My Dangerous Mafia

My Dangerous Mafia
Olivya's Birthday


__ADS_3

Two weeks later


Milan, Italy 06.00 AM


Mad menuruni anak tangga. Diujung tangga, ia melihat Armon sedang berbincang dengan seorang pengawal. Karena ada hal yang ingin ia bicarakan, mengharuskan Mad memotong obrolan mereka. Pengawal pun juga sudah pamit berlalu.


"Ayah. Aku ingin memberitahu sesuatu." ujar Mad yang mulai membiasakan dirinya untuk memanggil Armon dengan sebutan Ayah. Bagaiman pun, Armon adalah calon ayah mertua nya.


"Ada apa?" tanya Armon.


"Hari ini adalah ulang tahun Olivya." ujar Mad.


Armon melihat sebuah jam tangannya yang di hadiahi oleh Mad. Seketika, ia menepuk jidatnya. Bagaimana bisa ia lupa akan ulang tahun putri kandungnya?


"Ya Tuhan. Aku melupakannya. Apakah kita akan merayakannya?" tanya Armon.


"Tentu saja. Aku juga sudah memberitahu teman-temannya dari kampus untuk datang. Bolehkah aku minta tolong padamu?"


Armon mengangguk mantap, "Tentu saja nak Mad. Apa yang kau butuhkan?"


"Tolong katakan para maid dan pengawal untuk menyiapkan segala keperluan pesta di taman samping mansion yang luas. Pandu mereka semua. Untuk dekorasi, aku menyerahkan semua padamu. Jangan membuat wanita ku merasa tidak puas dengan dekoran nya. Aku tahu, kau pasti mengenal putrimu lebih dari aku." ujar Mad.


Armon mengangguk berkali-kali. "Siap-siap. Aku akan membuat yang terbaik untuk putriku."


"Oh iya, satu lagi. Bersiaplah juga, karena keluarga besar mu juga akan datang. Aku telah menghubungi mereka untuk hadir. Siapkan dirimu."


Mad hendak melangkah pergi, namun tangannya di cegat oleh Armon.


"Terima kasih nak. Biarpun kau seorang mafia, tapi kau memiliki hati yang baik. Kau sudah menjaga putriku dan juga diriku. Aku sangat berterima kasih."


"Tidak perlu berterima kasih. Itu sudah kewajiban ku. Mulailah bekerja, acara akan dimulai pukul enam sore." balas Mad dengan senyuman.


***


"Hoammmmmm..."


Olivya menguap dengan sangat lebar. Entah mengapa, belakangan ini tidurnya jauh lebih nyenyak. Apa mungkin karena kamar Mad yang nyaman? Atau karena pelukan hangat Mad setiap malam?


"Bagaimana tidurnya nyonya?"


Olivya menoleh kearah sumber suara. Mad, pria itu baru saja datang dengan pakaian abu-abu santai nya dan celana jins biasa.


Olivya tersenyum hingga menampakkan lesung pipinya. "Sangat nyaman. Rasanya aku masih tidak ingin bangun."


Mad berjalan mendekat dan mendudukkan dirinya dipinggir ranjang. Ia membelai pipi kekasihnya dengan sangat lembut.


"Ingin berbelanja?" tanya Mad. Hari ini adalah hari spesial untuk Olivya. Dan, Mad juga akan lebih me-spesialkan kekasihnya lebih dari hari-hari lalu. Apapun yang Olivya minta, sebisa mungkin Mad menurutinya.


"Mau..." serunya dengan semangat.


"Baiklah. Kita akan berangkat sekitar pukul dua belas saja. Ini masih terlalu pagi."


Olivya mengangguk. "Mad, kau bilang Ayah akan tinggal disini sehari dan selebihnya tinggal dirumah Grandpa Adnan." tanya Olivya.


Mad tersenyum. "Aku rasa, masih belum waktu yang tepat untuk mengejutkan mereka. Mungkin hari ini akan waktu yang sangat tepat." balas Mad.


"Kau sungguh pria baik hati, Mad."


"Eghemm, jangan memujiku. Aku tak suka. Ayo, mau berenang?" tawar Mad.


"Boleh. Tapi kolam di taman samping ya?"


Kolam renang yang ada di mansion Mad  memang ada dua. Dibelakang mansion dan disamping mansion.


Mad menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia bingung, pasalnya kolam renang yang ada disamping mansion digunakan untuk sebuah pesta.


"Jangan. Kita berenang kolam belakang mansion saja ya yang lebih luas. Di samping masih ada perbaikan." bohong Mad.


Olivya memegang dagunya seperti sedang berpikir. "Baiklah. Ayo."


Mad bernafas lega. Ia sedari tadi merasa sesak nafas untuk menunggu jawaban dari kekasihnya. Biasanya, seorang wanita hamil akan susah dibujuk atau dibohongi.


Olivya mengganti piyama tidurnya menjadi baju kaos putih dan juga celana pendek diatas lutut. Mad menatap Olivya  tak berkedip saat kekasihnya sedang mengikat rambut hingga menampilkan leher jenjang nya, kaos yang terangkat hingga mengekspose pinggulnya, perutnya yang sedikit membesar, dan pahanya yang terlihat putih dan mulus.


Mad menelan ludahnya dengan berat. Laki-laki mana yang bergairah saat melihat seorang wanita seperti Olivya saat ini?


"Mad, kamu kenapa melamun? Ayo kita berangkat."


Mad menutup mulutnya yang sedikit menganga tadi. Ia segera menyadarkan lamunannya sebelum sesuatu yang berada di dalam memberontak.


"Ah, iya. Ayo."


A Few Moments Letter


Olivya merenggangkan tubuhnya dipinggir kolam. Lalu berlari ditempat untuk melakukan pemanasan kecil. Takut jika kakinya akan keram nanti saat berenang.


Byurrrr


Olivya yang semula melakukan pemanasan, menjadi sedikit tak fokus saat melihat Mad yang langsung Nyemplung dengan telanjang dada dan celana bokser pendek.


Terlihat sangat tampan. Ditambah perutnya yang kotak-kotak, serta berotot.


"Ingin terus menatapku disana atau berenang bersama ku?" tanya Mad.


Olivya menggeleng wajahnya untuk membuyarkan lamunannya. Ia sadar dan perlahan mulai masuk kedalam air dengan gerakan perlahan. Mad yang melihat hal itu, tak kuasa ingin segera menarik Olivya agar dengan cepat masuk kedalam kolam renang. Olivya berteriak, seseorang menarik kakinya dari dalam air. Kedua tangannya menggenggam kuat pegangan tangga, agar ia tidak tenggelam kedalam air.


Mad tertawa keras saat melihat wajah ketakutan wanitanya. Kejahilan barusan yang dialami Olivya adalah ulah dari dirinya.


"Aku tak suka jika kau menjahiliku seperti itu." ujar Olivya dengan komuk wajah marah.


Mad memendam tawanya, "Maafkan aku. Aku janji," Mad menggantungkan ucapannya. Sedangkan, Olivya sudah menunggu kelanjutan ucapan Mad sambil melipat kedua tangannya didepan dada.


"Akan mengulanginya lagi, haha." sambung Mad sambil tertawa lepas lagi.

__ADS_1


Lagi-lagi, Mad menggodanya yang membuatnya jengkel. Entah mengapa, mood Olivya kini jarang bersemangat jika terus berdekatan dengan Mad.


"Hei, kau sudah selesai berenang?" teriak Mad saat melihat Olivya keluar dari kolam dan berjalan menjauh kolam renang. Oh tidak, lebih tepatnya, menjauh dari Mad. Pria yang mampu membuatnya jengkel.


"Ya."


"Tapi kau belum basah."


"Aku benci pikiran dan ucapan mu." balas Olivya tanpa menoleh kebelakang untuk melihat Mad.


Tawa Mad pecah. Kenapa kekasihnya itu berucap seakan-akan ia sedang berpikiran kotor? Padahal, yang Mad maksud adalah basah dalam arti lain.


Olivya masuk kedalam mansion dengan keadaan basah. Tidak keseluruhan, hanya sebatas perut saja.


"Loh? Nona kenapa basah? Apakah diluar sedang hujan?" tanya Berta yang baru saja datang dari arah samping mansion.


"Tidak, aku usai berenang." balas Olivya.


Ia melihat keseliling mansion yang tampak sepi seperti tak berpenghuni. Bahkan, matanya mengedarkan pandangannya untuk memastikan jika mansion ini benar-benar sepi.


"Dimana semua orang? Kenapa tampak sepi sekali? Apakah tidak ada makan pagi." tanya Olivya.


"Um, semua.. semua.. mungkin masih pada tidur nona." balas Berta dengan gugup.


"Benarkah? Tidak seperti biasanya." gumam Olivya.


"Apakah sarapan pagi sudah siap? Aku sangat lapar." tanya Olivya.


Berta menepuk jidatnya. Ia terlalu sibuk di taman samping, hingga lupa tidak membuatkan menu makanan pada nona nya ini.


"Maaf nona, saya lupa. Sebentar, saya akan buatkan."


"Kau kenapa, Berta? Kau tidak seperti biasanya."


"Em, sa-saya lagi sibuk urus sampah tadi nona."


"Kau tak lupa mandiin kucing kecilku kan?"


"Sudah nona. Saya sudah memandikannya. Baiklah saya permisi."


Berta melenggang pergi secepat kilat.


"Aneh sekali." gumam Olivya.


Seketika, ia berteriak keras saat tubuhnya terasa melayang seperti diangkat. Mad, pria itu mengangkat tubuhnya, hingga duduk di pundak Mad. Tangan mungilnya menjambak rambut Mad sebagai ia berpegangan.


"Mad!!! Turunkan aku..." teriak Olivya dengan sangat kencang.


"Aku akan membawamu ke atas." balas Mad sambil berlari menuju tangga. Olivya menjerit saat Mad dengan sengaja melompat naik keatas tangga.


***


Olivya menuruni anak tangga. Ia baru saja mandi dan langsung turun kebawah untuk makan. Hanya memakai kaos warna biru dan juga celana pendek diatas lutut.


Matanya berbinar saat melihat ada banyak jejeran makanan diatas meja. Ia berjalan menuju meja makan dan duduk disalah satu meja. Yang membuatnya bertanya-tanya, dimana semua orang? Apakah masih belum bangun juga?


"Eh, mu-mungkin mereka.. mereka.."


"Mereka disini." potong seseorang dari belakang. Ternyata itu Mad. Ia tak sendirian, tapi ada Armon, Jon dan Zakira. Mereka datang untuk sarapan pagi bersama. Walaupun sudah telat, tapi mereka tak akan melupakan sarapan pagi.


Olivya menatap semua orang yang mulai duduk dikursi satu persatu. Matanya menatap Armon yang sepertinya sedang bahagia. Tidak hanya Armon, tetapi Zakira dan Jon juga begitu. Ada apa sebenarnya?


"Apa yang kalian sembunyikan dari aku?"


seketika keadaan menjadi hening. Semua orang menatap Olivya dengan pandangan gugup. Tidak ada jawaban yang keluar, membuat Olivya semakin curiga.


"Apa yang kamu curiga 'kan? Mereka punya kesibukan masing-masing. Apakah setiap detik, menit, mereka harus menampakkan wujudnya didepan mu? Kau ini semakin aneh sejak kehamilan mu berusia dua minggu." sahut Mad.


Semua patut berterima kasih pada Mad yang membantu mereka untuk menjawab pertanyaan Olivya. Bisa saja, Armon, Zakira dan Jon menjawab. Tetapi, ketika menjawab dengan situasi seperti ini, akan membuat sebuah jawaban tidak nyambung.


"Ah iya. Aku saja terlalu berpikiran lebih." gumam Olivya sambil memakan makanannya yang sudah disiapkan oleh Berta.


"Mad, apakah kau yakin pada mereka?" tanya Olivya dengan berbisik.


Mad terdiam, "Memangnya kenapa?"


Olivya menatap sebal kearah kekasihnya. "Mereka tampak aneh. Apakah wujud mereka digantikan oleh alien? Alien kan--"


"Bwahahahahaha!!" ucapan Olivya terpotong oleh tertawa Mad yang begitu menggelegar. Semua orang menatap kearah Mad dengan bingung. Para maid dan pengawal ikut tersenyum. Kapan terakhir kali Mad tertawa puas seperti saat ini? Hanya sebuah perkataan kekasihnya yang tak masuk akal, mampu membuat Mad tertawa begitu luas dan bebas.


"Kau ini kenapa?" tanya Olivya.


Mad merendam tertawanya sambil mengusap matanya yang sedikit mengeluarkan air mata.


"Kau ini lucu."


"Mad, apa yang kamu maksud lucu?" tanya Zakira.


"Olivya merasa aneh dengan sikap kalian," Mad menggantungkan ucapannya saat melihat gelagat Olivya yang menyuruhnya untuk tidak mengatakan hal tadi kepada mereka. Olivya akan malu mendengarnya.


"Aneh kenapa, putriku?" tanya Armon.


"Putrimu ini berpikir, kalian adalah alien."


Jon menyemburkan minumannya dan Zakira terbatuk-batuk akibat mendengar ucapan Mad. Spontan, mereka semua tertawa. Sedangkan, kedua pipi Olivya sudah memerah menahan malu.


"Ish, awas kau ya." ancam Olivya sambil menatap tajam kearah Mad.


***


O


livya berbaring diatas tempat tidur sambil bermain ponsel. Hari sudah semakin panas, membuat Olivya lebih betah berada dikamar dengan suhu ac yang membuatnya nyaman. Saat membuka sebuah aplikasi, ia melihat sebuah tanggal dan bulan. Matanya berbinar dengan mulut yang sedikit terbuka. Apakah ia tak salah baca?

__ADS_1


"Hari ini aku ulang tahun." gumam Olivya sambil bangkit dari posisi berbaring nya.


Ia membaca sekali lagi tanggal dan bulan agar ia tak salah persepsi.


"Yeayyyy, today is my birthday. Happy birthday for me." seru Olivya sambil lompat-lompat diatas kasur yang empuk.


Ceklek


Pintu terbuka. Masuklah Mad sambil membawa segelas susu kehamilan untuk wanitanya. Matanya memicing bingung saat melihat seorang wanita melompat-lompat diatas kasurnya yang empuk. Bahkan, tempat tidurnya saat ini sangat berantakan.


"Hei, berhenti. What are you doing, huh? Bagaimana jika kau jatuh dan terjadi sesuatu denganmu dan calon anakku?" protes Mad.


"Mad!!!" Olivya melompat dari atas kasur dan langsung menghambur ke pelukan Mad. Mad yang melihat itu merasa ngilu sendiri. Apakah Olivya masih belum merasakan berat perutnya yang berusia dua minggu?


"Ada apa?" tanya Mad.


Olivya melepaskan pelukannya, "Kau tau sekarang tanggal berapa?" tanya Olivya dengan senyuman merekah.


"Lupa. Ayo diminum susunya." pinta Mad sambil menyerahkan segelas susu.


"Ish, masa lupa?"


"Kau ini bicara apa? Ayo diminum."


Olivya mengambil alih gelasnya dan meminumnya dengan perasaan dongkol. Setelah selesai menelan habis minumannya, Olivya memberikan gelas kosong itu pada Mad.


"Mad, hari ini--"


"Sekarang kau istirahat. Apakah kau tak memikirkan kandungan mu? Kau melompat-lompat tadi sangat berbahaya." oceh Mad.


"Aku gak mau tidur." gerutu Olivya.


"Yasudah kalau nggak mau tidur. Ayo kita beli gaun." ajak Mad.


Mata Olivya berbinar, "Apakah kita mengadakan party?"


"Tida. Bukan aku, tapi rekan kerjaku. Aku mau mengajakmu ke pesta tunangan rekan kerjaku." dusta Mad.


Olivya mencebikan mulutnya. Ia kira, Mad akan tahu jika hari ini ulang tahunnya. Hufftt, Hari yang malang bagi Olivya.


Mereka berdua telah siap untuk berangkat ke mall. Mad membawa mobil dengan sopir, karena ia sedang tak ingin menyetir sendiri. Tangan nya menggenggam tangan Olivya yang berada disampingnya. Mad menahan tawa saat melihat wajah masam dari kekasihnya ini. Bahkan, Olivya menepis tangan Mad yang mencoba menyentuh dirinya.


A few moments letter.


Olivya menghentak-hentakkan kakinya masuk kedalam mansion. Mad membelikan Olivya banyak sekali gaun dan jenis sepatu. Tapi apa yang membuat gadis itu marah?


Saat di mall, Olivya memberi Mad kode agar dibelikan kue ulang tahun. Anggap saja, cara Olivya untuk memberitahu Mad bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Tapi, jawaban Mad membuat Olivya marah sepanjang perjalanan pulang.


"Aku tak punya banyak waktu untuk memilih kue. Kita pulang cepat agar tidak terlambat ke pesta. Aku tak mau membuat rekan kerja ku marah karena aku datang terlambat. Dan, tidak ada gunanya juga membeli sebuah kue."


Itulah jawaban Mad yang mampu membuat hati Olivya marah.


***


Olivya duduk diatas meja rias. Begitu banyak Mad membelikan ia gaun, pada akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah gaun hijau muda tanpa lengan, ber-kera, dan pendek diatas lutut. Dengan paduan sepatu heals hijau yang menyala.


Olivya bermain ponsel. Ia membiarkan seorang perias menata rambutnya sedemikian rupa. Wajahnya pun sudah diolesi make up.


"Selesai nona." ujar seorang wanita paruh baya yang tadi menata rambutnya.


"Bagus." puji Olivya saat melihat hasil kerja tangan wanita itu.


"Terima kasih."


Pintu terbuka. Munculah seorang pria tampan yang sedang mengenakan celana jins dan juga kaos hitam polos. Kain boleh polos, tapi harga jangan sampai yang murah.


"Mad? Kau tak bersiap-siap?" tanya Olivya.


"Aku sudah selesai." balas Mad dengan santai.


"Ayo turun." ajak mad.


Olivya mengikuti Mad. Hitungan berapa jam lagi, ulang tahun nya akan berakhir. Dan itu membuat Olivya sangat sedih. Di hari spesialnya, tidak ada kata sempurna untuk hari ini.


"Mad, kenapa kita ke samping taman?" tanya Olivya.


"Aku menaruh mobilnya disana." balas Mad.


Olivya hanya mengangguk paham.


Gelap sekali taman samping ini? batin Olivya..


Pyarr


"Aaaaaa!!!" Olivya menjerit, saat semua pandangannya menjadi gelap gulita. Bahkan, ia tak bisa melihat apapun yang berada disekitarnya.


"Madddd!!! Where are you? Don't leave me alone." teriak Olivya.


"Madd!! Hiks.. aku takut gelap."


"Ya Tuhan, Mad!!"


"Adakah seseorang?"


Olivya tak pantang menyerah untuk meneriaki meminta bantuan. Saat itu juga, lampu menyala dan..


"HAPPY BIRTH DAY, OLIVYA. WISH YOU ALL THE BEST, GIRL."


Rasanya begitu tak percaya. Apakah ini sebuah mimpi? Disini ramai sekali dan mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. Ada temannya satu kampus, keluarga nya, dan juga kerabat dari Mad.


"Are you feel happy, my girlfriend?"


TBC

__ADS_1


Cerita akan dilanjut part selanjutnya.


Love you all :3


__ADS_2