My Dangerous Mafia

My Dangerous Mafia
Kembalinya Rasa Trauma


__ADS_3

Olivya berdiri didekat jendela kamarnya. Kejadian kemarin sangat membuatnya trauma. Olivya melamun, perlahan air matanya turun melolos dipipinya. Terbayang bagaimana orang tuanya dibunuh dengan tragis.


Saat itu, seharusnya aku tidak kabur. Sebaiknya aku mati bersama mereka batin Olivya.


"Shhh," ringis Oliv saat luka ditangannya terasa nyeri. Ia melihat perban ditangannya yang sedikit dilumuri darah. Luka sayatannya kembali mengeluarkan darah.


"Hidupku penuh dengan masalah." guman Oliv. Pikirannya kembali pada kejadian kemarin.


Flashback


Suara pukulan, tembakan, serta hantaman begitu kuat, masuk kedalam indera pendengaran Oliv.


Didepan matanya, ia menyaksikan Mad sedang bertarung dengan banyak sekali orang-orang berbada besar. Tubuh mungil Olivya bergetar hebat saat mendengar suara-suara tembakan serta jeritan yang berakhir kematian.


Mad berhasil membawanya keluar dari kukungan wanita gila yang menyiksa Oliv. Tapi, sepertinya Tuhan masih ingin memberi cobaan. Saat sudah keluar dari gerbang tua itu, Mad dan Olivya terjebak lagi dengan banyaknya pengawal disana. Tak lupa dengan tubuh yang besar serta berotonya itu.


"Mundur, Vya. Ingat, jangan jauh-jauh dariku." ujar Mad pada Oliv.


Olivya melangkah mundur untuk menuruti perintah Mad.


Dorrr


Dorrr


Olivya menutup telingannya rapat-rapat saat mendengar suara tembakan. Ia benci senjata, ia benci suara tembakan. Sedangkan Mad, masih bertarung dengan puluhan pengawal wanita gila itu.


Nyeri disekujur tubuhnya, tak kunjung menghilang. Rasa trauma kembali berkobar dihati Olivya. Ia menangis dibawah pohon, duduk bersandar dengan kaki yang ditekuk.


"Ada yang sakit?" tanya Mad yang sudah berjongkok didepan Olivya. Olivya mengangkat wajahnya dan menatap wajah Mad yang penuh dengan luka lembam dan ada darah yang terus merembes dipelipisnya.


"Mad? Kau? Oh, God. Kau mengeluarkan banya darah dipelipismu." ujar Olivya dengan rasa khawatirnya. Olivya hendak menyentuh pelipis Mad yang berdarah, namun itu dicegah oleh Mad.


"Jangan pedulikan aku. Yang terpenting kamu, gimana keadaanmu?" tanya Mad.


"Hanya sedikit nyeri, luka sayatannya juga sidah mengering." kata Olivya.


"Mad, aku ingin pulang." pinta Olivya dengan airmata.


"Baiklah, ayo kita pulang."


Mad membantu Olivya untuk berdiri.


"Masih kuat jalankan?" tanya Mad dengan raut wajah yang khawatir.


Olivya tersenyum dan mengangguk.


Mad menuntun Olivya berjalan mendekati lamborgini hitam mewah milih Mad. Mad membukakan pintu untuk Olivya masuk kedalam kursi penumpang. Lalu disusul Mad duduk disebelahnya.


"Jalan." perintah Mad pada sopir pribadinya.


"Siap tuan," balas sopir itu.


Lamborgini Mad berjalan dengan kecepatan standart. Mad menarik kepala Olivya untuk diletakkan dipundaknya dan tidak ada penolakkan dari Olivya.


Sesampainya di mansion, Mad langsung menyuruh para maid untuk mengobati luka Olivya dengan sangat hati-hati. Jika tidak, nyawa mereka taruhannya. Dengan sangat teliti, para maid itu mengobati Olivya dengan sangat hati-hati. Para maid tidak bisa bekerja dengan konsen, karena Mad terus mengawasi mereka.


"Mad, sudahlah. Jangan menatapnya seperti itu. Mereka sangat ketakutan." tegur Olivya.


"Aku hanya memastikan mereka, bahwa mereka bekerja dengan teliti." balas Mad.


"Obati lukamu juga, Mad. Jangan khawatirkan aku, aku sudah diurus dengan maid disini."


"Baiklah, aku pergi ke kamar dulu. Katakan padaku jika mereka bekerja dengan tak hati-hati." ucap Mad dan dibalas anggukan oleh Olivya.


"Setelah itu, kembali ke kamar. Istirahatlah, biar sarapanmu para maid yang mengantarkannya." ujar Mad dan langsung melenggang pergi.


Flashback End.


Olivya berjalan mendekat kearah ranjang. Membaringkan tubuhnya yang terasa sangat lemas. Memejamkan matanya untuk melupakan semua kejadian yang memenuhi benaknya.


***


Mad masuk kedalam kamar Olivya dan melihat Olivya sedang berbaring miring, memunggunginya. Mad berjalan mendekati Olivya yang sedang berbaring. Ia tahu, bahwa gadisnya ini sangat trauma dengan kejadian kemarin. Mad merutuki dirinya yang tak kunjung menemukan wanita gila itu. Entah menghilang kemana wanita gila itu. Bagai hilang ditelan bumi.


Mad duduk ditepi ranjang. Mengulurkan tangannya untuk mengusap Surai halus milik Olivya. Mad mengelusnya dengan sangat hati-hati. Takut gadisnya ini akan terganggu. Mad menerbitkan senyumannya. Senyuman yang hanya ia berikan kepada gadisnya setelah Ibunya. Mad merasa, sosok ibu kembali hadir dalam hidupnya setelah kedatangan Olivya.


"Enggghh," Mad menarik tangannya dari surai coklat milik Olivya. Mad menarik pundak Olivya untuk tidur terlentang. Dapat dilihat, kerutan didahi Olivya, sangat tercetak jelas. Mad tahu, ketakutan serta rasa trauma menyelimuti diri gadisnya.


Mad menundukkan kepalanya. Melihat bibir ranum milik Olivya, rasanya ingin mengecap rasa bibir milik Olivya. Mad semakin menundukkan kepalanya. Hidungnya dengan hidung Olivya sudah bersentuhan.

__ADS_1


"Aaaa!!" Mad menarik kembali kepalanya menjadi tegap.


Olivya terbangun dan langsung duduk.


"Ma--ma-mau ngapain kamu?" tanya Olivya dengan raut wajah yang ketakutan.


"Hey, keep calm okay?" Mad hendak menyentuh pundak Olivya. Namun, langsung ditepis dengan kasar oleh Olivya.


"Ka--kamu mau memperkosaku? Hiks...hiks... Kenapa semua orang jahat padaku?" tangis Olivya pecah. Rasa bersalah menyelimuti perasaan Mad. Ia merutuki dirinya yang menambah rasa ketakutan pada diri Olivya.


"Tenanglah, aku tak mencoba memperkosamu. Aku hanya--"


"Hanya ingin menyetubuhiku?" potong Olivya. Jika saja yang didepannya ini bukan gadisnya, maka sudah habis dia ditangannya. Mad paling tidak suka ada yang memotong ucapannya dengan lancang.


"Tidak, sstt tenanglah." Mad menarik kepala Olivya dan ditenggelamkan didada bidangnya.


Harum maskulin milik Mad, mampu membuat Olivya terhipnotis. Seakan sadar, Olivya langsung mendorong dada Mad untuk melepaskan dekapannya.


"Pergi!" seru Olivya dengan bergetar.


"Tidak, aku lebih mengkhawatirkan kondisimu." balas Mad.


"Kumohon pergilah. Biarkan aku sendiri, hiks...hiks..." ujar Olivya dengan lemah.


"Baiklah, aku akan pergi. Jika butuh sesuatu, panggil saja aku." pasrah Mad lalu berdiri dan berjalan keluar kamar Olivya.


Setelah kepergian Mad, Olivya berjalan menuju kamar mandi. Ia ingin mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Agar rasa pusing dikepalanya sedikit berkurang.


Olivya memejamkan matanya dibawah guyuran air dingin. Airmatanya kembali jatuh bersamaan dengan guyuran air.


Tuhan, jika aku memang tak pantas untuk bahagia. Kumohon, jangan lagi menambah penderitaan dalam hidupku. Aku lelah Tuhan, aku lelah. Benteng yang kubangun, seakan kembali runtuh dengan sejuta kepedihan. Jemput aku Tuhan, biarkan aku ikut dengan keluargaku disana. Kebahagiaanku ada pada mereka. Seakan, aku adalah musuh dunia ini. Aku tak dibutuhkan dan tak lagi dianggap. Batin Olivya.


***


Dengan langkah panjang. Seorang pria paruhbaya berjalan menyusuri mansion mewah yang sedang ia pijaki saat ini. Raut amarah dan kecewa, tercetak jelas diwajahnya.


"Zia, kemana tuanmu?" tanya pria paruhbaya itu pada ketua maid disini.


"Tu-tu--tuan--"


"Cepat katakan!!" bentak pria itu.


"Tuan muda ada dikamar tuan." jawab Zia-- ketua maid


Brakk.


Dengan sekali tendangan, pintu itu terbuka dan menampakkan pertunjukkan yang tak pantas untuk ditonton. Putranya sedang berciuman panas dengan wanita jalang yang diketahui menyewa diklub.


"Dady?" Guman pria muda.


"Kau boleh pergi, jalang." perintah pria paruhbaya itu.


"Namaku Kelly, bukan jalang." seru wanita yang bernama Kelly itu.


Kelly merapikan bajunya dan melangkah keluar kamar.


"Makananku." ujar pria muda itu dengan suara memelas.


"Damn you. Kenapa kau lepaskan gadis itu?!" bentak pria paruhbaya.


"Aku tak melespaskannya, Dad. Ada seseorang yang membawanya." balas pria muda itu.


"Siapa?"


"Madrick Vallencio."


"Apa?!"


"Ya, Mad lah yang membawa gadis itu. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Dia mafia yang sangat terkenal akan kekejamannya, Jika dibandingkan dengan Dady, Dady tidak ada apa-apanya dibandingkan Mad."


"Jangan pernah membandingkan Dady dengan siapapun." bantah pria paruh baya itu.


"Baiklah. Maafkan aku." ujar pria muda itu.


"Apa rencanamu selanjutnya."


"Tentu saja merebutnya,"


Pria muda dan pria paruhbaya itu diam sambil menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


***


Mad duduk dibar mini yang tersedia di kamarnya. Mad sudah menghabiskan hampir tiga botol wine. Ia sangat khawatir dengan gadisnya. Dan rasa bersalah, terus menyelimutinya. Seandainya dia tak melakukan hal yang ingin mencium Olivya. Pasti tak ada rasa bersalah dalam dirinya. Baru kali ini, Mad dilanda rasa bersalah. Biasanya, apa yang ia lakukan hanya dianggap angin lalu.


Mad mengambil rokok disebalahnya dan mulai menyalakan rokoknya. Menghisap rokok itu dan menghembuskan asap rokok dengan sangat santai. Menikmati setiap hembusan asap rokok.


Deringan ponsel berbunyi. Mad mengambil ponselnya dan langsung mengangkatnya, tanpa melihat siapa si penelpon.


"Halo," ucap Mad sambil kembali menyesap rokoknya.


"Tuan, cepatlah kemari. Nona Olivya pingsan didalam kamar mandi. Wajahnya pucat dan suhu badannya naik."


"Sial!!" rutuk Mad dan langsung mematikan rokoknya dan memaksukkan ponselnya kedalam saku celana.


Mad berjalan dengan sangat tergesa-gesa menuju kamar Olivya. Sesampainya didepan kamar gadisnya, ia melihat tubuh Olivya yang terbaring lemah diatas ranjang dengan mata yang terpejam. Mad berlari kearah Olivya dan duduk disebelah Olivya yang tengah berbaring.


"Panggilkan dokter." perintah Mad dengan sangat lantang.


"Dokter sudah dalam perjalanan kemari tuan." balas seorang maid wanita.


Mad memengan tangan Olivya yang dingin.


"Vya, bangun.. Bertahanlah." guman Mad sesekali mengecup punggung tangan Olivya.


"Permisi." sapa seorang pria paruhbaya yang baru masuk kedalam kamar Olivya dengan balutan jas putih dan kacamata yang bertengger dihidungnya.


"Cepat periksa gadisku." perintah Mad tanpa melihat kearah dokter pribadinya.


Sang dokter pun mulai mengecek kondisi Olivya. Mad masih enggang untuk berpindah dari posisinya.


"Bagaimana?" tanya Mad dengan dingin.


"Gadis ini mengalami syok yang amat berat sehingga otaknya tak berkerja dengan normal. Saran saya, jaga dia. Jangan membiarkan dia untuk berpikir yang akan membuatnya tertekan." tutur sang dokter.


"Tebus obat ini. Diminum sesudah makan, tiga kali sehari. Dan ini, vitamin untuk tubuhnya. Berikan vitamin ini setelah ia makan." sang dokter memberikan resep obat. Mad menerima dan menyuruh sopirnya untuk membeli obat yang dimaksud oleh dokternya.


"Saya permisi," pamit Dokter tersebut.


"Mari, saya antar Dok." balas maid perempuan dan melangkah pergi keluar kamar bersama dokter. Lalu, disusul para maid yang lainnya keluar. Sekarang, hanya tersisa Olivya dan Mad yang berada dikamar. Mas mengelus puncak kepala Olivya dengan tatapan khawatir dan iba.


Ini baru permulaan sayang dan kau sudah begini. Kau akan menghadapi masalah yang lebih dari kemarin. Tapi tenanglah, aku akan selalu berada di sisimu dan selalu melindungimu. batin Mad.


Mad mencium dahi Olivya dengan cukup lama, sebelum pada akhirnya beranjak keluar dari kamar Olivya. Mad menutup pintu kamar Olivya dengan sangat hati-hati.


"Tuan?" panggil salah seorang pengawal Mad.


"Hm?" balas Mad dengan gumanan.


"Tuan, ada yang mengirimkan anda pesan. Baru saja seorang kurir mengirimkan surat kepada anda." ujar Pengawalnya sembari memberikan amplop putih nan panjang itu.


Mad menerimanya.


"Siapa yang mengirimnya, Carlo?" tanya Mad pada pengawalnya yang bernama Carlo.


"Tidak ada nama sang pengirim tuan."


"Kau boleh pergi," perintah Mad dan langsung diangguki patuh oleh Carlo--pengawal Mad.


Mad berjalan menuju kamarnya. Ia berniat membuka surat itu dikamarnya.


Mad memasukki kamarnya yang bernuansa berwarna coklat dan hitam. Kamarnya sangat luas dan nyaman. Disana, terdapat bar mini serta lengkap dengan gelas dan minumannya. Mad mendaratkan pantatnya pada salah satu kursi bar. Mad mengambil seputung rokoknya dan mulai menyalakan rokoknya. Mad mengempulkan asap rokok di udara.


Mad masih memandangi amplop putih tersebut sambil menghisap rokoknya.


"Dasar orang iseng," Mad tersenyum kecut dan dengan kasar membuka amplop itu.


Mad mulai membaca Sederat kata yang dituliskan diatas kertas putih itu.


Madrick Vallencio, itukan namamu? Nama yang hanya dimiliki seorang mafia kejam, yaitu dirimu. Aku ingin berkata jujur padamu. Gadismu sangat cantik dan seksi. Ingin sekali aku menyentuhnya. Bolehkah aku menyentuhnya? Bolehkah kau mengijinkan gadismu untuk kusentuh? Atau... Tidak bolehkah? Cukup bertele-tele ucapanku dan aku tahu, kau pasti sangat tak suka itu. Berikan gadismu untukku secara baik-baik atau aku akan merebutnya dengan cara kasar. Aku ingin merasakan keperawanannya. Semoga, kau tak merenggut keperawanan nya terlebih dahulu, sebelum diriku.


From : BW


Mad mengeraskan rahangnya saat membaca isi surat itu. Bagaimana pun, ia tak rela jika gadisnya disentuh oleh siapapun, apalagi direnggut keperawanan nya oleh orang lain selain dirinya. Mad meremas surat itu dengan sangat kuat, hingga tak berbentuk.


"Jangan pernah bermain-main dengan seorang Madrick. Atau sama saja kau memberikan nyawamu padaku." geram Mad dengan wajah yang merah padam.


Mad mengeluarkan ponselnya dan mulai menelpon seseorang.


"Cari tau siapa yang mengirim surat tak penting ini padaku, dan segera seret dia dihadapanku." tak memberikan kesempatan seseorang yang telponnya untuk menjawab, Mad langsung mematikan sambungannya dan mulai menegak botol Vodka yang ada disebelahnya tanpa gelas.

__ADS_1


***


To Be Continue


__ADS_2