
Lexi berjalan keluar rumah sakit dengan menenteng buket bunga mawar. Saat berada disebelah tempat sampah, Lexi langsung membuang buket bunga mawar itu. Setelah itu ia berjalan menuju tempat mobilnya terparkir.
Disana, terdapat dua bodyguardnya yang berdiri disisi kanan dan kiri mobil hitam besar. Lexi mendekat dan salah Bodyguardnya membukakan pintu belakang untuk Lexi. Lexi pun masuk dengan angkuhnya dan pintu pun langsung ditutup oleh bodyguard yang membukakan pintu tadi.
"Ingin langsung ke mansion nona?" tanya sopir.
"Ke cafe biasanya."
***
Satu Minggu kemudian...
Tak terasa, hari berjalan begitu cepat. Hari berjalan seperti jam, jam berjalan seperti menit, dan menit berjalan seperti detik.
Satu Minggu ini pun Mad menjalani hari-harinya tanpa semangat. Dan itu karena gadisnya yang masih belum membuka matanya dari tidur panjangnya. Apapun Mad lakukan, masih saja sama hasilnya. Seakan, Olivya lebih nyaman dengan mimpinya ketimbang kenyataannya.
Mad mendudukkan tubuhnya diatas sofa ruangan Olivya dirawat. Ia menyadarkan punggungnya, matanya sangat berat malam ini. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Mad memejamkan matanya untuk larut dalam mimpi.
Menggerakkan jarinya, memberikan keyakinan mata agar cepat terbuka. Olivya, gadis itu mencoba untuk membuka matanya dan... Berhasil. Ia mencoba menyesuaikan matanya dengan cahaya lampu yang menerangi ruangan. Ia melihat keselilingnya, tampak sepi. Seketika matanya menangkap seseorang yang tengah berbaring diatas sofa.
"Mad?" gumam Olivya dengan kecil. Olivya melihat tangannya, banyak bekas suntikan dan plesteran dimana-mana.
Ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi padanya hingga membuat dirinya berunjung rumah sakit.
"Kue itu?" gumamnya saat mengingat apa yang terjadi.
Ceklek
Suara pintu dibuka, Olivya menyipitkan matanya untuk mengenali siapa sosok yang masuk kedalam ruangannya.
"Si-si-siapa kamu?" wajah Olivya sudah pucat karena ketakutan.
"Sssttt, jangan berisik. Mad sedang tidur." bisik sosok itu.
Sosok itu mengeluarkan sapu tangannya dan menempelkan dihidung Olivya.
Bau yang begitu menyengat serta memabukkan, membuat Olivya dengan cepat menutup matanya.
Orang itu mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.
"Masuk dan angkat dia."
***
Pagi yang cerah, cahaya mentari memasuki celah-celah gorden rumah sakit. Cahaya itu mengganggu mata Mad. Mau tak mau, Mad membuka matanya. Ia merenggangkan otot-ototnya yang terasa pegal. Tidur dengan posisi duduk semalaman memang sangat tidak baik untuk kesehatan.
Mad menoleh kearah tempat Olivya tidur. Tidak ada! Dimana dia? Kemana Olivya pergi? Semua tanda tanya mengelilingi kepala Mad.
Mad langsung berdiri dan melihat ranjang yang kosong serta infus yang tercabut. Apakah gadisnya itu kabur?
"Nggak, nggak mungkin Vya kabur dengan tubuh yang lemah. Pasti dia diculik. Sialan!!" umpat Mad.
Mad mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.
"Cari gadisku, ia diculik." ujar Mad pada orang sebrang sana.
Ia berjalan keluar ruangan inap. Langkah panjangnya menuju mengarah menuju ruangan cctv. Ia tahu, orang jama sekarang kalo ingin menculik pasti mematikan cctv nya dahulu. Tapi, apa salahnya jika mencoba?
Langkahnya yang panjang, membuatnya sampai dengan cepat menuju ruangan cctv. Disana, ada dua penjaga yang menjaga ruangan tersebut.
Salah penjaga ruang cctv mencegat Masd yang hendak masuk kedalam.
"Permisi tuan, ada perlu apa anda masuk?"
__ADS_1
"Gadisku diculik dan aku perlu mengecek cctv."
"Tapi tuan, tak sembarang orang boleh masuk kedalam."
Mad mengepalkan kedua tangannya.
"Bodoh! Gadisku diculik oleh seseorang dan aku butuh untuk mengecek cctv."
"Tuan Mad? Hei, biarkan tuan Mad masuk." ujar salah penjaga botak yang baru saja datang.
"Mad? Kau mengenalnya?" tanya penjaga yang mencegat Mad tadi.
"Kau ini, lupa atau gimana hah? Dia ini Madrick Vallencio, si mafia terkejam." bisik penjaga botak.
"Kenapa kau baru bilang? Kau tahu kan kalau aku hanya tau namanya, tak tau wajahnya."
Mad yang melihat kedua penjaga ini sedang bisik-bisik, tak menunggu lama, Mad langsung masuk tanpa izin siapapun. Disana, tepatnya didalam ruangan cctv, terdapat empat orang yang memantau cctv.
"Tuan Mad?" ujar salah satu pemantau, membuat seluruh orang yang ada didalam sana menoleh. Siapa yang tak kenal Mad? Mafia yang kejam itu dikenal hampir seluruh negara.
"Cek cctv pukul sebelas malam. Diruangan VVIP nomor lima." titah Mad yang langsung diangguki oleh salah pemantau yang memakai name tag bernama Aston Bronez.
Aston mengotak-atik komputer dengan wajah yang serius. Aston terkejut saat semua layar yang menunjukkan jam sebelas malam bertuliskan eror.
"Maaf tuan, semua cctv sedang di blokir pada jam sebelas malam. Hanya satu yang tak terblokir, cctv parkiran VVIP." ujar Aston.
"Periksa cctv diparkiran VVIP."
"Baik tuan."
Aston kembali fokus terhadap komputer didepannya.
"Hentikan." ujar Mad.
"Tolong diperbesar."
Aston memperbesar layarnya. Mad mengamati setiap inci tubuh gadis yang digendong oleh orang laki-laki.
"Olivya." gumam Mad dengan pelan.
Mad melihat plat mobil yang ditumpangi oleh orang itu. Ia mengeluarkan ponselnya dan menelpon Gaston.
"Gaston, cari keberadaan mobil dengan plat nomor HL31X. Secepatnya infokan kepada saya."
Tanpa menunggu balasan dari Gaston, Mad langsung mematikan sambungannya secara sepihak. Ia berjalan keluar ruangan tanpa mengucapkan terima kasih atau pamit.
Mad berjalan kearah mobilnya yang terparkir di parkiran CCTV. Disana, mobil Lamborghini nya terparkir dengan mulus. Ia masuk kedalam Lamborghini dan langsung menancap kan pedal mobil dengan kecepatan yang tak bisa dibilang pelan.
***
Mad telah sampai dimansionya. Ia berjalan menuju ruangan yang berisi komputer serta alat elektronik semua.
"Gaston, apaka sudah kau temukan titik mobil itu?" tanya Mad pada Gaston yang sedang fokus pada komputer.
"Sebentar tuan, plat mobilnya benar-benar tak bisa dilacak. Tapi tenang saja tuan, saya akan mencoba memblokir plat ini." ujar Gaston yang masih fokus dengan komputer nya.
"Do it anything, i want my girl come back." ujar Mad.
Ia duduk disofa besarnya. Ia memijit pelipisnya. Ia sangat takut akan kondisi gadisnya yang masih lemah.
"Ambilkan aku wine." ujar Mad pada bodyguard nya yang menjaga pintu ruangan.
"Baik tuan."
__ADS_1
Tak menunggu lama, bodyguard Mad kembali dengan membawa nampan berisi botol wine yang berukuran besar, gelas khusus, dan es batu mini. Ditaruhnya nampan itu dimeja hadapan Mad.
Tanpa disuruh, bodyguard itupun membukakan botol wine-nya dan menuangkan kedalam gelas khusus minuman. Setelah selesai, pria itu pamit untuk pergi.
Mad mengambil gelas yang sudah terisi dengan wine. Ia meminumnya dengan sekali tegakan. Merasa tak puas, Mad langsung meraih botolnya dan meminum langsung lewat botol.
"Tuan, posisi mobilnya telah ditemukan." info dari Gaston membuat Mad langsung bangkit dan menuju kearah Gaston.
Gaston menunjukkan kearah sebuah titik merah yang merupakan keberadaan mobil yang telah mencuri gadisnya.
"Letak mobil ini tepat pada garasi tua, bekas penjualan Lamborghini yang terbakar lima tahun yang lalu." ujar Gaston.
"Gerakan pengawal, kita akan meluncur Kesana." titah Mad.
***
Mad dan para pengawalnya telah sampai dimana letak mobil yang ia incar. Sangat sepi disini. Hampir tak ada kendaraan yang melintas disini.
Banyak yang menyebar hoax jika disini adalah kawasan berhantu. Bukan Mad namanya jika percaya atau takut pada hal begituan. Tujuan hidupnya adalah bahagia dengan keluarganya tanpa pengganggu.
Mad mengedarkan pandangannya. Mad berjalan kearah sejejeran Lamborghini yang terbakar dan usang. Sengaja tak ada yang memindahkan mobil-mobil ini karena hoax tadi yang menyebar.
"Kalian berpencar. Cari setiap sudut garasi." ujar Gaston pada pengawalnya.
Semua berpencar. Gaston berjalan kearah Mad.
"Tuan, apakah kita akan masuk kedalam?"
"Ayo."
Mad dan Gaston berjalan masuk kedalam garasi mobil yang besar. Banyak barang-barang bekas yang tergeletak disini.
"Tuan, disini mobilnya."
Mad berlari menyusul Gaston yang berada dibelakang garasi. Setelah sampai, ia melihat mobil hitam yang sama persis di cctv rumah sakit.
Mad mengelilingi mobil hitam ini. Pada bagian pembersih kaca bagian belakang mobil, Mad menemukan sebuah surat.
Menemukan clue pertama heh? Hahah, aku tak berniat bermain petak umpat. Tapi aku pikir lagi, sepertinya seru juga. Aku tahu kau pasti mengecek cctv dan sengaja aku tak matikan cctv parkiran agar kau dapat menemukan clue pertamanya. Dan selamat, clue pertama telah kau dapat. Oh iya, soal mobil ini memang benar ini yang ku pakai untuk menculik seorang gadis. Tapi, aku tak bodoh. Mesin Mobilnya sudah ku rusak. Dan... Semoga kau menemukan clue kedua.
Mad meremas kertas tersebut dengan kuat saat selesai membaca. Ia merasa dipermainkan. Pasti! Siapapun dia, Mad akan menghancurkannya.
"Mesin." gumam Mad dan langsung berjalan menuju depan mobil. Ia membuka mesin mobilnya. Dan benar, disana ada sebuah listrik yang tercabut.
"Kenapa mobil ini ada listrik-nya?" tanya Gaston yang berada disebelah Mad.
"Listrik?" tanya Mad dengan pelan.
"Tuan, bagaimana jika nona Olivya tersekap dipabrik listrik?" tanya Gaston dengan antusias.
"Kita Kesana sekarang."
Gaston Memberitahu pengawal lainnya untuk segera pergi dan menuju pabrik listrik.
"Sialan! Kau berani mempermainkan aku. Lihat saja nanti!"
TBC
Ini aku updatenya dari jam enam Magrib, tapi didesa susah sinyal. Maaf ya, up nya jadi tengah malam :(
01:15
Love You All:3
__ADS_1