My Dangerous Mafia

My Dangerous Mafia
Hampir Lepas Kendali


__ADS_3

"Begitu susahnya kah dirimu untuk berubah?"


"Tidak usah untuk membuatku berubah, Dad. Tapi Dady hafal aku dengan baik bukan? Aku harus mendapatkan apa yang aku mau. Termasuk Mad, aku menginginkannya. Aku ingin dicintai nya."


"Oh God. What happend with you? You want Mad loving you? That's impossible, Violin."


"Yeah, that's impossible. Maka dari itu aku menggunakan cara yang licik. Aku tahu ini salah, tapi aku mencintainya Dad."


"Dad, please. Bisakah kau menolong putrimu ini?"


"Maaf, Dady tak bisa menolong mu untuk mendapatkan Mad. Itu tak mungkin. Mad hanya akan mencintai Olivya. Seharusnya kau mengerti itu."


Violin menghembuskan nafasnya dengan gusar. Saat ini, Gaston dan Violin berada di apartemen milik Violin tinggal. Gaston yang membelikannya saat umur Violin menginjak tujuh belas tahun.


"Whatever if you want not help me. Aku akan merebutnya sendiri."


"Berhentilah berlaku seperti seorang *******!!" bentak Gaston yang mulai muak dengan putrinya.


"Ya!! Aku memang *******. Aku mengejar seorang lelaki yang mencintai orang lain!"


"Yang kau lakukan bukanlah cinta, tapi obsesi."


"Bukankah obsesi berawal dari cinta? Takkan ada orang yang terobsesi dengan orang lain jika bukan karena cinta."


"Caramu sangat menjijikkan, itu sang--"


"STOP DADY!! STOP!" Violin berteriak sambil berdiri. "Okay, jika Dady ingin aku berhenti mengejar Mad. Aku akan berhenti. Berhenti dari apapun. Jangan harap aku akan mengenal Dady lagi."


Violin berjalan meninggalkan Gaston.


Brakk


Pintu apartemen ditutup begitu kencang. Gaston tak berniat menghentikan langkah putrinya. Kepalanya sangat pening. Ia memijit pelipis kepalanya.


"Ya Tuhan, jaga putriku."


Violin berjalan sepanjang lorong apartemen. Langkahnya terhenti didepan pintu lift. Jari lentiknya memencet tombol lift.


"Hai." sapa seseorang yang baru saja datang dan berdiri disebelah Violin.


Violin menoleh sekilas kearah pria yang menyapanya tadi.


"Hay." balas Violin dengan cuek.


"Ingin ke lantai bawah?" tanya pria itu mencoba basa basi.


"Ya."


Pintu lift terbuka, Violin dan laki-laki itu masuk. Jari Violin memencet tombol yang akan membawanya ke lantai dasar atau loby apartemen lebih tepatnya.


"I'm Javier."


"Violin."


"Good name. How old are you?"


"Tidak jauh beda denganmu."


"Ah, ya. Apakah--"


"Aku harus pergi." potong Violin saat pintu lift terbuka. Ia langsung berjalan menjauh dari lift. Ia juga mendengar teriakan Javier yang memanggilnya.

__ADS_1


Violin berhenti. Ia menunggu sebuah taksi yang lewat. Tak lama kemudian, taksi berhenti tepat dihadapannya. Violin masuk kedalam taksi.


"Black room 961"


"Oke."


***


Mad, Verlyn dan Olivya sedang berada di dalam sebuah kamar. Mereka berdua sedang bersenda gurau satu sama lain. Olivya juga, ia mulai bisa melupakan kejadian kemarin yang hampir membuatnya mati.


Mad pun juga, ia sudah sangat lama tidak menampilkan sederet giginya. Dan itu karena Verlyn yang terus saja melemparkan candaan.


"Iya Verlyn kau benar, aku juga pernah salah memanggil orang. Untung saja orang itu tidak marah." timpal Olivya dab diselingi tawa mereka bertiga.


Verlyn berhenti tertawa, ia melihat jam tangannya yang melingkar dipergelangan tangannya. Wajahnya tampak khawatir.


"Hei, adaapa?" tanya Olivya saat mengetahui perubahan wajah Verlyn.


"Dari kemarin aku tak melihat Violin. Aku mengkhawatirkannya."


"Tenanglah, mungkin Violin sedang menginap dirumah teman-temannya." Olivya mencoba berpikir positif tentang Violin.


"Tap--"


"Violin sedang bersama ayahmu. Mereka membicarakan hal yang serius." timpal Mad dengan wajah khas datarnya.


"Serius? Hal apa?" tanya Verlyn.


"Sebaiknya kau tak perlu tahu. Ini tidak ada kaitannya dengan dirimu." balas Mad.


"Tapi aku anaknya dan saudara kembar Violin. Aku berhak tau apa yang mereka bicarakan."


"Aku akan memberitahumu, tapi tidak sekarang."


"Bisakah kau tinggalkan kami berdua?" tanya Mad pada Verlyn.


Tanpa berpikir panjang, Verlyn mengangguk. Ia berdiri dari sofa dan langsung berjalan keluar kamar Olivya.


Setelah kepergian Verlyn, suasana menjadi canggung untuk Olivya. Mad yang terus saja menatapnya tanpa henti dan Olivya yang terus saja meremas jarinya karena gugup.


"Emm, ap-apakah ada hal yang ingin kau bicarakan?" tanya Olivya dengan gugup.


Lama tak ada sahutan dari Mad membuat Olivya menjadi gugup.


"Ya." balas Mad singkat setelah diam beberapa detik.


"Apakah jika kau tau siapa yang orang dibalik semua kejadian yang menimpamu kemarin, kau akan membencinya?" tanya Mad dengan tatapan yang tak beralih sedikitpub dari Olivya.


"Aku akan memaafkannya." jawab Olivya.


"Walau nyawamu hampir melayang?"


"Aku sekarang selamat, dan aku akan tetap memaafkannya."


Aku tak salah memilihmu. Kau memiliki hati yang lembut dan pemaaf. Aku janji, aku takkan melepaskanmu. Batin Mad.


"Kenapa kau tanya begitu? Memangnya, siapa orang yang telah menculikku?" tanya Olivya.


"Kau tak mengingatnya?"


Olivya mencoba mengingat kejadian kemarin yang menimpanya. Selebat ingatan melintas dibenaknya. Seorang gadis menggunakan masker hitam lalu menempelkan sebuah sapu tangan ke hidungnya, lalu semua menjadi gelap.

__ADS_1


"Aku tak mengenali gadis itu. Karena dia memakai masker hitam. Memangnya, siapa gadis itu?"


"Violin." jawab Mad dengan enteng tanpa beban.


Deg


Olivya seketika tegang saat tahu siapa orang yang telah menculiknya. Pandangannya kosong, ia menggelengkan kepalanya dengan berat.


Tidak, tidak mungkin Violin.


Dia gadis baik.


Olivya menatap Mad untuk meminta penjelasan.


"Tidak, bagaimana mungkin?" tanya Olivya dengan bingung.


"Ia iri padamu. Dia terobsesi denganku. Dia ingin merebutku darimu."


"Jika itu mau dia, cobalah kau menerima dia. Aku ikhlas jika kau bersamanya. Memang dari awal kita bukan siapa-siapa. Aku siapa dan kau siapa. Kau seharusnya memilih Violin yang sudah pasti mencintaimu. Dia cantik."


"Jangan bicara seperti itu lagi. Aku tak sudi dengan gadis murahan. Dan pilihanku tetap satu. Yaitu dirimu."


"Kenapa kau egois sekali Mad? She's loving you, she's want you loving her."


"STOP IT. I Wouldn't listen it." bentakan Mad membuat Olivya langsung menunduk ketakutan. Ia menangis dalam diam.


Mad yang sudah berdiri, ia meraup mukanya dengan kasar. Ia lepas kendali hingga membentak gadisnya. Mad menduduk dan merangkul Olivya yang masih duduk dikursi roda sambil tersedu-sedu.


"Maafkan aku Vya. Maaf" Mad membenamkan kepala Olivya pada dada bidangnya.


Olivya sedikit tenang saat merasa hangat dengan dekapan Mad dan juga bau maskulin Mad yang sangat Olivya sukai.


Mad melepaskan dekapannya. Ia mengangkat wajah Olivya yang merah akibat menangis. Mad mengahapus air mata Olivya. Mengecup kedua mata Olivya dan langsung beralih pada bibir Olivya.


Entah mengapa, Olivya tidak menolak atau memberontak. Melihat Olivya tidak memberontak, Mad sedikit menyapu pelan permukaan bibir Olivya. Anehnya, Olivya terbawa suasana, ia membalas ciuman Mad. Hingga lama kelamaan menjadi ganas.


Mad mengangkat tubuh Olivya dan membawanya keatas tempat tidur. Membaringkan tubuh Olivya diatas ranjang dan Mad melanjutkan aksinya dengan mencium leher putih Olivya dengan sangat rakus. Sehingga meninggalkan jejak kepemilikannya disana.


Tanpa sadar, desahan kecil lolos dari mulut Olivya begitu saja. Mad yang mendengar itu menjadi linglung sendiri. Ia benar-benar akan lepas kendali jika ia tidak segera sadar.


"Maaf Vya. Aku-aku, aku lepas kendali." Mad yang sudah berdiri ditepi ranjang melihat leher putih Olivya yang terdapat bekas merah karena ulahnya.


"Ak-ak-aku harus ke kamar mandi." ucap Olivya. Ia sedikit membenarkan bajunya yang melorot karena ulah Mad.


Mad mengangguk, ia pun menggendong Olivya menuju kamar mandi. Jika bukan karena janjinya, ia pastikan sudah menyewa seorang ****** untuk memuaskan nafsunya saat ini.


Jika dibandingkan tubuh Olivya dengan para ****** diluar sana, pasti sudah bagus body para ******. Tapi entah mengapa ia lebih nafsu dengan gadisnya yang memiliki tubuh kecil dan menurutnya tidak berisi.


Mad menurunkan Olivya didalam kamar mandi. Ia menutup pintunya dan duduk pada kursi rias. Menunggu Olivya hingga selesai dari dalam kamar mandi.


Didalam kamar mandi, Olivya melihat dirinya dari pantulan kaca cermin. Ia melihat jejak kemerahan pada lehernya. Ia sedikit gugup untuk keluar, bagaimana tidak? Ia sudah seperti seorang ******. Entah mengapa ia juga menikmati ciuman lembut milik Mad. Bau maskulin Mad juga sangat memabukkan.


"Kau bodoh Olivya. Kenapa kau mau?" gumam Olivya dengan menampar pipinya.


Ia memegang bibirnya yang membengkak. Ia tersenyum, entah mengapa ia sedikit menyukai Mad saat ini.


Olivya segera menepis pemikiran tidak-tidaknya.


"Jangan bodoh Olivya."


TBC

__ADS_1


Maaf telat. Muaaaf banget.


Love you All :3


__ADS_2