
Guys, cerita ini setelah ku ketik langsung publis. Jadi mohon maaf ye kalo ada typo.
HAPPY READING
BTW, VOTE SEMAKIN DIKIT, DAN READERS JUGA. JANGAN KABUR YA... AUTHOR JUGA PUNYA TUGAS OFFLINE, JADI DITUNDA UNTUK NGETIK CERITANYA. INI JUGA SEDANG DI USAHAKAN (:(
------------------------
Hendrick dan Jon bersembunyi dibalik tangga yang menuju kearah lantai atas. Anak buah mafia itu sudah berhasil mereka lumpuhkan. Saatnya, Hendrick menemui mafia yang menjadi musuhnya.
"Hen, apakah kau yakin jika mafia itu ada diatas?" tanya Jon dengan berbisik.
"Aku yakin Dad. Ayo." dengan mengendap-ngendap, Jon dan Hendrick menuju lantai atas dengan pasti.
"Dad, kau jaga saja pintu. Takut jika anak buahnya yang masih tersisa, dan kau langsung tembak saja." ujar Hendrick dan langsung diacungi jempol oleh Jon.
Hendrick membuka pintu rooftop. Benar dugaannya, mafia yang menjadi musuhnya itu, berada diatas sini. Hendrick mengepalkan satu tangannya yang tak memegang tembak. Ia menggeram kesal, karena ulah mafia itu, keluarganya lah yang menjadi korban.
"Hendrick Vallencio, akhirnya kau datang juga. Bagaimana? Menyenangkan bukan?" ujar mafia itu dengan senyuman remehnya.
"Sialan kau!!" desis Hendrick.
Alec Bernald adalah seorang mafia asal Belanda. Mafia ini berhasil menipu Hendrick, agar Hendrick mau bekerja sama. Namun, dengan bodohnya, Hendrick menerima ajakan Alec karena menatap wajah penuh permohonan dari Alec.
Hendrick berjalan menuju Alec dengan santai.
"Alec, Alec. Betapa bodohnya diriku menerima ajakanmu untuk kerja sama--"
"Kau memang bodoh, Hen." Potong Alec.
Hendrick tersenyum pahit. "Ya, aku memang bodoh. Aku terhasut dengan omongan manis seseorang. Aku yang bodoh atau aku yang terlalu baik hati? Sehingga mudah tertipu dengan godaan kucing manis. Memohon layaknya seorang pengemis, memasang wajah ala kucing imut. Bagaimana aku tak merasa kasihan? Tapi... Inikah balasan si pengemis itu? Dengan menyerang dari belakang?" sindir Hendrick yang mampu membuat Alec menggeram marah. Ia tak terima jika ia dikatakan sebagai pengemis.
"Kau mengataiku pengemis?" tanya Alec dengan geram.
"Baguslah jika kau merasa begitu, oh ayolah... Kucing manis, tidakkah kau berpikir Jika kau sedang sendiri disini? Atau ini memang jebakanmu lagi?"
Hendrick melangkah mendekat kearah dimana Alec sedang duduk dengan angkuhnya.
"Dibawah sana, anak buah mu telah ku lumpuhkan dan bahkan ada yang tewas. Apakah kau juga ingin berakhir tragis seperti itu juga, kucing manis?" bisik Hendrick dengan desisan.
Dengan gerakan cepat, Hendrick langsung menahan gerakan tangan Alec yang hendak menembaknya dan tangan satunya mencekik leher Alec dengan lengannya, Hingga pergerakan Alec terkunci.
"Jangan coba-coba untuk mengibarkan bendera perang padaku." Hendrick mengambil pistol yang berada disaku celana dan jas Alec lalu dibuangnya sangat jauh.
"Sialan kau, lepaskan." geram Alec yang memberontak mencoba untuk melepaskan diri dari kukungan Hendrick.
Brukkk
Alec menendang betis Hendrick hingga membuat Hendrick terhuyung kebelakang dan melepaskan cekalannya pada Alec.
__ADS_1
"Cuih, lemah." ejek Alec.
Alec mulai melayangkan pukulan kearah Hendrick, namun dengan gerakan cepat, Hendrick menghindar. Hendrick melayangkan pukulan kearah pelipis Alec, hingga membuat si empu menahan pening dikepalanya. Terjadinya adu jotos tanpa senjata antara Hendrick dan Alec. Alec mulai lemah, pukulan Hendrick tidak bisa dianggap remeh.
Tanpa sepengetahuan Hendrick, Alec mengambil tembak yang ia sembunyikan sejak tadi dibawah sepatuhnya. Dari belakang, Alec menembak punggung Hendrick hingga membuat Hendrick kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh. Ia sempat bangkit, namun kondisinya tak memungkinkan. Peluru yang tembus didalam dagingnya sangat menyakitakan. Ia meringis merasakan reaksi panas dari peluru yang tembus di dagingnya.
"Menyerah lah Hen. Aku tahu, kau akan takluk dihadapanku." ujar Alec dengan sombongnya.
Alec menodongkan pistolnya kearah kepala Hendrick, dan siap manarik pelatuknya.
Dorrrrr
"AKHHHHH...."
Hendrick yang sejak tadi memejamkan mata, merasakan tidak ada hal apapun yang akan menghantam kepalanya, justru ia mendengar suara teriakan dari seseorang yang entah siapa. Dengan perlahan, Hendrick membuka matanya. Ia melihat tubuh Alec yang tak berdaya. Dada kirinya telah tertembak, yaitu tepat pada jantungnya. Tubuh Alec mati seketika. Hendrick menatap siapa telah menembak Alec dan menyelamatkan nyawanya dengan tepat waktu.
"Madrick?" gumam Hendrick. Disana, putarnya berdiri diambang pintu dengan pistol yang berada ditangannya. Tak lama kemudian, Jon masuk.
"Maaf Hen, aku sudah melarangnya tapi dia tetap kekeuh untuk masuk." ucap Jon yang baru saja datang.
"Dady..." teriak Mad yang langsung membuang sembarang pistolnya dan berlari kearah Hendrick yang lemas.
"Mad, terima kasih nak." ujar Hendrick setelah itu ia tak tahan merasa sakit di sekujur tubuhnya.
"Dadddd, bangun dadddd!!! Dady!!" teriak Madrick dengan histeris, air matanya telah deras membasahi pipinya.
"Madrick, kamu yang sabar ya nak. Dady mu pasti baik-baik saja." ujar Jon dengan lembut.
"Madrick takut, grandpa. Madrick takut jika harus kehilangan Dady." lirih Madrick.
"Sssttt, Madrick jangan bilang begitu. Berdoa, semoga Tuhan menyelamatkan Dady mu." Jon merangkul cucu satu-satunya dengan penuh kasih sayang. Setelah itu, Jon mengajak Madrick untuk turun kebawah dan pergi menuju rumah sakit.
***
Madrick terus saja mondar-mandir didepan ruangan operasi. Sudah dua jam lamanya, tapi dokter tak menunjukkan tanda-tanda untuk keluar. Tiap kali Zakira dan Marline mengajak Madrick untuk makan atau duduk sejenak, tapi Madrick tetap menolaknya. Ia akan istirahat jika telah mendengar kabar baik dari dokter soal Dadynya.
"Mad, minum ini nak. Momy tahu, kau pasti haus." ujar Marline yang hanya bisa memberikan Madrick sebotol minuman dingin. Menyuruh Madrick untuk makan pun, Mad akan tetap menolaknya.
"Tidak, mom. Mad tidak haus." balas Madrick.
"Ayolah, minumlah walau sedikit."
"Mom, Madrick tidak haus."
"Mad, demi mom."
Madrick membuang nafasnya dengan berat. Ia mengambil alih botol dingin itu dari tangan Marline. Mad membuka botolnya dan meminumnya. Betul apa kata momy nya. Ia haus. Madrick meminum minuman dingin itu hingga tak tersisa.
Ceklek
__ADS_1
Pintu terbuka, Mad berlari menuju dokter yang baru saja keluar dengan pakaian khusus operasinya.
"Bagaimana keadaan Dady aku?" tanya Madrick tak sabaran.
"Syukurlah, Dady kamu baik-baik saja. Untung saja, reaksi peluru itu tak menyebar luas. Dady mu kuat, ia mampu menjalani operasi ini, walau kami sempat menyerah karena peluru yang berada didalam tubuhnya sudah pecah. Tapi atas izin Tuhan, Dady mu selamat." ujar Dokter itu dengan panjang lebar.
Madrick tersenyum lega. Dokter itu menyarankan untuk tidak menjenguk pasien terlebih dahulu, sebelum dipindahkan diruangan khusus. Lalu, Dokter itu pamit untuk pergi.
***
Sudah satu minggu lamanya, Hendrick masih betah dengan mata terpejamnya. Hendrick dinyatakan koma saat melihat kondisinya yang mulai melemah.
Madrick berdiam diri diatas rooftop sekolah. Angin kencang menerpa wajahnya yang putih. Rambutnya yang hitam legam, bertebaran hingga membuatnya acak-acakan. Ia menatap pemandangan kota Madrid dari atas sini. Banyak gedung-gedung yang menjulang tinggi. Mad menatap salah gedung yang paling tinggi. Tulisan besar yang bertuliskak Madrick Vllcio's Company.
Gedung yang diambil dari potongan nama Hendrick dan Marline, hingga menjadi sebuah nama yang dimiliki oleh Madrick. Ia merindukan Dady nya. Disana, dimana ia sering mengajak Dady nya bermain bola dan Dady nya menuruti nya, walau ia sedang ada meeting, tapi putranya adalah hal yang terpenting dari apapun.
"Dady, jika nanti aku besar, aku ingin menjadi seorang pengusaha sukses tanpa embel-embel seorang mafia." ujar Madrick kecil.
Hendrick mengelus puncak kepala putarnya, "Jikapun kau menjadi seorang mafia, jadilah mafia yang sering menolong seseorang dan jangan banyak membunuh. Jadilah mafia yang bijak, sehingga takkan mudah tertipu oleh siapa pun."
"Baiklah Dad. Tapi Mad hanya ingin menjadi seorang pengusaha sukses, ingin membanggakan Dady dan Momy."
"Berjanjilah nak, kau akan menjadi anak yang sukses dan takkan membuat Dady dan Momy kecewa padamu."
"Janji, Dad. Madrick janji, Madrick takkan pernah mengecewakan Dady ataupun Momy. Kalian adalah emas berharga untuk Madrick."
"Kau dan Momy mu adalah nyawa Dady."
Madrick merintihkan airmatanya saat mengingat percakapannya dengan Dady nya waktu itu. Entah sejak kapan ia menjadi laki-laki lemah hanya karena mengingat sosok orang yang ia cintai nya. Dady dan Momy nya, mereka benar-benar separuh hidup Madrick. Jikapun mereka pergi, maka Mad juga akan kehilangan separuh hidupnya.
***
Madrick berjalan sepanjang lorong rumah sakit. Saat ia sampai didepan pintu ruangan Dady nya dirawat, Madrick langsung membuka pintunya.
Disana, diatas ranjang itu, ada seorang yang dinantikannya untuk membuka mata sedang terbaring lemah dengan alat penunjang kehidupan. Disini sepi sekali, Marline sedang berada dimansion dengan Zakira, mereka menyiapkan makanan untuk dimakan dirumah sakit.
Madrick menutup pintu ruangan dan bejalan mendekat kearah Hendrick yang tengah berbaring lemah. Ia memegang tangan Dady nya yang dingin.
"Dad." panggilnya dengan suara parau. Madrick sangat hancur melihat kondisi Dady nya saat ini.
"Dad, bangunlah Dad. Apakah kau tak merindukan putramu ini, Dad?" tanya Madrick.
"Setidaknya, pikirkan momy dad. Ia merasa hancur melihatmu seperti ini. Ayolah Dad, buka matamu. Tak lelah kah dirimu, terus-terus tidur? Bangun Dad, dunia ini lebih indah dari kegelapan."
Madrick menangis. Biarlah jika ia dianggap lemah atau cengeng. Jika kalian yang berada di posisi Mad, pasti kalian akan menangis lemah seperti Mad.
"Jikapun kamu pergi, maka aku juga akan menyusulmu pergi." gumam Madrick.
TBC
__ADS_1