
~Happy Reading~
_________________________
Mad mengantarkan Olivya ke suatu tempat yang sebelumnya tak Olivya ketahui. Lagi-lagi, Olivya harus izin tidak ke kampus karena Mad mengajaknya pergi tanpa ada wacana atau rencana. Olivya juga hanya mengenakan celana jins pendek diatas lutut dengan kaos putih bertuliskan Fire.
"Mad, bisakah kau memberitahuku kemana kita akan pergi?" tanya Olivya yang sudah mulai jengah sejak dari tadi pertanyaannya diabaikan terus.
Diam, itulah hal yang Mad lakukan. Membuat Olivya ingin mencakar wajahnya yang datar seperti triplek itu. Mad tetap fokus menyetir dan pandangannya dibalik kacamata hitamnya tetap lurus ke depan.
"Oke, terserah." gumam Olivya yang sudah tak peduli lagi.
Olivya menatap pemandangan hutan yang mereka lalui. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, tapi suasana di hutan ini sudah seperti menjelang malam. Mata lentik gadis ini memincing saat melihat sebuah rumah yang terbangun di tengah hutan. Rumahnya tidak terlalu kecil, namun mungkin sangat nyaman untuk ditinggali. Tidak ada siapapun pengganggu kecuali gonggongan serigala dimalam hari.
Olivya pikir, Mad akan melewati rumah itu tapi nyatanya Mad membelokkan mobilnya menuju rumah itu.
"Mad rumah siapa ini?" tanya Olivya saat menyadari Mad melepaskan sabuk pengamannya dan siap untuk turun.
"My Grandma and My Grandpa." balas Mad.
"What? Kenapa kau baru bilang? Aku... Aku belum siap menemui mereka. Lagian, apa yang akan kita lakukan dihadapan mereka?"
"Tidak ada, hanya meminta restu mereka dan mengangkut mereka untuk tinggal di mansion selama pernikahan kita berlangsung."
"Kau menganggap serius ucapanku semalam?" tanya Olivya.
Mad mengerutkan dahinya, "Ya. Kenapa? Apakah kau hanya bercanda dengan ucapan mu semalam?"
"Ha? Ti-ti-tidak. Maksudku, kenapa tidak menunggu umurku delapan belas tahun aja?"
"Dua minggu lagi. Aku akan menunggu. Sekarang ayo turun." ajak Mad sambil melepaskan kacamata nya dan disembunyikan dibalik jasnya.
Olivya dan Mad turun dari mobil bersamaan. Mad menggandeng tangan Olivya, ia tahu jika gadisnya ini gugup dan... takut.
Kaki mereka melangkah masuk kedalam rumah itu. Jari telunjuk Mad memencet sebuah tombol sebanyak tiga kali. Sekitar lima menit, keluarlah seorang pria tua dengan pakai rusuhnya sambil membawa sebuah senapan. Terlihat raut wajah Olivya ketakutan saat melihat senapan berbahaya itu. Dari tatapan Mad yang mengarah pada senapan itu, mengisyaratkan untuk menyembunyikan dari hadapan gadisnya.
"Ah baiklah." gumam pria tua itu sambil meletakkan senapannya.
"Jon, siapa yang datang?" tanya seorang wanita dari dalam rumah. Tak lama kemudian, seorang wanita tua keluar.
"Madrick, cucuku." teriak Zakira--nenek Madrick dengan raut wajah yang senang dan langsung memeluk cucunya begitu erat, Mad pun membalas pelukan Grandma-nya.
"Jon, kenapa kau tak menyuruhnya masuk?" tanya Zakira yang sudah melepaskan pelukannya dari Mad.
"Aku cukup terkejut untuk melihat cucuku datang." balas Jon sambil berjalan masuk.
"Ayo masuklah, jangan biarkan gadis cantik itu berdiri terus didepan pintu." teriak Jon yang sudah berada didalam rumah.
"Ayo nak kita masuk. Dan ceritakan pada Grandma siapa gadis cantik ini." ujar Zakira sambil menatap Olivya dengan senyuman tulusnya.
Mad melangkah masuk dengan menggandeng tangan mungil Olivya. Duduklah mereka berdua di sofa empuk dan Jon berada dihadapan mereka. Sedangkan Zakira sedang mengambil minuman untuk Mad dan Olivya.
"Lama kau tak berkunjung dan sekarang kau datang dengan membawa seorang istri." ucap Zakira yang baru saja datang dengan membawa nampan berisi minuman.
Zakira meletakkan minuman berwarna kuning diatas meja dan langsung duduk disebelah Jon.
"Kita belum menikah." balas Mad.
"Lalu?" tanya Jon.
"Kita disini meminta doa restu kalian untuk kami menikah. Selama pernikahanku berlangsung, kalian menginap di mansion."
"Pasti nak. Kami pasti mendoakan kalian. Kalau boleh tau, siapa nama gadis cantik ini?" tanya Zakira sambil menatap wajah polos tanpa make up milik Olivya.
"Olivya Macrime, nyonya." balas Olivya dengan gugup.
"Jangan memanggilku 'nyonya' sayang. Panggil saja saya Zakira atau Grandma."
"Ba-baiklah. Grandma."
Jon menatap Mad, "Mad, apakah dia tidak terlalu muda untukkmu? Kau bisa dapatkan yang tidak jauh beda dari umurmu."
"I know."
"So? Kenapa kau menikahi seorang gadis yang mungkin masih belum mengerti soal rumah tangga?" tanya Jon.
"Saya akan belajar, Grandpa." sahut Olivya.
"Jangan memanggilku Grandpa jika kau masih belum menikah dengan Mad. Ingat ini, kau tidak akan mungkin belajar menjadi ibu rumah tangga, tapi akan langsung menjadi nyonya besar Vallencio."
"Maaf, tuan. Maksudnya?" tanya Olivya yang sudah mulai ketakutan dengan sikap Jon.
"Kau menikmati harta serta tahta dari Mad, bukan?"
"Demi Tuhan, itu tidak benar tuan. Sa-sa-saya, mencintai Mad bukan karena hartanya." bantah Olivya dengan ucapan lembut.
"Apakah ada sebuah bukti untuk membuktikan ucapan mu?"
Olivya menatap Mad yang kebetulan sedang menatapnya juga. Mad hanya diam dan tak membantu Olivya untuk berdebat dengan Jon. Apakah Mad percaya dengan ucapan Jon jika dirinya hanya menginginkan hartanya saja? Tidak. Itu tidak benar.
Olivya beralih menatap Jon. "Saya akan menyuruh Mad menjual semua aset kekayaannya dan menyumbang semua hasil penjualannya kepada seorang anak yatim piatu dan orang yang kurang mampu. Lalu, aku dan Mad akan memulai semua mulai dari nol. Mulai dari menyewa sebuah rumah kecil, hidup berkecukupan dan tidak berlebihan."
Semua tertegun dengan ucapan Olivya, tidak terkecuali Mad.
Olivya menunduk takut. Takut jika ia salah bicara yang mungkin tak mengenakkan bagi Zakira, Jon dan juga Mad.
"Kau memang pantas untuk Mad." Olivya mengangkat wajahnya dan menatap Jon yang tengah tersenyum kearahnya, lalu menatap Mad.
"Grandpa ini hanya mengetesmu. Apakah benar kau hanya ingin harta ku saja." ujar Mad.
"Bagaimana kau tahu jika tuan Jon mengetesku."
"Panggil aku, Grandpa nak." sahut Jon yang langsung dibalas senyuman oleh Olivya.
"Sebelumnya Grandpa juga pernah mengetes seseorang." balas Mad.
"Siapa?"
__ADS_1
"Lovina."
"Lovina? Wanita itu?"
"Ya, aku dan dia hampir bertunangan. Aku mengajaknya kemari dan Grandpa memancingnya untuk berkata jujur soal cintanya padaku."
"Jadi dia cinta pertamamu? Lalu apa yang diucapkan Lovina?" tanya Olivya yang masih ingin tahu.
"Bukan, aku memacari nya hanya ingin menjatuhkan kedudukan ayahnya yang pernah mengejekku. Tanya Grandpa apa yang Lovina ucapkan."
Jon tertawa sebelum akhirnya membuka suara, "Lovina hanya ingin memiliki aset kekayaan Mad dan juga menjadi nyonya besar Vallencio yang bebas melakukan apapun. Itulah jawaban wanita itu dari pancinganku. "
Mad mengajak Olivya untuk keluar rumah. Mereka sekedar berjalan-jalan sepanjang hutan yang lebat ini. Hampir tak ada tanda-tanda kehidupan manusia disini.
"Disini sangat sepi dan sunyi. Bagaimana Grandpa dan Grandma bisa betah? Kehidupan di kota jauh lebih menarik untuk usia mereka." ujar Olivya sambil terus berjalan dan sesekali melirik kearah Mad.
Mad menarik nafasnya, setelah itu membuangnya secara perlahan.
"Mereka meminta untuk tinggal disini dan menghindari kejamnya kota yang banyak tindak kriminal," balas Mad. "Aku bisa saja membelikan mereka sebuah mansion yang sama besarnya dengan mansion ku. Tapi mereka menolak dengan alasan umur mereka sangat tak pantas untuk tinggal di mansion megah yang akan dihuni dua orang dan juga beberapa maid."
"Apakah kita akan menginap disini semalam?"
"Tidak, kita masih ada dua perjalanan lagi. Mungkin sedikit jauh dari sini."
"Kita akan kemana lagi, Mad?"
"Ada, ayo kita kembali."
Mad dan Olivya kembali kerumah Zakira dan Jon. Saat sudah sampai didepan rumahnya, terdapat Jon yang sedang mengelap kap mobil dan Zakira yang sedang menyirami tanaman.
"Kami akan pamit." ujar Mad dengan dingin.
Zakira menoleh, ia meletakkan selang airnya dan berjalan menuju Mad dan Olivya.
"Kenapa terburu-buru?" tanya Zakira.
"Kami akan melanjutkan perjalanan. Tiga puluh menit lagi pengawalku datang untuk menjemput kalian ke mansion."
Zakira mengangguk, ia memeluk Olivya dan juga Olivya yang membalas pelukan Zakira.
"Sampai bertemu di mansion, Grandma." ujar Olivya.
Zakira melepaskan pelukannya, "Iya sayang. Maaf Grandma tak sempat masak. Tapi nanti di mansion, Grandma akan masak menu makan malam yang khas untukmu."
"Terima kasih, Grandma. Aku akan membantumu nanti."
Mad mengajak Olivya untuk masuk kedalam mobil lamborghini nya. Mad memundurkan mobilnya untuk keluar pelantaran rumah Jon dan Zakira. Olivya melihat Zakira dari dalam mobil, sedang melambaikan tangan.
"Berapa jam kira-kira perjalanan kita?" tanya Olivya sambil memasang sabuk pengamannya.
"Kita ada dua perjalanan, pertama tidak jauh dari sini." jawab Mad.
Olivya melihat sebuah pemandangan hutan. Dari kejauhan, ia melihat sebuah pemakaman yang mungkin pemakaman khusus orang-orang berduit. Seperti presiden atau orang pengusaha sukses.
"Kenapa seseorang membangun makam disana?" tanya Olivya.
"Apa yang kita lakukan disini?" tanya Olivya dengan bingung.
"Ayo turun." ajak Mad.
"Tapi, Mad. Aku hanya mengenakan celana pendek. Itu tidak sopan jika aku masuk makam keadaan seperti ini." ujar Olivya.
"Tak apa."
Olivya menurut, ia menggenggam tangan Mad saat melewati makam-makam. Ia bingung, makam siapa yang ia kunjungi. Saat sudah sampai disebuah gundukan tanah yang luas, Mad berjongkok dan melepaskan genggaman tangan Olivya.
Olivya ikut jongkok, ia melihat nama yang tertera di dua makam yang ada dihadapannya.
"Marlina Vallencio, Hendrick Vallencio." gumam Olivya dengan pelan.
"Mereka---"
"Ya, mereka orang tua ku." balas Mad sambil mengusap batu nisan yang tertera nama orang tuanya.
"Olivya ikut sedih saat melihat mata sendu milik Mad."
"Maafkan aku, Mad. Karena menyelamatkan orang tua ku, orang tua mu juga kena imbasnya." ucap Olivya dengan lirih. Bahkan, ia tak sanggup mengangkat wajahnya untuk melihat wajah Mad.
"Tidak apa, ini memang sudah takdir Tuhan. Aku juga ikhlas menyelamatkan orang tua mu." balas Mad tanpa melihat kearah Olivya.
Andai aku tahu makam ibu dan kakakku. Aku juga ingin mengunjunginya walau diatas gundukan tanah. Dan aku juga ingin... mengunjungi ayah. batin Olivya.
Mad menoleh kearah Olivya yang sedang melamun. Usai berdoa, Mad memasangkan kacamata hitamnya. Ia mengajak Olivya untuk pergi. Bukan, bukan pergi meninggalkan makam. Mad mengajak Olivya untuk berpindah makam.
"Mad, makam siapa lagi ini?" tanya Olivya dengan bingung.
Mad memasukkan kedua tangannya didalam saku. "Baca." pinta Mad.
Olivya menatap nama yang tertera diatas batu nisan.
Orlan Macrime & Ranelly Macrime.
Olivya merintikkan air matanya ia berjongkok pelan didepan gundukkan tanah.
"Mom, kak." panggil Olivya dengan lirih. Seakan, ibunya dan juga kakaknya dapat mendengar panggilannya.
"Maafkan Olivya yang justru kabur dan tak ikut dengan kalian. Maafkan Olivya, mom yang sudah menjadi anak tak berguna ini, hiks.." lirih Olivya. Mad membiarkan gadisnya ini melepas rindu yang selama ini ia pendam. Ya... Walaupun terhalang antara pasir.
Olivya mendongakkan wajahnya, ia menatap Mad yang sedang menatapnya juga dibalik kacamata hitamnya.
"Terima kasih, Mad. Kau telah mempertemukan ku dengan Momy dan Kakak." ujar Olivya dengan tulus.
"Jangan berterima kasih. Ini sudah menjadi tugasku."
Olivya beralih menatap gundukkan tangan sebelum pada akhirnya berdiri dari jongkoknya. Ia mensejajarkan posisinya dengan Mad.
"Sudah?" tanya Mad.
__ADS_1
Olivya mengangguk. Mad menggandeng tangan Olivya dan menggeretnya keluar dari makam. Mereka masuk kedalam mobil.
"Perjalanan kita masih jauh, tidurlah." ujar Mad sambil menghidupkan mesin mobilnya.
Olivya mengangguk, ia menyandarkan punggungnya dan juga kepalanya. Tak butuh waktu lama, Olivya tertidur. Ia sangat lelah.
Mad tersenyum, ia mengelus surai panjang milik Olivya. Setelah itu, melajukan mobilnya keluar dari parkiran makam.
***
Olivya mengerjapkan matanya. Ia rasa, dirinya tidur cukup lama. Pandangannya bertemu dengan pandangan Mad yang duduk disebelahnya.
"Mad? Dimana kita?" tanya Olivya sambil memerhatikan sebuah halaman rumah.
"Mau turun sekarang atau melanjutkan tidur lagi?" tanya Mad.
"Apakah kita sudah sampai?"
"Ya, dari tadi."
"Berapa jam aku tidur?"
"Empat jam."
Olivya melototkan matanya, ia menatap kearah jam tangan yang sudah menunjukkan pukul dua siang.
"Kenapa tak membangunkan ku?"
"Aku tak tega."
"Tap--"
Mad menempelkan jari telunjuknya didepan bibir Olivya. "Sstt, ayo turun. Kita sudah mengulur banyak waktu."
Mad turun terlebih dahulu lalu disusul oleh Olivya.
"Kau ini penuh teka-teki. Sekarang kita dirumah siapa lagi?" tanya Olivya yang mulai jengah dengan sikap Mad yang tak dapat ditebak.
"Ketuk dulu pintunya, setelah penghuni nya keluar, kau akan tahu siapa dia." pinta Mad.
"Haruskah aku?" tanya Olivya memastikan.
Mad hanya mengangguk sebagai balasan. Dengan ragu, Olivya mengangkat tangannya dan siap untuk mengetuk pintu.
Tok... Tok... Tok
Olivya mengetuk pelan pintunya. Lama tak ada tanda-tanda orang keluar, membuat Olivya pasrah.
"See? Tidak ada penghuninya rumah ini. Lagian, siapa yang mau bertempat tinggal dipinggir sawah seperti ini?" tanya Olivya.
Ceklek
Olivya menoleh kearah pintu yang dibuka. Matanya melolot sempurna saat mengetahui siapa orang yang membuka pintu itu. Perutnya seperti dikelilingi sebuah kupu-kupu. Matanya tak bisa menerima apa yang ia lihat didepannya. Mulutnya terasa keluh untuk mengucapkan satu kata saja.
"Ayah." gumam Olivya dengan berat sekali rasanya.
Sadar dari keterkejutannya, Olivya langsung memeluk seorang pria paruh baya yang ia sebut sebagai seorang ayah. Rasanya, begitu tak dapat dipercaya. Seorang yang ia rindukan selama puluhan tahun, kini berada didekatnya. Bahkan jatuh kedalam pelukannya.
Olivya menangis dipelukan ayahnya. Armon-- ayah kandung Olivya juga ikut merintikkan air matanya dan membalas pelukan putrinya tak kalah kuat.
"Ayah merindukanmu, sayang." ujar Armon sambil mencium rambut putrinya.
"Aku juga, Yah." balas Olivya dengan air mata.
Armon melepaskan pelukannya. Ia menangkup wajah putrinya yang sudah merah dan penuh air mata. Ia menghujami wajah Olivya dengan ciuman.
"Ayah." lirih Olivya.
"Ayo masuk." ajak Armon yang langsung diangguki Olivya dan juga Mad.
Mereka duduk disofa. Armon pamit untuk mengambil air dan cemilan.
"Mad." panggil Olivya.
Mad menoleh. Olivya langsung memeluknya dengan sangat erat.
"Thank you, Mad. Kau sudah membantu banyak padaku. Aku tak tahu lagi apa yang harus ku tebus untuk kebaikanmu. Kau sudah mempertemukan ku dengan keluarga ayahku, kau menunjukkanku makam ibu dan kakakku, dan sekarang... Sekarang kau mempertemukan dengan orang yang ku sayang. Ayahku." gumam Olivya dengan kepala yang tenggelam di dada bidang Mad.
"Cukup berada di sisiku dan jangan meninggalkan ku. Hanya itu yang ku minta, bisakah kau mengabulkannya?" tanya Mad.
Olivya mengangkat wajahnya yang masih dalam pelukan Mad sambil mengangguk dan tersenyum. Mad gemas melihat wajah lucu gadisnya. Ia memeluk erat tubuh Olivya.
"I love you, Mad."
"I love you too, baby." balas Mad dengan suara beratnya yang seksi.
"Suara mu terdengar seksi." gumam Olivya sambil melihat kearah Mad. Pelukannya masih belum terlepas. Mereka sama-sama nyaman dengan posisi duduk sambil berpelukan.
"Ingin sekarang?" tanya Mad dengan bisikan.
"Apanya?" tanya Olivya dengan wajah polos yang sangat menggemaskan bagi Mad.
"Serius ingin sekarang?" tanya Mad sekali lagi.
Olivya tersenyum malu, ia paham. Ia menyembunyikan wajahnya kembali di dada bidang milik Mad. Olivya memainkan ****** milik Mad dibalik kemejanya dengan jari telunjuknya.
"Jangan macam-macam." tegur Mad dengan suara yang sudah sangat berat menahan gairah yang memuncak.
"Eghem." Olivya spontan melepaskan pelukannya dari tubuh Mad.
"Kalian terlihat lelah. Tidurlah, Ada satu kamar kos--"
"Tentu, kami butuh Istirahat." potong Mad.
"Ayo, Vya." ajak Mad sambil mengulurkan tangannya. Olivya tersenyum geli, ia mengangguk dan menerima uluran tangan Mad.
"Dasar anak sekarang." gumam Armon sambil terkekeh geli.
__ADS_1
TBC