My Dangerous Mafia

My Dangerous Mafia
Pembullyan Verlyn


__ADS_3

Verlyn memasuki kamar tamu yang baru ditunjukkan oleh maid disini. Verlyn menatap takjub, jika kamar tamu saja mewah, bagaimana kamar utamanya. Dan Verlyn sudah tau kamar utama, baik milik Olivya ataupun Madrick.


Verlyn membanting tubuhnya diatas kasur, rasa lelah nan penat menjadi satu dalam tubuhnya. Ia berpikir, ia akan kehilangan kehormatannya saat ini juga. Namun, Tuhan menyelamatkanny. Ia bersyukur, Sekejam apapun Mad, Dia tetap memiliki rasa kasihan. Dan Verlyn sama sekali tidak merasa keberatan jika harus menjadi teman Olivya. Ia justru merasa senang. Karena ia disini tidak memilik satupun seorang teman. Tidak satupun. Semua menjauhinya, ia selalu dibully dan dikatain tak memiliki seorang ayah.


"Hiks.." tangis Verlyn. Ia mengingat kejadian tadi pagi.


Flashback


Dipagi hari, Verlyn begitu sangat bersemangat. Ini adalah hari pertamanya masuk ke Universitas baru dan ia akan menjadi mahasiswi baru.


Verlyn berjalan keluar dari apartemen miliknya. Apartemen yang sederhana namun sangat nyaman untuk ditinggali. Apartemen berkelas standart. Tidak terlalu kebawah dan tidak juga mewah.


Drrrrttt


Deringan ponsel membuat senyum Verlyn berkali-kali lipat. Verlyn mengangkat panggilan Vidio itu dengan senyuman cerianya.


"Hallo, Ma." sapa Verlyn menggunakan logat bahasa Indonesia.


"Hay Verlyn sayang. Bagaimana keadaanmu?" tanya seorang wanita paruhbaya dari sebrang sana.


"Baik Ma. Bagaimana dengan kondisi Mama? Mama meminum obatnya dengan teratur kan?" tanya Verlyn dengan nada mengintimidasi.


"Teratur, namun sering telat makan. Kau kan ta--"


"Mama!! Jangan pernah telat makan lagi. Jangan pernah! Kalau aku ada di Indonesia, pasti aku akan memarahi Mama karena telat makan."


"Hey, kau mau jadi anak durhaka dengan memarahi Mama tercintamu ini?" ucap Siska-- Mama Verlyn dengan nada marah yang dibuat-buat.


"Hehe, kan itu juga salah Mama karena makannya telat. Ah Mama, aku jadi merindukanmu."


"Aku juga merindukanmu anakku. Cepatlah kembali dan peluk Mama mu ini."


"Secepatnya Ma, aku akan pulang."


"Baiklah, Mama harus menjahit baju orang dulu. Mama tutup ya,"


"Tapi nanti telpon Verlyn lagi ya Ma,"


"Iya sayang." Siska mematikan sambungannya.


Verlyn tersenyum bahagia. Ia memberhentikan taksi didepannya. Taksi pun berhenti dan Verlyn segera menunjuk sebuah Universitas yang menjadi impiannya.


Verlyn menatap keluar jendela, ia melihat bangunan-bangunan yang menjulang tinggi. Rasanya sangat bahagia jika impiannya terwujud.


"Nona, sudah sampai." ucap seorang sopir.


"Ini uangnya, sir. Thank you." setelah memberikan ongkosnya, Verlyn segera turun dari taksi yang ia tumpangi.


Verlyn tersenyum merekah, Universitas impiannya sekarang sudah ada dihadapannya. Verlyn melangkah semakin dekat. Ia mulai mencari-cari dimana kelas yang akan ia tempati untuk belajar.


"Hay, anak baru?" sapa seorang gerombolan tiga laki-laki dan dua perempuan. Tampak dua gadis dengan pakaiannya yang begitu seksi dan make up yang berlebihan. Verlyn hanya tersenyum dan mengangguk. Ia tak berpikiran mereka adalah orang jahat ataupun sekumpulan geng.


Salah satu gadis berambut pirang mendekat kearah Verlyn. Ia memutari tubuh Verlyn dengan tatapan menilai. Nyali Verlyn seketika menciut saat gadis yang memutarinya mengacungkan jempol kearah segerombolan temannya. Temannya mulai tertawa sinis dan mulai mendekat kearah Verlyn.


"Peraturan anak baru." ucap seorang pria, yang menurutnya adalah ketua dari segerombolan orang ini.


"Dibully selama ia akan stress." ucap gadis dengan rambut coklat seperti dirinya.


"Bull-bully?" tanya Verlyn dengan gugup.


"Yap, tepat sekali." balas pria yang memakai topi merah dibalik.


"Apa untungnya?" tanya Verlyn.


"Untungnya, agar kita senang." Verlyn mengepalkan tangannya. Baru pertama masuk sudah begini?


"Maaf, aku harus masuk kedalam kelas. Aku nggak ada urusan dengan kalian." ucap Verlyn dengan sedikit keberanian.


"You can speaking English? But, why a little not smooth?" tanya gadis berambut pirang.


Verlyn mulai sedikit malu dan takut. Apakah ia baru saja salah mengucapkan bahasa Inggris?


"Aku dari Indonesia, jadi aku perlu belajar bahasa Inggris." ucap Verlyn dengan pelan.


"Hahahah!! Bagaimana bisa kampus ini menerima mahasiswi yang tak begitu lancar berbahasa Inggris?" sindir lelaki yang memakai jaket hitam.


Verlyn mulai melangkah menjauh, ia menundukkan kepalanya.


Arrghh,


Verlyn meringis, saat rambutnya ditarik dan membuatnya jatuh ke lantai.


Verlyn sedikit mengeluarkan airmatanya. Ia merasakan sakit dikepalanya dan juga di pantatnya. Verlyn tak berani melawan. Mereka berlima dan ia hanya seorang diri. Meminta bantuan pun, ia belum mengenali mahasiswa disini.


"Huh, gitu saja menangis." sindir gadis berambut coklat.


Verlyn berdiri dan berjalan menjauh secepatnya. Harinya yang semangat kini berubah menjadi hari yang suram.


"Disini lah kelasku?" guman Verlyn dengan berbahasa Indonesia.


"Maybe," Verlyn melangkah masuk dan sudah ada beberapa mahasiswa disini. Tatapan seluruhnya mengarah pada Verlyn.


"Emm, where i should sit?" tanya Verlyn entah pada siapa.


Seorang gadis menunjuk bangku paling depan yang kosong.


"Thank you." ucap Verlyn dan langsung meletakkan tasnya di meja yang mulai saat ini menjadi tempat duduknya.


Brakk


Pintu digebrak dengan.....


"Genk nyebelin," guman Verlyn.


"Eh, si anak baru sekelas dengamu tuh." ucap gadis yang berambut pirang.


"This Will easy for bully," gumam pria yang menjadi ketua Genk, yaitu Lorenzo Geraldo.


"Cabut guys, kembali ke kelas." ucap Pria bertopi merah seraya merangkul kedua gadis berambut coklat dan pirang.


"Eits, jangan buru-buru. Ayo, kenalin diri kalian dulu padanya." pinta Renzo dan langsung diacungi jempol oleh semua Genk nya.


"Hay, kenalin nama saya Violin Jordaness," ucap gadis berambut pirang dengan gaya bahasa dibuat formal.


"Nama aku, Agnes Pollion."


"Namaku Trigo Gordenes,"


"Namaku Bryan Allentaro."


"Dan, terakhir aku. Lorenzo Geraldo. KETUA GENK ON BULLYING." ucap Renzo dengan suara yang ditinggikan diakhir kalimat.


"Oke, sekarang siapa namamu?" Agnes dengan angkuh.

__ADS_1


"Jawab," bentak Trigo.


"Nam-nam-namaku, Verlyn Ningsih Jordan." jawab Verlyn dengan gugup.


"Oke guys, kalian boleh kembali." seru Renzo dan langsung diangguki oleh seluruh Genk nya.


"Kenapa lihatin?" desis Renzo saat mata Verlyn tak luput pandangannya dari Renzo.


"Maaf," guman Verlyn dengan kepala menunduk.


Renzo tersenyum sinis dan langsung duduk dibelakang Verlyn.


"Emm, maaf. Renzo ini tempat dudukku." ucap seorang gadis berkacamata.


"Hei, bad nerd. Bisa kan cari tempat duduk lain?" balas Renzo. Terpaksa gadis itu berpindah duduk dibagian belakang, tempat duduk Renzo semula.


***


Verlyn mengemasi bukunya dan alat pensilnya. Sejak istirahat tadi, ia tak henti-hentinya dibully terus-terusan. Ia juga harus mengganti pakaiannya karena si Agnes dengan sengaja mengguyur jus lemot ke bajunya, alhasil Verlyn membeli baju lagi di koperasi. Untung saja ada yang jual, jika tidak mungkin dia akan memakai baju yang basah itu.


"Hari pertama masuk aja udah kayak gini, Ya Tuhan.... Kenapa di Negara ini menjunjung tinggi pembullyan?" gerutu Verlyn dengan bahasa Indonesia.


Brakk


"Hei, udah ganti baju? Hahahah.. gimana? Segarkan mandi dengan jus lemon? Lengket semua pasti badanmu." ejek Violin dan langsung dibalas gelak tawa keras oleh temannya.


"Mau kalian apa sih? Kenapa kalian membullyku?" teriak Verlyn saat kehabisan kesabaran.


"Hey!! Kecilkan suara mu. Ingat, gadis ingusan, kau akan kami bully seumur hidup."


"WHAT THE ****!" bentak Verlyn.


Plakk


Verlyn memegang pipinya yang terasa panas. Tamparan dari Violin bukanlah tamparan yang dibilang pelan. Ini sangat nyeri dan panas.


"Arrrggghsss," Verlyn meringis saat rambutnya ditarik oleh Agnes dengan kasar.


"Dengar Verlyn, kami akan bertindak lebih keras dari ini jika sekali lagi kau berani membentak kami." desis Agnes.


Verlyn merintikan airmatanya, rasa sakit dikepala dan pipinya sangat nyeri.


"Lepasin.." lirih Verlyn dengan berbahasa Indonesia.


"What are you say?" Agnes melepaskan jambakan nya dengan keras hingga membuat tersungkur kedepan.


Renzo menendang kaki Verlyn yang bersejajar dengan Verlyn yang tengah tengkurap.


Genk On Bullying pergi meninggalkan Verlyn sendirian.


"Cuih," Violin meludahi kepala Verlyn sebelum berlalu.


Flashback Off.


Kejadian itu membuatnya hingga ia masuk kedalam sangkar kelab malam. Benar-benar hari yang sungguh sial.


"Kenapa semua orang kejam padaku? Hanya Mama yang baik padaku, hanya Mama yang ngertiin aku. Dan hanya Mama yang tau keadaanku." lirih Verlyn.


Tok tok .


Verlyn buru-buru menghapus airmatanya dan beranjak membukakan pintu.


"Nak Verlyn?" ucap Gaston yang sudah berdiri diambang pintu.


"Iya, adaapa?" balas Verlyn dengan sopan. Walaupun Gaston pernah berbuat kasar padanya, Mamanya mengajarkan agar ia tak membalas kekejam seseorang.


"Saya lagi tidak selera makan tuan." Verlyn berniat menutup pintunya namun dicegat oleh Gaston.


"Ayo makan!" perintah Gaston dengan tegas.


"Tapi saya tak selera makan." kekeuh Verlyn.


Gaston menarik tangan Verlyn dengan paksa. Ia menyeret Verlyn menuju meja makan.


"Makan!" titah Gaston.


"Tap--"


"Makan Verlyn." potong Gaston.


Dengan malas, Verlyn mengambil sepotong roti dan selai nanas kesukaannya.


Verlyn mengunyah makanannya dengan malas. Ia risih dengan Gaston yang sejak tadi memperhatikannya.


"Tuan, pergilah. Aku risih jika terus kau perhatikan seperti itu." ucap Verlyn.


"Diamlah, dan segera habiskan makananmu." balas Gaston.


***


Olivya sedang merengek kepada Mad yang sejak tadi mengabaikannya.


"Mad... Ayolah, beritahu paswordnya. Aku janji takkan kabur." rengek Olivya.


Mad asyik dengan ponselnya. Tadi Mad kembali ke kamar Olivya dengan alasan ia melupakan ponselnya, namun kenyataannya ia ingin bertemu dengan Olivya.


"Berhenti merengek Olivya." ucap mad dengan nada tajam namun dihiraukan juga oleh Olivya.


"Aku ingin bertemu Verlyn, aku ingin mengobrol dengannya." Mad menoleh kearah Olivya.


"Sekarang tidur dan besok baru aku akan memberitahumu pasoword nya." ucap Mad.


"Bener ya?"


"Iya bener, udah tidur sana." titah Mad.


"Kamu keluar dulu baru aku tidur."


"Jangan me--"


"Turuti atau aku tidak mau tidur." ancam Olivya.


"Kau berani mengancam ku?"


"Jika kau merasa begitu." balas Vya dengan enteng.


"Baiklah, segera tidur." Mad melangkah keluar kamar Vya.


"Dasar pria." gumam Vya.


***


Drrrrttt

__ADS_1


Jam Alarm Olivya berbunyi. Tangan kanannya meraba nakas untuk menemukan benda yang terus berbunyi sangat nyaring dan sangat mengganggu tidurnya. Ia juga belum siap jika harus bangun pagi, karena semalam ia tidur sangat larut.


Matanya sedikit membuka untuk melihat jam alarm berbentuk kotak yang sudah berada ditangannya.


"Pukul lima." gumamnya.


Olivya mengubah posisinya menjadi duduk dan bersandar pada kepala ranjang. Matanya masih terpejam, dan menguap dengan cukup lebar.


Olivya menampakkan kakinya diatas tanah, ia sedikit merenggangkan otot-ototnya yang sedikit kaku, sebelum pada akhirnya beranjak menuju kamar mandi.


Olivya berjalan gontai menuju kamar mandi. Ia mengisi bak mandinya dengan air hangat. Sambil menunggu penuhnya bak mandi, Olivya mulai menggosok giginya didepan wastafel dan cermin yang cukup besar.


Byuhhh


Olivya menyemprotkan busa sikat giginya lalu berkumur dengan air hangat agar giginya tetap kuat. Olivya meraup mukanya.


Olivya mulai melepaskan piyamanya dan berjalan menuju bak kamar mandi yang sudah cukup untuk dirinya berendam. Olivya memejamkan matanya sambil merendam tubuhnya didalam bak mandi.


"Ingin mandi bersama?" refleks Olivya membuka matanya. Suara bariton itu sangat ia kenali.


"Mad?" guman Olivya. Ia menutupi belahan dadanya dengan air busa sabun.


Olivya meneguk ludahnya, kondisi Mad saat ini memakai celana pendek selutut dengan berdada polos. Olivya meremas tangannya dibawah air. Rasanya, tangan ini ingin menyentuh perut Mad yang kotak-kotak.


"Belum puas memandangiku? Aku tahu jika aku ini seksi." guman Mad.


Detik berikutnya, Olivya memalingkan wajahnya. Ia sangat malu karena tertangkap basah oleh Mad karena telah menatapnya dengan begitu.


Kau bodoh bodoh bodoh. Batin Olivya.


"Ehh, mau ngapain kamu?" seru Olivya saat ia tak sengaja melihat pergerakan Mad yang ingin melepas celana pendeknya.


"Tentu saja ingin mandi bersamamu." jawab Madrick dengan enteng.


"Tidak!! Jangan, cepat keluar!!" teriak Olivya.


"Jangan berteriak di pagi buta seperti ini, Vya sayang." ucap Mad.


"Cepat Keluar!! Cepat!!!" teriak Olivya lebih meninggi.


"Baiklah-baiklah aku akan keluar." Mad mengalah, ia tak tahan dengan suara teriakan gadisnya itu. Sungguh memekakkan telinga.


Olivya menghembuskan nafas dengan lega. Mad sudah keluar dan ia segera cepat-cepat melakukan ritual mandinya sebelum Mad masuk lagi dengan lancangnya.


***


Olivya berjalan menuju dapur. Hari ini ia sangat ingin masak. Mad benar-benar menempati janjinya untuk memberitahu password kamarnya. Dan itu ternyata tanggal lahirnya. Kenapa ia tak menyadari dari dulu?


Olivya hendak melangkah turun tangga, namun ia urungkan karena melihat Verlyn sudah berpakaian rapi dengan menenteng tasnya.


"Kau mau kemana?" tanya Olivya saat Verlyn sudah berada didepannya.


"Berangkat kuliah." balas Verlyn dengan wajah lusuh.


"Kenapa dengan wajahmu? Apa ada Maslaah?" Olivya memegang pundak Verlyn.


"Tidak apa-apa." balas Verlyn. Ia tak bisa bercerita kepada Olivya tentang ia dibully. Karena Olivya tak ada laita dengan masalahnya.


"Beneran? Tapi kenapa aku merasa ada apa-apa,"


"Iya Olivya, aku tak apa. Jika ada problem aku akan bercerita padamu, oke."


"Yasudah, ayo turun kebawah. Aku akan memasakkanmu hari ini."


"Akan ku bantu,"


"Tak perlu Verlyn. Akan kubuat harimu terasa spesial."


Nyatanya hariku takkan pernah spesial batin Verlyn dengan memaksakan senyuman kepada Olivya.


Di Dapur


Olivya tengah berkutik dengan daging yang ia panggang. Ia berniat ingin membuat steak daging dan ia sudah hafal resepnya melalui mediang ibunya.


"Ayolah Oliv, aku ingin membantumu." ujar Verlyn seraya berdiri dari duduknya.


"Tak perlu Verlyn. Aku ingin membuat makanan dengan asli tanganku sendiri. Jadi kau diam saja disitu, sebentar lagi sudah siap." balas Olivya.


Madrick turun dari tangga dengan setelan jas lengkap dan rapi. Mata tajamnya tak luput dari gerakan Olivya yang tengah memasak sesuatu.


"Vya!!" suara bariton dengan cukup keras, sedikit membuka Olivya terkejut dan langsung menoleh kearah sumber suara.


"Kenapa kau masak? Disini tak Kekurangan pembantu sayang." ucap Mad yang sudah berdiri disebelah Olivya.


"Terserah aku dong. Kan ini tanganku yang masak, bukan tanganmu. Kamu diam saja dan tunggu dimeja makan, aku akan menyiapkan untukmu juga." ucap Olivya.


Mad merangkul Olivya dari belakang. Olivya terkejut, dengan apa yang dilakukan oleh Mad. Ia diam mematung.


"Pelankan suaramu saat berbicara denganku sayang. Aku tak suka gadis pembangkang." bisik Mad tepat didepan telinga Olivya.


"Le-le-lepaskan Mad. A-aku mau memasak." ucap Olivya dengan gugup.


Mad melepaskan Olivya dan mencium pipi Olivya sekilas lalu berjalan menjauh dari Olivya. Olivya memegang pipinya, seperti ada sengatan listrik yang menyambar pipinya.


Olivya mengerjapkan matanya.


"Apa yang kau pikirkan Olivya? Sadarlah... Ya ampun dasar pria gila." gumam Olivya pada dirinya sendiri.


***


Makanan telah tersaji kan diatas meja. Madrick, Olivya dan Verlyn melahap makanannya dengan keheningan. Masakan Olivya memang pantas diacungi dua jempol.


"Bagaimana dengan kuliahmu?" tanya Mad pada Verlyn. Sosoknya yang mafia yang begitu nampak.


"Eghhmm, baik." jawab Verlyn bohong.


"Bohong," guman Mad pelan dengan tersenyum sinis.


"Baguslah, kalau baik. Rasanya aku juga ingin berkuliah." sambar Olivya sambil mengunyah.


"Tak boleh." balas Mad.


Olivya menghembuskan nafasnya dengan gusar. Percuma memohon atau merengek ke Mad, pria itu tidak akan merespon sedikit pun permohonannya.


"Aku ingin punya ponsel." guman Olivya saat melihat Verlyn memainkan ponselnya. Ponsel miliknya memang sudah dibuang oleh pria arogan sebelahnya.


"Besok kubelikan," guman Mad.


"Serius?" tanya Olivya dengan mata berbinar.


"Hmm," balas Mad.


Olivya bersorak gembira seperti anak kecil yang mendapatkan mainannya.

__ADS_1


***


To Be Continue.


__ADS_2