My Dangerous Mafia

My Dangerous Mafia
Mad Wants Children


__ADS_3

Happy reading....


_________________________


"Hei, aku menandainya terlebih dahulu."


"Tidak, aku membooking nya sejak awal."


Perdebatan terus terjadi diruang bioskop antara Mad dan juga Carson yang ingin duduk disebelah Olivya.


"Minggir kau bocah, aku yang punya hak duduk disini." Mad menarik tubuh Carson yang sudah duduk disebelah Olivya dengan sangat mudah.


"Apa? Tidak, aku duluan yang disini." Carson mendorong tubuh Mad.


"CUKUP!! Cukup!" perdebatan mereka terhenti saat Olivya berteriak cukup keras.


"Aku akan berada ditengah." putus Olivya. Carson dan Mad pun duduk dibentang oleh Olivya. Sedangkan Verlyn dan Violin duduk berderet disebelah Carson.


"Verlyn, kau sudah meminta seseorang memutar filmnya?" tanya Mad.


"Sudah tuan. Tiga menit lagi akan di putar." balas Verlyn.


"Film apa?" tanya Carson.


"Satu gadis direbutkan dua pria."


Film dimulai, lampu mulai diredupkan. Mata Mad tak fokus pada layar lebar, tetapi selalu melirik jika Carson berani menyentuh gadisnya sedikit saja.


"Kau mau?" Mad menoleh kearah Carson yang menawarkan Kripik Kentang pada Olivya. Olivya hanya mengangguk.


"Kau tak menawariku?" tanya Mad.


"Untuk apa? Kau pasti akan menolaknya." balas Carson dengan tenang sambil mencomot kripiknya.


"Tentu saja aku mau." Mad merampas kripiknya dan langsung melahapnya.


"Vya, makan berdua dengan ku. Biar bocah itu makan sendiri." ucap Mad saat melihat pergerakan tangan Olivya yang ingin mengambil kripik kentang Carson yang baru saja diberikan oleh Verlyn.


"Kenapa? Bukankah kau gendut dan ingin makan sendiri?" timpal Carson.


"Kau mengataiku gendut?" tanya Mad dengan tatapan tak terima.


"Kenyataan, kau memiliki badan gendut."


"Aku ini kekar, bukan gendut. Sepertinya matamu ingin ku colok."


"Astaga, bisa nggak diam?" desis Olivya.


Film berlanjut ke adegan yang membuat para penonton mengeluarkan air mata. Tak terkecuali bagi Olivya. Gadis ini terbawa perasaan saat melihat seorang gadis difilm itu dianiaya oleh kekasihnya sendiri.


Carson menggenggam tangan Olivya.


Plak


Mad memukul tangan Carson yang menegang tangan Olivya dengan sangat kuat.


"Kenapa kau memukul ku?" tanya Carson tak terima.


"Berani sekali kau memegang tangan gadisku?"


"Dia sepupuku."


Mad meraih kedua tangan Olivya untuk didekapnya agar Carson tak dapat memegang tangan Olivya. Tak kehabisan akal, Carson meraih kepala Olivya untuk diletakkan di bahunya.


Mad yang melihat itu marah, ia meraih kepala Olivya dan didekapnya dibahunya.


"Mad, lepaskan." pinta Olivya yang merasa tak senang dengan posisinya yang didekap Mad dengan kuat.


"Tidak, nanti Carson macam-macam denganmu."


"Mad, lepasin. Aku pengen lihat film dengan tenang."


Tanpa aba-aba, Mad langsung membopong tubuh Olivya menuju kursi paling atas. Mad mendudukkan tubuh Olivya dikursi empuk itu. Carson menoleh dan hendak menyusul.


"Berani melangkah kesini, hilang kaki mu." ancam Mad yang membuat nyali Carson sedikit menciut. Pasalnya, mafia itu tak pernah main-main dengan ucapannya. Jago dalam hal menghabisi nyawa manusia, membuat Carson mengalah.


"Biarkan mereka mendekap disana." ujar Verlyn saat Carson kembali duduk dan tak jadi menyusul sepupunya yang berada diatas sana.


Detik berlalu, menit berlalu, jam pun berlalu. Film telah usai, Mad membawa Olivya keluar dari dalam bioskop mini terlebih dahulu lalu disusul oleh Verlyn, Violin, dan juga Carson. Mad berniat, mengajak Olivya berjalan-jalan di mall berdua. Tapi berhak hati Olivya yang baik hati, lemah lembut, santun. Di bawalah mereka bertiga untuk ikut.


Hal yang paling Mad males adalah, kenapa Carson harus mengiyakan saja? Sepertinya, anak laki-laki itu tak ingin membuat Mad bahagia sedikit pun.


Mereka berangkat dengan mobil yang berbeda. Olivya dengan Mad memakai mobil elegan milik Mad yang hanya muat ditumpangi dua orang saja. Sedangkan Carson membawa mobilnya sendiri, untuk Verlyn dan Violin, mereka diantar sopir memakai mobil umum namun mewah.


"Mad, kenapa kau begitu posesif kali sama aku? Kenapa kau begitu cemburu nya dengan Carson. Dia hanya sepupu ku." ucap Olivya.


"Dia mencintaimu, mangkanya aku posesif. Apa yang aku miliki, tidak boleh ada seorang pun yang merebutnya." balas Mad sambil fokus menyetir didepan.


"Apa? Dia mencintaiku? Haha, itu tidak mungkin Mad."


"Percaya atau tidak, aku tak peduli. Selama jantung masih berdetak, nafas masih berderu, Mata masih memandang, telinga masih berfungsi, aku akan menjaga mu."


Ucapan Mad membuat pipi Olivya memanas. Dasar wanita, dibegitukan saja sudah terbawa perasaan. Bagaimana diatas altar nanti?


"Kenapa pipi mu memerah?" tanya Mad dengan senyuman.


"Ti-ti-tidak, kau salah lihat mungkin." balas Olivya dengan gugup.


"Bisa kah aku mencium mu?" tanya Mad dengan berbisik.

__ADS_1


"Why?"


"Aku gemas padamu."


"Kau aneh."


Lama dalam perjalanan, akhirnya Olivya dan Mad telah sampai di Mall yang menjadi tujuan mereka. Carson, Verlyn, dan Violin masih belum datang. Jadi, ini kesempatan Mad untuk mengajak Olivya masuk kedalam Mall terlebih dahulu dan berjalan-jalan berdua tanpa gangguan orang ketiga.


Mad mengajak Olivya menuju ke toko gaun mewah. Siapapun, harus berdompet tebal yang ingin beli disana. Bukan kaleng-kaleng, hiasan permata yang ada di gaun dalam toko itu adalah permata asli. Olivya sempat menolak, tapi Mad terus memaksa dan akan mengancam menciumnya sekarang juga.


"Saya mau gaun yang terbagus disini." ujar Mad. Sudah pasti, yang terbagus pastilah termahal.


"Baik tuan."


"Apa-apaan kau ini, Mad? Aku tak ingin barang mewah." ujar Olivya.


"Tidak bisa kah kau diam?"


"Tidak. Kenapa? Kau ingin mengancam ku lagi?" tantang Olivya.


"Shut fucking up, Vya."desis Mad yang membuat Olivya langsung terdiam.


Jika kebanyakan para cewek sangat senang dan antusias jika dibelikan gaun mewah, tapi tidak teruntuk Olivya. Gadis ini merengek untuk tidak dibelikan yang terlalu mahal dan minta lebih baik dibelikan camilan makanan yang banyak.


"Mad, aku lebih baik kau belikan camilan makanan yang banyak dan es krim yang banyak."


"Nanti kita beli setelah membeli gaun. Sekarang berhentilah merengek agar waktu kita tak terbuang sia-sia." balas Mad.


"Uang mu juga terbuang sia-sia."


"Beli mansion dua kali lipat lebih besar dari mansion ku jika kau yang minta, aku akan belikan sekarang juga."


"Dasar pria arogant."


Tak lama, seorang pegawai datang dengan membawa sebuah gaun berwarna hijau tanpa lengan dengan kerlipan permata di bagian kera nya dan juga kerlipan permata dibagian ujung roknya.


"Ini tuan, hanya ada satu di toko kami." ujar pegawai itu.


"Baiklah saya ambil." balas Mad.


"Kau tak menanyakan harganya?" tanya Olivya dengan bingung.


"Pasti murah." tebak Mad.


"Dan... Kau tak ingin aku mencobanya?"


"Badanmu seperti pensil, untuk apa di coba lagi?"


Mad memberikan sebuah kartu berwarna hitam elegan sebagai alat pembayaran. Setelah selesai, Mad mengajak Olivya ke toko sepatu. Gadis ini bersih keras menolak, tapi apa daya? Kekuatan Mad tak sebanding dengan dirinya. Tidak ada lagi perdebatan diantara mereka. Olivya sibuk mencoba sepatu dengan wajah masam dan Mad yang fokus melihat kaki mulus Olivya.


"Sudah menatapku? Ayo pulang." ujar Olivya sambil membawa dua tas berisi sepatu dan juga gaun mewah.


"Kemana?" tanya Olivya.


"Toko emas."


Sontak Olivya menghentikan kakinya. Cukup! Ini berlebihan, sudah berapa banyak uang yang Mad keluarkan untuk dirinya? Ini benar-benar keterlaluan.


"Tidak! Tidak! Tidak---"


"Gak usah drama, ayo." potong Mad yang seakan tau apa yang Olivya katakan.


Olivya hanya mengikutinya. Ia akan gila jika terus-terusan berbicara dengan manusia otak batu seperti Mad. Segala bentuk tolakan, tak mampu meruntuhkan ego seorang Mad. Banyak pasang mata yang menatap Olivya karena merasa iri.


"Carson, Verlyn, dan Violin dimana ya? Sejak tadi tidak memunculkan badannya." gumam Olivya.


"Mereka berada di food court." balas Mad sambil membayar sebuah emas yang di belinya hanya untuk Olivya.


"Mad, apa tujuanmu membelikan barang-barang ini semua?" tanya Olivya.


"Besok aku harus menghadiri pesta pasangan rekan kerja ku. Jadi, kau harus ikut."


"What?!!!! Besok? Kenapa dadakan sekali?" tanya Olivya dengan bingung.


"Pesta nya besok, bukan hari ini. Jadi tidak dadakan."


Pintar!


Olivya sudah kehabisan kata-kata untuk melawan Mad.


Setelah selesai, mereka menuju lantai atas untuk menyusul Carson dan si kembar. Mereka bertiga duduk disalah satu cafe yang cukup mahal. Carson sengaja memilih yang mahal, agar Mad yang membayar pesanan mereka.


Bagi Mad, itu hanya hal kecil. Jika Olivya mau, ia bisa belikan cafe nya juga untuk kekasihnya.


Apasih yang enggak buat kamu?


Eakkk eakkk


"Kau membeli apa?" tanya Carson saat menyadari Olivya datang dengan membawa tiga kotak tas.


"Gaun, sepatu dan emas." balas Olivya dengan jujur.


"Wajahmu terlihat tak senang dibelikan begituan, kenapa?" tanya Verlyn yang menyadari tekuk masam wajah Olivya.


"Aku tak suka dibelikan beginian, Mad memaksaku."


"Buanglah." timpal Carson dengan mudah.


"Siapa kau, bocah?" tanya Mad.

__ADS_1


"Berhentilah memanggilku bocah. Aku sepandan dengan Olivya yang tak kau sebut bocah." balas Carson tak terima.


"Derajat mu tidak sama dengan gadisku."


"Kau mempermasalahkan derajat?"


"YA TUHAN!!! Bisa nggak jangan debat terus? Malu dilihatin." seru Olivya.


"Dia dulu." ucap Mad dengan Carson secara bersamaan.


***


Olivya membanting tubuhnya diatas kasur yang empuk. Jam menunjukkan pukul tujuh malam, dan ia baru sampai.


Verlyn dan Violin langsung menuju apartemen mereka. Olivya meminta mereka untuk menginap, tapi mereka menolak. Olivya bangkit dari atas kasur dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa sangat gatal dan lengket. Sebelumnya, ia sudah makan malam tadi di restoran. Jadi, ia memutuskan untuk tidak turun ke bawah dan langsung tidur saja.


Mad masuk kedalam kamar Olivya. Keadaan kamar yang sepi. Telinganya mendengar guyuran air shower yang jatuh turun ke lantai. Mad melangkah mendekat ke kamar mandi.


Ceklek


Ia tersenyum, pintunya ternyata tidak di kunci oleh gadisnya. Bahkan, Olivya tak menyadari jika Mad telah membuka pintu kamar mandi dan masuk.


"Mau mandi bareng?"


Olivya tadinya terpejam menikmati guyuran shower, kini membuka mata dengan sempurna. Ia menoleh dan terdapat Mad dibelakangnya dengan telanjang dada.


Entah sejak kapan Mad melepas kemeja nya.


"Mad apa yang kau lakukan disini?!" tanya Olivya dengan raut wajah yang malu dan takut sambil menutup tubuhnya dengan handuk yang ia raih dari tempat handuk.


"Kenapa kau malu-malu? Aku sudah pernah melihat tubuhmu." balas Mad dengan senyuman nakal.


"Mad keluarlah, jangan macam-macam."


"Aku akan membantumu menggosok tubuhmu."


"Mad!!!!!!"


Madrick menutup telinganya saat suara nyaring gadisnya sangat memekakkan telinga. Sebelum telinganya bermasalah, ia sepatutnya keluar dan mengamankan gendang telinga nya agar tidak rusak.


"Terbuat dari apa mulut gadis itu?" gumam Mad saat sudah keluar dari kamar mandi.


Ia tidak berniat untuk keluar dari kamar gadisnya, ia malah terduduk diam di sofa balkon dengan keadaan masih telanjang dada.


Tak lama kemudian, Olivya keluar dari dalam kamar mandi dengan balutan baju tidur dan rambut yang masih dililit oleh handuk.


"Mad? Kau belum keluar ternyata." ujar Olivya.


"Sini, duduklah." titah Mad sambil menepuk-nepuk sofa kosong disebelahnya.


Olivya menurut, gadis itu langsung duduk dan ikut menatap ke depan apa yang ditatap oleh Mad.


"Ada apa Mad?" tanya Olivya.


"Apakah kau masih ingin kuliah dan melanjutkan pendidikan?" tanya Mad tanpa menoleh kearah Olivya. Sebenarnya Mad bisa menikahi Olivya dan Olivya masih bisa berkuliah, tapi Mad masih memikirkan masa depan Olivya yang akan terganggu.


"Iya, kenapa?"


"Tidak apa. Tidurlah, aku akan keluar." Olivya mencekal tangan Mad yang hendak berdiri. Mad menatap Olivya dengan bingung.


"Bisa kau katakan alasan kau tanya seperti itu?" tanya Olivya.


"Aku hanya bertanya, tidak ada maksud lain." cekal Mad.


"Mad."


Madrick menghembuskan nafasnya dengan berat.


"Di umurku ini, ingin sekali aku meminang bayi kecil yang merupakan darah dagingku sendiri." ucap Mad tanpa melihat kearah Olivya.


Olivya terdiam, ia menatap Mad dengan pandangan kosong.


"Mad, kau boleh menikahi gadis lain yang sudah siap. Aku masih tujuh belas tahun, masih seorang gadis yang sangat asing dalam berumah tangga." balas Olivya dengan mata yang berkaca-kaca.


Mad menoleh kearah gadisnya. Pandangan mereka bertemu.


"Tidak, aku hanya mencintaimu. Aku akan menunggu mu hingga siap."


"Tapi Mad--"


"Bagaimana bisa aku menikahi seorang wanita yang tak ku cintai dan memiliki seorang anak? Aku tak ingin anak-anakku melihat pertengkaran kami." serkah Mad.


Olivya merintikkan air matanya. Ia memeluk Mad dengan sangat erat.


"Kau bisa menikahiku sekarang Mad. Aku akan mulai berlatih menjadi seorang istri dan mengurus anak-anak kita."


"Apakah kau yakin?" tanya Mad.


Olivya mengangguk.


"Terima kasih, sayang."


Mad membalas pelukan Olivya dengan tak kalah erat. Malam ini, malam yang menjadi saksi ucapan serius dari sepasang kekasih.


Mad mengurai pelukannya dan langsung mencium bibir Olivya dengan sangat nafsu. Olivya tak keberatan, ia justru membalas ciuman Mad sebisanya. Walau, ia kalah dalam aksi beradu mulut.


Tangan Mad tidak bisa diam, terus meraba-raba tubuh Olivya sambil terus menciumnya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2