tanya Mad.


Gaston mengangguk dengan ragu. "Wanita itu seperti lugu sekali tuan. Jika bisa dikatakan, ia masih gadis. Mungkin selisih tiga tahun dengan Olivya." balas Gaston. Mad memagut-magut.


"Tuan ini sarapannya." Mad menoleh dan melihat nampan yang sudah berisi makanan pagi untuk Olivya.


"Suruh gadis itu menunggu diruangan saya. Aku akan mengantarkan sarapan dulu untuk Olivya." ujar Mad lalu berjalan dengan membawa nampan tersebut.


Gaston membalikkan badannya untuk pergi meninggalkan ruang makan.


***


Ceklek


Mad membuka pintu kamar Olivya. Kamarnya tampak hening dan sunyi. Mad mengerutkan alisnya saat tak menemukan sosok penghuni kamar ini.


"Vya?" panggil Mad. Mad melihat sekeliling kamar Olivya. Sepi dan sunyi, membuat Mad merasa was-was. Mad menuju balkon kamar yang terkunci. Ia membukanya dan melihat tak ada tanda-tanda atau jejak bahwa Olivya kabur. Mad berjalan masuk kedalam kamar. Ia berjalan mendekat kearah tempat tidur. Samar-samar, ia mendengar alunan musik yang dinyanyikan seorang gadis dari dalam kamar mandi.


"I want gone with you. I need you, ohh i need you baby." benar dugaan Mad. Itu suara Olivya.


Mad bernafas lega, setidaknya gadisnya itu tak kabur darinya.


Tok tok tok


"Olivya, aku bawakan sarapan pagi untukmu." ucap Mad dari depan pintu kamar. Tak ada sahutan dari dalam kamar mandi, membuat Mad sedikit marah.

__ADS_1


"Vya!! Telingamu masih berfungsi kan?" tanya Mad.


"KELUAR!! AKU MUAK DENGANMU!! HIKS... GONE!" teriak Olivya dari dalam kamar mandi.


"Hei, Jangan menangis. Baiklah aku akan keluar." balas Mad.


Mad berjalan keluar kamar Olivya. Ia menuju ruangannya yang sedang Ditunggu seorang gadis yang ingin menawarkan diri untuk jadi maid dimansion Mad.


Ceklek


Mad membuka pintu ruangannya. Ia mendapati seorang gadis dengan rambut pirang yang sedang duduk manis di sofa yang ada diruagan milik Mad.


"Eghhmm" deheman Mad membuat gadis itu menoleh.


"Tuan?" tanya Gadis itu dengan gugup.


"Siapa namamu?" tanya Mad dengan dingin.


"Merry tuan." jawab gadis itu yang bernama Merry.


"Katakan." ujar Mad.


"Saya ingin menjadi maid disini tuan."


"Alasannya?"


"Alasannya, saya ingin mencari uang untuk adik-adik saya tuan."


"Bisakah aku percaya padamu?" tanya Mad.


"Anda bisa mempercayaiku tuan."


"Baiklah kau boleh bekerja disini. Tapi ingat, jangan pernah masuk kedalam kamarku dan juga gadisku tanpa seizinku." perintah Mad dengan tajam.


"Ba-baik tuan"


"Keluar! Ganti bajumu dengan seragam Maid disini." ucap Mad.


Merry pun berjalan keluar ruangan Mad. Ia bernafas lega. Seakan tadi itu ia sedang menjalani hukuman mati.


Merry merogo saku bajunya dan mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. Ia melihat sekelilingnya yang sepi dan mulai menelpon seseorang.


"Berhasil tuan." ucap Merry dengan seseorang yang sedang ditelponnya.


Merry tersenyum bahagia. Ia mulai berjalan menjauh dari depan pintu ruangan Mad.


Disisi lain,


Olivya sedang mengeringkan rambutnya yang basah. Ia berjalan keluar kamar mandi dengan gaun biru tua yang kontras dengan kulitnya yang putih.


"Lapar." guman Olivya. Ia melihat ada makanan diatas nakasnya. Olivya mengambil nampan itu dan mulai memakannya. Perutnya benar-benar minta diisi. Ia tak bisa gengsi untuk tidak memakan makanan yang dibawa oleh Mad.


Tok tok tok


Olivya menaruh nampannya dan mulai berjalan kearah pintu. Ia mencari kartu yang berisi sidik jari Madrick.


Ceklek.


Olivya melihat Verlyn yang sudah berdiri didepan pintu dengan kelana pendek dan kaos santainya.


"Verlyn, ayo masuk." ujar Olivya.


"Ah tidak, aku ingin memastikan kondisimu saja. Bagaimana? Apakah sudah lebih baik?" tanya Verlyn dengan gurat wajah yang terlihat khawatir.


"Aku baik-baik saja."


"Syukurlah. Maafkan aku Oliv, aku tak bisa berbicara lama-lama. Aku ada kelas pagi." ucap Verlyn dengan.


"Iya tak apa. Yaudah, sana pergi keburu terlambat." balas Olivya.


"Baiklah. Kalau kau butuh teman curhat, telpon aja aku. Jaga dirimu, oke?"


"Iya, hati-hati juga kamu." Verlyn tersenyum dan mengangguk. Setelah itu berjalan menjauh dari kamar Olivya. Olivya menutup kembali pintu kamarnya.


"Semoga Verlyn teman yang selama ini aku cari." gumam Olivya.

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2