
Sudah up cepat nih, sesuai permintaan kalian..
Jangan lupa meninggalkan jejaknya ya... Alias vote, hehe...
~HAPPY READING~
99+ LIKE, UP CEPAT DEH.. HEHE...
CANDA, TAPI SERIUS..
___________________________
Mad memakan suapan dari tangan Lovina. Mad sedikit bingung, rasanya beda sekali suapan dari tangan Lovina.
"Sudah cukup." perintah Mad saat Lovina hendak menyuapinya lagi. Lovina pun mengangguk dan mengambilkan Mad minum. Mad hanya menegak sedikit air dan lalu menatap Lovina dengan tajam.
"Jujur, aku tak mengenalmu." ujar Mad. Lovina menyembunyikan keterkejutannya dengan bersikap santai.
"Lalu kenapa kau bersikap baik padaku tadi?" tanya Lovina balik.
"Aku merasa memiliki seorang kekasih. Tapi aku tak tahu siapa kekasihku itu. Wajahnya sangat samar di ingatanku." ujar Mad sambil mengingat-ingat wajah kekasihnya.
"Mad, akulah kekasihmu. Kau mengalami amnesia, tapi aku tidak. Jadi aku memberitahu mu, bahwa aku ini adalah kekasihmu yang kau maksud."
Mad menatap manik mata Lovina, "Benarkah itu?"
"Itu benar, sayang."
"Lalu maid yang masih muda tadi?" Maid muda yang Mad maksud adalah Olivya.
"Itu maid baru mu, sayang. Aku yang mengangkat dia sebagai maid yang menjagamu disini jika aku ada urusan. Tapi jika kau terganggu, aku bisa memecatnya untukmu." balas Lovina sambil bergelayut manja di lengan kekar milik Mad.
"Terserah padamu, aku percaya dengan kekasihku." ucap Mad sambil memegang pipi kanan milik Lovina.
"Tapi kurasa tidak perlu kau pecat, biarkan dia bekerja untukmu saja. Bukan untukku, aku sudah banyak maid di mansion." sambung Mad.
"Dia boleh bekerja untukku?" tanya Lovina dengan berbinar.
"Boleh sayang. Kau adalah kekasihku, jadi kau boleh meminta apapun padaku."
"Ouh, terima kasih sayang."
***
Beberapa hari kemudian....
Hari-hari sudah Olivya lewati selama di Hawai dengan hati yang sungguh menyesakkan. Kedekatan Mad dengan Lovina pun bertambah, apalagi kepedulian dan keromantisan Mad terhadap Lovina membuat Olivya cemburu.
Saat ini, Mad, Lovina, Berta, Olivya dan dua pengawal sedang berliburan di pantai untuk merayakan kesembuhan Mad. Olivya berjalan beriringan bersama Berta dan didepannya, mereka menyaksikan kemesraan Mad dengan Lovina. Dimana, seorang Mad menggenggam tangan Lovina dan memberikan kepedulian penuh terhadap wanita itu.
Hati Olivya bagai diremas kuat oleh seseorang. Berta menyadari jika Olivya ingin menangis, ia pun menggenggam kuat tangan Olivya dan memberikan kekuatan terhadap gadis ini. Berta sebagai wanita, ia tahu betul bagaimana perasaan seseorang saat melihat kekasihnya sedang berduaan dengan wanita lain. Berta seratus persen yakin, jika Lovina memang memanfaatkan amnesia Mad dengan mengaku-aku sebagai kekasih seorang Mad.
"Nona, apakah nona ingin beli es krim?" tanya Berta sambil mencoba menghibur Olivya.
Olivya menoleh dan tersenyum, "Boleh. Dimana?"
"Ayo ikut aku." Berta menarik tangan Olivya menuju kedai es krim. Kali ini, Berta yang akan menraktir Olivya untuk berjajan es krim sepuasnya. Ini juga ia lakukan semata-mata menghibur suasana hati Olivya yang sedang hancur.
Olivya meremas kuat wadah es krim saat melihat Mad meniup mata Lovina yang tengah kelilipan. Begitu dekat dan membuat hati Olivya semakin terhempas kuat sakitnya. Berta menyadari hal itu, tapi ia hanya diam mengelus-elus punggung Olivya. Olivya menoleh sekejap kearah Berta dan tersenyum sebagai syarat bahwa dirinya kuat dan mampu melewati ini semua. Ia yakin, mukjizat Tuhan itu ada. Suatu saat, Mad akan kembali pada ingatan aslinya dan kembali pada Madrick miliknya.
Olivya kembali menatap tempat yang tadi sempat Mad dan Lovina tempati tapi dua sejoli itu sudah tidak ada ditempat. Tak lama kemudian, ia di datangi oleh dua pengawal Mad.
"Nona, tuan Mad menyuruh kalian untuk pergi kerumah makan pojok sana. Mad ingin mengajak kalian makan bersama."
Disisi lain
Lovina terus bergelayut manja dilengan Mad. Mad hanya menampakkan wajah datar khasnya. Ada saatnya ia peduli terhadap kekasihnya dan ada saatnya kekasihnya ia didik untuk tidak bergantung padanya.
Tak lama kemudian, Olivya dan Berta datang. Mad menyuruh mereka untuk duduk kursi yang tersedia didepannya. Mad telah memesankan makanan sesuai dengan selerannya. Tenang saja, selera makan Mad tinggi. Jadi siapapun tidak akan menolak selera makanan Mad yang akan memanjakan lidah.
"Eghmm, saya ingin mengatakan padamu. Selama kekasih saya berada di mansion atau menginap di mansion saya, kau akan menjadi maid pribadi nya."
Rasanya, Olivya tak bisa lagi membendung air matanya. Tapi sekuat mungkin ia tahan agar tidak keluar.
"Baik tuan." balas Olivya.
"Dengar kan kamu? Pokoknya, kamu harus nurut sama semua perintah aku." sambar Lovina.
"Baik Lov---"
__ADS_1
"Nona Lovina." potong Lovina untuk membenarkan ucapan Olivya.
"Baik nona Lovina."
Hening,
Tak lama kemudian makanan mereka datang. Selera makan Olivya sangat buruk. Bukan karena makanannya yang tak enak, tapi pemandangan didepannya yang membuat hati dan matanya tidak enak. Dimana, seorang Lovina meminta Mad untuk menyuapinya. Mad sempat menolak, tapi Lovina terus merengek dan mau tak mau, Mad menurutinya. Sedikit terpaksa, dan lebih banyak kepeduliannya terhadap Lovina.
Setelah makan, mereka berniat untuk langsung pulang ke apartemen. Karena, besok mereka harus melakukan penerbangan kembali ke Italy menggunakan pesawat pribadi milik Mad.
Dalam perjalanan menuju apartemen, Olivya, Berta dan satu pengawal menggunakan mobil berbeda dari Mad dan Lovina. Sedangkan pengawal satunya bertugas sebagai sopir Mad. Mad belum dibolehkan untuk melakukan hal berat apapun yang akan mengganggu kerja otot kepalanya.
Olivya menatap kosong kearah luar jendela. Tatapannya benar-benar kosong. Otaknya terus terngiang-ngiang ucapan sang dokter yang seperti kaset rusak.
"Tuan Madrick mengalami amnesia. Atau mungkin selamanya."
Ucapan dokter itu terus saja berputar di otaknya.
"Jangan sedih nona, ingatan tuan Mad pasti kembali." ujar seorang pengawal yang sedang menyopir.
Olivya membuyarkan lamunannya dan tersenyum. "Aku yakin, ingatan Mad akan kembali."
"Apapun sikap dan sifat dari nona Lovina, jangan dimasukkan hati. Nona harus terbiasa dengan itu." sambungnya.
Olivya hanya menanggapi dengan anggukan dan senyuman.
"Loh, mobil tuan Mad mau kemana?" tanya Berta saat menyadari bahwa mobil tuannya yang berada didepan mobil yang ia tumpangi berbelok arah yang berbeda.
"Tuan Mad akan mampir membeli ponsel." balas pengawal.
"Memang ponselnya kemana?" tanya Olivya dengan bingung.
"Tuan Mad sudah membantingnya. Saat di Prancis."
Apakah ini sebabnya pesan yang Olivya kirimnya hari lalu tidak dibalas karena Mad membanting ponselnya.
***
Mad menggenggam erat tangan Lovina yang berada dipaha kirinya. Sesekali, Mad mencium telapak tangan Lovina dengan ciuman hangat.
"Babe, aku kehilangan nomor ponselmu. Bisakah kau memberikannya lagi padaku?" tanya Lovina dengan nada suara yang dimanjakan.
"Ponsel lama mu kemana, babe?"
"Aku melupakannya. Mampir ke toko ponsel yang ber-merk." perintah Mad pada pengawalnya.
Pengawal itupun berbalik arah dan Menuju toko ponsel yang menjadi tujuan Mad.
"Kau juga ingin ponsel baru? Kita bisa beli dengan motif dan casing yang kembar." tawar Mad pada Lovina.
Mata wanita ini berbinar, ia tak menolak. Dengan senang hati menerima tawaran Mad, siapa yang tak ingin dibelikan ponsel mahal? Selain seseorang yang memiliki kesayangan penuh dengan ponsel lama mereka.
Setelah sampai, Mad dan Lovina bergegas turun dari mobil. Mad meminta untuk ditunjukkan ponsel keluaran terbaru dan pastinya harga yang sungguh fantastis. Pilihan Mad bukan kaleng-kaleng, ia tak sembarangan membeli sebuah ponsel untuk dirinya. Mad membiarkan Lovina memilih sebuah casing untuk ponsel baru mereka, sempat ada perdebatan karena Lovina memilih casing berwarna pink, dan Mad menolak dengan keras warna tersebut.
Hingga akhirnya, pilihan mereka jatuh pada sebuah casing berwarna abu-abu tua dengan bertuliskan You're mine forever.
Mad mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam legam sebagai alat pembayaran. Mereka kembali masuk kedalam mobil, Lovina sibuk memindah seluruh data-data dari ponsel lama ke ponsel yang baru.
***
Keesokan harinya...
Olivya menggeret kopernya serta koper milik Lovina. Mereka telah sampai di bandara, namun pesawat pribadi Mad akan terbang dua puluh menit lagi.
Semenjak Mad hilang ingatan, dan menganggap Lovina sebagai kekasihnya, gadis itu bertindak seenaknya terhadap Olivya. Memerintahkan inilah, itulah, bahkan memerintahkan untuk mengikat tali sepatu milik dirinya. Dan sekarang? Lovina memerintahkan Olivya membawakan koper besar miliknya. Bisa saja seorang pengawal yang membawakan, tapi Lovina hanya ingin Olivya yang membawakan kopernya. Mad pun merasa acuh dan tidak peduli, apapun yang Lovina mau, ia akan lakukan.
Mad memerintahkan untuk sebaiknya segera naik pesawat. Mereka bisa menunggu penerbangan didalam pesawat yang bebas dari panas dan tentunya nyaman. Sepanjang lorong menuju kabin pesawat, Olivya menatap kemesraan Mad dengan Lovina dengan membawa koper milik wanita murahan ini yang beratnya bukan main lagi.
"Nona lelah? Sini biar saya yang bawakan." tawar pengawal Mad yang merasa kasihan dengan Olivya.
"Siapa yang kau panggil nona?" Lovina menghentikan langkahnya dan bertanya seperti itu terhadap pengawal.
"Dia." balas pengawal itu sambil menunjuk Olivya dengan dagunya.
"Dia seorang pembantu, yang pantas kau panggil nona itu hanya saya."
"Saya tak perlu izin dari anda untuk memanggil siapapun nona. Saya juga tak meminta izin anda untuk memanggil anda ******."
"Anton!" bentak Mad dengan pelan dan tatapan tajamnya yang mengarah kearah Anton.
__ADS_1
"Maaf tuan." balas Anton singkat.
"Biarkan dia membawakan koper kekasihku." sambung Mad. Dia yang dimaksud Mad adalah Olivya. Artinya, Anton tidak diperbolehkan membantu Olivya membawa koper milik Lovina.
Setelah mereka sampai dikabin, Olivya langsung duduk disofa untuk melepas semua rasa lelah dan capek. Baru beberapa menit ia melepas penat, Lovina sudah menyuruhnya untuk membuatkan kopi untuk wanita itu dan Mad. Padahal disini ada tiga seorang pramugari, tapi Lovina benar-benar ingin menyiksanya.
Olivya hanya patuh, ia membuatkan Lovina kopi.
"Anda butuh sesuatu nona?" tanya Elsa seorang pramugari.
"Emh, iya. Saya ingin membuat kopi." jawab Olivya.
"Duduklah nona, saya akan membuatkannya. Mau berapa cangkir?" Olivya mendudukkan dirinya di kursi meja makan, biarkan Elsa yang membuatkan kopi dan ia yang akan mengantarkannya kepada Lovina.
"Dua."
Elsa mulai melakukan aksinya membuat kopi.
"Oh bagus, ternyata kamu menyuruh pramugari yang membuatkan?" sindir Lovina yang baru saja datang. Olivya sontak langsung berdiri dengan raut wajah yang sedikit takut.
"Tidak apa nona, ini juga sudah menjadi tugas saya." sahut Elsa sambil menyeduh air panas kedalam cangkir.
"Tapi saya menyuruh dia, kenapa malah kamu? Jadi pramugari gak usah sok perhatian deh."
"Nona, tolong jaga omongan ya. Memangnya nona ini siapa memerintahkan orang seenaknya?" sungut Elsa.
"Saya kekasih seorang Madrick, tuan kalian. Berani kamu?"
"Heh, baru kekasih. Belum suami, udah sombong." ejek Elsa sambil tersenyum remeh.
"Kam--"
"Nona, sudah cukup. Ada tidak lelah kan dari tadi ngomel-ngomel nggak jelas? Jika nona ingin saya yang membuatkan, oke, saya akan buatkan. Jangan masalah sepeleh anda besar-besarin." sambar Olivya yang sudah mulai lelah segalanya.
"Dasar ****** kecil, berani ya kamu ngatur-ngatur saya."
"Saya nggak ngatur, nona. Saya hanya membuat keadaan tidak semakin rumit."
"Das-"
Lovina hendak melayangkan tamparan kepada Olivya, namun tangannya dicegat oleh seseorang yang membuat kemarahan Lovina bertambah pada Olivya.
"Jangan berani menamparnya. Kau pikir, siapa anda berani sekali angkat tangan untuk hal kekerasan?" Lovina menatap marah kearah pria didepannya yang berani menghentikan aksinya menampar Olivya.
"Ashh," ringis Lovina saat tangannya diremas kuat oleh kekuatan seorang pria.
"Anton, lepaskan tangannya. Dia kesakitan." pinta Olivya yang tak tega melihat wajah kesakitan Lovina.
"Jika tangan ini berani melukai siapapun, termasuk nona Olivya pun ku pastikan sudah tidak pada tempatnya." desis Anton dan menghempaskan tangan Lovina dengan kasar.
"Awas ya kalian bertiga." ancam Lovina sambil melenggang pergi.
"Nona jangan takut, selama masih ada kita, nona akan aman dari wanita lampir itu. Ada saya, Berta dan pengawal lainnya yang akan siap pasang badan untuk melindungi nona dari wanita lampir itu." ujar Anton.
"Terima kasih Anton."
Anton hanya membalasnya dengan anggukan. Tak lama kemudian, Berta datang dengan raut wajah yang khawatir.
"Ada apa? Saya dengar ada keributan disini." tanya Berta.
"Hanya masalah sepeleh, Berta. Kenapa kamu khawatir sekali?" tanya Elsa.
"Tentu saja saya khawatir, melihat nona Lovina keluar dari dalam dapur dan saya takut jika dia melukai nona Olivya."
Olivya tersenyum hangat, "aku baik-baik saja, Berta. Anton datang tepat waktu."
"Apakah wanita itu melakukan hal kasar nona?" tanya Berta
"Hampir saja." sahut Elsa.
"Wanita itu mencoba menampar nona Olivya karena hal sepeleh, tapi aku datang pada waktu yang tepat. Tenang seorang pahlawan akan tetap waktu." ucap Anton dengan sedikit menyombongkan dirinya dan dibalas kekehan oleh Elsa, Berta dan Olivya.
"Syukurlah jika nona Olivya baik-baik saja. Saya khawatir."
"Anton!!"
Mereka berempat terkejut saat mendengar sebuah bentakan dari luar, tak lama kemudian masuklah Mad dengan tatapan tajam dan wajah marahnya. Diikuti oleh Lovina dibelakangnya dengan ekspresi wajah yang menantang dan tidak memiliki hal yang perlu ditakuti.
TBC
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan vote nya ya. Sudah up cepat nih, hehe...