My Dangerous Mafia

My Dangerous Mafia
Keputusan Olivya


__ADS_3

Setelah tahu siapa sosok Mad, Olivya menjadi sangat dingin dan ketus terhadap Mad, dan itu juga membuat Mad frustasi dan ekstra sabar menghadapi Olivya.


Saat ini, Olivya dan Mad tengah duduk berdua diruang makan. Kaki Olivya pun sudah sedikit membaik. Mad juga menyewa beberapa suster untuk merawat Olivya. Namun, Olivya sudah tak membutuhkannya lagi, karena kakinya sudah bisa untuk jalan walau masih dengan tertatih.


Mad saat ini rapi dengan setelan jas nya.


"Mau kemana?" tanya Mad saat Olivya sudah berdiri dan hendak pergi.


"Kamar." balas Olivya dengan cuek.


"Duduk dan habiskan makananmu." terus Mad.


"Kenyang."


"Duduk dan habiskan." Olivya berdecak malas, ia menatap manik Mad setelah sekian lama.


"Kali ini aku benar-benar kenyang. Kumohon mengertilah. Jangan terus memaksaku." Mad berdiri dari duduknya. Ia merapikan sedikit jasnya. Mad berjalan kearah Olivya, ia menarik pergelangan tangan Olivya dan membanting tubuh Olivya diatas kursi empuk. Mad tahu, gadisnya ini hanya makan beberapa sendok. Alasan kenyang digunakan oleh Olivya untuk menghindar dari Mad.


"Makan dan habiskan. Aku yang akan pergi." tegas Mad lalu melenggang pergi. Olivya yang menatap kepergian Mad merasa sedikit bersalah. Bahkan pria itu juga belum sempat menghabiskan makanannya.


Apakah dirinya terlalu egois? Selama ini Mad mengurusnya dengan baik, walaupun terkadang sifat kasarnya muncul. Olivya segera menghabiskan makanannya dan akan membawa piring Mad pergi.


Setelah selesai menghabiskan makanannya. Olivya mengambil piring makanan Mad yang masih tersisa. Ia berniat untuk memberikannya pada Mad untuk dihabiskan.


Olivya mencari keberadaan Mad, namun pria itu tak kunjung ia temukan. "Dimana mafia itu?" tanya Olivya dengan bingung.


"Apa diruang kerjanya ya?" tanya lagi.


Tanpa berpikir panjang, Olivya melangkah menuju ruang kerja milik Mad. Setelah sampai didepan pintu ruang kerja milik Mad, tanpa mengetuk, Olivya membuka pintunya dengan pelan. Disana, didalam ruang kerja Mad, ia melihat Mad yang tengah fokus dengan ponselnya yang berada ditelinganya. Sepertinya menelpon seseorang dan posisinya membelakangi Olivya.


"Kurang ajar, kenapa bisa kabur? Saya tidak mau tahu, pokonya kamu harus tangkap si brengsek itu." Olivya yang hendak membuka mulut pun harus membungkamnya kembali saat mendengar bentakan Mad.


Tangannya memegang piring pun menjadi bergetar. Takut jika amarah Mad akan dilampiaskan padanya.


"Saya akan nung--" Mad memutar kursinya seratus delapan puluh derajat dan matanya langsung bertemu dengan Olivya yang berdiri diambang pintu dengan membawa piring sisa makannya.


"Nanti saya hubungi kembali." ujar Mad pada seseorang disebrang sana.


"Kemari." ujar Mad pada Olivya.


Dengan kaki gemetar, Olivya melangkah maju menuju kearah Mad. Jarak semakin mengikis, saat sudah berada didepan Mad, Olivya meletakkan piringnya diatas meja Mad. Kerutan dahi Mad begitu jelas menunjukkan ekspresi bingungnya.


"Tadi kamu belum sempat habisin makanannya karena aku. Sekarang dihabisin." ujar Olivya dengan malu-malu. Tatapan Mad yang ditunjukkan padanya, berhasil membuat detak jantung Olivya berpacu dua kali lebih cepat.

__ADS_1


Wajahnya Mad yang tampan, hidungnya yang mancung, bibirnya tebal, dan alis yang tebal. Badannya yang tinggi dan tegap menambah nilai plus dalam dirinya.


"Serius?" Olivya bergantian mengerutkan dahinya.


Serius?


Serius apa? Yang mana?


Mad tersenyum, "Serius perhatian? Kemana Vya yang cuek dan ketus beberapa hari yang lalu?"


Olivya menunduk malu.


"Duduk, aku ingin bicara sesuatu padamu." tanpa membantah, Olivya pun menurutinya. Duduk berhadapan dengan Mad yang terus saja tak henti menatapnya. Olivya yang ditatapan pun tak bisa tenang dalam duduknya.


"Katakan. Jangan menatapku seperti itu." ujar Olivya yang sudah mulai jengah dan bosan.


Mad menarik nafasnya dalam, "Jadilah kekasihku, aku akan menjagamu." kalimat sesingkat itu membuat Olivya mengangkat kepalanya dan memberanikan diri untuk menatap balik manik mata Mad.


Senang?


Tentu saja tidak!. Jangan berpikir Olivya akan senang. Jika kalian lupa, Olivya sangat tak suka dengan seorang Mafia. Tak suka! Sekalipun mafia itu tampan.


"Nggak! Aku nggak akan mau jadi kekasih seorang mafia. Cukup aku tinggal dengan mafia. Aku nggak mau ada ikatan apapun dengan seorang mafia." tolak Olivya dengan cepat. Tanpa berpikir dua kali, keputusannya sudah ia anggap yang terbaik.


"Tanpa aku meminta persetujuanmu, kau akan tetap jadi kekasihku."


"Vya, dengarkan aku. Tidak semua mafia itu kejam. Ya, memang kuakui kalau aku kejam. Tapi, aku tak akan menyakitimu sedikitpun. Aku akan menjagamu, Melindungimu, dan selalu ada untukmu. Bunuh aku jika aku berani melukaimu secara fisik. Ini juga demi kebaikanmu."


"Bullshit! Demia kebaikanku kau bilang? Yang ada, hidupku akan semakin sengsara dan tertekan."


Mad menghembuskan nafas dengan gusar. "Dengarkan aku, banyak sekali mafia brengsek diluar sana yang ingin membunuhmu. Jangan tanya kenapa, karena itu akan jadi urusanku."


Olivya bungkam seketika. Antara percaya atau tidak, perasaan takut menyelimuti dirinya saat tahu banyak mafia yang menginginkan kematiannya. Kenapa demikian? Setahunya, ia tak pernah berbuat masalah dengan seorang mafia. Soal masalah ayahnya? Apa itu mungkin? Itu sudah sangat lama. Tak mungkin jika mafia itu akan masih dendamnya.


Apakah dengan kematian seluruh keluarga kecilnya, mafia itu masih belum puas? Apakah mafia itu ingin membuat hidupnya bernasib sama dengan keluarga kecilnya yang lain?


"Bagaimana?" Mad menghancurkan lamunan Olivya dan seluruh pikiran negatif nya.


Ia menghembuskan nafasnya dengan panjang. "Aku akan menjadi kekasihmu. Tapi, aku masih belum bisa untuk mencintaimu."


Dalam hati, Olivya berdoa agar keputusannya ini sudah benar. Dengan menjadi kekasih Mad, ia akan mendapatkan perlindungan dari Mad dan juga Tuhan.


"Akan kubuat kau mencintaiku."

__ADS_1


***


Tap tap tap


Suara derap kaki disepanjang lorong yang sunyi dan gelap, pria berpostur tubuh tinggi dan tegap dengan balutan jas hitam panjang tengah berjalan untuk menuju suatu ruangan.


Hingga sampailah ia Didepan pintu bercat hitam. Tanpa mengetuk, pria itu memasuki ruangan yang memiliki cat serba abu-abu. Disana, ia dapat melihat pria paruh baya yang tengah berkutik dengan pistol kesayangannya.


"Selamat datang, tuan Warmon." sapa pria paruh baya itu dengan smirknya.


"Terima kasih sambutannya tuan Xander Werson." balas Warmon.


Warmon duduk disofa besar berwarna coklat.


"Ingin bergabung?" tawar Warmon.


"Sebenarnya tidak, tapi mengingat putraku yang tak becus, aku akan bergabung denganmu." jawab Xander.


"Yah, aku tahu putramu. Ia sangat cupu!"


"Berhenti mengejek putraku, Warmon."


"Sepertinya aku takkan meminta maaf."


Hening cukup lama. Xander mendudukkan dirinya didepan Warmon.


"Kudengar kau berhasil kabur dari tahanan Mad, karena berani membocorkan sosok Mad didepan gadisnya, right?" tanya Xander yang tepat pada sasaran.


"Ya, aku sengaja melakukan hal itu. Akan kubuat, gadisnya membenci Mad." balas Warmon.


"Kau salah, aku baru dapat info dari budakku yang menjadi maid di mansion Madrick, gadisnya itu menerima untuk menjadi kekasih Mad. Ya.. walaupun bukan atas dasar cinta. Tapi lindungan."


Warmon tertawa mengejek, "gadis bodoh."


"Apakah tujuanmu ingin merebut gadis bodoh itu dari Mad?" tanya Warmon


"Ya, gadis tertinggal."


"Maksudmu?"


Xander hanya tersenyum miring tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan dari Warmon.


TBC

__ADS_1


Sorry lama up, habis fokus ujian.


Love you all :3


__ADS_2